Selamat datang di blog saya yang sederhana ini yang menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian ASWAJA di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja

Rabu, 20 Desember 2017

Menjawab Dusta Wahabi-Salafi tentang sejarah awal mula maulid Nabi

Para pengingkar maulid Nabi yakni wahabi-salafi di bulan mulia ini yakni Rabiul Awwal, mereka seperti cacing kepanasan yang ditaburi garam. Mereka teriak susah karena banyaknya kaum muslimin yang melakukan perayaan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Saya jadi teringat ucapan Ibn Mukhlid dalam tafsirnya berikut ini :

أن إبليس رن أربع رنات: رنة حين لعن، ورنة حين أهبط الى الأرض، ورنة حين ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ورنة حين أنزلت فاتحة الكتاب

“ Sesungguhnya Iblis berteriak sambil menangis pada empat kejadian : pertama ketika ia dilaknat oleh Allah, Kedua ketika ia diusir ke bumi, ketiga ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan dan keempat ketika surat al-Fatehah diturunkan “.[1]

Dan wahabi-salafi, tanpa sadar mereka telah mengikuti sunnah Iblis dengan teriak susah ketika tiba hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam ini.

Kali ini kami akan menulis bantahan ilmiyyah atas dusta wahabi-salafi yang menuduh bahwa Maulid pertama kali diadakan oleh Syi’ah Fathimiyyun. Kami juga akan membongkar kecurangan mereka dengan menggunting ucapan syaikh al-Maqrizi terhadap teks yang menampilkan keagungan perayaan Maulid Nabi yang diselerenggarakan para raja yang adil dan para ulama besar dari kalangan empat madzhab. Tidak sedikit artikel wahabi yang mengcopy paste dusta tersebut termasuk syaikh al-Fauzan dalam fatwanya. Berikut salah satu artikel dusta wahabi di : http://artikelassunnah.blogspot.com/2012/01/ternyata-maulid-nabi-berasal-dari-syiah.html

Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau.

Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini.

Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)

Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.

Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20)


Jawaban kami :

Pernyataan di atas tidak benar sama sekali. Dan jauh dari fakta kebenarannya…

Pertama : Memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi sudah ada sejak masa Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam sendiri. Yakni dari segi mengagungkan hari di mana Nabi dilahirkan dengan melakukan suatu ibadah yaitu berpuasa.

Ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab :

ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت اوانزل علي فيه

“ Hari itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku “ (HR. Muslim)

Ini merupakan dalil nyata bolehnya memperingati hari kelahiran (maulid) beliau yang saat itu dirayakan oleh Nabi dengan salah satu macam ibadah yaitu berpuasa. Dan ini merupakan fakta bahwa beliaulah pertama kali yang mengangungkan hari kelahirannya sendiri dengan berpuasa.  Maka mengagungkan hari di mana beliau dilahirkan merupakan sebuah sunnah yang telah Nabi contohkan sendiri. Ini asal dan esensi dari acara maulid Nabi.

Kedua : Merayakan, mengagungkan dan memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi dengan berbagai cara dan program sudah sejak lama diikuti oleh para ulama dan raja-raja yang shalih. Kita kupas sejarahnya di sini :

1. Ibnu Jubair seorang Rohalah[2]  (lahir pada tahun 540 H) mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Rihal :

يفتح هذا المكان المبارك أي منزل النبي صلى الله عليه وسلم ويدخله جميع الرجال للتبرّك به في كل يوم اثنين من شهر ربيع الأول ففي هذا اليوم وذاك الشهر ولد النبي صلى الله عليه وسلم

“ Tempat yang penuh berkah ini dibuka yakni rumah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, dan semua laki-laki memasukinya untuk mengambil berkah dengannya di setiap hari senin dari bulan Rabi’ul Awwal. Di hari dan bulan inilah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan “[3]

Dari sini sudah jelas bahwa saat itu perayaan maulid Nabi merupakan sudah menjadi tradisi kaum muslimin di Makkah sebelum kedatangan Ibnu Jubair di Makkah dan Madinah dengan acara yang berbeda yaitu membuka rumah Nabi untuk umum agar mendapat berkah dengannya. Ibnu Jubair masuk ke kota Makkah tanggal 16 Syawwal tahun 579 Hijriyyah.  Menetap di sana selama delapan bulan dan meninggalkan kota Makkah hari Kamis tanggal 22 bulan Dzul Hijjah tahun 579 H, dengan menuju ke kota Madinah al-Munawwarah dan menetap selama 5 hari saja.

2. Syaikh Umar al-Mulla seorang syaikh yang shalih yang wafat pada tahun 570 H, dan shulthan Nuruddin Zanki seorang pentakluk pasukan salib. Kita simak penuturan syaikh Abu Syamah (guru imam Nawawi) tentang dua tokoh besar di atas :

قال العماد: وكان بالموصل رجل صالح يعرف بعمر الملاَّ، سمى بذلك لأنه كان يملأ تنانير الجص بأجرة يتقوَّت بها، وكل ما عليه من قميص ورداء، وكسوة وكساء، قد ملكه سواه واستعاره، فلا يملك ثوبه ولا إزاره. وكن له شئ فوهبه لأحد مريديه، وهو يتجر لنفسه فيه، فإذا جاءه ضيف قراه ذلك المريد. وكان ذا معرفة بأحكام القرآن والأحاديث النبوية.كان العلماء والفقهاء، والملوك والأمراء، يزورونه في زاويته، ويتبركون بهمته، ويتيمنَّون ببركته. وله كل سنة دعوة يحتفل بها في أيام مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحضره فيها صاحب الموصل، ويحضر الشعراء وينشدون مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم في المحفل. وكان نور الدين من أخص محبيه يستشيرونه في حضوره، ويكاتبه في مصالح أموره

“ al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada seorang yang shalih yang dikenal dengan sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a) ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia miliki berupa gamis, selendang, pakaian, selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka beliau memberikannya kepada salah satu muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu untuknya, maka jika ada tamu yang datang, murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang yang memiliki pengetahuan tentang hokum-hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering menziarahi beliau di padepokannya, mengambil berkah dengan sifat kesemangatannya, mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau setiap tahunnya mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para penyair pun juga datang menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin adalah salah seorang pecintanya yang merasa senang dan bahagia dengan menghadiri perayaan maulid tersebut dan selalu berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap urusannya “.[4]

Ini juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tarikh pada bab Hawadits 566 H. al-Hafidz adz-Dzahabi mengatakan tentang syaikh Umar ash-Shalih ini : “

وقد كتب الشيخ الزاهد عمر الملاّ الموصلي كتاباً إلى ابن الصابوني هذا يطلب منه الدعاء

“ Dan sungguh telah menulis syaikh yang zuhud yaitu Umar al-Mulla al-Mushili sebuah tulisan kepada Ibnu ash-Shabuni, “ Ini orang meminta ddoa darinya “.[5]

Adz-Dzahabi dalam kitab lainnya juga mengatakan :

وكان ذلك تحت إمرة الملك العادل السُّنِّيِّ نور الدين محمود زنْكِي الذي أجمع المؤرخون على ديانته وحسن سيرته، وهو الذي أباد الفاطميين بمصر واستأصلهم وقهر الدولة الرافضية بها وأظهر السنة وبني المدارس بحلب وحمص ودمشق وبعلبك وبنى المساجد والجوامع ودار الحديث

“ Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud Zanki, yang para sejarawan telah ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama dan kehidupannya. Beliaulah yang telah memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir sampai ke akar-akarnya, menghancurkan kekuasaan Rafidhah. Menampakkan (menzahirkan) sunnah, membangun madrasah-madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’ dan pesantren hadits “[6]

Al-Hafidz Ibnu Katsir menceritakan sosok raja Nuruddin Zanki sebagai berikut :

أنّه كان يقوم في أحكامه بالمَعدلَةِ الحسنة وإتّباع الشرع المطهّروأنّه أظهر ببلاده السنّة وأمات البدعة وأنّه كان كثير المطالعة للكتب الدينية متّبعًا للآثار النبوية صحيح الاعتقاد قمع المناكير وأهلها ورفع العلم والشرع

“ Beliau adalah seorang raja yang menegakkan hokum-hukumnya dengan keadilan yang baik dan mengikuti syare’at yang suci. Beliau menampakkan sunnah dan mematikan bid’ah di negerinya. Beliau seorang yang banyak belajar kitab-kitab agama, pengikut sunnah-sunnah Nabi, akidahnya sahih, pemusnah kemungkaran dan pelakuknya, pengangkat ilmu dan syare’at “.[7]

Ibnu Atsir juga mengatakan :

طالعت سِيَرَ الملوك المتقدمين فلم أر فيها بعد الخلفاء الراشدين وعمر بن عبد العزيز أحسن من سيرته, قال: وكان يعظم الشريعة ويقف عند أحكامها

“ Aku telah mengkaji sejarah-sejarah kehidupan para raja terdahulu, maka aku tidak melihat setelah khalifah rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz yang lebih baik dari sejarah kehidupannya (Nurruddin Zanki). Beliau pengangung syare’at dan tegak di dalam hokum-hukumnya “.[8]

Pertanyaan buat para pengingkar Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

Jika seandainya Maulid Nabi itu bid’ah dholalah yang sesat dan pelakunya disebut mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan terancam masuk neraka, apakah anda akan mengatakan bahwa syaikh Umar al-Mulla dan raja yang adil Nuruddin Zanki adalah orang-orang pelaku bid’ah dan terancam masuk neraka ?? padahal para ulama sejarawan sepakat (ijma’) bahwa syaikh Umar adalah orang shalih dan zuhud, raja Nuruddin adalah raja yang adil, berakidah sahih, pecinta sunnah bahkan menampakkanya dan juga pemusnah bid’ah di negerinnya, sebagaimana telah saya buktikan faktanya di atas…

Bagaimana mungkin para ulama sejarawan di atas, mengatakan penzahir (penampak) sunnah Nabi dan pemusnah bid’ah jika ternyata pengamal Maulid Nabi yang kalian anggap bid’ah sesat ?? ini bukti bahwa Maulid Nabi bukanlah bid’ah. Renungkanlah hal ini wahai para pengingkar Maulid Nabi…

3. Kemudian berlanjut perayaan tersebut yang dilakukan oleh seorang raja shaleh yaitu raja al-Mudzaffar penguasa Irbil, seorang raja orang yang pertama kali merayakan peringatan maulid Nabi dengan program yang teratur dan tertib dan meriah. Beliau seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah wal jama’ah.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :

ابن زين الدين علي بن تبكتكين أحد الاجواد والسادات الكبراء والملوك الامجاد له آثار حسنة…. وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه التنوير في مولد البشير النذير فأجازه على ذلك بألف دينار وقد طالت مدته في الملك في زمان الدولة الصلاحية وقد كان محاصر عكا وإلى هذه السنة محمود السيرة والسريرة قال السبط حكى بعض من حضر سماط المظفر في بعض الموالد كان يمد في ذلك السماط خمسة آلاف راس مشوى وعشرة آلاف دجاجة ومائة ألف زبدية وثلاثين ألف صحن حلوى

“ Beliau adalah putra Zainuddin Ali bin Tabkitkabin salah seorang tokoh besar dan pemimpin yang agung. Beliau memiliki sejarah hidup yang baik. Beliau yang memakmurkan masjid al-Mudzhaffari….dan beliau konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil –semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha itu oleh raja sebesar seribu dinar. Masa kerajaannya begitu panjang di zaman Daulah shalahiyyah. Beliau pernah mengepung negeri ‘Ukaa. Di tahun ini beliau baik kehidupannya lahir dan bathin. As-Sibth mengatakan, “ Seorang yang menghadiri kegiatan raja al-Mudzaffar pada beberapa acara maulidnya mengatakan, “ Beliau pada perayaan maulidnya itu menyediakan 5000 kepala kambing yang dipanggang, 10.000 ayam panggang, 100.000 mangkok besar (yang berisi buah-buahan), dam 30.000 piring berisi manisan “.[9]

Adz-Dzahabi juga mengatakan tentang sifat-sifat beliau :

وَكَانَ مُتَوَاضِعاً، خَيِّراً، سُنِّيّاً، يُحبّ الفُقَهَاء وَالمُحَدِّثِيْنَ، وَرُبَّمَا أَعْطَى الشُّعَرَاء، وَمَا نُقِلَ أَنَّهُ انْهَزَم فِي حرب

“ Beliau adalah orang yang rendah hati, sangat baik, seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah, pecinta para ahli fiqih dan hadits, terkadang suka memberi hadiah kepada para penyair, dan tidak dinukilkan bahwa beliau kalah dalam pertempuran “[10]

Pertanyaan buat para pengingkar Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

Adakah para ulama sejarawan di atas menyebutkan raja Mudzaffar adalah seorang pelaku bid’ah dholalah karena melakukan perayaan Maulid Nabi ?? justru mereka menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja adil, rendah hati, pemberani dan berakidahkan Ahlus sunnah. Renungkanlah hal ini wahai wahabi…

Ketiga : Seandainya Fathimiiyun juga membuat perayaan Maulid Nabi sebagaimana para pendahulu kami, maka hal ini bukanlah suatu keburukan karena kami hanya menolak kebathilan para pelaku bid’ah dholalah, bukan menolak kebenaran mereka yang sesuai dengan Ahlus sunnah.

Keempat : Wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan mengunting teks (nash) dari al-Maqrizi. Mereka tidak menampilkan redaksi atau teks berikutnya yang dinyatakan oleh al-Maqrizi dalam kitabnya tersebut. Lebih lanjutnya beliau menceritkan bahwasanya para khalifah muslimin, mengadakan perayaan maulid yang dihadiri oleh para qadhi dari kalangan empat madzhab dan para ulama yang masyhur, berikut redaksinya yang disembunyikan dan tidak berani ditampilkan wahabi :

فلما كانت أيام الظاهر برقوق عمل المولد النبويّ بهذا الحوض في أوّل ليلة جمعة من شهر ربيع الأول في كلّ عام فإذا كان وقت ذلك ضربت خيمة عظيمة بهذا الحوض وجلس السلطان وعن يمينه شيخ الإسلام سراج الدين عمر بن رسلان بن نصر البلقيني ويليه الشيخ المعتقد إبراهيم برهان الدين بن محمد بن بهادر بن أحمد بن رفاعة المغربيّ ويليه ولد شيخ الإسلام ومن دونه وعن يسار السلطان الشيخ أبو عبد الله محمد بن سلامة التوزريّ المغربيّ ويليه قضاة القضاة الأربعة وشيوخ العلم ويجلس الأمراء على بعد من السلطان فإذا فرغ القراء من قراءة القرآن الكريم قام المنشدون واحدًا بعد واحد وهم يزيدون على عشرين منشدًا فيدفع لكل واحد منهم صرّة فيها أربعمائة درهم فضة ومن كلّ أمير من أمراء الدولة شقة حرير فإذا انقضت صلاة المغرب مدّت أسمطة الأطعمة الفائقة فأكلت وحمل ما فيها ثم مدّت أسمطة الحلوى السكرية من الجواراشات والعقائد ونحوها فتُؤكل وتخطفها الفقهاء ثم يكون تكميل إنشاد المنشدين ووعظهم إلى نحو ثلث الليل فإذا فرغ المنشدون قام القضاة وانصرفوا وأقيم السماع بقية الليل واستمرّ ذلك مدّة أيامه ثم أيام ابنه الملك الناصر فرج

“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya. Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan para syaikh ilmu, juga para penguasa yang duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah selesai membaca al-Quran, maka beridrilah para nasyid satu persatu membawakan sebuah nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid, masing-masing diberikan sekantong uang yang di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra. Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah yang dimakan oleh semuanya dan dibawa pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan manisan yang juga dimakan semuanya dan para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan dengan nasyid pada munsyid dan nasehat mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi dan mereka kembali pulang. Dan diperdengarkan sebuah senandung pujian di sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-Nahsir Faraj “.[11]

Kisah yang sama ini juga diceritakan oleh seorang ulama pakar sejarah yaitu syaikh Jamaluddin Abul Mahasin bin Yusufi bin Taghribardi dalam kitab Tarikhnya “ an-Nujum az-Zahirah fii Muluk Mesir wal Qahirah “ pada juz 12 halaman 72.

Hal yang serupa juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar secara ringkas dalam kitabnya Anba al-Ghumar sebagai berikut :

وعمل المولد السلطاني المولد النبوي الشريف على العادة في اليوم الخامس عشر، فحضره البلقيني والتفهني وهما معزولان، وجلس القضاة المسفزون على اليمين وجلسنا على اليسار والمشايخ دونهم، واتفق أن السلطان كان صائما، فلما مد السماط جلس على العادة مع الناس إلى إن فرغوا، فلما دخل وقت المغرب صلوا ثم أحضرت سفرة لطيفة، فاكل هو ومن كان صائما من القضاة وغيرهم

“ Dan perayaan maulid shulthan yaitu Maulid Nabi yang Mulia seprti biasanya (tradisi) pada hari kelima belas, dihadiri oleh syaikh al-Balqini dan at-Tifhani, keduanya mantan qadhi. Para qadhi lainnya duduk di sebalah kanan beliau, dan kami serta para masyaikh duduk di sebelah kiri. Disepakati bahwa shulthan saat itu dalam keadaan puasa, maka ketika dibentangkanlah seprei makanan, beliau duduk seperti biasanya bersama prang-orang sampai selesai. Maka ketika masuk waktu maghrib, mereka sholat kemudian dihidangkanlah  hidangan makanan yang lembut, maka beliau makan bersama orang-orang yang berpuasa dari para qadhi dan lainnya “[12]

Dengan ini jelas lah sudah bahwa wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan tidak menampilkan redaksi (teks) selanjutnya yang membicarakan perhatian para raja dan ulama besar terhadap perayaan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam saat itu. Ini merupakan tadlis, talbis dan penipuan besar di hadapan public…naudzu billah min dzaalik.

Kesimpulannya :

1. Perayaan Maulid Nabi, esensinya telah dicontohkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yaitu saat beliau mengangungkan dan memperingati hari kelahiran beliau dengan melakukan satu ibadah sunnah yaitu puasa. Maka pada hakekatnya perayaan Maulid Nabi adalah sunnah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Perayaan Maulid Nabi yang dilanjutkan dengan para raja yang adil dan para ulama yang terkenal adalah dalam rangka menghidupkan sunnah Nabi yaitu memperingati hari kelahiran Nabi, namun dengan metode dan cara yang berbeda yang berlandaskan syare’at seperti membaca al-Quran, bersholawat dan bersedekah. Metode ini sama sekali tidak bertentangan dengan syare’at Nabi.

3. Tuduhan wahabi bahwa yang melakukan Maulid pertama kali adalah dari Syi’ah Fathimiyyun adalah dusta belaka dan bertentangan dengan fakta kebenarannya.

4. Wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan menggunting dan tidak menampilkan teks al-Maqrizi yang menceritakan perhatian para raja adil dan ulama terkenal dari kalangan empat madzhab terhadap Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Abdillah Al-Katibiy, Kota Santri, 6 Rabiul Awwal 1435 H / 08-Januari-2014

[1] Ini disebutkan oleh syaikh Ibnu Muflih dari Ibn Mukhlid yang mengisahkan kisah ini dari Hasan al-Bashri. Bisa juga dilihat di kitab Syarh kitab Tauhid di : http://islamport.com/w/aqd/Web/1762/961.htm

[2] Seorang penjelaja tempat-tempat dan daerah-daerah jauh.

[3] Rihal, Ibnu Jubair : 114-115

[4] Ar-Roudhatain fii Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah, pada fashal (bab) : Hawadits (peristiwa) tahun 566 H.

[5] Tarikh al-Islam, adz-Dzahabi : 41 / 130

[6] Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi : 20 / 532

[7] Tarikh Ibnu Katsir : 12 / 278

[8] Tarikh Ibnu Atsir : 9 / 125

[9] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136

[10] Siyar A’lam an-Nubala : 22 / 336

[11] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar : 3 / 167

[12] Anba al-Ghumar : 2 / 562

Kamis, 16 November 2017

Aqidah wahabi-salafi berkonsekuensi musyriknya imam Ahmad bin Hanbal dan imam Syafi'i


Pemahamn dan Aqidah Wahabi-Salafi menyebabkan takfir (pengkafiran) kepada mayoritas para sahabat Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam dan para imam Ahlus sunnah wal Jama’ah, hampir seluruhnya tak luput dari konsekuensi takfir dari hasil buah pemikiran aqidah mereka.

Salah satu contoh prilaku para imam Ahlus sunnah yang mau tidak mau, wahabi-salafi harus memvonisnya sebagai perbuatan ghuluw dan syirik dalam ajarannya dan aqidahnya adalah sikap imam Ahmad bin Hanbal kepada gurunya yaitu imam Syafi’i. Berikut kisahnya yang ditampilkan imam Baihaqi dalam kitabnya Manaaqib Asy-Syafi’I dengan sanad yang shahih :

“ Sholeh bin Ahmad bercerita “ Suatu hari imam Syafi’I dating menjenguk ayahku yang sedang sakit, tiba-tiba ayahku meloncat menuju imam Syafi’I dan langsung mencium kening gurunya tersebut, kemudian ayahku menempatkan imam Syafi’I di tempat duduk ayahku dan ayahku duduk di hadapan beliau kemudian saling bertanta sesaat. Ketika imam Syafi’I bangkit untuk menaiki tunggaannya, maka ayahku meloncat dan memegang tunggangan imam Syafi’i lalu berjalan bersama beliau. Kisah tersebut didengar oleh imam Yahya bin Ma’in, lalu dating dan berkata kepada ayahku “ Yaa Subhanllah (ungkapan heran), sunnguh besar urusan itu sampai-sampai andai berjalan di sisi tunggan (baghlah, peranakan keledai) imam Syafi’I ?? “, maka ayahku menjawabnya “ Wahai Yahya, seandainya anda berjalan di sisi satunya dari tunggangan beliau itu, maka anda pasti akan mendapat manfaat “. Kemudian ayahku berkata “ Barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu fiqih, maka ciumlah buntut keledai tersebut “.
(Manaaqib Asy-Syafi’I : juz II halaman 253)

Komentar :

1. Dalam kisah tersebut menceritakan kisah imam Ahmad bin Hanbal yang begitu ta’dzim kepada gurunya, hingga saat beliau sakit pun ketika gurunya yaitu imam Syafi’I dating menjenguknya, sepontan beliau bangkit dan meloncat dari pembaringannyauntuk  mendatangi gurunya tersebut kemudian mencium kening imam Syafi’i. Hal ini sudah pasti dalam ajaran wahab-salafi dinilai sebagai sikap ghuluw (berlebihan) dalam menghormati seorang ulama, bahkan tidak jarang mereka berteriak ghuluw kepada kaum muslimin yang merunduk mencium tangan kiyai atau ustdaznya. Bukankah yang dilakukan imam Ahmad bin Hanbal melebihi hal itu ??

Beranikah kalian wahai pengaku-ngaku pengikut manhaj salaf untuk memevonis imam Ahmad bin Hanbal telah berbuat ghuluw yang terlarang ??

2. Dalam kisah tersebut, dikisahkan bahwa imam Ahmad bin Hanbal telah berkata :

“Barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu fiqih, maka ciumlah buntut keledai tersebut “

Ungkapan itu, merupakan ungkapan fatal menurut wahabi-salafi bahkan dinilai syirik, bagaimana mungkin mencium buntut keledai dapat menjadikan seseorang mendapat ilmu fiqih ??

Maka saya tanyakan kepada kalian wahai para pengaku-ngaku pengikut manhaj salaf, beranikah kalian memvonis imam Ahmad bin Hanbal sebagai pelaku syirik dan menjadi musyrik bahkan kafir menurut akidah tauhid uluhiyyah kalian demikian juga imam Syafi'i yang mengakui perilaku imam Ahmad ??

3. Siapakah yang salah, imam Ahmad bin Hanbal dan imam Syafi’i ataukah aqidah kalian wahai pengaku-ngaku pengikut manhaj salaf ??


Rabu, 24 Juni 2015

Ustadz Wahabi menganiaya Syaikh Idahram


Lagi-lagi, usadz wahabi bikin ulah dan aniaya...

Pada tanggal 21 Juni kemaren, diadakan bedah buku “Bukan Fitnah Tapi inilah Faktanya” (Membongkar tradisi dusta wahabi) karangan Ustadz Marhadi alias Syaikh Idahram yang sebelumnya sangat fenomental telah menulis tiga rangkaian buku yang menelanjangi kejahatan wahabi-salafi, telah terjadi kekisruhan dan penganiayaan terhadap penulis buku tersebut yang dbuat seorang ustadz wahabi bernama soni alias Abu Husan ath-Thwailibi dan masih di awal-awal puasa Ramadhan ini. Berikut kronologi kejadiannya yang diceritakan sendiri oleh ustadz Marhadi kepada saya melalui Prifat Message :

“ Kejadiannya di Masjid Raya Bogor, pada hari Ahad 21 Juni 2015, pukul 16.47 sore hari ba'da Ashar ketika bedah buku BUKAN FITNAH TAPI INILAH FAKTANYA (membongkar tradisi dusta Wahabi) sedang berlangsung. Acara itu dihadiri juga oleh anggota DPR Bogor faksi FAN, Romdhoni (beliau menyalahkan si wahabi dan meminta saya untuk terus berdakwah), juga dihadiri ketua umum MUI kota bogor, Adam Ibrahim. Cuma ketua umumnya ini dikenal masyarakat bogor sebagai pendukung berat wahabi dan kabarnya emang dia juga wahabi. Dia juga sangat berpihak ke mereka dilihat dari duduk bareng mereka, komentarnya tentang saya dan bahasa tubuh lainnya. Hadir juga, ketua fatwa MUI Bogor Abbas Aula. Dia juga dalam komentarnya di depan peserta menuduh saya pendusta. Dia bicara sebagai penanya tapi malah menuduh sekitar 7 menit. Kemudian Soni ath-Thuwailibi memukul kepala bagian belakang saya dari arah belakang ketika saya sedang memperhatikan penanya yang lain. Dia juga sebelum memukul bertindak sebagai penanya yg juga bukan bertanya tapi menuduh saya pendusta. “

Demikian kronologi yang beliau kisahkan. Inikah sikap seorang ulama wahabi yang mengaku-ngaku mengikuti sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?? menuding, menuduh, memfitnah tanpa bukti dan bahkan menganiaya ? bahkan dilakukan pula di bulan suci, bulan ujian menahan amarah dan emosi ?? saya tidak tahu kedepannya bagaimana, jika ajaran dan doktrin wahabi dibiarkan berkembang di Negeri Indonesia tercinta ini...

* Video rekaman kejadian masih kami simpan...

Minggu, 03 Agustus 2014

Kelompok Pasukan Yang Berencana Membunuh Imam Mahdi



Ketika imam Mahdi nanti dibai'at di hadapan Ka'bah, maka tidak lama datanglah pasukan utusan dari Syam yang ingin membunuh imam Mahdi, namun sebelum sampai kota Makkah, Allah Ta'ala membenamkan pasukan tersebut ke dalam bumi. simak Haditsnya berikut :

فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ

" ... Maka kelualah seseorang dari Penduduk Madinah dengan melarikan diri menuju ke Makkah, maka datanglah penduduk Makkah dan mengeluarkannya sedangkan ia (imam Mahdi) dalam keadaan tidak senang (tidak suka), lalu penduduk Makkah membaiatnya di antara rukun dan makam, kemudian datanglah bebrapa utusan dari Syam lalu pasukan tersebut ditelan bumi di Baida’ antara Makkah dan Madinah." (Sunan Abu Daud : 4282)

Pertanyaannya, siapakah pasukan utusan dari Syam itu ? mengapa mereka ingin memerangi dan membunuh imam Mahdi beserta pendukung khilafahnya ?

Saya mengkaji doktrin ISIS yang dipahami oleh mereka secara dangkal terhadap hadits yang menjelaskan dua khalifah yang ditegakkan. ISISI dan kelompok yang sejenisnya, memiliki doktrin jika kelak setelah klaim tegaknya khilafah 'ala ISIS ternyata ada khilafah lagi yang ditegakkan, maka ISIS akan memerangi dan membunuh khalifah yang kedua tersebut, berikut hadits yang dipahami dengan sempit oleh ISIS dan aliran yang sepaham dengannya :


إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا


“Bila dilakukan bai’at bagi dua khalifah, maka bunuhlah yang paling akhir dari keduanya.” (HR. Muslim)

Anda bisa melihat dalam situs-situs pro ISIS dan yang sepaham di antaranya situs millahibrahim.wordpress.com


Atas dasar fakta ini, kemungkinan besar pasukan dari Syam yang mengejar dan berencana membunuh imam Mahdi adalah kelompok ISIS atau kelompok yang sepaham dengan ajaran khowarij ini.

Kita berdoa semoga tidak termasuk dalam golongan kelompok yang Allah tenggelamkan ke dalam bumi saat berencana membunuh imam Mahdi.


Namun tidak semua penduduk Syam menjadi musuh imam Mahdi, di sana terdapat wali abdal yang akan menjadi pendukung setia imam Mahdi, demikian juga dari Iraq dan khurasan sang pembawa panji hitam yang sesungguhnya. Dalam lanjutan hadits di atas disebutkan :

فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُونَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيمَةَ كَلْبٍ فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِي الْإِسْلَامُ بِجِرَانِهِ فِي الْأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

"... Bila hal itu dilihat oleh orang-orang maka ia didatangi oleh ‘Abdal Syam dan beberapa kumpulan dari Iraq untuk berbai’at kepadanya. Kemudian muncul seorang pemuda dari Quraisy, paman dari sebelah ibunya dari kabilah Kalb yang akan membawa pasukan untuk menentang Imam Mahdi, tetapi pasukan Imam Mahdi berhasil mengalahkan mereka. Kerugian bagi orang yang tidak menyaksikan harta rampasan perang kabilah Kalb. Imam Mahdi akan membagi-bagikan harta dan beramal mengikut Sunah Nabi mereka SAW di kalangan manusia. Ketika itu Islam tersebar dengan luas. Dia akan memerintah selama tujuh tahun kemudian wafat dan jenazahnya dishalatkan oleh Umat Islam ".

Dan semoga kita ditaqdirkan oleh Allah termasuk golongan yang menerima khilafah imam Mahdi kelak. Amiin....

Ibnu Al-Katibiy
3/08/2014

Sabtu, 02 Agustus 2014

10 Ciri Dan Karakter Pengusung Bendera Hitam Palsu

Sayyidina Ali Radhiallahu ‘anhu memberikan suatu informasi penting yang patut menjadi pegangan dan renungan kita terutama saat banyaknya kemunculan aliran radikal penuh brutal yang mengaku pendukung khilafah imam Mahdi :

 إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّوْدَ فَالْزَمُوْا الْاَرْضَ وَلَا تُحَرِّكُوْا أَيْدِيَكُمْ وَلَا أَرْجُلَكُمْ  ثُمَّ يَظْهَرُ قَوْمٌ ضُعَفَاءُ لَا يُؤْبَهُ لَهُمْ ، قُلُوْبُهُمْ كَزُبُرِ الْحَدِيْدِ ، هُمْ أَصْحَابُ الدَّوْلَةِ ، لَا يَفُوْنَ بِعَهْدٍ وَلَا مِيْثَاقٍ ، يَدْعُوْنَ إِلَى الْحَقِّ وَلَيْسُوْا مِنْ أَهْلِهِ ، أَسْمَاؤُهُمُ الْكُنَى وَنِسْبَتُهُمُ الْقُرَى ، وَشُعُوْرُهُمْ مِرْخَاةٌ كَشُعُوْرِ النِّسَاءِ حَتَّى يَخْتَلِفُوْا فِيْهَا بَيْنَهُمْ ثُمَّ يُؤْتِي اللهُ الْحَقَّ مَنْ يَشَاءُ

“Jika kalian melihat bendera hitam, maka bertahanlah di bumi. Jangan gerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan muncul kaum lemah yang tidak dihiraukan (rendahan). Hati mereka seperti batangan baja (kaku, keras). Mereka (mengaku) pemegang daulah (Islamiyyah). Mereka tidak menepati janji dan kesepakatan. Mereka mengajak kepada kebenaran sedangkan mereka bukan orang yang benar. Nama mereka menggunakan kunyah dan nisbat mereka menggunakan nama daerah. Rambut mereka terurai seperti wanita, hingga mereka berselisih diantara mereka. Kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada yang Allah kehendaki” (Riwayat Abu Nuaim. Kanz al-Ummal 11/283)

Peringatan sayyidina Ali ini, telah semakin mengungkap kebenarannya dengan fenomena brutal yang ada pada kelompok Daulah Islamiyyah Irak dan Syam (ISIS) saat ini. Semua ciri dan sifat di atas terdapat pada ISIS dan yang sejenisnya.

1. Bendera Hitam : Sudah masyhur mereka menggunakan bendera hitam, mungkin mereka mengira akan menjadi pengikut imam Mahdi yang membawa bendera hitam di akhir zaman saat kemunculannya dari Khurasan nanti, dan juga kelompok lainnya (semisal Hizbuttahrir dll) yang juga menggunakan bendera hitam dengan tujuan dan harapan yang sama. Justru sebaliknya mereka akan menjadi kelompok yang diperingatkan oleh imam Ali di atas.

Menjelang kehadiran imam Mahdi banyak kelompok membuat bendera hitam dengan tujuan menjadi pembela imam Mahdi, padahal kenyataannya justru sebaliknya, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir :
Ibnu Katsir:

( ثُمَّ تَطْلُع الرَّايَات السُّود ) قَالَ اِبْنُ كَثِيرٍ هَذِهِ الرَّايَاتُ السُّوْدُ لَيْسَتْ هِيَ الَّتِي أَقْبَلَ بِهَا أَبُو مُسْلِمٍ الْخُرَاسَانِيّ فَاسْتَلَبَ بِهَا دَوْلَةَ بَنِي أُمَيَّة بَلْ رَايَاتٌ سُوْدٌ أُخَرُ تَأْتِي صُحْبَةَ الْمَهْدِيّ)

“Hadis (kemudian mencul bendera hitam). Ibnu Katsir berkata: “Bendera hitam ini bukanlah bendera yang dibawa oleh Abu Muslim al-Khurasani yang kemudian mengganti dinasti Bani Umayyah, namun bendera hitam yang lain, yang akan datang mengiringi kedatangan al-Mahdi” (Hasyiah as-Sindi 7/446)

Semoga kita tidak termasuk pengikut mereka para pengusung bendera hitam palsu.

Solusi : Imam Ali menasehati kita agar kita jangan menggerakan tangan (berbai’at) kepada mereka dan jangan menggerakan kaki (beranjak mengikuti) mereka. Kita harus bersabar hingga yakin imam Mahdi benar-benar telah keluar dan dibai’at oleh kaum muslimin Ahlus sunnah wal Jama’ah.


2. Kaum Lemah yang tidak dihiraukan : Meskipun organisasi mereka tertata dan terstruktur, namun keberadaan mereka tidak akan dihiraukan mayoritas umat muslim yang sejak lama berpegang teguh dengan manhaj Ahlus sunnah wal Jama’ah khususnya Indonesia. Mereka hanya akan berkuasa di daerah-daerah yang sudah dikuasinya. Namun demikian, kita wajib waspada dari kejahatan dan makar yang mereka rencanakan.

3. Hati mereka seperti batangan baja : Hati mereka kaku dan keras, tanpa rasa kasihan mereka brutal membunuh kaum muslimin yang tidak sepaham dan tidak mendukung mereka, bahkan menyembeleh kepala-kepala para tokoh muslim dari berbagai kalangan.
Bahkan baru-baru ini ISIS mempublikasikan sebuah video yang menunjukkan kekejaman mereka. Video yang diuploud via youtobe dan live leak tersebut menunjukkan setidaknya ada 15 kepala manusia yang digantung disebuah pagar runcing. Kepala manusia yang mengenaskan itu digantungkan di leher dan di mulut sedangkan tubuhnya bergeletakan di bawanya. Narator yang memandu video tersebut mengatakan bahwa kepala yang digantung tersebut adalah kepala tentara-tentara Suriah yang tewas saat perang dengan mereka.



4. Mereka (mengaku) pemegang Daulah Islamiyyah : Ciri ini sangat kentara dan nyata bagi mereka. Lihat mereka sendiri pun menamakan kelompoknya dengan kelompok Daulah Islamiyyah di Irak dan Syam (The Islamic State in Iraq and al-Sham; ISIS).



5. Mereka tidak menepati janji dan kesepakatan  : Diketahui bahwa ISIS sering melakukan pelanggaran janji dan kesepakatan. Dr. Al Mis'ari memiliki kajian terinci tentang kisah-kisah ingkar janji dan pembatalan kesepakatan sepihak mereka, bagaimana mereka menghabisi nyawa delegasi pihak lain dan juga para tamu.

6. Mereka mengajak kepada kebenaran sedangkan mereka bukan orang yang benar : Misi visi mereka seolah mengajak kepada Islam yang benar dengan memaksa muslim lainnya masuk dan berbagung dengan khalifah mereka. Mengajak untuk menegakkan tauhid yang benar, sehingga mereka banyak menghancurkan kubah dan makam para ulama dan wali di berbagai tempat. Namun sebenarnya mereka dalam kebathilan. Dalam pemahaman yang sesat karena tidak mengikuti pemahaman para ulama yang haq, sehingga mereka jauh dari kebenaran.

7. Nama mereka menggunakan kunyah : Pemimpin kelompok radikal ISIS ini nama depannya menggunakan kunyah (Abu) yakni Abu Bakar al-Baghdadi. Bahkan hampir seluruh pendukung dan prajuritnya menggunakan kunyah seperti Abu Yasin al-Muhajiri, Abu Muhamamd al-Julani dan lainnya.



8. Nisbat mereka menggunakan nama daerah : Abu Bakar al-Baghdadi nisbat daerah Baghdad, Abu Muhammad al-Julani nisbat daeraj Jaulan dan semisalnya.

9. Rambut mereka terurai seperti wanita : Subhanallah, rata-rata kelompok seperti ini, rambutnya mereka gondrong dan terurai seperti rambut wanita.





10. Hingga mereka berselisih diantara mereka : Subhanallah ini pun nyata pada mereka. ISIS yang pada awalnya dalam bendera Jabhah an-Nushrah, akhirnya terjadi pertikaian pahit sesama mereka atas perbedaan ideologi dan strategi masing-masing, bahkan kekuatan-kekuatan militer yang aktif dan sejenis dengan mereka baik di Iraq, Syam dan Suriah juga tercerai berai merasa kelompok mereka paling berhak dan paling benar untuk diikuti, hal ini sudah umum diketahui publik. 


Ibnu al-Katibiy
2/08/2014

Rabu, 29 Januari 2014

Catatan Dialog Ilmiyyah Aswaja vs Salafi di Batam bag IV


Atsar Ibnu Mas’ud dan Bid’ah Hasanah.

Firanda kemudian menyanggah sanggahan dari ustadz Idrus Romli, yang menurutnya Idrus Romli salah dalam berhujjah mengenai takhshish hadits kullu bid’atin. Firanda menyangka ustadz Idrus membawakan dalil atsar Ibnu Mas’ud “ Maa roaahul muslimuuna hasanah fahuwa ‘indallahi hasan “ untuk mentakhshish / membatasi hadits kullu bid’atin. Kemudian Firanda menjelaskan maksud dari makna atsar tersebut yang subtansinya mengenai dalil ijma’ ulama. Lalu membuat kesimpulan yang menyalahkan ustadz Idrus padahal tidak dikatakan sama sekali oleh ustadz Idrus.

Tanggapan saya :

Ustadz Firanda kurang cermat mendengarkan dan memperhatikan hujjah dari ustadz Idrus Romli. Ketika ustadz Idrus Romli membawakan atsar Ibnu Mas’ud tersebut, beliau posisinya bukan untuk membawakan dalil takhshish untuk hadits kullu bid’atin sebagaimana sangkaan ustadz Firanda. Akan tetapi ustadz Idrus membawakan atsar tersebut dalam rangka ingin menyanggang hujjah ustadz Zainal yang berasumsi bahwa sahabat Abdullah bin Mas’ud menolak bid’ah hasanah dengan membawakan atsar Ibnu Mas’ud “ Ittabi’uu wa laa tabtadi’uu fa qod kufiitum “. Maka lalu oleh ustadz Idrus dibawakan dalil yang menunjukkan bahwa Abdullah bin Mas’ud juga melegalkan bid’ah hasanah dengan hujjah atsar beliau yang mengatakan :

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“ Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka itu baik di sisi Allah “

Ustadz Idrus pun tidak mengartikan kaum muslimin di sini dengan orang Islam biasa, justru beliau mengartikannya dengan para ulama. Silakan dengarkan kembali rekaman video tersebut pada menit ke ….

Jelas atsar ini dibawakan oleh ustadz Idrus bukan untuk mentakhshish hadits kullu bid’atin melainkan ingin membuktikan bahwa Ibnu Mas’ud juga mengakui adanya perkara baru yang baik.

Berkaitan masalah atsar tersebut, memang berkaitan dengan dalil ijma’ para ulama sebagaimana dikatakan oleh al-Amidi dan kami (Aswaja) pun setuju tentang hal ini :

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن إشارة إلى إجماع المسلمين، والإجماع حجة ولا يكون إلا عن دليل وليس فيه دلالة على أن ما رآه آحاد المسلمين حسن يكون حسنا عند الله، وإلا كان ما رآه آحاد العوام من المسلمين حسن فهو حسن عند الله، وهو ممتنع

“ Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka itu baik di sisi Allah, adalah isyarat kepada ijma’ kaum muslimin, dan ijma’ adalah hujjah, ijma’ pun tentu berdasarkan dari dalil. Atsar ini sama sekali tidak menunjukkan dalil bahwa apa yang dipandang oleh perorangan dari kaum muslimin baik maka di sisi Allah baik, karena jika tidak demikian, maka apa yang dipandang oleh perorangan dari kaum awam muslimin itu baik maka di sisi Allah baik, dan ini suatu hal yang terlarang “[1]

Maka apa yang dibantah oleh ustadz Firanda tidak mengena kepada apa yang diucapkan oleh ustadz Idrus, dalam kata lain Firanda salah alamat.

Saya sedikit ingin menambahkan dan menguatkan argumentasi ustadz Idrus Romli yang menyatakan sayyidina Abdullah bin Mas’ud juga melegalkan bid’ah hasanah. Berikut salah satu bukti dan dalil bahwa Ibnu Mas’ud juga membenarkan adanya bid’ah hasanah, yaitu majlis qishahs yang beliau rutinkan setiap hari Kamis, hal ini disebutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri sebagai berikut :
والمقصود بيان ما نحن عليه من الدين وأنه عبادة الله وحده لا شريك له فيها بخلع جميع الشرك، ومتابعة الرسول فيها نخلع جميع البدع إلا بدعة لها أصل في الشرع كجمع المصحف في كتاب واحد وجمع عمر رضي الله عنه الصحابة على التراويح جماعة وجمع ابن مسعود أصحابه عل القصص كل خميس ونحو ذلك خميس ونحو ذلك فهذا حسن والله أعلم
“ Maksudnya adalah menejlaskan apa yang kami lakukan dari agama dan yang merupakan ibadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, di dalamnya melepas semua bentuk kesyirikan dan mengikuti Rasul di dalamnya, kami melepas semua bentuk bid’ah kecuali bid’ah yang memiliki asal dalam syare’at seperti mengumpulkan mushaf dalam satu kitab dan pengumpulan Umar radhiallahu ‘anhu kepada para sahabat atas sholat tarawih dengan berjama’ah, dan pengumpulan Ibnu Mas’ud kepada para sahabatnya atas majlis kisah-kisah setiap hari kamis dan semisalnya, semua ini adalah baik wa Allahu A’lam “[2]

Dapat dipahami dari perkataan Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut, bahwasanya ia mengakui adanya bid’ah baik yang berlandaskan asal dalam syare’at, bahkan ia memberikan contoh-contohnya di antaranya ; pengumpulan mushaf dalam satu kitab, pengumpulan Umar bin Khaththab terhadap para sahabat atas sholat tarawih secara berjama’ah dan Majlis rutin Ibnu Mas’ud setiap hari kamis. Dan ini juga merupakan dalil bahwa apa yang dilakukan Umar bin Khaththab terhadap sholat tarawih adalah bid’ah hasanah.

Di antaranya juga ijitihad Abdullah bin Mas’ud menambahi ucapan :
السلام علينا من ربنا
“ Kesejahteraan atas kami dari Tuhan kami “, setelah mengucapkan “ Warahmatullahi wa barakaatuh “ di dalam tasyahhud. Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thbarani di al-Kabirnya dan sanadnya dinilai sahih dalam majma’ az-Zawaid.

Masalah Takhshish kullu bid’atin :

Adapun masalah takhsish hadits kullu bid’atin, maka banyak sekali hadits yang mentakhsishnya dan juga perbuatan para sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Secara bahasa (lughatan) saja hadits ini sudah bisa ditakhsish, karena dalam bahasa tidak semua lafadz kullu bermakna keseluruhan secara muthlaq. Contoh hadits :

كل بني آدم يأكله التراب الاعجب الذنب

“ Setiap anak cucu Adam akan dimakan oleh tanah kecuali tulang ekornya “. Hadits ini secara tekstual menjelaskan bahwa semua manusia jasadnya akan dimakan oleh tanah jika sudah meninggal, padahal jasad para Nabi tidak termasuk di dalamnya. Maka lafadz kullu di situ tidak mesti bermakna keseluruhan akan tetapi sebagian besarnya saja. Contoh lagi Hadits riwayat Imam Ahmad :

عَنِ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ
Dari al-Asyari berkata: “ Rasulullah SAW bersabda: “ setiap mata berzina” (musnad Imam Ahmad)

Sekalipun hadits di atas menggunakan kata kullu, namun bukan bermakna keseluruhan/semua, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu mata yang melihat kepada ajnabiyah.

Secara syar’i, hadits kullu bid’atin juga bisa ditakhsish. Di antara hadits yang mentakhsish hadits kullu bid’atin adalah hadits “ Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan “, sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam al-Hafidz an-Nawawi :

فِيْهِ الْحَثُّ عَلَى الابْتِدَاءِ بِالْخَيْرَاتِ وَسَنِّ السُّنَنِ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيْرِ مِنَ الأَبَاطِيْلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ. وَفِيْ هذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صَلّى اللهُ عَليْه وَسَلّمَ "فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ" وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ.

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memulai kebaikan, dan merintis perkara-perkara baru yang baik, serta memperingatkan masyarakat dari perkara-perkara yang batil dan buruk. Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan terhadap hadits Nabi yang lain, yaitu terhadap hadits: “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah”. Dan bahwa sesungguhnya bid’ah yang sesat itu adalah perkara-perkara baru yang batil dan perkara-perkara baru yang dicela”.[3]

Juga hadits sahih berikut ini :
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
 “ Barangsiapa yang melakukan perkara baru dalam agama kami ini yang bukan termasuk darinya, maka ia tertolak “.(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dapat dipahami dari sabda Rasulullah: “Ma Laisa Minhu”, artinya “ Yang tidak bersumber dari Agama ”, bahwa perkara baru yang tertolak adalah yang bertentangan dan menyalahi syari’at. Adapun perkara baru yang tidak bertentangan dan tidak menyalahi syari’at maka ia tidak tertolak.

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini sebagai berikut :

إن هذا الحديث يدل بمنطوقهِ على أن كُل عمل ليس عليهِ أمر الشارع فهو مردود , ويدل بمفهومهِ على أن كل عمل عليهِ أمره ُ فهو غير مردود

Hadits ini secara tekstualnya (manthuq) menunjukkan bahwa setiap perbuatan yang bukan termasuk urusan syare’at, maka tertolak. Dan secara mafhumnya (konteks) bahwasanya setiap perbuatan yang termasuk urusan syare’at, maka tidaklah tertolak “.

Hadits kullu bid’atin juga di takhsish oleh atsar Ibnu Umar, “ Ni’matil bid’atu hadzihi “, sebagaimana penjelasan imam al-Mufassir al-Qurthubi :

ويعضد هذا قول عمر رضي الله عنه: نعمت البدعة هذه، لما كانت من أفعال الخير وداخلة في حيز المدح، وهي وإن كان النبي صلى الله عليه وسلم قد صلاها إلا أنه تركها ولم يحافظ عليها، ولا جمع الناس، عليها، فمحافظة عمر رضي الله عنه عليها، وجمع الناس لها، وندبهم إليها، بدعة لكنها بدعة محمودة ممدوحة. وإن كانت في خلاف ما أمر لله به ورسوله فهي في حيز الذم والانكار، قال معناه الخطابي وغيره

“ Hal ini dikuatkan oleh ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “, karena termasuk perbuatan baik dan masuk dalam lingkup pujian. Walaupun sholat terawih ini pernah melakukannya, akan tetapi beliau meninggalkannya dan tidak merutinkannya, tidak pula mengumpulkan manusia untuk itu, maka perhatian Umar atas sholat terawih ini, usaha mengmpulkan orang banyak dan menganjurkannya adalah perkara bid’ah akan tetapi bid’ah mahmudah (terpuji). Dan jika perkara itu menyelisihi apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, maka masuk dalam lingkup celaan dan keingkaran. Demikianlah dikatakan secara makna oleh al-Khaththabi dan selainnya. “[4]

Lebih jelas lagi beliau menegaskan :

قلت: وهو معنى قوله صلى الله عليه وسلم في خطبته: (وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة) يريد ما لم يوافق كتابا أو سنة، أو عمل الصحابة رضي الله عنهم، وقد بين هذا بقوله: (من سن في الاسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ ومن سن في الاسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شئ) وهذا إشارة إلى ما ابتدع من قبيح وحسن، وهو أصل هذا الباب، وبالله العصمة والتوفيق، لا رب غيره
“ Aku (al-Qurthubi) katakana : “ Itulah makna ucapan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya : ( Dan seburu-buruknya perkara adalah perkara barunya dan setiap bid’ah itu sesat ) yang Nabi maksud adalah perkara baru yang tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunnah atau perbuatan sahabat radhiallahu ‘anhum. Ini sungguh telah Nabi jelaskan dalam sabdanya : Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”, ini adalah isyarat kepada bid’ah yang buruk dan bid’ah yang baik, inilah esensi dalam bab ini. Dan dengan Allah lah kita mendapat ‘ishmah dan taufiq, tidak ada Rabb selain-Nya “. [5]

Penjelasan para ulama besar Ahlus sunnah ini (imam Nawawi, al-Qurthubi, Ibnu Rajab al-Hanbali) dan juga para ulama besar lainnya yang tidak saya tampilkan di sini, sudah cukup membantah asumsi Firanda dan kaum wahabi lainnya yang mengatakan tidak ada takhsish dalam hadits kullu bid’atin. Dan semua keterangan ini juga membantah argumentasi Firanda yang mengatakan ucapan bid’ah Umar bin Khaththab adalah bid’ah lughowiyyah, karena meskipun demikian tidak bisa membantah fakta dan subtansi makna bid’ah yang dimaksud para ulama besar Ahlus sunnah yang telah kami sebutkan di atas.

Kesimpulan dari point ini adalah :

1. Firanda salah alamat dalam menanggapi argumentasi ustadz Idrus Romli terkait atsar Abdullah bin Mas’ud radhaillahu ‘anhu. Dan membuat persepsi bantahan yang tidak dikatakan oleh ustadz Idrus sendiri. Ini suatu kesalahan fatal dalam dialog ilmiyyah.
2. Atsar tersebut dan juga perbuatan baru Abdullah bin Mas’ud lainnya, menunjukkan rekomendasi dari beliau terhadap bid’ah hasanah.
3. Hadits Kullu Bid’atin, bisa ditakhsish dengan hadits-hadits sahih lainnya, sehingga jangkauan makna umumnya terbatasi.
4. Bid’ah secara bahasa, tidak menghilangkan subtansi makna bid’ah mahmudah yang diterima oleh syare’at. 

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 05-Januari-2014



[1] Al-Ahkaam, al-Amidi : 3/138
[2] Ar-Rasail asy-Syahsyiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab jilid 5 risalah yang keenam belas halaman : 103
[3] Syarh Sahih Muslim, an-Nawawi : 4/110
[4] Tafisr al-Qurthubi : 2/84
[5] Tafisr al-Qurthubi : 2/84-85