Selamat datang di blog saya yang sederhana ini yang menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian ASWAJA di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja

Rabu, 24 Juni 2015

Ustadz Wahabi menganiaya Syaikh Idahram


Lagi-lagi, usadz wahabi bikin ulah dan aniaya...

Pada tanggal 21 Juni kemaren, diadakan bedah buku “Bukan Fitnah Tapi inilah Faktanya” (Membongkar tradisi dusta wahabi) karangan Ustadz Marhadi alias Syaikh Idahram yang sebelumnya sangat fenomental telah menulis tiga rangkaian buku yang menelanjangi kejahatan wahabi-salafi, telah terjadi kekisruhan dan penganiayaan terhadap penulis buku tersebut yang dbuat seorang ustadz wahabi bernama soni alias Abu Husan ath-Thwailibi dan masih di awal-awal puasa Ramadhan ini. Berikut kronologi kejadiannya yang diceritakan sendiri oleh ustadz Marhadi kepada saya melalui Prifat Message :

“ Kejadiannya di Masjid Raya Bogor, pada hari Ahad 21 Juni 2015, pukul 16.47 sore hari ba'da Ashar ketika bedah buku BUKAN FITNAH TAPI INILAH FAKTANYA (membongkar tradisi dusta Wahabi) sedang berlangsung. Acara itu dihadiri juga oleh anggota DPR Bogor faksi FAN, Romdhoni (beliau menyalahkan si wahabi dan meminta saya untuk terus berdakwah), juga dihadiri ketua umum MUI kota bogor, Adam Ibrahim. Cuma ketua umumnya ini dikenal masyarakat bogor sebagai pendukung berat wahabi dan kabarnya emang dia juga wahabi. Dia juga sangat berpihak ke mereka dilihat dari duduk bareng mereka, komentarnya tentang saya dan bahasa tubuh lainnya. Hadir juga, ketua fatwa MUI Bogor Abbas Aula. Dia juga dalam komentarnya di depan peserta menuduh saya pendusta. Dia bicara sebagai penanya tapi malah menuduh sekitar 7 menit. Kemudian Soni ath-Thuwailibi memukul kepala bagian belakang saya dari arah belakang ketika saya sedang memperhatikan penanya yang lain. Dia juga sebelum memukul bertindak sebagai penanya yg juga bukan bertanya tapi menuduh saya pendusta. “

Demikian kronologi yang beliau kisahkan. Inikah sikap seorang ulama wahabi yang mengaku-ngaku mengikuti sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?? menuding, menuduh, memfitnah tanpa bukti dan bahkan menganiaya ? bahkan dilakukan pula di bulan suci, bulan ujian menahan amarah dan emosi ?? saya tidak tahu kedepannya bagaimana, jika ajaran dan doktrin wahabi dibiarkan berkembang di Negeri Indonesia tercinta ini...

* Video rekaman kejadian masih kami simpan...

Minggu, 03 Agustus 2014

Kelompok Pasukan Yang Berencana Membunuh Imam Mahdi



Ketika imam Mahdi nanti dibai'at di hadapan Ka'bah, maka tidak lama datanglah pasukan utusan dari Syam yang ingin membunuh imam Mahdi, namun sebelum sampai kota Makkah, Allah Ta'ala membenamkan pasukan tersebut ke dalam bumi. simak Haditsnya berikut :

فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ

" ... Maka kelualah seseorang dari Penduduk Madinah dengan melarikan diri menuju ke Makkah, maka datanglah penduduk Makkah dan mengeluarkannya sedangkan ia (imam Mahdi) dalam keadaan tidak senang (tidak suka), lalu penduduk Makkah membaiatnya di antara rukun dan makam, kemudian datanglah bebrapa utusan dari Syam lalu pasukan tersebut ditelan bumi di Baida’ antara Makkah dan Madinah." (Sunan Abu Daud : 4282)

Pertanyaannya, siapakah pasukan utusan dari Syam itu ? mengapa mereka ingin memerangi dan membunuh imam Mahdi beserta pendukung khilafahnya ?

Saya mengkaji doktrin ISIS yang dipahami oleh mereka secara dangkal terhadap hadits yang menjelaskan dua khalifah yang ditegakkan. ISISI dan kelompok yang sejenisnya, memiliki doktrin jika kelak setelah klaim tegaknya khilafah 'ala ISIS ternyata ada khilafah lagi yang ditegakkan, maka ISIS akan memerangi dan membunuh khalifah yang kedua tersebut, berikut hadits yang dipahami dengan sempit oleh ISIS dan aliran yang sepaham dengannya :


إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا


“Bila dilakukan bai’at bagi dua khalifah, maka bunuhlah yang paling akhir dari keduanya.” (HR. Muslim)

Anda bisa melihat dalam situs-situs pro ISIS dan yang sepaham di antaranya situs millahibrahim.wordpress.com


Atas dasar fakta ini, kemungkinan besar pasukan dari Syam yang mengejar dan berencana membunuh imam Mahdi adalah kelompok ISIS atau kelompok yang sepaham dengan ajaran khowarij ini.

Kita berdoa semoga tidak termasuk dalam golongan kelompok yang Allah tenggelamkan ke dalam bumi saat berencana membunuh imam Mahdi.


Namun tidak semua penduduk Syam menjadi musuh imam Mahdi, di sana terdapat wali abdal yang akan menjadi pendukung setia imam Mahdi, demikian juga dari Iraq dan khurasan sang pembawa panji hitam yang sesungguhnya. Dalam lanjutan hadits di atas disebutkan :

فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُونَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيمَةَ كَلْبٍ فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِي الْإِسْلَامُ بِجِرَانِهِ فِي الْأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

"... Bila hal itu dilihat oleh orang-orang maka ia didatangi oleh ‘Abdal Syam dan beberapa kumpulan dari Iraq untuk berbai’at kepadanya. Kemudian muncul seorang pemuda dari Quraisy, paman dari sebelah ibunya dari kabilah Kalb yang akan membawa pasukan untuk menentang Imam Mahdi, tetapi pasukan Imam Mahdi berhasil mengalahkan mereka. Kerugian bagi orang yang tidak menyaksikan harta rampasan perang kabilah Kalb. Imam Mahdi akan membagi-bagikan harta dan beramal mengikut Sunah Nabi mereka SAW di kalangan manusia. Ketika itu Islam tersebar dengan luas. Dia akan memerintah selama tujuh tahun kemudian wafat dan jenazahnya dishalatkan oleh Umat Islam ".

Dan semoga kita ditaqdirkan oleh Allah termasuk golongan yang menerima khilafah imam Mahdi kelak. Amiin....

Ibnu Al-Katibiy
3/08/2014

Sabtu, 02 Agustus 2014

10 Ciri Dan Karakter Pengusung Bendera Hitam Palsu

Sayyidina Ali Radhiallahu ‘anhu memberikan suatu informasi penting yang patut menjadi pegangan dan renungan kita terutama saat banyaknya kemunculan aliran radikal penuh brutal yang mengaku pendukung khilafah imam Mahdi :

 إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّوْدَ فَالْزَمُوْا الْاَرْضَ وَلَا تُحَرِّكُوْا أَيْدِيَكُمْ وَلَا أَرْجُلَكُمْ  ثُمَّ يَظْهَرُ قَوْمٌ ضُعَفَاءُ لَا يُؤْبَهُ لَهُمْ ، قُلُوْبُهُمْ كَزُبُرِ الْحَدِيْدِ ، هُمْ أَصْحَابُ الدَّوْلَةِ ، لَا يَفُوْنَ بِعَهْدٍ وَلَا مِيْثَاقٍ ، يَدْعُوْنَ إِلَى الْحَقِّ وَلَيْسُوْا مِنْ أَهْلِهِ ، أَسْمَاؤُهُمُ الْكُنَى وَنِسْبَتُهُمُ الْقُرَى ، وَشُعُوْرُهُمْ مِرْخَاةٌ كَشُعُوْرِ النِّسَاءِ حَتَّى يَخْتَلِفُوْا فِيْهَا بَيْنَهُمْ ثُمَّ يُؤْتِي اللهُ الْحَقَّ مَنْ يَشَاءُ

“Jika kalian melihat bendera hitam, maka bertahanlah di bumi. Jangan gerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan muncul kaum lemah yang tidak dihiraukan (rendahan). Hati mereka seperti batangan baja (kaku, keras). Mereka (mengaku) pemegang daulah (Islamiyyah). Mereka tidak menepati janji dan kesepakatan. Mereka mengajak kepada kebenaran sedangkan mereka bukan orang yang benar. Nama mereka menggunakan kunyah dan nisbat mereka menggunakan nama daerah. Rambut mereka terurai seperti wanita, hingga mereka berselisih diantara mereka. Kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada yang Allah kehendaki” (Riwayat Abu Nuaim. Kanz al-Ummal 11/283)

Peringatan sayyidina Ali ini, telah semakin mengungkap kebenarannya dengan fenomena brutal yang ada pada kelompok Daulah Islamiyyah Irak dan Syam (ISIS) saat ini. Semua ciri dan sifat di atas terdapat pada ISIS dan yang sejenisnya.

1. Bendera Hitam : Sudah masyhur mereka menggunakan bendera hitam, mungkin mereka mengira akan menjadi pengikut imam Mahdi yang membawa bendera hitam di akhir zaman saat kemunculannya dari Khurasan nanti, dan juga kelompok lainnya (semisal Hizbuttahrir dll) yang juga menggunakan bendera hitam dengan tujuan dan harapan yang sama. Justru sebaliknya mereka akan menjadi kelompok yang diperingatkan oleh imam Ali di atas.

Menjelang kehadiran imam Mahdi banyak kelompok membuat bendera hitam dengan tujuan menjadi pembela imam Mahdi, padahal kenyataannya justru sebaliknya, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir :
Ibnu Katsir:

( ثُمَّ تَطْلُع الرَّايَات السُّود ) قَالَ اِبْنُ كَثِيرٍ هَذِهِ الرَّايَاتُ السُّوْدُ لَيْسَتْ هِيَ الَّتِي أَقْبَلَ بِهَا أَبُو مُسْلِمٍ الْخُرَاسَانِيّ فَاسْتَلَبَ بِهَا دَوْلَةَ بَنِي أُمَيَّة بَلْ رَايَاتٌ سُوْدٌ أُخَرُ تَأْتِي صُحْبَةَ الْمَهْدِيّ)

“Hadis (kemudian mencul bendera hitam). Ibnu Katsir berkata: “Bendera hitam ini bukanlah bendera yang dibawa oleh Abu Muslim al-Khurasani yang kemudian mengganti dinasti Bani Umayyah, namun bendera hitam yang lain, yang akan datang mengiringi kedatangan al-Mahdi” (Hasyiah as-Sindi 7/446)

Semoga kita tidak termasuk pengikut mereka para pengusung bendera hitam palsu.

Solusi : Imam Ali menasehati kita agar kita jangan menggerakan tangan (berbai’at) kepada mereka dan jangan menggerakan kaki (beranjak mengikuti) mereka. Kita harus bersabar hingga yakin imam Mahdi benar-benar telah keluar dan dibai’at oleh kaum muslimin Ahlus sunnah wal Jama’ah.


2. Kaum Lemah yang tidak dihiraukan : Meskipun organisasi mereka tertata dan terstruktur, namun keberadaan mereka tidak akan dihiraukan mayoritas umat muslim yang sejak lama berpegang teguh dengan manhaj Ahlus sunnah wal Jama’ah khususnya Indonesia. Mereka hanya akan berkuasa di daerah-daerah yang sudah dikuasinya. Namun demikian, kita wajib waspada dari kejahatan dan makar yang mereka rencanakan.

3. Hati mereka seperti batangan baja : Hati mereka kaku dan keras, tanpa rasa kasihan mereka brutal membunuh kaum muslimin yang tidak sepaham dan tidak mendukung mereka, bahkan menyembeleh kepala-kepala para tokoh muslim dari berbagai kalangan.
Bahkan baru-baru ini ISIS mempublikasikan sebuah video yang menunjukkan kekejaman mereka. Video yang diuploud via youtobe dan live leak tersebut menunjukkan setidaknya ada 15 kepala manusia yang digantung disebuah pagar runcing. Kepala manusia yang mengenaskan itu digantungkan di leher dan di mulut sedangkan tubuhnya bergeletakan di bawanya. Narator yang memandu video tersebut mengatakan bahwa kepala yang digantung tersebut adalah kepala tentara-tentara Suriah yang tewas saat perang dengan mereka.



4. Mereka (mengaku) pemegang Daulah Islamiyyah : Ciri ini sangat kentara dan nyata bagi mereka. Lihat mereka sendiri pun menamakan kelompoknya dengan kelompok Daulah Islamiyyah di Irak dan Syam (The Islamic State in Iraq and al-Sham; ISIS).



5. Mereka tidak menepati janji dan kesepakatan  : Diketahui bahwa ISIS sering melakukan pelanggaran janji dan kesepakatan. Dr. Al Mis'ari memiliki kajian terinci tentang kisah-kisah ingkar janji dan pembatalan kesepakatan sepihak mereka, bagaimana mereka menghabisi nyawa delegasi pihak lain dan juga para tamu.

6. Mereka mengajak kepada kebenaran sedangkan mereka bukan orang yang benar : Misi visi mereka seolah mengajak kepada Islam yang benar dengan memaksa muslim lainnya masuk dan berbagung dengan khalifah mereka. Mengajak untuk menegakkan tauhid yang benar, sehingga mereka banyak menghancurkan kubah dan makam para ulama dan wali di berbagai tempat. Namun sebenarnya mereka dalam kebathilan. Dalam pemahaman yang sesat karena tidak mengikuti pemahaman para ulama yang haq, sehingga mereka jauh dari kebenaran.

7. Nama mereka menggunakan kunyah : Pemimpin kelompok radikal ISIS ini nama depannya menggunakan kunyah (Abu) yakni Abu Bakar al-Baghdadi. Bahkan hampir seluruh pendukung dan prajuritnya menggunakan kunyah seperti Abu Yasin al-Muhajiri, Abu Muhamamd al-Julani dan lainnya.



8. Nisbat mereka menggunakan nama daerah : Abu Bakar al-Baghdadi nisbat daerah Baghdad, Abu Muhammad al-Julani nisbat daeraj Jaulan dan semisalnya.

9. Rambut mereka terurai seperti wanita : Subhanallah, rata-rata kelompok seperti ini, rambutnya mereka gondrong dan terurai seperti rambut wanita.





10. Hingga mereka berselisih diantara mereka : Subhanallah ini pun nyata pada mereka. ISIS yang pada awalnya dalam bendera Jabhah an-Nushrah, akhirnya terjadi pertikaian pahit sesama mereka atas perbedaan ideologi dan strategi masing-masing, bahkan kekuatan-kekuatan militer yang aktif dan sejenis dengan mereka baik di Iraq, Syam dan Suriah juga tercerai berai merasa kelompok mereka paling berhak dan paling benar untuk diikuti, hal ini sudah umum diketahui publik. 


Ibnu al-Katibiy
2/08/2014

Rabu, 29 Januari 2014

Catatan Dialog Ilmiyyah Aswaja vs Salafi di Batam bag IV


Atsar Ibnu Mas’ud dan Bid’ah Hasanah.

Firanda kemudian menyanggah sanggahan dari ustadz Idrus Romli, yang menurutnya Idrus Romli salah dalam berhujjah mengenai takhshish hadits kullu bid’atin. Firanda menyangka ustadz Idrus membawakan dalil atsar Ibnu Mas’ud “ Maa roaahul muslimuuna hasanah fahuwa ‘indallahi hasan “ untuk mentakhshish / membatasi hadits kullu bid’atin. Kemudian Firanda menjelaskan maksud dari makna atsar tersebut yang subtansinya mengenai dalil ijma’ ulama. Lalu membuat kesimpulan yang menyalahkan ustadz Idrus padahal tidak dikatakan sama sekali oleh ustadz Idrus.

Tanggapan saya :

Ustadz Firanda kurang cermat mendengarkan dan memperhatikan hujjah dari ustadz Idrus Romli. Ketika ustadz Idrus Romli membawakan atsar Ibnu Mas’ud tersebut, beliau posisinya bukan untuk membawakan dalil takhshish untuk hadits kullu bid’atin sebagaimana sangkaan ustadz Firanda. Akan tetapi ustadz Idrus membawakan atsar tersebut dalam rangka ingin menyanggang hujjah ustadz Zainal yang berasumsi bahwa sahabat Abdullah bin Mas’ud menolak bid’ah hasanah dengan membawakan atsar Ibnu Mas’ud “ Ittabi’uu wa laa tabtadi’uu fa qod kufiitum “. Maka lalu oleh ustadz Idrus dibawakan dalil yang menunjukkan bahwa Abdullah bin Mas’ud juga melegalkan bid’ah hasanah dengan hujjah atsar beliau yang mengatakan :

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“ Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka itu baik di sisi Allah “

Ustadz Idrus pun tidak mengartikan kaum muslimin di sini dengan orang Islam biasa, justru beliau mengartikannya dengan para ulama. Silakan dengarkan kembali rekaman video tersebut pada menit ke ….

Jelas atsar ini dibawakan oleh ustadz Idrus bukan untuk mentakhshish hadits kullu bid’atin melainkan ingin membuktikan bahwa Ibnu Mas’ud juga mengakui adanya perkara baru yang baik.

Berkaitan masalah atsar tersebut, memang berkaitan dengan dalil ijma’ para ulama sebagaimana dikatakan oleh al-Amidi dan kami (Aswaja) pun setuju tentang hal ini :

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن إشارة إلى إجماع المسلمين، والإجماع حجة ولا يكون إلا عن دليل وليس فيه دلالة على أن ما رآه آحاد المسلمين حسن يكون حسنا عند الله، وإلا كان ما رآه آحاد العوام من المسلمين حسن فهو حسن عند الله، وهو ممتنع

“ Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka itu baik di sisi Allah, adalah isyarat kepada ijma’ kaum muslimin, dan ijma’ adalah hujjah, ijma’ pun tentu berdasarkan dari dalil. Atsar ini sama sekali tidak menunjukkan dalil bahwa apa yang dipandang oleh perorangan dari kaum muslimin baik maka di sisi Allah baik, karena jika tidak demikian, maka apa yang dipandang oleh perorangan dari kaum awam muslimin itu baik maka di sisi Allah baik, dan ini suatu hal yang terlarang “[1]

Maka apa yang dibantah oleh ustadz Firanda tidak mengena kepada apa yang diucapkan oleh ustadz Idrus, dalam kata lain Firanda salah alamat.

Saya sedikit ingin menambahkan dan menguatkan argumentasi ustadz Idrus Romli yang menyatakan sayyidina Abdullah bin Mas’ud juga melegalkan bid’ah hasanah. Berikut salah satu bukti dan dalil bahwa Ibnu Mas’ud juga membenarkan adanya bid’ah hasanah, yaitu majlis qishahs yang beliau rutinkan setiap hari Kamis, hal ini disebutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri sebagai berikut :
والمقصود بيان ما نحن عليه من الدين وأنه عبادة الله وحده لا شريك له فيها بخلع جميع الشرك، ومتابعة الرسول فيها نخلع جميع البدع إلا بدعة لها أصل في الشرع كجمع المصحف في كتاب واحد وجمع عمر رضي الله عنه الصحابة على التراويح جماعة وجمع ابن مسعود أصحابه عل القصص كل خميس ونحو ذلك خميس ونحو ذلك فهذا حسن والله أعلم
“ Maksudnya adalah menejlaskan apa yang kami lakukan dari agama dan yang merupakan ibadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, di dalamnya melepas semua bentuk kesyirikan dan mengikuti Rasul di dalamnya, kami melepas semua bentuk bid’ah kecuali bid’ah yang memiliki asal dalam syare’at seperti mengumpulkan mushaf dalam satu kitab dan pengumpulan Umar radhiallahu ‘anhu kepada para sahabat atas sholat tarawih dengan berjama’ah, dan pengumpulan Ibnu Mas’ud kepada para sahabatnya atas majlis kisah-kisah setiap hari kamis dan semisalnya, semua ini adalah baik wa Allahu A’lam “[2]

Dapat dipahami dari perkataan Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut, bahwasanya ia mengakui adanya bid’ah baik yang berlandaskan asal dalam syare’at, bahkan ia memberikan contoh-contohnya di antaranya ; pengumpulan mushaf dalam satu kitab, pengumpulan Umar bin Khaththab terhadap para sahabat atas sholat tarawih secara berjama’ah dan Majlis rutin Ibnu Mas’ud setiap hari kamis. Dan ini juga merupakan dalil bahwa apa yang dilakukan Umar bin Khaththab terhadap sholat tarawih adalah bid’ah hasanah.

Di antaranya juga ijitihad Abdullah bin Mas’ud menambahi ucapan :
السلام علينا من ربنا
“ Kesejahteraan atas kami dari Tuhan kami “, setelah mengucapkan “ Warahmatullahi wa barakaatuh “ di dalam tasyahhud. Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thbarani di al-Kabirnya dan sanadnya dinilai sahih dalam majma’ az-Zawaid.

Masalah Takhshish kullu bid’atin :

Adapun masalah takhsish hadits kullu bid’atin, maka banyak sekali hadits yang mentakhsishnya dan juga perbuatan para sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Secara bahasa (lughatan) saja hadits ini sudah bisa ditakhsish, karena dalam bahasa tidak semua lafadz kullu bermakna keseluruhan secara muthlaq. Contoh hadits :

كل بني آدم يأكله التراب الاعجب الذنب

“ Setiap anak cucu Adam akan dimakan oleh tanah kecuali tulang ekornya “. Hadits ini secara tekstual menjelaskan bahwa semua manusia jasadnya akan dimakan oleh tanah jika sudah meninggal, padahal jasad para Nabi tidak termasuk di dalamnya. Maka lafadz kullu di situ tidak mesti bermakna keseluruhan akan tetapi sebagian besarnya saja. Contoh lagi Hadits riwayat Imam Ahmad :

عَنِ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ
Dari al-Asyari berkata: “ Rasulullah SAW bersabda: “ setiap mata berzina” (musnad Imam Ahmad)

Sekalipun hadits di atas menggunakan kata kullu, namun bukan bermakna keseluruhan/semua, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu mata yang melihat kepada ajnabiyah.

Secara syar’i, hadits kullu bid’atin juga bisa ditakhsish. Di antara hadits yang mentakhsish hadits kullu bid’atin adalah hadits “ Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan “, sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam al-Hafidz an-Nawawi :

فِيْهِ الْحَثُّ عَلَى الابْتِدَاءِ بِالْخَيْرَاتِ وَسَنِّ السُّنَنِ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيْرِ مِنَ الأَبَاطِيْلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ. وَفِيْ هذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صَلّى اللهُ عَليْه وَسَلّمَ "فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ" وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ.

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memulai kebaikan, dan merintis perkara-perkara baru yang baik, serta memperingatkan masyarakat dari perkara-perkara yang batil dan buruk. Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan terhadap hadits Nabi yang lain, yaitu terhadap hadits: “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah”. Dan bahwa sesungguhnya bid’ah yang sesat itu adalah perkara-perkara baru yang batil dan perkara-perkara baru yang dicela”.[3]

Juga hadits sahih berikut ini :
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
 “ Barangsiapa yang melakukan perkara baru dalam agama kami ini yang bukan termasuk darinya, maka ia tertolak “.(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dapat dipahami dari sabda Rasulullah: “Ma Laisa Minhu”, artinya “ Yang tidak bersumber dari Agama ”, bahwa perkara baru yang tertolak adalah yang bertentangan dan menyalahi syari’at. Adapun perkara baru yang tidak bertentangan dan tidak menyalahi syari’at maka ia tidak tertolak.

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini sebagai berikut :

إن هذا الحديث يدل بمنطوقهِ على أن كُل عمل ليس عليهِ أمر الشارع فهو مردود , ويدل بمفهومهِ على أن كل عمل عليهِ أمره ُ فهو غير مردود

Hadits ini secara tekstualnya (manthuq) menunjukkan bahwa setiap perbuatan yang bukan termasuk urusan syare’at, maka tertolak. Dan secara mafhumnya (konteks) bahwasanya setiap perbuatan yang termasuk urusan syare’at, maka tidaklah tertolak “.

Hadits kullu bid’atin juga di takhsish oleh atsar Ibnu Umar, “ Ni’matil bid’atu hadzihi “, sebagaimana penjelasan imam al-Mufassir al-Qurthubi :

ويعضد هذا قول عمر رضي الله عنه: نعمت البدعة هذه، لما كانت من أفعال الخير وداخلة في حيز المدح، وهي وإن كان النبي صلى الله عليه وسلم قد صلاها إلا أنه تركها ولم يحافظ عليها، ولا جمع الناس، عليها، فمحافظة عمر رضي الله عنه عليها، وجمع الناس لها، وندبهم إليها، بدعة لكنها بدعة محمودة ممدوحة. وإن كانت في خلاف ما أمر لله به ورسوله فهي في حيز الذم والانكار، قال معناه الخطابي وغيره

“ Hal ini dikuatkan oleh ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “, karena termasuk perbuatan baik dan masuk dalam lingkup pujian. Walaupun sholat terawih ini pernah melakukannya, akan tetapi beliau meninggalkannya dan tidak merutinkannya, tidak pula mengumpulkan manusia untuk itu, maka perhatian Umar atas sholat terawih ini, usaha mengmpulkan orang banyak dan menganjurkannya adalah perkara bid’ah akan tetapi bid’ah mahmudah (terpuji). Dan jika perkara itu menyelisihi apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, maka masuk dalam lingkup celaan dan keingkaran. Demikianlah dikatakan secara makna oleh al-Khaththabi dan selainnya. “[4]

Lebih jelas lagi beliau menegaskan :

قلت: وهو معنى قوله صلى الله عليه وسلم في خطبته: (وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة) يريد ما لم يوافق كتابا أو سنة، أو عمل الصحابة رضي الله عنهم، وقد بين هذا بقوله: (من سن في الاسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ ومن سن في الاسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شئ) وهذا إشارة إلى ما ابتدع من قبيح وحسن، وهو أصل هذا الباب، وبالله العصمة والتوفيق، لا رب غيره
“ Aku (al-Qurthubi) katakana : “ Itulah makna ucapan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya : ( Dan seburu-buruknya perkara adalah perkara barunya dan setiap bid’ah itu sesat ) yang Nabi maksud adalah perkara baru yang tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunnah atau perbuatan sahabat radhiallahu ‘anhum. Ini sungguh telah Nabi jelaskan dalam sabdanya : Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”, ini adalah isyarat kepada bid’ah yang buruk dan bid’ah yang baik, inilah esensi dalam bab ini. Dan dengan Allah lah kita mendapat ‘ishmah dan taufiq, tidak ada Rabb selain-Nya “. [5]

Penjelasan para ulama besar Ahlus sunnah ini (imam Nawawi, al-Qurthubi, Ibnu Rajab al-Hanbali) dan juga para ulama besar lainnya yang tidak saya tampilkan di sini, sudah cukup membantah asumsi Firanda dan kaum wahabi lainnya yang mengatakan tidak ada takhsish dalam hadits kullu bid’atin. Dan semua keterangan ini juga membantah argumentasi Firanda yang mengatakan ucapan bid’ah Umar bin Khaththab adalah bid’ah lughowiyyah, karena meskipun demikian tidak bisa membantah fakta dan subtansi makna bid’ah yang dimaksud para ulama besar Ahlus sunnah yang telah kami sebutkan di atas.

Kesimpulan dari point ini adalah :

1. Firanda salah alamat dalam menanggapi argumentasi ustadz Idrus Romli terkait atsar Abdullah bin Mas’ud radhaillahu ‘anhu. Dan membuat persepsi bantahan yang tidak dikatakan oleh ustadz Idrus sendiri. Ini suatu kesalahan fatal dalam dialog ilmiyyah.
2. Atsar tersebut dan juga perbuatan baru Abdullah bin Mas’ud lainnya, menunjukkan rekomendasi dari beliau terhadap bid’ah hasanah.
3. Hadits Kullu Bid’atin, bisa ditakhsish dengan hadits-hadits sahih lainnya, sehingga jangkauan makna umumnya terbatasi.
4. Bid’ah secara bahasa, tidak menghilangkan subtansi makna bid’ah mahmudah yang diterima oleh syare’at. 

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 05-Januari-2014



[1] Al-Ahkaam, al-Amidi : 3/138
[2] Ar-Rasail asy-Syahsyiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab jilid 5 risalah yang keenam belas halaman : 103
[3] Syarh Sahih Muslim, an-Nawawi : 4/110
[4] Tafisr al-Qurthubi : 2/84
[5] Tafisr al-Qurthubi : 2/84-85

Sabtu, 11 Januari 2014

Catatan Dialog Ilmiyyah Aswaja vs Wahabi di Batam Bag III


Point berikutnya, giliran ustadz Firanda yang angkat bicara dalam dialog tersebut. Ustadz Firanda menyinggung juga masalah bid’ah hasanah. Menurutnya bid’ah hasanah yang dikatakan oleh para ulama syafi’iyyah dan imam Syafi’i adalah dalam pengertian yang bukan dipahami oleh Aswaja selama ini. Firanda mengatakan :

“ Ternyata yang menjadikan imam Syafi’i yang mengatakan ada bid’ah hasanah karena adanya atsar Umar bin Khaththab yang mengatakan “ Ni’matil bid’atu hadzihi “. Dan kita sepakat bahwa sholat Tarawih bukan bid’ah Karen telah dilakukan oleh Nabi selama 3 hari berturut-turut bersama sahabat, hanya saja di zaman Abu Bakar ash-Shiddiq tidak dikerjakan karena beliau sibuk dengan stabilitas keamanan Negara, ada orang-orang yang murtad, ada orang-orang yang enggan bayar zakat, ada Nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab…”

Sampai di sini penjelasan Firanda terputus dikarenakan durasi waktunya telah habis. Namun saya sangat paham arah dan maksud pembicaraanya. Firanda ingin mengutarakan alasan yang disebutkan imam asy-Syathibi dalam kitabnya al-I’tisham sebagai berikut :

وانما لم يقم ذلك ابو بكر رضي الله عنه لاحد امرين اما لانه رأى ان قيام الناس آخر الليل وما هم به عليه كان افضل عنده من جمعهم على امام اول الليل ذكره الطرطوشي واما لضيق زمانه رضي الله عنه عن النظر في هذه الفروع مع شغله بأهل الرده وغير ذلك مما هو اوكد من صلاة التراويح

Adapun (sebab) Abu Bakar tidak mendirikannya adalah karena salah satu dari dua perkara berikut, sama ada (pertama) dia berpendapat solat orang ramai pada akhir (malam) lebih afdal padanya dari dihimpunkan mereka dengan satu imam pada awal malam, ini disebut oleh al-Turtusyi (الطرطشي).  Ataupun (kedua) disebabkan kesempitan waktu pemerintahannya[untuk melihat perkara-perkara cabang seperti ini sedangkan beliau sibuk dengan golongan murtad dan selainnya yang mana lebih utama daripada Solat Tarawih “.[1]

Kemudian asy-Syathibi mengatakan :

انما سماها بدعة باعتبار ظاهر الحال من حيث تركها رسول الله صلى الله عليه وسلم واتفق ان لم تقع في زمان ابي بكر رضي الله عنه لا انها بدعه في المعنى فمن سماها بدعه بهذا الاعتبار فلا مشاحه في الاسامي

“ Dia menamakannya bid‘ah hanya disebabkan pada zahirnya kerana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah meninggalkannya dan sepakat pula ia tidak berlaku pada zaman Abu Bakr radhiallahu 'anh. Ia bukanlah bid‘ah pada makna (syarak). Sesiapa yang menamakan bid‘ah disebabkan hal ini, maka tiada perlu perbalahan dalam meletakkan nama. Justeru itu tidak boleh berdalil dengannya untuk menunjukkan keharusan membuat bid‘ah “[2]

Tanggapan saya :

Apa yang diutarakan Firanda dengan maksud menyamakan persepsi kepada asy-Syathibi dalam menyimpulkan sebutan bid’ah hasanah yang dimaksudkan imam Syafi’i dan ulama syafi’iyyah, adalah argumentasi lemah dan kontradiktif serta menyimpang dari pemahaman jumhur ulama Ahlus sunnah. 

Pertama : Bid’ah secara bahasa yang sama-sama disepakati adalah : “ Segala sesuatu yang diada-adakan yang tidak ada contoh yang mendahuluinya “. Lalu bagaimana sholat Tarawih berjama’ah dikatakan bid’ah jika ternyata ada contoh sebelumnya dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam ? jika sholat tarawih berjama’ah sudah dicontohkan oleh Nabi, maka sayyidina Umar tidak akan menyebutnya sebagai bid’ah, beliau akan mengatakan bahwa itu sunnah.

Kedua : Jumhur ulama sepakat bahwa sholat tarawih berjama’ah adalah bid’ah dari sayyidina Umar radhiallahu ‘anhu, dalam artian bid’ah yang baik, atau bid’ah dari sudut bahasa atau boleh juga disebut maslahah mursalah bukan sunnah Nabi. Berikut pembuktiannya dari pendapat para ulama :

Imam Az-Zarqani al-Maliki mengatakan :

فسماها بدعة لأنه صلى اللّه عليه وسلم لم يسنّ الاجتماع لها ولا كانت في زمان الصديق، وهي لغة ما أُحدث على غير مثال سبق وتطلق شرعًا على مقابل السنة وهي ما لم يكن في عهده صلى اللّه عليه وسلم

Beliau menamakannya bid’ah kerana Nabi shallahu ‘alaihi wa slalam tidak mensyare’atkan jama’ah untuk sholat tarawih, dan juga karena tidak ada di masa Abu Bakar ash-Shiddiq. Bid’ah secara bahasa adalah perkara baru yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya. Dan secara syare’at adalah lawan dari sunnah yaitu yang tidak ada di masa Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.[3]

Ibnu Hajar al-Atsqalani mengatakan :

قوله: «فتوفي رسول الله (صلي الله عليه وآله) والناس علي ذلك، ثم كان الأمر علي ذلك في خلافة أبي بكر» فقد فسّره الشراح بقولهم: أي علي ترك الجماعة في التراويح، ولم يكن رسول الله (صلي الله عليه وآله) جمع الناس علي القيام

“ ucapan “ Maka Nabi wafat dan manusia tetap dalam keadaan seperti itu, kemudian tetap seperti itu di masa khilafa Abu Bakar “, maka sungguh para pensyarah telah menasfirkan bahwa keadaan itu adalah keadaan di dalam meninggalkan sholat tarawih, dan Rasulullah sahllahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengumpulkan manusia untuk melakukan qiyam (sholat malam) “[4]

Imam Ibnul Atsir mengatakan :

ومن هذا النوع قولُ عمر رضي اللّه عنه: نِعْمَت البدعة هذه. لمـَّا كانت من أفعال الخير وداخلة في حيز المدح سماها بدعة ومدَحها؛ لأن النبي صلى اللّه عليه وسلم لم يَسَنَّها لهم، وإنما صلاّها لَياليَ ثم تَركَها ولم يحافظ عليها، ولا جَمع الناسَ لها، ولا كانت في زمن أبي بكر، وإنما عمر رضي اللّه عنه جمع الناس عليها ونَدَبـهم إليها، فبهذا سمّاها بدعة، وهي على الحقيقة سُنَّة، لقوله صلى اللّه عليه وسلم: عليكم بسُنَّتي وسنَّة الخلفاء الراشِدين من بعْدي، وقوله: اقتدُوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر، وعَلَى هذا التأويل يُحمل الحديث الآخر: كل مُحْدَثة بدعةٌ، إنما يريد ما خالف أصول الشريعة ولم يوافق السُّنَّة

“ Dari macam ini adalah ucapan Umar radhiallahu ‘anhu : Sebaik-baik bid’ah adalah ini “, ketika sholat tarawih ini termasuk perbuatan baik,  dan masuk dalam batas terpuji maka beliau menyebutnya bid’ah dan memujinya, karena Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyare’atkannya pada mereka, beliau melakukannya hanya beberapa malam kemudian meninggalkannya dan tidak merutinkannya, tidak pula mengumpulkan manusia untuk melakukannya, tidka pula ada di masa Abu Bakar As-Shdiddiq. Hanya Umar radhiallahu ‘anhu lah yang mengumpulkan manusia untuk sholat tarawih dan menganjurkannya, dengan inilah beliau menyebutnya bid’ah, pada hakikatnya adalag sunnah[5] karena Nabi bersabda “ Ikutilah orang yang setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar. Atas dasar takwil ini, maka hadits yang lain ini “ Setiap yang baru adalah bid’ah “ ditakwilkan maknanya adalah yang dimaksud adalah perkara baru yang menyalahi asal-asal syare’at dan tidak sesuai sunnah “.[6]

Al-Imam al-Ghazali mengatakan :

فكم من محدث حسن كما قيل في إقامة الجماعات في التراويح إنها من محدثات عمر رضي الله عنه وأنها بدعة حسنة
“ Berapa banyak perkara baru itu (dinilai) baik sebagaimana dikatakan tentang mendirikan jama’ah dalam sholat tarawih, karena ia termasuk perkara baru yang dilakukan Umar radhiallahu ‘anhu, dan ia adalah bid’ah hasanah “.[7]

Dan masih banyak lagi ulama lainnya yang mengatakan seprti itu. Ini merupakan bukti bahwa apa yang dilakukan sayyidina Umar radhiallahu ‘anhu dari melakukan sholat tarawih berjama’ah dengan satu imam, mengumpulkan manusia untuk melakukannya adalah bid’ah yang baik.

Ketiga : Alasan disebut bid’ah karena masa Abu Bakar meninggalkan hal tersebut dan tidak melakukannya, maka alasan ini tidak kuat, sebab makna bid’ah secara bahasa “ Tidak ada contoh sebelumnya “,  tidak bisa diruntuhkan dengan adanya tidak dilakukan sementara waktu. Seandainya ini diterapkan maka akan menjadi rancu, contoh : Rasulullah shallau ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sholat istisqa, kemudian setelah wafat beliau selama 20 tahun baru ada yang melakukannya kembali, apakah kita akan mengatakan bahwa sholat istisqa ini bid’ah?? Dan bid’ah secara bahasa ??

Kesimpulan point ini adalah :

1. Bid’ah Hasanah yang selama ini dipahami kaum Aswaja khususnya warga NU, Telah sesuai dengan konteks yang dipahami para ulama salaf baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in.

2. Bid’ah yang disebutkan sayyidina Umar bin Khaththab dalam kasus sholat Tarawih, adalah bid’ah hasanah bukan sunnah. Sebagaimana penjelasan para ulama.

3. Kesimpulan ustadz Firanda yang menyatakan bukan bid’ah hasanah yang dimaksudkan Umar bin Khaththab dan imam Syafi’i, adalah salah besar sebagaimana telah dijelaskan.

Point berikutnya, Firanda mengatakan bahwa “ Sanna “ dalam hadits “ Man Sanna fil Islami..” bukanlah bermakna menciptakan atau merintis perkara baru, akan tetapi bermakna memulai sebagaimana penjelasan al-Azhari dalam Tahdzibul Lughahnya.

Tanggapan saya :

Anda telah menutup sebelah mata dari indikasi-indikasi kuat yang mengarahkan makna sanna kepada merintis perkara baru. Dan al-Azhari pun hanya mengutarakan makna sanna secara global yakni memulai suatu perkara. Ini bisa saja bermakna memulai perkara baru yang belum ada contohnya, maka anda tidak bisa hanya berpegang atau berhujjah dengannya. Karena setiap nash yang mengandung banyak kemungkinan maknanya, maka tidak bisa dijadikan dalil.

Sanna bermakna memulai perkara yang belum ada contohnya atau bermakna merintis perkara baru, lebih pas dan lebih patut disebabkan banyak sekali qarinah qawiyyah (indikasi kuat) yang mengarah ke sana.

Pertama : Lafadz Nashnya menunjukkan keumuman bukan kekhususan walaupun ada suatu sebab. Maka ini menunjukkan makna yang umum, karena jika ada nash datang dengan suatu sebab akan tetapi lafadznya umum, maka yang dipegang adalah keumuman lafadznya bukan kekhususan sebabnya. Sebagaimana qaidah ushul : “ al-Ibroh bi’umumi al-lafaz laa bikhusushi as-sabab “, standar yang dipegang adalah dengan keumuman lafadznya bukan kekhususan sebabnya.

Kedua : Jika kita pahami sunnah dalam hadits di atas sebagai sunnah Rasulullah, maka bagaimana kita memahami lanjutan hadits tersebut :

وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً

Perhatikan kata-kata “ Sunnatan sayyiatan “, apakah ada sunnah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang buruk ? ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan sunnah dalam hadits tersebut bukanlah sunnah Nabi akan tetapi makna sunnah secara bahasa yaitu merintis suatu jalan.

Ketiga : sanna dalam segi bahasa bermakna memulai perkara baru yang belum ada contohnya alias merintis perkara baru.

Ibnu al-Mandzhur mengatakan :
وكل من ابتدأَ أَمراً عمل به قوم بعده قيل هو الذي سَنَّه قال نُصَيْبٌ:

كأَني سَنَنتُ الحُبَّ أَوَّلَ عاشِقٍ * * * من الناسِ إِذ أَحْبَبْتُ من بَيْنِهم وَحْدِي

“ Setiap orang yang memulai suatu perkara baru yang dikerjakan oleh kaum setelahnya, maka dia disebut “ sannahu “ yakni memulai suatu perkara baru. Nushaib mengatakan dalam sebuah syair, “ Seolah akulah manusia yang memulai pertama kali dalam cinta yang mengasyikkan, karena hanya aku seorang yang bercinta di tengah-tengah mereka  “.[8]
Dari makna bahasa ini saja sudah begitu jelas makna “ sanna “ bagi kita yaitu memulai perkara baru atau merintis perkara baru.

Keempat : Sekarang kita lihat maknany dalam segi syare’at. Untuk mengetahui makna segi syare’at ini, maka kita harus melihat nash-nash lainnya yang sama. Ada beberapa hadits yang menampilkan lafadz “ Sanna “ yang menunjukkan makna memulai perkara baru, di antaranya :

عن معاذ بن جبل قال: كنا نأتي الصلاة أو يجيء رجل وقدسبق بشيء من الصلاة أشار إليه الذي يليه : قد سبقت بكذا وكذا فيقضي قال: فكنا بين راكع وساجد وقائم وقاعد فجئت يوما وقد سبقت ببعض الصلاة وأشيرإلي بالذي سبقت به فقلت: لا أجده على حال إلا كنت عليها فلما فرغ رسول الله صلى الله عليه وسلم قمت وصليت فاستقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم على الناس وقال: من القائل كذا وكذا قالوا: معاذ بن جبل فقال: قد سن لكم معاذ فاقتدوا به إذا جاء أحدكم وقد سبق بشيء من الصلاة فليصل مع الإمام بصلاته فإذا فرغ الإمام فليقض ما سبقه به

“ Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata , “ Dahulu kami mendatangi sholat, atau seseorang datang dan ia telah tertinggal sesuatu dari sholat, maka kami mengisyaratkan padanya yang menunjukkan ia tertinggal sekian roka’at, lalu ia melakukan roka’at itu dulu (mengqadoinya). Ketika kami di antara ruku’ dan sujud  serta berdiri, maka aku (Mu’adz) suatu  datang dan aku tertinggal dengan sebgian sholat (beberapa roka’at), maka ada orang yang memberikan isyarat bahwa aku tertinggak sekian roka’at, maka aku katakana, “ Aku tidak menemukan atas suatu keadaan kecuali apa yang aku temukan “, maka ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam selesai sholat, aku berdiri dan menambahi sholatku lagi. Kemudian Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada jama’ahnya dan bertanya, “ Siapakah tadi yang mengatakan begini-begini ? “, maka para sahabat menjawab, “ Mu’adz bin Jabal wahai Rasul “. Maka Nabi menjawab, “ Mu’adz telah memulai / merintis perkara baru, maka ikutilah caranya, jika ada salah satu di antara kalian datang terlambat sholatnya, maka sholatlah bersama imam, lalu setelah imam selesai sholat, maka qadhailah sholatnya yang tertinggal “.[9]

Di mana sisi hujjah dari hadits di atas? Perhatikan lafadz “ Sanna “ dalam hadits di atas…sangat jelas maknanya adalah memulai atau merintis perkara baru, karena faktanya perbuatan Mu’adz bin Jabal sebelumnya tidak ada yang melakukannya dan Mu’adz bin Jabal baru melakukan atas inisiatifnya sendiri. Maka menjadi jelas bahwa “ Sanna “ dalam hadits man sanna sunnatan fil Islaami bermakna memulai atau merintis perkara baru yang belum ada contohnya.

Dalam Musnad imam Ahmad bin Hanbal disebutkan :

قال النبي صلى الله عليه وسلم من سن خيرا فاستن به كان له أجره ومن أجورمن يتبعه غير منتقص من أجورهم شيئا ومن سن شرا فاستن به كان عليه وزره ومنأوزار من يتبعه غير منتقص من أوزارهم شيئا

“ Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Barangsiapa yang memulai perbuatan baik, lalu perbuatan baik itu diikuti, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun pahalanya. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek, lalu perbuatan jelek itu diikuti, maka dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dosanya “.

Syu’aib al-Arnauth mengomentari hadits ini : “

صحيح لغيره وهذا إسناد حسن فمن الجمع بين هذا الحديث والحديث الأول .. فالسنة الحسنة = عمل الخير، والسنة السيئة = عمل الشرومعناه واضح في أنه ليس كل أمر محدث يعد بدعة ضلالة، وإنما هناك من المحدثات ما يعد سنة حسنة أو بدعة حسنة

“ Ini hadits sahih karena lainnya dan sanadnya hasan. Maka pengompromian (menyatukan) hadits ini dengan hadits pertama…maka sunnah hasanah maknanya adalah perbuatan baik dan sunnah sayyiah maknanya perbuatan buruk. Jadi maknanya adalah jelas bahwasanya tidak semua perkara baru itu dianggap bid’ah dholalah, sesungguhnya di sana ada perkara-perkara baru yang dinilai sebagai sunnah hasanah atau bid’ah hasanah “[10]

Kelima : Penjelasan (syarh) para ulama tentang hadits “ Man sanna fil Islaami sunnatan hasanatan “. Bagaimana pemahaman para ulama mu’tabar di dalam memahami hadits tersebut, kita tengok :

Imam Nawawi mengatakan ketika mengomentari hadits di atas :

فِيْهِ الْحَثُّ عَلَى الابْتِدَاءِ بِالْخَيْرَاتِ وَسَنِّ السُّنَنِ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيْرِ مِنَ الأَبَاطِيْلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ. وَفِيْ هذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صَلّى اللهُ عَليْه وَسَلّمَ "فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ" وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ.

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memulai kebaikan, dan merintis perkara-perkara baru yang baik, serta memperingatkan masyarakat dari perkara-perkara yang batil dan buruk. Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan terhadap hadits Nabi yang lain, yaitu terhadap hadits: “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah”. Dan bahwa sesungguhnya bid’ah yang sesat itu adalah perkara-perkara baru yang batil dan perkara-perkara baru yang dicela”.[11]

Hal yang sama ini juga dikatakan oleh al Imam Ibnu al-Atsir berikut :

وما كان واقعا تحت عُموم ما نَدب اللّه إليه وحَضَّ عليه اللّه أو رسوله فهو في حيز المدح، وما لم يكن له مثال موجود كنَوْع من الجُود والسخاء وفعْل المعروف فهو من الأفعال المحمودة، ولا يجوز أن يكون ذلك في خلاف ما وَردَ الشرع به؛ لأن النبي صلى اللّه عليه وسلم قد جَعل له في ذلك ثوابا فقال:" من سَنّ سُنة حسَنة كان له أجْرها وأجرُ من عَمِل بها "، وقال في ضِدّه:" ومن سنّ سُنة سيّئة كان عليه وزْرُها وَوِزْرُ من عَمِل بها"، وذلك إذا كان في خلاف ما أمر اللّه به ورسوله صلى اللّه عليه وسلم. ومن هذا النوع قولُ عمر رضي اللّه عنه: نِعْمَت البدعة هذه

“ Dan perkara baru yang sesuai masuk dalam keumuman apa yang Allah dan Rasul-Nya anjurkan, maka itu adalah terpuji. Dan segala apa yang tidak ada contoh terdahulunya seperi macamnya dari sifat kedermawanaan dan perbuatan yang baik, maka itu termasuk perbuatan yang terpuji, tidak boleh hal itu ada dalam pertentangan syare’at, karena Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan hal itu bernilai pahala, beliau bersabda : “ Brangsiapa yang merintis suatu jalan yang baik, maka ia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengamalkannya “, beliau juga mengtakan tentang hal yang sebaliknya “ Dan barangsiapa yang merintis suatu jalan yang buruk, maka ia akan memperoleh dosa dan dosa orang yang mengamalkannya “. Hal yang demikian jika bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Hal pemahaman semacam ini sebagaimana ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “. [12]

Ibnu Taimiyyah tentang hadits di atas :

ومنها ما يتولد عن فعل الإنسان كالداعى إلى هدى أو إلى ضلالة والسان سنة حسنة وسنة سيئة كما ثبت فى الصحيحين عن النبى أنه قال ( من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه من غير أن ينقص من أجورهم شىء ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الوزر مثل أوزار من تبعه من غير أن ينقص أوزارهم شىء ( وثبت عنه فى الصحيحين أنه قال ( من سن سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة من غير أن ينقص من أجورهم شىء
“ Din diantaranyanya adalah apa yang dihasilkan dari perbuatan seorang manusia seperti dorongan untuk kebaikan atau kesesatan dan juga orang yang merintis jalan yang baik atau jalan yang buruk sebagaimana telah tetap dalam dua sahih dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “ Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak pada kesesatan maka dia akan mendapatkan dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dosa mereka sedikit pun “, dan juga telah ada dalam dua sahih bahwa Nabi bersabda : “ Barangsiapa yang merintis jalan yang baik maka ia akan mendapat pahala seperti pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat tanpa dikurangi pahala mereka sedikit pun. “.[13]

Ibnu Taimiyyah lebih jujur memahami hadits tersebut sesuai makna yang sesungguhnya. Yaitu lafaz “Sanna” yang dimaksud adalah segi bahasa yaitu merintis perkara baru, dan sunnah bermkana thariqah atau jalan.

Kesimpulannya dari point ini adalah :

1. Hujjah Firanda yang memaknai sanna dengan memulai perkara yang sudah ada contohnya, hanyalah berdasarkan dugaan saja bukan berdasarkan keilmiyyahan.
2. Memaknai lafadz sanna dengan berpegang pada sabab wurud hadits tersebut, melanggar kaidah ushul. Karena lafadz hadits di situ datang secara umum bukan khusus. Maka yang dipegang adalah keumuman lafadznya bukan kekhususan sebabnya.
3. Makna sanna yang benar secara keilmiyyahan adalah memulai atau merintis perkara baru yang belum ada contohnya, dengan lima qarinah qawiyyah (indikasi yang kuat) yang tidak terbantahkan sebagaimana telah saya sebutkan.

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 02-Januari-2014


































[1] al-Syatibi, al-I’tishom, m.s. 147-148.
[2] al-Syatibi, al-I’tishom, m.s. 147-148
[3] Syarh al-Muwaththa’, az-Zaraqani : 1/238
[4] Fathul Bari : 4/203
[5] Sunnah dalam artian secara bahasa yaitu jalan maksudnya adalah mengikuti perintah Nabi untuk mengikuti jalan khalifah Rasyidin. Ketika khaliah Rasyidin melakukan bid’ah hasanah seperti sayyidina Umar maka kita mengikutinya.. karena tasyri’ bukanlah dari para sahabat melainkan dari Nabi yang didatangkan oleh Allah.
[6] An-Nihayah fi Ghraibil Hadits : 1/106-107
[7] Ihya ‘Ulumuddin : 1/276
[8] Lisan al-Arab : 13/220
[9] Al-Muwaththa’ : 1/165. Juga ada dalam Sunan Abu Dawud : 1/193. Hadits ini disahihkan oleh Albani.
[10] Musnad Ahmad bin Hanbal : 5/387
[11] Syarh Sahih Muslim, an-Nawawi : 4/110
[12] An-Nihayah fi Ghraibil Hadits : 1/106-107
[13] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah : 10/404