Selamat datang di blog saya yang sederhana ini yang menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian ASWAJA di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja

Kamis, 08 Desember 2011

Penipuan firanda terhadap umat dan kedangkalannya di dalam memahami Nash Hadits dan ucapan para ulama. Bag II


Pada artikel sebelumnya kita sudah ketahui sedikit dari banyaknya penipuan dan kedangkalan firanda serta penyalahgunaannya terhadap ucapan-ucapan para ulama dan hadits-hadits Nabi Saw. Kali ini kelanjutan dari penipuan dan penyalahgunaannya terhadap ucapan ulama dan hadits Nabi Saw sebagai sanggahannya kepada habib Mundzir Al-Musawa.

Firanda berkata :

Ibnu Hajar Al-Haitami (salah seorang ulama besar dari madzhab As-Syafiiah yang dikenal juga sebagai muhaqqiq madzhab setelah zaman Ar-Rofii dan An-Nawawi) telah menjelaskan bahwa pendapat yang menjadi patokan dalam madzhab As-Sayfii adalah dilarangnya membangun di atas kuburan para ulama dan sholihin.

Dalam Al-fataawaa Al-Fiqhiyah Al-Kubroo Ibnu Hajar Al-Haitami ditanya :

وما قَوْلُكُمْ فَسَّحَ اللَّهُ في مُدَّتِكُمْ وَأَعَادَ عَلَيْنَا من بَرَكَتِكُمْ في قَوْلِ الشَّيْخَيْنِ في الْجَنَائِزِ يُكْرَهُ الْبِنَاءُ على الْقَبْرِ وَقَالَا في الْوَصِيَّةِ تَجُوزُ الْوَصِيَّةُ لِعِمَارَةِ قُبُورِ الْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِينَ لِمَا في ذلك من الْإِحْيَاءِ بِالزِّيَارَةِ وَالتَّبَرُّكِ بها هل هذا تَنَاقُضٌ مع عِلْمِكُمْ أَنَّ الْوَصِيَّةَ لَا تَنْفُذُ بِالْمَكْرُوهِ فَإِنْ قُلْتُمْ هو تَنَاقُضٌ فما الرَّاجِحُ وَإِنْ قُلْتُمْ لَا فما الْجَمْعُ بين الْكَلَامَيْنِ؟

"Dan apa pendapat anda –semoga Allah memperpanjang umar anda dan memberikan kepada kami bagian dari keberkahanmu- tentang perkataan dua syaikh (*Ar-Rofi'I dan An-Nawawi) dalam (*bab) janaa'iz : "Dibencinya membangun di atas kuburan", akan tetapi mereka berdua berkata dalam (*bab) wasiat : "Dibolehkannya berwasiat untuk 'imaaroh kuburan para ulama dan solihin karena untuk menghidupkan ziaroh dan tabaaruk dengan kuburan tersebut". Maka apakah ini merupakan bentuk kontradiksi?, padahal anda mengetahui bahwasanya wasiat tidak berlaku pada perkara yang dibenci. Jika anda mengatakan perkataan mereka berdua kontradiktif maka manakah yang roojih (*yang lebih kuat)?, dan jika anda mengatakan : "Tidak ada kontradikisi (*dalam perkataan mereka berdua)", maka bagaimana mengkompromikan antara dua perkataan tersebut?  (Al-Fataawaa Al-Fiqhiyah Al-Kubro 2/17)

Maka Ibnu Hajr Al-Haitami Asy-Syafii rahimahullah menjawab :

الْمَنْقُولُ الْمُعْتَمَدُ كما جَزَمَ بِهِ النَّوَوِيُّ في شَرْحِ الْمُهَذَّبِ حُرْمَةُ الْبِنَاءِ في الْمَقْبَرَةِ الْمُسَبَّلَةِ فَإِنْ بُنِيَ فيها هُدِمَ وَلَا فَرْقَ في ذلك بين قُبُورِ الصَّالِحِينَ وَالْعُلَمَاءِ وَغَيْرِهِمْ وما في الْخَادِمِ مِمَّا يُخَالِفُ ذلك ضَعِيفٌ لَا يُلْتَفَتُ إلَيْهِ وَكَمْ أَنْكَرَ الْعُلَمَاءُ على بَانِي قُبَّةِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رضي اللَّهُ عنه وَغَيْرِهَا وَكَفَى بِتَصْرِيحِهِمْ في كُتُبِهِمْ إنْكَارًا وَالْمُرَادُ بِالْمُسَبَّلَةِ كما قَالَهُ الْإِسْنَوِيُّ وَغَيْرُهُ التي اعْتَادَ أَهْلُ الْبَلَدِ الدَّفْنَ فيها أَمَّا الْمَوْقُوفَةُ وَالْمَمْلُوكَةُ بِغَيْرِ إذْنِ مَالِكِهَا فَيَحْرُمُ الْبِنَاءُ فِيهِمَا مُطْلَقًا قَطْعًا إذَا تَقَرَّرَ ذلك فَالْمَقْبَرَةُ التي ذَكَرَهَا السَّائِلُ يَحْرُمُ الْبِنَاءُ فيها وَيُهْدَمُ ما بُنِيَ فيها وَإِنْ كان على صَالِحٍ أو عَالِمٍ فَاعْتَمِدْ ذلك وَلَا تَغْتَرَّ بِمَا يُخَالِفُهُ

"Pendapat yang umum dinukil yang menjadi patokan -sebagaimana yang ditegaskan (*dipastikan) oleh An-Nawawi dalam (*Al-Majmuu') syarh Al-Muhadzdzab- adalah diharamkannya membangun di kuburan yang musabbalah (*yaitu pekuburan umum yang lokasinya adalah milik kaum muslimin secara umum), maka jika dibangun di atas pekuburan tersebut maka dihancurkan, dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara kuburan sholihin dan para ulama dengan kuburan selain mereka. Dan pendapat yang terdapat di al-khoodim (*maksud Ibnu Hajar adalah sebuah kitab karya Az-Zarkasyi, Khodim Ar-Rofi'i wa Ar-Roudhoh, wallahu a'lam) yang menyelisihi hal ini maka lemah dan tidak dipandang. Betapa sering para ulama mengingkari para pembangun kubah (*di kuburan) Imam Asy-Syafii radhiallahu 'anhu dan kubah-kubah yang lain. Dan cukuplah penegasan para ulama (*tentang dibencinya membangun di atas kuburan) dalam buku-buku mereka sebagai bentuk pengingkaran. Dan yang dimaksud dengan musabbalah –sebagaimana yang dikatakan Al-Isnawiy dan yang ulama yang lain- yaitu lokasi yang biasanya penduduk negeri pekuburan. Adapun pekuburan wakaf dan pekuburan pribadi tanpa izin pemiliknya maka diharamkan membangun di atas dua pekuburan tersebut secara mutlaq. Jika telah jelas hal ini maka pekuburan yang disebutkan oleh penanya maka diharamkan membangun di situ dan haurs dihancurkan apa yang telah dibangun, meskipun di atas (*kuburan) orang sholeh atau ulama. Jadikanlah pendapat ini sebagai patokan dan jangan terpedaya dengan pendapat yang menyelisihinya.

(al-Fataawaa al-Fiqhiyah al-Kubroo 2/17)


Jawaban :

Lagi-lagi firanda menipu umat dengan menukil ucapan imam Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah. Firanda berasumsi dan membuat kesimpulan yang salah dengan ucapan Imam Ibnu Hajar tersebut bahwa beliau melarang membangun di atas kuburan para ulama dan sholihin.

Benarkah imam Ibnu Hajar berpendapat seperti itu ? jawabannya sunnguh tidak sama sekali.

Mari kita simak penjelasannya :

Ketika seseorang bertanya kepada imam Ibnu Hajar tentang kesepakatan imam Nawawi dan imam Rafi’i terhadap kemakruhan membangun di atas kuburan namun di kesempatan lain imam Nawawi dan imam Rafi’i bersepakat Dibolehkannya berwasiat untuk 'imaaroh kuburan para ulama dan solihin karena untuk menghidupkan ziaroh dan tabaaruk dengan kuburan tersebut, apakah dua ucapan ini saling kontradiksi ?

Imam Ibnu Hajar menjawab :

الْمَنْقُولُ الْمُعْتَمَدُ كما جَزَمَ بِهِ النَّوَوِيُّ في شَرْحِ الْمُهَذَّبِ حُرْمَةُ الْبِنَاءِ في الْمَقْبَرَةِ الْمُسَبَّلَةِ

"Pendapat yang umum dinukil yang menjadi patokan -sebagaimana yang ditegaskan (*dipastikan) oleh An-Nawawi dalam (*Al-Majmuu') syarh Al-Muhadzdzab- adalah diharamkannya membangun di kuburan yang musabbalah (*yaitu pekuburan umum yang lokasinya adalah milik kaum muslimin secara umum).

Sanggahan :

Kalimat al-Maqbarah al-Musabbalah inilah yang dibuang pemahamannya oleh firanda. Ia hanya sekedar menulis dan menukil namun pemahaman yang dimaksud oleh imam Ibnu Hajar ditolaknya mentah-mentah. Maka firanda telah menyalahgunakan ucapan imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Dalam madzhab Syafi’I Rahimahullah ada beberapa hukum membangun bangunan di maqbarah (pekuburan).

Yang pertama hukum al-bina (bangunan) di tanah kubur milik sendiri, maka hukumnya ada ulama yang mengatakan makruh dan ada juga yang berpendapat jawaz (boleh/tidak makruh).

Imam Ibnu Hajar membolehkan membangun semisal qubbah bagi kuburan orang sholeh bahkan beliau menilai itu sebuah qurbah (pendekatan diri kepada Allah).

Yang kedua hukum al-bina di pekuburan musabbalah (pekuburan yang telah dibiasakan oleh warga untuk mengubur warga setempat yang meninggal), maka hukumnya diperinci :
- Jika si mayat yang dikubur itu orang biasa, maka hukum membangun sesuatu di atas kuburan tsb adalah haram dan wajib dihancurkan.

- Jika si mayat yang dikubur itu orang sholeh, maka hokum membangun sesuatu di atas kuburan tersebut hukumnya boleh. Ada pula yang berpendapat tidak boleh dan ini dipelopori  oleh imam Nawawi dan diikuti imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Simak penjelasan berikut ini :

Imam Nawawi berkata :
ويكره تجصيص القبر، والبناء والكتابة عليه، ولو بني في مقبرة مسبلة هدم

Dan dimakruhkan memplester kuburan juga makruh membuat tulisan (selain untuk nama pengenal, pent) atasnya. Dan apabila membangun suatu bangunan di pekuburan musabbalah, maka bangunan itu dihancurkan “.

(Minhaj ath-Thalibin: 1/360)

Dalam kitab yang lain imam Nawawi berkata :

قال أصحابنا رحمهم الله : ولا فرق فى البناء بين أن يبنى قبة أو بيتا أو غيرهما ، ثم ينظر فإن كانت مقبرة مسبلة حرم عليه ذلك ، قال أصحابنا ويهدم هذا البناء بلا خلاف... وإن كان القبر فى ملكه جاز بناء ما شاء مع الكراهة ولا يهدم عليه

“ Berkata sahabat-sahabat kami Rahimahumullah “ Tidak ada perbedaan di dalam bangunan antara bangunan qubbah, rumah atau selainnya. Kemudian dilihat, jika pekuburan itu pekuburan musabbalah, maka semua itu diharamkan.

 (Al-Majmu’: 5/260)

Beliau juga berkata dalam kitab tahdzibnya :

ودفن فى البقيع ـ يعنى إبراهيم ابن رسول الله ـ وقبره مشهور ، عليه قبة فى أول البقيع

“ Dan dimakamnkan yakni Ibrahim putra Rasulullah Saw di pekuburan Baqi’, kuburannya masyhur dan di atasnya dibangun qubah pada saat permulaan Baqi’ “

(Tahdzib Al-Asma juz 1 hal : 116)


Asy-Syaikh Al-Faqih al-Malibari berkata :

(وكره بناء له) أي للقبر ، (أو عليه) لصحة النهي عنه بلا حاجة كخوف نبش أو حفر سبع أو هدم سيل. ومحل كراهة البناء إذا كان بملكه. فإن كان بناء نفس القبر بغير الحاجة مما مر أو نحو قبة عليه بمسبلة وهى ما اعتاده أهل البلد الدفن فيها ، عرف أصلها ومسبلها أم لا ، أو موقوفة حرم وهدم وجوبا لأنه يتأبد بعد انمحاق الميت ، ففيه تضييق على المسلمين بما لا غرض فيه.
وقال البجيرمي: واستثنى بعضهم قبور الأنبياء والشهداء والصالحين ونحوهم.

Makruh hukumnya membuat bangunan bagi kuburan berdasarkan Hadits Nabi Saw yang shahih, Tanpa ada keperluan seperti takut dibongkar orang, ata hewan buas atau hancur karena banjir. Letak kemakruhan membangun bangunan di atas kuburan adalah jika tanhnya milik pribadi. Jika membangun itu tanpa ada keperluan seperti yang berlalu atau semisal qubah di pekuburan musabbalah yaitu kebiasan warga mengubur mayat setempat di tanah itu baik diketahui asal dan musabbilnya atau tidak, atau pekuburan wakaf, maka hukumnya haram dan wajib dirobohkan sebab bangunan itu akan tetap ada walaupun si mayat sudah hancur sehingga menyebabkan penyempitan tempat pada warga muslim lainnya yang bangunan itu tidak ada tujuannya “

Al-Imam al-Bujairomi berkata “ Sebagian ulama mengecualikan juga pembangunan kuburan milik para nabi, syuhada, orang-orang shalih dan sejenisnya “.

(I’aanah at-Thoolibiin II/136)

Al-‘Allamah asy-Syeikh Ibrahim al-Baijuri Rahimahullah pula berkata:

فيكره البناء عليه إن كان في غير نحو المقبرة المسبلة للدفن فيها وإلا حرم سواء كان فوق الأرض أو في باطنها ، فيجب على الحاكم هدم جميع الأبنية التي في القرافة المسبلة للدفن فيها وهي التى جرت عادة أهل البلد بالفن فيها لأنه يضيق على الناس ، ولا فرق بين أن يكون البناء قبة أو بيتا أو مسجدا أو غير ذلك ، ومنه الأحجار المعروفة بالتركيبة ، نعم استثناها بعضهم للأنبياء والشهداء والصالحين ونحوهم.

“ Maka dimakruhkan membangun di atas kuburan jika di selain pekuburan musabbalah. Dan jika di pekuburan musabbalah (atau mauqufah), maka haram hukumnya, baik di atas tanahnya atau di dalamnya. Maka wajib bagi hakim untuk merubuhkan seluruh bangunan yang ada di pekuburan musabbalah, (musabbalah) yaitu kebiasaan warga setempat untuk mengubur mayat di dalamnya. (keharaman hal) karena akan membuat penyempitan tempat bagi calon mayat lainnya. Tidak ada perbedaan antara bangunan bentuk qubah, rumah, masjid atau lainnya. Di antaranya juga bangunan yang dikenal dengan susunan batu berbentuk segi empat di sekitarnya. Ya, sebagian ulama mengecualikan (artinya boleh dan tidak haram) membangun bangunan di kuburan para Nabi, syuhada, orang sholeh dan semisal mereka “.

(Hasyiyah al-Baijuri ‘ala Ibn Qasim: 1/381)


Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata :

( ولو بنى ) نفس القبر لغير حاجة مما مر كما هو ظاهر أو نحو تحويط أو قبة عليه خلافا لمن زعم أن المراد الثاني وهل من البناء ما اعتيد من جعل أربعة أحجار مربعة محيطة بالقبر مع لصق رأس كل منها برأس الآخر بجص محكم أو لا لأنه لا يسمى بناء عرفا والذي يتجه الأول لأن العلة السابقة من التأبيد موجودة هنا ( في مقبرة مسبلة ) وهي ما اعتاد أهل البلد الدفن فيها عرف أصلها ومسبلها أم لا ومثلها بالأولى موقوفة بل هذه أولى لحرمة البناء فيها قطعا قال الإسنوي واعترض بأن الموقوفة هي المسبلة وعكسه ويرد بأن تعريفها يدخل مواتا اعتادوا الدفن فيه فهذا يسمى مسبلا لا موقوفا فصح ما ذكره ( هدم ) وجوبا لحرمته كما في المجموع لما فيه من التضييق مع أن البناء يتأبد بعد انمحاق الميت فيحرم الناس تلك البقعة.

(Seandainya membangun) di atas kuburan tanpa hajat seperti yang berlalu (khawatir dicuri, atau digali binatang buas, pent) atau membuat pagar atau qubah, berbeda dengan pendapat yang mengatakan maksud adalah yang kedua, dan apakah bangunan batu segi empat yang mengelilingi kuburan juga termasuk katagori bangunan ? karena itu bukan dinamakan bangunan secara umum, namun pendapat yang dipilih adalah yang pertama (masuk kategori bangunan, pent) karena illatnya yaitu pengekalan terdapat dalam hal itu. (Di pekuburan musabbalah) yaitu apa yang ditradisikan warga setempat untuk mengubur mayat di sana walaupun musabbil dan asalnya diketahui atau tidak, semisal itu juga terutama tanah pekuburan wakaf karena keharaman membangun di dalamnya secara pasti. Al-Asnawi berbde pendapat, beliau mengatakan bahwa pekuburan wakaf juga disebut pekuburan musabbalah dan sebaliknya dan telah dating definisinya bahwa bahwa musabbalah adalah yang masuk juga tanah mawat (tak ada pemiliknya) yang dibiasakan mengubur mayat, maka ini disebut pekuburan musabbalah bukan wakaf.  Maka sah apa yang beliau sebutkan. (Maka dirobohkan) hukumnya wajib karena keharamannya sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Majmu’. Disebabkan akan mempersempit tempat bagi lainnya dan bangunan akan terus ada setelah hancurnya mayat sehingga tanah itu mencegah yang lainnya.
(Tuhfah al-Muhtaj bab Janaiz juz 3 hal : 198)

Dalam kesempatan lain di bab wasiat beliau berkata :

وإذا أوصى لجهة عامة فالشرط أن لا يكون معصية .. الى أن قال وشمل عدم المعصية القربة كبناء مسجد ولو من كافر ونحو قبة على 
قبر عالم في غير مسبلة

“ Dan jika ia berwasiat secara umum, maka syaratnya adalah bukan hal yang diharamkan….(hinga beliau berkata, pent) “ Dan masuk juga perkara selain haram yaitu al-Qurbah (ibadah yang mendekatkan diri pada Allah) seperti membangun masjid walaupun dari orang kafir, juga semisal qubah di atas kuburan di pekuburan selain musabbalah “.

(Tuhfah al-Muhtaj kitab al-Washoya)

Sayyid Thahir bin Muhammad Al-Alawi mengomentari ucapan imam Ibnu Hajar tersebut sebagai berikut :

وإنما جعل ابن حجر وغيره القبة على الولي في غير المسبلة والموقوفة قربة لأن العلماء نصوا على أن تمييز العالم والصوفي حياً وميتاً مطلوب أخذا من قوله في حق نساء النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم ( يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يعرفن فلا 
يؤذين ) وقد علمت أن القبة من عصور وقرون عليهم وعلى الأنبياء ( عليهم السلام )

“ Sesungguhnya Ibnu Hajar dan selainnya menjadikan qubah bagi (kuburan) seorang wali di pekuburan selain musabbalah sebagai bentuk qurbah, karena para ulama menetapkan bahwa membedakan orang alim dan shufi baik masih hidup ataupun sudah wafat (dari yang lainnya) adalah mathlub (dituntut) mengambil hokum (qiyas) dengan firman Allah Swt mengenai para istri Nabi Saw :

يا أيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يُعرفن فلا يُؤذين

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mumin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang .
Dan kamu telah mengetahui bahwa qubah sudah ada sejak dari masa ke masa dari para wali dan para Nabi alaihimu salam .

Kesimpulan :

- Jawaban imam Ibnu Hajar al-Haitami kepada si penanya adalah berkaitan pembangunan yang ada di tanah kuburan yang musabbal (bukan milik pribadi).

- Adapun tanah kuburan milik pribadi maka beliau dan imam Nawawi serta yang lainnya menghukuminya makruh itu pun jika tidak ada hajat, jika ada hajat seperti khawatir dicuri, atau digali binatang buas atau kebanjiran, maka hukumnya boleh alias tidak makruh. Seperti yang telah dijelaskan di atas.

- Imam Nawawi dan Ibnu Hajar sepakat dibolehkannya membangun qubah di kuburan Nabi, syuhada, wali dan orang sholeh di pekuburan selain musabbalah dan mauqufah sebagaimana telah berlalu penjelesannya.

- Maka firanda telah menyalah gunakan ucapan imam Nawawi dan imam Ibnu Hajar tentang hal ini bahwa firanda mengklaim kedua imam tersebut melarang membangun di atas kuburan para ulama dan sholihin. Dan seolah ingin membuat kesan bahwa kedua ulama besar tersebut berpaham wahhabi.

- Namun terbukti semua anggapan firanda salah, dan saya tidak tahu mengapa firanda berbuat demikian, entah memang sengaja menipu umat dari maksud yang sebenarnya atau memang firanda dangkal pikirannya di dalam memahami ucapan para ulama dan hadits-hadits Nabi Saw. Wallahu a’lam..

Bersambung…

(Ibnu Abdillah Al-Katibiy)
Kota santri, 09. 12. 2011

23 komentar:

  1. Akhi, saya belum menemukan perkataan yg sharih dari Imam An-Nawawi dan Imam Ibnu Hajar dari teks diatas yg menunjukkan bahwa beliau membolehkan membangun qubah di kuburan Nabi, syuhada, wali dan orang sholeh di pekuburan selain musabbalah dan mauqufah.

    Malah saya menemukan lanjutan dari (Tuhfah al-Muhtaj bab Janaiz juz 3 hal : 198):
    وَقَدْ أَفْتَى جَمْعٌ بِهَدْمِ كُلِّ مَا بِقَرَافَةِ مِصْرَ مِنْ الْأَبْنِيَةِ حَتَّى قُبَّةُ إمَامِنَا الشَّافِعِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - الَّتِي بَنَاهَا بِغَضِّ الْمُلُوكِ وَيَنْبَغِي أَنَّ لِكُلِّ أَحَدٍ هَدْمَ ذَلِكَ مَا لَمْ يُخْشَ مِنْهُ مَفْسَدَةٌ

    BalasHapus
  2. Imam Nawawi berkata :

    وإن كان القبر فى ملكه جاز بناء ما شاء مع الكراهة ولا يهدم عليه

    " Jika kuburan itu milik pribadi, maka boleh membangun apa saja semaunya namun tetap makruh dan tidak boleh dirobohkan ".

    (Al-Majmu’: 5/260)

    Mengenai qubah imam Syafi'i dan fatwa bebrapa ulama agar merobohkannya, maka itu karena berada di tanah pekuburan musabbalah, sebagaimana penjelsan imam Ibnu Hajar berikut :

    : وَوَجَبَ على وُلَاةِ الْأَمْرِ هَدْمُ الْأَبْنِيَةِ التي في الْمَقَابِرِ الْمُسَبَّلَةِ وَلَقَدْ أَفْتَى جَمَاعَةٌ من عُظَمَاءِ الشَّافِعِيَّةِ بِهَدْمِ قُبَّةِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رضي اللَّهُ عنه وَإِنْ صُرِفَ عليها أُلُوفٌ من الدَّنَانِيرِ لِكَوْنِهَا في الْمَقْبَرَةِ الْمُسَبَّلَةِ

    " Dan wajib bagi pemerintah untuk merobohkan bangunan-bangunan yang ada di pekuburan-pekuburan musabbalah. Sungguh bebrpa ulama besar syafi'iyyah telah berfatwa agar merobohkan qubah imam Syafi'i walaupun telah banyak mengeluarkan ribuan dinar, karena tanah tersebut berada di pekuburan musabbalah ".

    (Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro 2/25

    BalasHapus
  3. assalamu'alaikum, mohon maaf mengganggu mas, mohon ajarkan ilmu manfaat kpd saya, gini mas temen wahabi saya bertanya perawi dr isi kitab : kitab“al ni’mah Al kubro ‘ala al-’aalam fi maulid sayyid walad aadam” karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafi’i mengenai para sahabat Nabi SAW dan para ulama salafus sholeh mengenai maulid Nabi SAW, mohon bisa dijelaskan….krn mereka selalu bilang para sahabat & salafus shalih tdk melakukan maulid...terima kasih sebelumnya

    wassalam

    BalasHapus
  4. Assalamu'alaikum..
    Ustadz Firanda adalah ustadz bermanhaj salaf yang takut dengan dosa, dan insya Allah tidak pernah menyembunyikan kebenaran, cobalah kalian menyaksikan kajian beliau di Radio Rodja 756 Khz..

    Semoga saja Al-Ustadz Katibiy mengetahui hadist shahih ini, dan jika antum belum mengetahui, saya hanya memberitahukan bahwa semua kuburan yang dijadikan / dibangun masjid diatasnya adalah haram, karena menyerupai agama2 lain, seperti dalah hadist ini..
    Ini adalah hadist shahih yang terdapat dalam shahih bukhari, dan juga shahih muslim, semoga Ustadz Katibiy dibukakan pintu hatinya, aamiin..
    Barakallahu Fiq..

    Dari ‘Aisyah radhiallahu'anha bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah radhiallahu'anhuma menceritakan kepada Rasulullah shalallahu 'alahi wassalam tentang gereja dengan rupaka-rupaka yang ada di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka, beliau shalallahu 'alahi wassalam bersabda:
    أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيْهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُوْلَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
    “Mereka itu adalah suatu kaum, apabila ada seorang hamba yang shalih atau seorang yang shalih meninggal di antara mereka, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah dan mereka buat di dalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah pada hari Kiamat.” HR. Al-Bukhari (no. 427, 434, 1341) dan Muslim (no. 528) bab an-Nahyu ‘an Binaa-il Masaajid ‘alal Qubuuri wa Ittikhadzish Shuwari fiiha wan Nahyu ‘an Ittikhadzil Qubuuri Masaajid (Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Larangan Memasang di Dalamnya Gambar-Gambar Serta Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid) dan Abu ‘Awanah (I/401).

    Rasulullah shalallahu 'alahi wassalam juga bersabda:
    لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ.
    “Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” HR. Al-Bukhari (no. 435, 436, 3453, 3454, 4443, 4444, 5815, 5816) dan Muslim (no. 531 (22)) dari ‘Aisyah

    Dari Jundub bin ‘Abdillah radhiallahu'anhu berkata: “Aku mendengar bahwa lima hari sebelum Nabi shalallahu 'alahi wassalam wafat, beliau shalallahu 'alahi wassalam pernah bersabda:
    إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُوْنَ لِي مِنْكُمْ خَلِيْلٌ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.
    ‘Sungguh aku menyatakan kesetiaanku kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) di antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil, seandainya aku boleh menjadikan seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai tempat ibadah. Ingatlah, janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.’” HR. Muslim (no. 532 (23)) bab: An-Nahyu ‘an Binaa-il Masaajid ‘alal Qubuuri wa Ittikhadzis Shuwari fiiha wan Nahyu ‘an Ittikhadzil Qubuuri Masaajid (Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Larangan Membuat Patung-Patung serta Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid).

    BalasHapus
  5. Wa'alaikum salam.

    Semmua hadits yang anda bawakan itu memang hadits shahih. Namun pemahaman anda yang tidak shahih, karena bertentangan dengan pemahaman mayoritas para ulama trutama ulama salaf yang telah mendapatkan rekomendasi dari Nabi Saw.

    Hadits-hadits yang ada sebutkan telah saya jelaskan dan paparkan dalam artikel sebelumnya :

    http://ibnu-alkatibiy.blogspot.com/2011/10/pembahasan-lebih-lanjut-tentang-makna.html

    Juga di :

    http://ibnu-alkatibiy.blogspot.com/2011/11/pembahasan-lebih-lanjut-tentang-makna.html

    Semoga Allah membimbing anda di dalam memahami nash Al-Quran dan Hadits dengan benar dan sesuai pemahaman Shalaf yang shalih.

    BalasHapus
  6. Kalau begitu ana sedikit memberi tahu mengenai pendapat dari Syeikh Al Albani, dan Prof. Dr. Syaikh Shalih al Fauzan..
    Kalau ana menilai, pendapat antum itu kurang merinci, seperti apa contohnya membangun masjid diatas kuburan..
    sbg contoh, ana mengetahui kalau Masjid Nabawi itu tidak dibangun kuburan di area masjid tsb, namun karena perluasan area masjid itu menyebabkan ada makam Rasulullah SAW yang tercakup dalam perluasan itu, tetapi Rasulullah tidak di makam kan di dalam masjid, karena pada awalnya Rasulullah sendiri yang melarang..
    Ini adalah ketetapan Allah dan Rasulullah SAW, apa antum masih membantahnya?
    Islam melarang kita membangun masjid di atas kuburan ataupun mengubur seseorang di dalam masjid. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

    لَعْنَةُ اللَّهُ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

    "Semoga Allah melaknat orang Yahudi dan Nashara yang telah membangun kuburan para nabi mereka sebagai masjid". [Muttafaqun 'alaihi].

    Demikian juga, dalam sebuah hadits disebutkan adanya larangan shalat menghadap kuburan, sebagaimana sabda Rasulullah:

    لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلَا تَجْلِسُوا عَلَيْهَا

    "Janganlah kalian shalat menghadap kuburan, dan janganlah duduk di atasnya". [HR Muslim]

    Oleh sebab itu, para ulama melarang shalat di masjid yang ada kuburannya, bahkan dianggap tidak sah. Sebagaimana Lajnah Daimah lil Buhuts al Ilmiyah wal-Ifta Saudi Arabia telah menyatakan dalam fatwanya, bahwasanya terdapat larangan menjadikan kuburan sebagai masjid, maka tidak diperbolehkan shalat disana dan shalatnya tidak sah. Fatwa Lajnah Daimah lil Buhuts al Ilmiyah wal-Ifta` no. 5316.

    Adapun kepada pemerintah, dianjurkan untuk menghancurkan masjid yang dibangun di atas kuburan, apabila kuburan tersebut ada sebelum pembangunan masjid. Apabila keberadaan masjid lebih dahulu daripada kuburan, maka hendaknya kuburan tersebut digali, dikeluarkan isinya, dan kemudian dipindahkan ke pekuburan umum yang terdekat. Anjuran ini disebutkan dalam fatwa yang berbunyi:

    Tidak diperbolehkan shalat di dalam masjid yang ada satu kuburan atau beberapa kuburan, berdasarkan pada hadits Jundab bin 'Abdullah Radhiyallahu 'anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (pada) lima hari sebelum beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal:

    إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَ صَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ, ألآ فَلاَ تَتَّخِذُوْا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ فَإِنِّيْ أَنْهَكُمْ عَنْ ذَلِكَ

    "Sungguh umat sebelum kalian dahulu telah membangun masjid-masjid di atas kuburan para nabi dan orang shalih mereka. Ketahuilah, janganlah kalian membangun masjid-masjid di atas kuburan, karena aku melarangnya". [HR Muslim].

    Juga hadits A'isyah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

    لَعْنَ اللَّهُ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

    "Semoga Allah melaknat orang Yahudi dan Nashara yang telah membangun kuburan para nabi mereka sebagai masjid".

    Kewajiban pemerintah kaum Muslimin agar menghancurkan masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan, disebabkan karena masjid-masjid tersebut dibangun bukan di atas takwa. Hendaknya juga mengeluarkan semua yang dikubur di dalam masjid setelah masjid dibangun dan mengeluarkan jenazahnya, walaupun telah menjadi tulang atau debu, karena kesalahan mereka dikubur disana. Setelah itu diperbolehkan shalat di masjid tersebut, sebab yang dilarang telah hilang. Ibid., no. 4150 dan no. 6261.

    BalasHapus
  7. Prof. Dr. Syaikh Shalih al Fauzan, di dalam fatwanya, beliau menyatakan:
    Apabila kuburan-kuburan tersebut terpisah dari masjid oleh jalan atau pagar tembok, dan dibangunnya masjid tersebut bukan karena keberadaan kuburan tersebut, maka tidak mengapa masjid dekat dari kuburan, apabila tidak ada tempat yang jauh darinya (kuburan). Adapun bila pembangunan masjid tersebut di tempat yang ada kuburannya, dengan tujuan dan anggapan di tempat tersebut ada barakahnya, atau (menganggap) hal itu lebih utama, maka tidak boleh, karena itu merupakan salah satu sarana perantara perbuatan syirik. Al Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih bin 'Abdillah bin Fauzan al Fauzan (2/171), fatwa no. 148.

    Menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan Masjid Nabawi, yang di dalamnya terdapat kuburan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka para ulama telah menjelaskan bahwa hukumnya berbeda dengan kuburan lainnya. Ketika menjawab pertanyaan seseorang yang menjadikan Masjid Nabawi -yang ada kuburan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam - sebagai dalil bolehnya shalat di dalam masjid yang ada kuburannya, Lajnah Daimah lil Buhuts al Ilmiyah wal-Ifta` berfatwa:

    Adapun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, (beliau) dikuburkan di luar masjid, (yaitu) di rumah 'Aisyah. Sehingga pada asalnya, Masjid Nabawi dibangun untuk Allah dan dibangun tidak di atas kuburan. Namun masuknya kuburan Rasulullah n (ke dalam masjid), semata-mata disebabkan karena perluasan masjid. Fatwa Lajnah Daimah lil Buhuts al Ilmiyah wal-Ifta` no. 5316 (6/257)

    Syaikh al Albani rahimahullah, secara jelas juga mengatakan:
    Masalah ini, walaupun saat ini secara nyata kita saksikan, namun pada zaman sahabat, hal tersebut tidak pernah ada. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, mereka menguburkannya di rumah beliau yang berada di samping masjid, dan terpisah dengan tembok yang terdapat pintu tempat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju masjid. Perkara ini terkenal dan dalam masalah ini tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama.

    (Maksud) para sahabat, ketika menguburkan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam di kamar 'Aisyah, agar tidak ada seorangpun yang dapat menjadikan kuburan beliau sebagai masjid. Namun yang terjadi setelah itu, diluar perkiraan mereka. Peristiwa tersebut terjadi ketika al Walid bin Abdil Malik memerintakan penghancuran Masjid Nabawi pada tahun 88 H dan memasukkan kamar-kamar para isteri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ke dalam masjid, sehingga kamar 'Aisyah dimasukkan ke dalamnya. Lalu jadilah kuburan tersebut berada di dalam masjid. Dan pada waktu itu, sudah tidak ada seorang sahabat pun yang masih hidup di Madinah. Tahdzirus-Saajid.

    Kemudian Syaikh al Albani memberikan kesimpulan hukum, bahwa hukum terdahulu (uaitu larangan shalat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburannya, Red.) mencakup seluruh masjid, baik yang besar maupun yang kecil, yang lama maupun yang baru, karena keumuman dalil-dalilnya. Satu masjid pun tidak ada pengecualian dari larangan tersebut, kecuali Masjid Nabawi. Karena Masjid Nabawi ini memiliki kekhususan, yang tidak dimiliki oleh masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan. Seandainya dilarang shalat pada Masjid Nabawi, tentu larangan itu memberikan pengertian yang menyamakan Masjid Nabawi dengan masjid-masjid selainnya, dan menghilangkan keutamaan-keutamaan (yang dimiliki Masjid Nabawi tersebut). Hal seperti ini, jelas tidak boleh. Ibid.

    Demikianlah beberapa penukilan dari pendapat para ulama dalam permasalahan ini. Sehingga menjadi jelas bagi, bahwa shalat di Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat kuburan Nabi, tidaklah mengapa. Yakni dibolehkan, karena awalnya Makam Rasulullah tidak diletakkan di dalam masjid. Wallahu a'lam.

    BalasHapus
  8. Sepertinya anda belom membaca artikel2 yang telah saya sebutkan linknya di atas....

    Hujjah yang telah anda sebutkan semua telah saya baca dan telah saya paparkan dan saya luruskan persoalannya dr akarnya...dan dari berbagai disiplin ilmu...

    Maka seblom menukil atau mengcopas pendapat ulama anda, ada baiknya anda membaca artikel2 saya di atas hingga tuntas...

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Ini merupakan dosa besar wahai ustadz!!

    Madzhab yang empat bersepakat bahwa mengambil kuburan sebagai masjid adalah dosa besar, berikut ini kami sebutkan pendapat ulama setiap madzhab.



    Dari Madzhab Asy Syaf’iy

    Ibnu Hajar Al Haitamy berkata dalam kitabnya “Az Zawajir (1/120) :”dosa besar yang ke 93,94,95, 96,97 dan 98 yaitu mengambil kuburan sebagai masjid, menyalakan lampu dikuburan, menjadikannya sebagai berhala, tawaf disekelilingnya, memegang kuburan (untuk mendapat berkahnya), dan shalat menghadapnya…..”.

    Pendapat beliau di kuatkan oleh Al ‘Allamah Al Alusy dalam Ruhul ma’any (5/31), dan ini pula pendapat madzhab Syafi’iyyah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawy dalam kitabnya Al Majmu’.



    Dari madzhab Hanafiy.

    Imam Muhammad murid Abu Hanifah berkata dalam kitabnya Al Atsar (Hal 45): ”Kami membenci kuburan itu dikapur atau di beri tanah liat (disemen), atau dibangun disisi kuburan“.

    Pendapat ini dikuatkan pula oleh Ibnul Malik dari madzhab hanafiyyah.



    Dari Madzhab Malikiy.

    Imam Al Qurthuby berkata dalam tafsirnya (10/38): ”Berkata ulama kami (Malikiyyah): ”Haram atas kaum muslimin untuk menjadikan kuburan nabi dan ulama sebagai masjid “.



    Dari madzhab hambali.

    Mereka berpendapat haram sebagaimana dalam kitab syarah muntaha (1/353), bahkan mereka berpendapat batal shalatnya didalam masjid yang ada didalamnya kuburan.

    BalasHapus
  11. Ustadz, coba sekali saja anda perhatikan, lihatlah ini..
    Firman Allah SWT:

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوْا لاَ تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيْ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
    “Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rosul-Nya bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.

    Ibnu Katsir rahimahulla berkata :” jangan kalian berkata dengan sesuatu yang menyelisihi Alquran dan sunnah “. Adl Dlahhak berkata :” maksudnya jangan kalian memutuskan suatu perkara dalam syari’at agama tanpa adanya perintah (dalil) dari Allah dan Rosul-Nya “.



    Larangan Mengambil Kuburan Sebagai Masjid

    Dalam hadits-hadits yang banyak Rosulullah Sallalahu’alaihi wasallam melarang umat ini untuk mengikuti kebiasaan orang yahudi dan nashrany yaitu mengambil kuburan sebagai masjid, sabdanya :

    لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
    “Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengambil kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid “. Aisyah berkata :” kalaulah bukan karena hal itu, niscaya beliau Sallalahu’alaihi wasallam dikuburkan di luar rumahnya “. (HR Bukhary & Muslim dari Aisyah).

    Jundub bin Abdullah Al Bajaly mendengar NabiSallalahu’alaihi wasallam bersabda lima hari sebelum wafatnya :

    إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
    ”Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah untuk mengambil kekasih diantara kalian, karena sesungguhnya Allah telah mengambilku sebagai kekasih sebagaimana Allah mengambil Ibrahim sebagai kekasih, kalaulah aku boleh mengambil kekasih dari umatku niscaya aku ambil Abu Bakar sebagai kekasih, ketahuilah ! sesungguhnya orang-orang sebelum kalian mengambil kuburan nabi-nabi dan orang-orang shalih diantara mereka sebagai masjid, ketahuilah ! janganlah kalian mengambil kuburan sebagai masjid karena sunguh aku melarang kalian dari hal itu “. (HR Muslim).


    Makna Mengambil Kuburan Sebagai Masjid



    Dalam kitab Al Umm (1/246) Imam Asy Syafi’I berkata: ”Saya benci masjid dibangun diatas kuburan atau shalat diatas kuburan atau shalat menghadap kuburan…”.

    Di sini, Imam Asy Syafi’I menyebutkan tiga makna mengambil kuburan sebagai masjid, yaitu:

    pertama : membangun masjid di atas kuburan. Dasarnya adalah hadits yang telah di sebutkan tadi..

    Kedua : Shalat di atas kuburan..

    Ketiga : Shalat menghadap kuburan..

    Dua poin ni berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

    لَا تُصَلُّوْا إِلَى قَبْرٍ وَ لَا تُصَلُّوْا عَلَى قَبْرٍ
    “Janganlah kamu shalat menghadap kuburan dan jangan shalat di atas kuburan”. (HR Ath Thabrani).[1] Dishahihkan oleh Syaikh Al Bani, lihat silsilah shahihah no 1016.

    BalasHapus
  12. kenapa anda tidak menjawab?
    semoga hati anda terbuka dan menerima yang haq dan menjauhi yang bathil

    BalasHapus
  13. Mohon maaf jika saya belom sempat membalas dikarnakan bnyakna kesibukan saya dan saya sudh tidak lagi sering berinternet.

    Namun pertanyaan dan sanggahan anda sudah saya terjawab sejak lama dalam catatan saya pribadi di Fb, silakan dicek agar saya tidak buang2 waktu lagi..

    BalasHapus
  14. jelas ditulis sendiri oleh "Whoever" bahwa larangan Allah adalah:
    1. MEMBANGUN MASJID DI ATAS KUBURAN,
    2. SHALAT DI ATAS KUBURAN,
    3. SHALAT DENGAN BERKIBLAT (MENGARAH) KE KUBURAN

    masalahnya salafi wahabi menambah2 larangan dengan:
    DILARANG SHALAT DI MASJID DEKAT KUBURAN

    Ini fakta. Mereka mempermasalahkan kubur para wali yang ada di dekat masjid/ satu atap dengan masjid. Padahal tidak ada satupun jamaah yang SHALAT DI ATAS KUBURAN ITU. Padahal kuburan Nabi juga di dekat masjid malah di dalam msjid dan jelas satu atap dengan masjid Nabawi. (Kubah hijau itu tepat di atas makam Nabi). In pada masa tabiin, nyatanya para tabiin sebagai salafu shalih tidak mempermasalahkan. {ara Imam madzhab juga tidak mempermasalahkan. Wahabi saja yang aneh2 mempermasalahkan.

    nah seperti ini namanya membuat larangan baru. dilarang kita menambah syariat baru, larangan baru. penambahan syariat baru seperti ini adalah bid'ah dholalah yang haram hukumnya. lebih parah lagi mereka menuduh orang yang shalat di dekat kuburan sebagai syirik. Ini tuduhan serius dan kalau ternyata menurut ALlah tidak syirik justru para penuduh ini yang dianggap syirik langsung oleh ALlah..

    Seperti yang dikatakan Whoever, ini adalah salah satu trik debat salafi wahabi:
    menukil ayat/ hadits. Tapi tiba-tiba membuat kesimpulan tambahan yang sebenarnya tidak ada di hadits/ ayat itu

    BalasHapus
  15. assalamualaikum,afwan untuk antum ya akhi ibn abdillah,antum cb kunjungi situs blognya ust abul jauzaa.http://abul-jauzaa.blogspot.com/
    dan untuk ikhwan sekalian bisa juga lihat di situs tsb,krn pembahasan ini uda di jawab tuntas oleh sahabat kita abul jauzaa,dalil dan hujjah ilmiahnya juga kuat,kl antum masih juga ngotot,yah kita serahkan semuanya kepada Allah tabaroka wata'ala.
    ana yakin sahabat kita abul jauzaa sanggup menjawab komentar antum....jazakullah khoir

    BalasHapus
  16. http://abul-jauzaa.blogspot.com opo kuwi

    BalasHapus
    Balasan
    1. http://abul-jauzaa.blogspot.com opo kuwi

      "DIBACA..!!!"

      Hapus
  17. salam...menurut pandangan ilmu saya pelarangan atas membuat atau membangun mesjid diatas kubur seperti yang di laknat rasulullah dengan apa2 yang disabdakan oleh nabi tujuannya pelarangan atau di takutkan sebagaimana kaum jahiliyah dan nasrani,budha dan lain2...yaitu dkwatirkan pemujaan dengan menyembah nabi dan wali2 bukan kepada allah swt..dan itu terjadi pada agama2 sebelumnya..,,..jadi sekiranya pelarangan itu ada dan paling di benci rasulullah karna ditakutkan adanya umat yang syirik,....kalau menurut pandangan dari adminnya dari para ulama mazhab itu itu bukannya untuk di jadikan sembahan tapi adalah menghormati,tabarruk/tawassul yang tidak bertentangan dengan hadist dan alqur'an...jadi memahami hadist melalui imam2 terdahulu pastilah tidak asal alias asal2an dan tidak hanya melalui satu sisi......begitu aja kok repot..

    BalasHapus
    Balasan
    1. jawabannya ga ilmiah

      Hapus
  18. Penulis blog ini harus di reset otaknya, entah kenapa tulisan-tulisannya selalu aneh dan sulit dipahami,

    BalasHapus
  19. krna memang mungkin otak anda belom direfresh...jadi sulit memahami artikel di atas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan dilihat, mungkin bisa jadi pencerahan buat anda.
      http://www.youtube.com/watch?v=EDnYNaAbCUw

      Kira2 Yang seperti begini bid'ah apa ya?
      Dhalalah/Hasanah Bos ?

      Hapus
    2. Kelakuan Kyai Panutan anda :
      http://www.youtube.com/watch?v=EDnYNaAbCUw

      Hapus