Selamat datang di blog saya yang sederhana ini yang menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian ASWAJA di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja

Selasa, 22 Mei 2012

Wahhabi-salafi mendahului Allah dan Rasul-Nya dengan memvonis kedua orangtua Rasul Saw dalam neraka (Bag III).

Tujuh Poin Analisis Kasus kedua orangtua Rasul Saw :



Pertama : Hingga saat ini tidak ditemukan satu pun dalil sharih dari al-Quran maupun Hadits yang menunjukkan kedua orangtua Rasul Saw penyembah berhala. Sehingga tidak boleh memvonis keduanya masuk neraka.

Kedua : Hadits riwayat imam Muslim tentang kedua orangtua Rasul Saw, masih dipertentangkan oleh banyak ulama Ahlus sunnah. Dan bahkan mayoritas ulama mengatakan hadits itu bertentangan dengan nash al-Quran dan Hadits yang lebih kuat lagi. Sehingga tidak bisa digunakan sebagai hujjah.

Ketiga : Dari sisi sanad dan matan, hadits tersebut menjadi perbincangan dan permasalahan para ulama ahli hadits sejak dulu hingga kini. Dalam perbandingannya dengan hadits riwayat Ma'mar, matan dan sanadnya lebih kuat dan tsubut ketimbang hadits riwayat Hammad. Maka lebih dipegang hadits riwayat Ma'mar.

Keempat : Vonis ijma’ para ulama akan masuknya kedua orangtua Rasul dalam neraka, ternyata vonis sepihak dan terbukti tidak benar, hanya sebuah pengakuan tanpa adanya bukti yang menguatkannya.

Kelima : Permasalahan ini hanyalah permasalahan dalam hal ijtihadiyyah (analisa furu’di antara ulama yang berkompeten) bukan masalah i’tiqaadiyyah (aqidah) yang menyebabkan kufur atau bid’ahnya orang yang menentangnya.

Keenam : Permasalahan ini permasalahan yang ‘mukhthirah’(membahayakan jika salah vonis) dan sangat berbeda dengan permaslahan ijtihadiyyah lainnya . Sebab menyangkut hak Nabi Muhammad Saw. Walaupun ada hadits yang terkesan menjelaskan masuknya kedua orangtua Nabi dalam neraka, namun hadits itu banyak pertentangannya dengan ayat al-Quran dan hadits juga penjelasan para ulama Ahlus sunnah.

Jika seandainya orang-orang yang memvonis kedua orangtua Nabi Saw ternyata salah, maka hal itu akan menyakiti hati Nabi Saw dan terlaknat dunia dan akherat. Jika seandainya pihak yang mengatakan kedua orangtua Nabi Saw masuk surga itu ternyata salah, maka hal ini tidaklah menyakiti hati Nabi Saw sebab persangkaan baik mereka tentang hal ini.

Ketujuh : Hak hati untuk selalu membuat bahagia Nabi Muhamamd Saw. Dan hak lisan untuk menjaga dan mencegah dari hal yang tidak bermanfaat terlebih dalam hal membicarakan aib / kekurangan orang lain.

Bukankah kita diperintahkan untuk tidak menyakiti orang yang hidup dengan menjelek-jelekan keluarganya yang sudah meninggal ??

Ketujuh poin ini, kita akan bahas secara ilmiyyah dan terperinci:

Poin Pertama :

Allah Maha berkehendak dan berwenang atas segala urusan makhluk-Nya. Allah berwenang untuk menyiksa siapapun yang dikehendaki dan berwenang untuk mengampuni siapapun yang dikehendakinya pula.

يعذب من يشاء ويغفر لمن يشاء

“ Dia (Allah) menyiksa siapapun yang dikehendaki-Nya dan mengampuni siapapun yang dikehendakinya pula “.(Al-Maidah : 40)

Jika Allah memberi pahala orang yang taat, maka itu semata-mata keutamaan dari-Nya. Dan jika Allah menyiksa orang yang bermaksyiat, maka itu semata-mata keadilan dari-Nya. Dan bagi Allah sangat boleh berlaku sebaliknya, yaitu memberi pahala orang yang bermaksyiat dan menyiksa orang yang ta’at dan sedikit pun Allah tidak dzhalim atas hal yang demikian. Namun Allah telah mengabarkan dan berjanji pada kita bahwa Allah tidak akan berbuat demikian, kabar Allah jujur dan tidak akan mengingkari janji-Nya. Dan sunnatullah berlaku pada makhluk-Nya.


Imam Asy-Syathibi
berkata :

جرت سنته سبحانه فيخلقه : أنه لايؤاخذ بالمخالفة إلا بعد إرسال الرسل ، فإذا قامت الحجة عليهم؛ فمن شاء فليؤمن، ومن شاء فليكفر، ولكل جزاء مثله

“ Telah berlaku sunnah Allah Ta’aala bahwasanya Allah tidak akan menghukum sebab pelanggaran (yang dilakukan hamba-Nya) kecuali setelah mengutusnya seorang Rasul. Jika hujjah telah ditegakkan pada mereka, maka siapa yang berkehendak, ia beriman dan siapa yang berkehendak ia kufur. Dan semua balasan berlaku sepatutnya “. ( Mahasin At-Takwil lil Qaasimiy : 10/312)
Pendapat ini juga senada dengan pendapat mayoritas ulama di antaranya; Imam Al-Baghawi, Ar-Rafi’i, Al-Qasimi, Al-Ghazali, As-Subuki, Ibnu Taimiyyah, Sholahuddin Al-Alaai, Fakhruddin Ar-Raazi, Ibn Hajar Al-Atsqalani, As-Sayuthi, Al-Bajuri dan lainnya.
Tidak ada dalil satu pun yang bisa membuktikan bahwa Aminah binti Wahb dan Abdullah bin Abdul Muththalib pernah menyembah berhala atau bahkan berbuat seperti perbuatan jahiliyyah. Sehingga tidak bisa divonis neraka apalagi neraka selamanya.
Tegaknya hujjah untuk menetapkan seseorang itu ahli neraka atau pun surga harus bersumber dari al-Quran dan Hadits yang sharih (jelas) dan tidak mengandung ihtimaalat (indikasi-indikasi makna lain). Sedangkan Hadits riwayat imam Muslim masih belum sharih bahkan terindikasikan mengandung makna lainnya dengan qorinah-qarinah yang kuat. Sebagaimana kita akan bahas nanti pada poin kedua.

Imam Syafi’i mengatakan :

وقائع الأحوال إذا تطرق إليها الاحتمال كساها ثوب الإجمال وسقط بها الاستدلال

“ Beberapa kejadian yang masih menimbulkan berbagai kemungkinan, maka ia tercakup dalam dalil mujmal (global) dan tidak bisa dibuat dalil“ (Ghoyyah al Wusul : 74)

Vonis orangtua Nabi Saw penyembah berhala bukan berasal dari al-Quran maupun Hadits, namun hanya berasal dari pengakuan beberapa ulama di antaranya imam Baihaqi yang berkata dalam kitabnya Dalail An-Nubuwwah “ Bagaimana orangtua dan datuk Nabi Saw tidak disifati dengan sifat-sifat ini (neraka) di akherat, padahal mereka semua menyembah berhala sampai mereka meninggal “.

Maka pengakuan ini tidak kuat sehingga tidak bisa dibuat hujjah sebab tak ada satupun ayat maupun riwayat hadits yang menjelaskan kedua orangtua nabi berbuat syirik, bahkan tak ada satupun ulama yang menyebutkan dalil-dalil akan hal demikian sebagai penguat hujjah. Maka bisa kita katakan bahwa ijtihad imam Baihaqi dalam hal ini (kasus kedua orangtua Rasul Saw) keliru dan tetap beliau mendapatkan ganjaran pahala atas ijtihadnya.

Dengan demikian gugurlah hujjah yang memvonis kedua orangtua Nabi Saw masuk neraka. Karena tak ada satupun dalil dari al-Quran, Hadits maupun fakta sejarah yang menyatakan keduanya berbuat perbuatan kejahiliaan apalagi kesyirikan.

Maka hak kita sebagai orang beriman hendaknya berbaik sangka kepada orangtua Nabi Saw yang sudah meninggal bahwa mereka adalah orang baik yang tidak berbuat kesyirikan. Jika kita mengatakan bahwa mereka berbuat kesyirikan, maka kita telah berburuk sangka dengan kedua orang tua Nabi Saw. Pertama; terbukti tidak ada satupun dalil yang menyatakan mereka berbuat syirik. Kedua; kita tidak hidup di zaman kedua orang tua Nabi Saw sehingga tidak menyaksikan keadaan hidup dan prilaku mereka serta bagaimana keadaan mereka ketika meninggal.

Poin Kedua :

Hadits riwayat imam Muslim berikut :

أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِى؟ قَالَ: «فِى النَّارِ». فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: «إِنَّ أَبِى وَأَبَاكَ فِى النَّار

“ Bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Saw. “Wahai Rasulullah Saw! di mana bapakku?”. Kemudian Rasulullah Saw. menjawab, “Di neraka.” “Ketika lelaki tersebut berpaling, Nabi memanggilnya seraya berkata, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka.”

Oleh para ulama Ahlus sunnah, hadits tersebut dinilai hadits Aahad yang matruk ad-Dhahir (Tidak boleh berpegang dengan dhahir teks haditsnya) karena menurut mereka hadits tersebut bertentangan dengan nash Al-Quran. Sedangkan hadits Aahad jika bertentangan dengan nash Al-Quran, atau hadits mutawatir, atau kaidah-kaidah syare’at yang telah disepakati atau ijma’ yang kuat, maka dhahir hadits tersebut ditinggalkan dan tidak boleh dibuat hujjah dalam hal aqidah. Imam Nawawi, Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Ibnu Taimiyyah dan ulama lainnya telah menyatakan bahwa hadits Ahad jika bertentangan dengan nash al-Quran, hadits atau ijma’, maka hadits aahad tersebut tidak boleh dibuat hujjah. Sebagaimana telah kami jelaskan pada artikel yang pertama.
Nash al-Quran menyatakan bahwa ahli fatrah (umat yang hidup di masa kekosongan nabi) tidak akan disiksa dan dimasukkan neraka sebelum diutusnya seorang Rasul dan sampainya dakwah pada mereka.

Allah Swt berfirman :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”(Q.S Al Isra`: 15)

Dan juga :

وَمَا أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلَّا لَهَا مُنذِرُونَ

“ Kami tidak akan memusnahkan suatu daerah kecuali telah ada orang-orang yang telah memperingatkannya “ (Asy-Syu’ara : 208)

{Orang tua Rasul Shallahu ‘alaihi wa sallam adalah ahli fatrah}

Dan kedua orangtua Rasul Saw menurut pendapat yang kuat adalah ahli fatrah. Karena mereka hidup di masa kekosongan antara dua Nabi, yaitu antara nabi Isa Alahis salam dan nabi Muhammad Shollahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan masa fatrah di antara nabi Isa dan diutusnya nabi Muhamaad adalah 600 (enam ratus) tahun. Di mana masa tersebut penuh dengan kejahiliaan di timur maupun barat apalagi masa antara nabi Ibrahim dan nabi Muhammad sejauh 3000 (tiga ribu) tahun. Terlebih kitab suci nabi Isa yaitu injil telah mengalami perubahan. Dan juga kedua orang tua Nabi Shollahu ‘alaihi wa sallam berusia pendek, ayahandanya wafat di usia 18 tahun demikian pula ibundanya wafat diusia tidak lebih dari 20 tahun. Di usia-usia muda itu sangat dimungkinkan mereka tidak pernah melakukan perbuatan jahiliyah terlebih berbuat kesyirikan.

Di masa itu juga dikatakan oleh para ulama ahli sejarah bahwa ibunda nabi adalah seorang wanita yang selalu menjaga kehormatan dirinya, selalu mengurung diri dalam rumah dan tidak pernah berkumpul dengan kaum lelaki lainnya. Dan juga kaum lelakinya saat itu tidak mengetahui perkara agama dan syare’at apalagi kaum wanitanya. Fakta ini telah dikuatkan oleh Allah Ta’aala dalam al-Quran saat nabi mengumandangkan kenabiaanya penduduk Makkah dengan reaksi kaget mereka berkata :

أبعث الله بشرا رسولا

“ Apakah Allah akan mengutus manusia sebagai Rasul (utusan) “ (Al-Isra : 93)

Seandainya mereka tahu, akan adanya utusan seorang Rasul, maka mereka tidak akan mengingkari hal itu.
Dengan demikian, orangtua Nabi hidup dalam masa fatrah yang penuh kejahiliaan, namun mereka terjaga dari prilaku kejahiliaan, dakwah para nabi sebelumnya tidak sampai pada mereka. Dan mereka juga tidak mengetahui akan adanya pembawa peringatan. Sebab kurun waktu yang begitu lama antara nabi sebelum dan setelahnya. Hal ini dikuatkan dengan ayat-ayat sebagai berikut :

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

“ Agar kamu memperingatkan suatu kaum yang datuk-datuk mereka belum mendapat peringatan dan mereka dalam keadaan lalai “. (Yasin : 6)

Allah juga berfirman :

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُون

“ Agar kamu memperingatkan suatu kaum yang tidak ada seorang pemberi peringatan pun pada mereka sebelum kamu, supaya mereka mendapat petunjuk “ (As-Sajdah : 3)

Dan ayat :

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“ Agar kamu memperingatkan suatu kaum yang tidak ada seorang pemberi peringatan pun pada mereka sebelum kamu, supaya mereka sadar “ (Al-Qashash: 46)

Ayat-ayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa umat nabi Muhammad shollalahu ‘alaihi wa sallam dan orangtua beliau, tidak sampai dakwah para nabi sebelumnya pada mereka. Maka orang-orang yang wafat sebelum diutusnya nabi Muhammad Saw terutama kedua orangtua beliau, termasuk ahli fatrah dan tidak akan disiksa oleh Allah Swt.

Maka hadits riwayat imam Muslim di atas sangat bertentangan dengan nash-nash al-Quran yang sharih di atas dan nyatalah teks hadits tersebut harus ditinggalkan atau mengharuskan untuk ditakwil. Dan dengan demikian hadits tersebut gugur dan tidak bisa dibuat hujjah untuk memvonis kedua orangtua Rasul shollahu ‘alaihi wa sallam di neraka.


Pendapat para ulama yang menyatakan kedua orangtua Nabi Shollahu ‘alahi wa sallam termasuk ahli fatrah :

Syaikh Izzuddin bin Abdis Salam berkata :

كل نبي إنما أرسل إلى قومه إلا نبينا صلى الله عليه وسلم قال فعلى هذا يكون ما عدا قوم كل نبي من أهل الفترة إلا ذرية النبي السابق فإنهم مخاطبون ببعثة السابق إلا أن تدرس شريعة السابق فيصير الكل من أهل الفترة

“ Sesungguhnya setiap nabi diutus hanyalah kepada kaumnya kecuali nabi kita Muhammad Shollahu ‘alaihi wa sallam, maka atas hal ini selain kaum setiap nabi adalah masuk ahli fatrah kecuali keturunan nabi yang sebelumnya. Karena keturunan seorang nabi mendapat khithab dengan diutusnya nabi sebelumnya kecuali jika syare’at nabi tersebut telah hilang, maka semuanya masuk ahli fatrah “.

Maka dengan ini nyatalah bahwa orangtua nabi Shollahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahli fatrah tanpa diragukan lagi. Karena orangtua Nabi Muhammad bukan lah keturunan nabi Isa alaihis salam dan juga bukan termasuk kaumnya.

Syaikh Al-Islam Syarafuddin Al-Manawi ketika beliau ditanya apakah ayah Nabi Saw di dalam neraka, maka beliau menjawab :

إنه مات في الفترة ، ولا تعذيب قبل البعثة

“ Sesungguhnya ia wafat dalam masa fatrah dan tidak ada adzab baginya sebelum diutusnya Nabi “. (Masalik Al-Hunafa : 14)
Al-Imam Az-Zarqani berkata :

وإما لأنهما ماتا في الفترة قبل البعثة ولا تعذيب قبلها ، كما جزم به الأبي وإما لأنهما كانا على الحنيفية والتوحيد ولم يتقدم لهما شرك ، كما قطع به الإمام السنوسي والتلمساني.

“ Atau sebab kedua orangtua Nabi Saw wafat di masa fatrah sebelum diutusnya nabi dan tidak akan disiksa sebelum adanya pengutusan, sebagaimana ditetapkan oleh Al-Aabiy. Atau sebab keduanya masih memegang ajaran lurus dan tauhid dan tidak berbuat kesyirikan pun, sebagaimana ditetapkan imam As-Sanusi dan At-Tilmisaani " (Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah : 1/349)

Al-Allamah Al-Baijuri berkata :

إذا علمت أن أهل الفترة ناجون على الراجح ، علمت أن أبويه صلى الله عليه وسلم ناجيان لكونهما من أهل الفترة ، بل جميع آبائه صلى الله عليه وسلم وأمهاته ناجون ومحكوم بإيمانهم ، لم يدخلهم كفر ، ولا رجس ، ولا عيب ، ولا شيء مما كان عليه الجاهلية بأدلة نقلية كقوله تعالى : (( وتقلبك في الساجدين )) وقوله صلى الله عليه وسلم : (( لم أزل أنتقل من الأصلاب الطاهرات إلى الأرحام الزاكيات )) ، وغير ذلك من الأحاديث البالغة مبلغ التواتر.

“ Jika kamu telah mengetahui bahwa ahli fatrah selamat atas pendapat yang rajah, maka kamu mengetahui bahwasanya kedua orangtua Nabi Saw selamat sebab keduanya termasuk ahli fatrah. Bahkan seluruh datuk beliau selamat dan ditetapkan keimanan mereka. Tidak disusupi kekufuran, kekejian, aib dan sesuatu pun dari perbuatan jahiliyyah dengan dalil-dalil naqliyyah seperti firman AllH Swt : “ Dan perubahan gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud “, juga sabda Nabi Saw“Aku selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”dan selain itu dari hadits-hadits kuat yang mutawatir “. (Tuhfah Al-Murid Syarh Jauhar At-Tauhid)

Dan banyak lagi para ulama lainnya yang sepandapat dengan mereka seperti imam As-Syakhawi, imam Ghazali, A-Suyuthi dan lainnya.

{Ahli fatrah akan diuji oleh Allah di akherat}


Dalam sebuah hadits yang telah diriwayatkan imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawiyah, Baihaqi dan ulama lainnya dengan sanad yang shahih dari Al-Aswad dari Sari’ bahwasanya Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أربعة يوم القيامة رجل أصم لا يسمع شيئًا و رجل أحمق و رجل هرم و رجل مات فى فترة فأمّا الأصم فيقول " لقد جاء الإسلام و ما أسمع شيئًا " و أمّا الأحمق فيقول " يا رب لقد جاء الإسلام و الصبيان يحذفونى بالبعر " و أمّا الهرم فيقول " يا رب لقد جاء الإسلام و ما أعقل شيئًا " و أمّا الذى مات فى فترة فيقول " ما أتانى لك رسول " فيأخذ مواثيقهم ليطيعنه فيرسل إليهم أن ادخلوا النار فوالذى نفسى بيده لو دخلوها كانت عليهم بردًا وسلامًا

“ Ada empat golongan kelak di hari kiamat ; Orang tuli yang tidak bias mendengar sama sekali, orang idiot, orang tuna netra dan orang yang meninggal di masa fatrah. Orang tuli berkata “ Islam telah dating tapi aku tidak mendengarnya sama sekali “. Orang idiot berkata “ Wahai Tuhanku, Islam telah dating dana bocah-bocah kecil melempariku dengan kotoran “. Orang tuna netra berkata “ Wahai Tuhanku, Islam telah dating tapi aku tidak memahaminya sama sekali “. Dan orang yang meninggal di masa fatrah berkata “ Tidak dating padaku seorang utusan dari-Mu “. Maka Allah menguji kepercayaan mereka supaya menta’ati-Nya dan Allah mengutus pada mereka supaya masuk neraka. Maka demi yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya mereka memasuki neraka, niscaya neraka itu akan menjadi sejuk dan sejahtera “.

Dalam hadits tersebut menejelaskan bahwa pada awalnya ahli fatrah masuk neraka. Namun dengan kemurahan dan ampunan Allah, mereka dimasukkan ke dalam surga oleh Allah. Oleh sebab itulah Nabi menegaskan dengan sabdanya “, seandainya mereka memasuki neraka, niscaya neraka itu akan menjadi sejuk dan sejahtera “, artinya mereka tidak akan masuk neraka dan mereka akan dimasukkan ke dalam surga setelah mendapat ujian.

{Orang tua Rasul adalah orang yang ta’at saat diuji}

Ayahanda dan ibunda Rasul Shallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang ta’at ketika diuji kelak. Sebagaimana hadits berikut telah mengisyaratkannya:

Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadraknya dan beliau menilainya shahih dari Ibnu Mas’ud beliau berkata :

شاب من الأنصار لم أر رجلا كان أكثر سؤالا لرسول الله صلى الله عليه وسلم منه يا رسول الله أرأيت أبواك في النار فقال ما سألتهما ربي فيطيعني فيهما وإني لقائم يومئذ المقام المحمود.

“ Ada seorang pemuda dari Anshor yang aku belum pernah melihat seseorang yang banyak bertanya kepada Rasululullah Shallahu ‘alaihi wa sallam darinya. “ Wahai Rasul Allah, apakah engkau melihat kedua orangtuamu di neraka ? “, beliau Shallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “ Aku belum memohon pada Tuhanku agar orangtuaku kelak ta’at padaku, dan sungguh aku pada hari itu benar-benar menempati al-maqam al-mahmud (kedudukan tertinggi) “.

Dalam hadits ini menunjukkan bahwa ada harapan baik bagi kedua orangtua Nabi Shallhu ‘alahi wa sallam ketika telah tegak maqam mahmudnya beliau Shollahu ‘alaihi wa sallam. Demikian itu dengan beliau memberikan syafa’at pada keduanya sehingga keduanya ta’at pada Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam saat penduduk fatrah mendapat ujian. Dan tidak diragukan lagi ketika itu beliau mendapat seruan “ Mintalah, niscaya kau akan dikabulkan dan berilah syafa’at, niscaya kau akan diberi wewenang syafa’at “, sebagaimana telah kita ketahui dalam hadits-hadits yang shahih.

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat berikut :

ولسوف يعطيك ربك فترضى

“ Dan sungguh kelak Tuhanmu akan memberikanmu hingga kamu puas “

Beliau menafsirkan :

من رضا محمد صلى الله عليه وسلم أن لا يدخل أحد من أهل بيته النار

“ Termasuk keridhaan nabi Muhamamd adalah tidak ada satupun keluarga Nabi yang masuk neraka “.
Ibnu Hajar al-Atsqalaani berkata : “ Hendaknya berprasangka baik bahwa semua keluarga nabi akan ta’at ketika diuji “.
(Al-Haafi lil Fatawi : 207)

{Tidak semua hadits shahih boleh dibuat hujjah}


Meninggalkan hadits atau mengambilnya sebagai hujjah, memiliki batasan-batasan dan persayaratan-persyaratan tertentu. Tidak semua orang mampu melakukan hal itu. Membuka kitab-kitab hadits dan mengambilnya dengan semaunya tanpa ada keahliaan dalam ilmu hadits atau tanpa merujuk pada ulama yang berkompeten dalam bidangnya, hanyalah permainan anak-anak.

Bukankah sangat banyak para imam besar yang tidak mengambil hadits shahih sebagai hujjah ? disebabkan dengan keahliannya dalam ilmu istidlal dan istinbathnya mereka menilai ada illat-illat yang menyebabkan hadits shahih tersebut tidak bisa dijadikan hujjah atas sebuah hokum.

Contoh :


Imam Syafi’i.

Dalam madzhab Syafi’i, diharuskan membaca basmalah sebelum fatehah bahkan batal sholatnya jika tidak membaca basmalah. Padahal dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Saw tidak membaca basmalah di dalam sholat.

Dan juga dalam mazhab syafi’i jika imam ruku’, makmum harus ruku’, jika imam I’tidal, makmum harus I’tidal, jika imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah, maka makmum mengucapkan sami’allahu liman hamidah. Jika imam sholat dengan duduk karena ada udzur, maka makmum tetap sholat berdiri selama masih mampu berdiri dan tidak boleh duduk.

Sedangkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan :

إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه فإذا ركع فاركعوا وإذا رفع فارفعوا وإذا قال سمع الله لمن حمده فقولوا ربنا لك الحمد وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا أجمعون

“ Sesungguhnya imam itu dijadikan hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya. Jika imam ruku’ maka ruku’lah, jika imam I’tidal maka I’tidallah. Jika imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah maka ucapkanlah Rabbanaa laka al-hamdu dan jika imam sholat dengan duduk, maka sholatlah kalian semua dengan duduk “.

Lalu kenapa imam Syafi’i tidak mengikuti hadits-hadits imam Bukhari dan Muslim tersebut ?? jawabannya; karena beliau melihat dan menilai hadits-hadits shahih tersebut masih memiliki illat atau ada hadits lainnya yang lebih kuat lagi sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

Imam Abu Hanifah.

Dalam madzhab Hanafi tidak disyaratkan membasuh najis anjing tujuh kali, padahal ada hadits shahih riwayat imam Bukhari dan Muslim :

إذا ولغ الكلب في إناء أحدكم فليغسله سبعا

“ Jika anjing menjilati bejana seseorang dai antara kalian, maka cucilah tujuh kali cucian “.

Dalam hadits shahih riwayat imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa “ Angkatlah kepalamu dan i’tidallah dengan berdiri “, sedangkan dalam madzhab Hanafi sah sholat tanpa ada tumakninah saat i’tidal.

Mengapa imam Abu Hanifah menolak hadits-hadits shahih tersebut ??

Imam Malik.

Dalam hadits shahih riwayat imam Bukhari dan Muslim disebutkan :

البيعان بالخيار ما لم يتفرقا

“ Penjual dan pembeli boleh melakukan khiyar/memilih semenjak keduanya tidak berpisah “
Lalu kenapa dalam madzhab Maliki tidak ada majlis khiyar ?

Dalam hadits shahih riwayat imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw tidak membasuh seluruh kepalanya saat berwudhu. Sedangkan dalam madzhab Maliki mewajibkan membasuh seluruh kepala saat berwudhu.
Mengapa beliau menyeleisihi hadits-hadits shahih tersebut ??

Imam Ahmad bin Hanbal.

Dalam hadits shahih riwayat imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwasanya Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
من صام يوم الشك فقد عصى أبا القاسم

“ Barangsiapa yang berpuasa di hari syak (tanggal 30 sya’ban), maka telah durhaka pada Abu Al-Qasim “.
Sedangkan dalam madzhab hanbali, beliau membolehkan puasa hari syak. Bagaimana beliau bertentangan dengan hadits shahih tersebut ??

Catatan :


Apakah imam Syafi’i, Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hanbal sengaja menolak hadits-hadits shahih ?
Apakah para imam tersebut tidak memahami hadits-hadits shahih ?

Apakah para imam tersebut tidak mengerti ilmu hadits ?
Apakah mereka orang-orang bodoh ?
Mengapa para imam tersebut tidak menjadikan hadits-hadits tersebut sebagai hujjah sehingga tidak menerapkannya ??

Ya, karena para imam itu paham dan mengerti dengan semua kemampuan ilmu yang mereka miliki dan kuasai, bahwa bagi masing-masing telah tegak dalil-dalil lain yang menentangnya.

Demikian juga dalam kasus ini, hadits riwayat imam Muslim mengenai kedua orangtua Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bertentangan dengan dalil-dalil lain yang lebih kuat dan mutawatir. Sehingga hadits imam Muslim dalam kasus ini tidak bisa dibuat sebagai hujjah.

Poin Ketiga :

Telah jelas dalam poin sebelumnya, bahwa hadits riwayat imam Muslim konradiksi dengan dalil-dalil yang lebih kuat dan mutawatir. Selain itu hadits ini menjadi perselisihan para ulama baik dari sisi matan maupun sanadnya.

Sisi matan.

Dari sisi matan, sangat kontradiksi dengan nash-nash qoth’i dalam al-Quran sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Ayah dan Ibu Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam hidup pada masa fatrah. Waktu itu belum ada utusan pemberi peringatan (nadzir) dan tidak sampai dakwah pada mereka dari nabi-nabi sebelumnya.

Sedangkan Allah tidak akan menghukum orang-orang yang hdiup di masa fatrah dan tidak sampai dakwah pada mereka. Allahu Ta’ala befirman :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”(Q.S Al Isra`: 15)

Dan orangtua Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam belum sampai dakwah pada mereka dan belum ada seorang utusan pun yang memberi peringatan (nadzir). Allah Ta’ala telah menyatakannya :

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُون

“ Agar kamu memperingatkan suatu kaum yang tidak ada seorang pemberi peringatan pun pada mereka sebelum kamu, supaya mereka mendapat petunjuk “ (As-Sajdah : 3)

Ayat ini menunjukkan orangtua Rasul adalah ahli fatrah. Karena tak ada seorang pembawa peringatan pada mereka saat itu.
Dalam Tarikh Al-Ishaqi disebutkan :

حدثنا أحمد نا يونس عن ابن إسحق قال: فكانت آمنة بنت وهب أم رسول الله صلى الله عليه وسلم تحدث أنها أتيت حين حملت محمداً صلى الله عليه وسلم فقيل لها: إنك قد حملت بسيد هذه الأمة، فإذا وقع إلى الأرض فقولي:
أعيذه بالواحد ... من شر كل حاسد
في كل بر عابد ... وكل عبد رائد
نزول غير زائد ... فإنه عبد الحميد الماجد

Ahmad telah menceritakan pada kami, Yunus telah menceritakan pada kami dari Ibnu Ishaq, beliau berkata : “ Konon Aminah binti Wahb ibunda Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bercerita bahwa ketika ia mengandung Nabi Muhammad, ada yang dating padanya dan berkata : “ Sesungguhnya engkau telah mengandung pemimpin umat ini, maka jika sudah lahir ke muka bumi ini, ucapkanlah :
“ Aku melindunginya dengan Tuhan yang Maha Tunggal, dari keburukan semua orang yang hasad. Selalu berbuat kebaikan dalam hal ibadah. Dan disegani semua hamba. Lahir dengan selamat, sesungguhnya dia adalah hamba Dzat yang Maha terpuji dan Mulia “.

Dalam tarikh tersebut, jelas menunjukkan bahwa ibunda Nabi Shallahu a’alihi wa sallam adalah orang yang beriman kepada Allah Ta’ala.

Dari sisi Sanad.

Para ulama ahli hadits mengatakan bahwa dalam afraad imam Muslim (hadits-hadits imam Muslim yang menyendiri dari gurunya imam Bukhari), memiliki permasalahan. Dan hadits yang sedang kita bicarakan termasuk dari afraad imam Muslim yang bermasalah. Sebagaimana dinyatakan oleh imam Suyuthi dalam kitabnya at-Ta’dzhim wa Al-Minnah.

Dari sisi sanad, para perawi hadits ini adalah orang-orang tsiqah (terpercaya) dan kuat hafalannya terkecuali Hammad bin Salamah. Mengenai Hammad bin Salamah ini, para ulama terbagi menjadi dua kelompok dalam hal ini :

1. Para ulama ahli hadits yang men-tsiqahkannya secara muthlaq
2. Para ulama ahli hadits yang membuat perinciannya.

Di antara ulama dari kelompok pertama yang mentautsiq (menilai tsiqah) Hammad adalah Ibnu Mahdi, Ibnu Mu’in dan Al-Ajli. Dan ini dipilih oleh Ibnu Hibban beliau berkata “ Hammad adalah orang terpercaya, shalih dan doanya selalu terkabulkan “.

Dan di antara ulama dari kelompok kedua yang membuat perinciannya adalah; Yahya bin Sa’id al-Qoththon, Ali bin Al-Madini, Ahmad bin Hanbal, An-Nasai, Adz-Dzhabai, Ya’qub bin Syaibah, Abu Hathim dan yang lainnya termasuk imam Muslim sendiri.

Jika periwayatan Hammad dari guru-gurunya yaitu Tsabit Al-Banani, Hamid Ath-Thawil, Ali bin Zai bin Jad’an, Muhammad bin Ziyad al-Bashri dan Ammar, maka periwayatannya lebih didahulukan dari periwayatan Hammad pada selain mereka.

Imam Muslim berkata mengenai Hammad :

وحماد يعدّ عندهم إذا حدّث عن غير ثابت؛ كحديثه عن قتادة، وأيوب، ويونس، وداود بن أبي هند، والجريري، ويحيى بن سعيد، وعمرو بن دينار، وأشباههم فإنه يخطىء في حديثهم كثيراً

“ Dan Hammad dipermasalahkan menurut para ulama besar ahli hadits jika meriwayatkannya dari selain Tsaabit seperti periwayatannya dari Qatadah, Ayyub, Yunus, Dawud bin Abu Hindi, Aljariri, Yahya bin Sa’id, Amr bin Dinar dan semisal mereka. Karena Hammad melakukan kesalahan yang banyak dalam hadits periwayatann mereka “. (At-Tamyiz : 218)

Namun permasalahannya ada ketika Hammad menginjak usia lanjut. Dan para ulama ahli hadits sepakat bahwa ketika usia lanjut, hafalan Hammad mengalami gangguan. Bahkan dicurigai anak angkatnya melakukan penyisipan teks pada hadits-hadits Hammad. Beliau memang orang shalih yang ahli ibadah, namun dalam ilmu hadits untuk menjaga kemurniaan hadits-hadits Nabi Saw yang merupakan sumber hukum kedua setelah al-Quran, haruslah benar-benar diperketat, sehingga para ulama membagi hadits-hadits dengan berbagai macam jenis dan hukumnya.

Oleh sebab itulah imam Baihaqi berkata :

حماد ساء حفظه في آخر عمره، فالحفاظ لا يحتجون بما يخالف فيه

“ Hammad buruk hafalannya di akhir usianya, maka para ulama hadits tidak menjadikan hujjah dengan hadits Hammad yang terdapat kontradiksi di dalamnya“. (Syarh al-‘Ilal : 2/783)

Imam Abu Hathim berkata :

حماد ساء حفظه فى آخر عمره

“ Hammad buruk hafalannya di usia lanjutnya “ (Al-Jarh wa At-Ta’dil : 9/66)

Imam Az-Zaila’i
berkata :

لما طعن فى السن ساء حفظه. فالاحتياط أن لا يُحتج به فيما يخالف الثقات


“ Ketika Hammad berusia lanjut, hafalannya menjadi buruk, maka untuk lebih hati-hatinya hendaknya tidak menjadikannya sebagai hujjah pad hadits-haditsnya yang menyelisihi periwayat-periwayat tsiqah lainnya “ (Nashbu Ar-Rayah : 1/285)

Dan hadits riwayat Hammad ini mengenai ayahanda Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi dan kontradiksi dengan ayat-ayat al-quran dan hadits-hadits shahih lainnya. Karena tidak mungkin menolak nash-nash al-Quran yang lebih pasti ketsubutan dan dalalahnya dengan nash-nash hadits yang masih belum pasti kestubutan dan dalalahnya.


{Perbandingannya dengan hadits riwayat Ma'mar}

Setelah saya komparasikan ternyata para Imam Hadis seperti Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan al-Bayhaqi memang hanya melalui jalur Hammad dari Tsabit dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu. Hadis ini tidak diriwayatkan dengan jalur selain mereka.

Dalam periwayatan yang lebih tsiqah yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Ma’mar, tidak terdapat lafadz yang mengindikasikan bahwa orang tua Nabi Saw. termasuk ahli neraka. Adapun redaksinya adalah sebagai berikut.

إذا مررت بقبر كافر فبشره بالنار

“ Apabila kamu melewati kuburan orang kafir maka kabarkanlah dengan neraka.”

Dalam periwayatan ini, lebih dipercaya karena diriwyatakan dari Ma’mar. Oleh karena itulah imam Bukhari hanya mentakhrij hadits dari Ma’mar dan tidak mentakhrijnya dari Hammad. Dan tak ada satu pun para ulama ahli hadits yang mempermasalahkan Ma’mar. Maka seharusnya hadits periwayatan dari jalur Ma’mar lebih didahulukan ketimbang hadits periwayatan imam Muslim dari jalur Hammad.

Dan dikuatkan lagi dengan hadits yang telah ditakhrij oleh imam Baihaqi, Al-Bazzar dan At-Thabrani dari jalur Sa’ad bin Abi Waqqash, beliau berkata :

أنّ أعرابيًا أتى النبى صلّى الله عليه و سلّم فقال " يا رسول الله أين أبى .. ؟ " قال " فى النار " قال " فأين أبوك .. ؟ " قال " حيثما مررت بقبر كافر فبشّره بالنار " .

“ Bahwasanya ada seorang dusun arab dating kepada Nabi Saw dan bertanya “ Wahai Rasulullah di mana ayahku ? Rasulullah menjawab “ Di neraka “, Lalu orang dusun arab itu bertanya lagi “ Lalu di mana pula ayahmu ?, Maka Nabi Saw menjawab “ Sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “.

Dari riwayat-riwayat yang lebih tsiqah (terpercaya) ini, tidak menyebutkan ayah Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam di neraka. Tapi langsung menyebutkan “ Jika kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “. Maka seharusnya lebih dipegang dan diambil hadits-hadits ini ketimbang hadits riwayat imam Muslim dari jalur Hammad. Karena tidak mungkin menggabungkan (thariqah al-jam’i) di antara hadits jika salah satu haditsnya kontradiksi dengan nash-nash al-Quran. Maka dalam hal ini, hadits riwayat Ma'mar lebih kuat dan harus didahulukan.

Bersambung ke bag IV...

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
23-05-2012

Sabtu, 12 Mei 2012

Wahhabi-salafi mendahului Allah dengan memvonis kedua orangtua Nabi Saw di neraka (Bag II)


Jawaban atas syubhat-syubhat yang memvonis kedua orang tua Nabi Saw di neraka.

Akhir-akhir ini kasus kedua orangtua Rasul Saw masuk neraka mulai mencuat kembali ke permukaan umum, dan mulai diramaikan kembali oleh segelintir orang yang mengaku pengikut manhaj salaf. Mereka dengan semangat dan bahkan merasa lezat dengan membicarakan kedua orangtua Nabi Saw masuk neraka di mimbar-mimbar mereka, majlis ta’lim, masjid, perkumpulan dan bahkan menyebarkannya melalui lembaran-lembaran atau bulletin dan internet ke khalayak umum tanpa mau melihat perbedaan ulama tentang persoalan ini dan bahkan tanpa memperhatikan adab dengan baginda Nabi Saw.

Persoalan ini sebenarnya hanyalah persoalan ijtihadiyyah bukan persoalan I’tiqadiyyah yang menyebabkan kafirnya atau bid’ahnya orang yang bertentangan. Dan tidak akan menjadi salah satu pertanyaan yang harus di jawab dalam kuburan.

Sejak mulai ulama pertama hingga terakhir, memang telah terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Ada yang berpendapat kedua orangtua Nabi masuk neraka, ada yang berpendapat sebaliknya yaitu kedua orangtua Nabi Saw masuk surga dan ada juga yang memilih diam tidak mau berkomentar atas perosalan ‘Khathar’ ini. Namun di anatara mereka hanyalah sekedar berijtihad dan berpendapat tanpa adanya saling membid’ahkan dan mengkafirkan di anatara mereka yang bertentangan. Setelah itu mereka lepas dan tak ada yang berani membicarakannya lagi.

Namun kita lihat sekarang, begitu beraninya segilintir manusia yang mengaku pengikut manhaj salaf, mempersoalkan kasus ini lagi, meramaikan kasus ini lagi dan menetapkan bahwa pendapat merekalah yang paling benar tanpa memandang hujjah-hujjah ulama yang berbeda pendapat.

Sebenarnya saya tidak berani mengupas masalah ini, karena saya khawatir terjerumus termasuk orang yang memperpanjang masalah ini sehingga menyebabkan sakit hatinya Nabi Saw. Namun saya hanya mengabulkan permintaan beberapa ikhwan yang menginginkan saya menjelaskan persoalan ini.

Sebelum anda membaca dan menyimak penjelasan yang ada dalam artikel ini, maka ada baiknya anda membaca artikel saya sebelumnya yang berkaitan dengan artikel ini : http://ibnu-alkatibiy.blogspot.com/2012/05/wahhabi-salafi-mendahului-allah-dengan.html

Agar bisa memahami setiap akar-akar dari permasalahan ini.
Berikut ini saya akan jelaskan syubhat-syubhat yang dilontarkan mereka tentang kedua orangtua Nabi Saw :

Syubhat pertama :

Mereka mengatakan bahwa imam Nawawi juga berpendapat sesungguhnya kedua ortu nabi Saw di neraka dengan menukil ucapan beliau :

فيه أن من مات على الكفر فهو من أهل النار، وفيه أن من مات فى الفترة على ما كانت عليه العرب من عبادة الأوثان فهو من أهل النار. وليس هذا مؤاخذهُ قبل بلوغ الدعوة، فإن هؤلاء كانت قد بلغتهم دعوة إبراهيم وغيره من الأنبياء

“ Dalam hadits itu menunjukkan bahwa orang yang mati atas kekufuran maka dia di neraka. Dan juga menunjukkan bahwa orang yang mati di masa fatrah atas perbuatan orang arab dari menyembah berhala, maka dia pun di neraka. Dan ini bukan lah hukuman sebelum datangnya dakwah, karena sesungguhnya telah sampai dakwah nabi Ibrahim pada mereka dan selainnya dari para nabi “.

Jawaban :

Beliau berkomentar demikian bukan berarti berpendapat kedua orangtua nabi Saw di neraka. Jika beliau mengatakan demikian maka beliau akan mengatakannya secara jelas karena beliau juga pensyarah hadits Muslim.

Mereka terlalu memaksakan hujjah dengan mengatakan bahwa beliau juga berpendapat orangtua nabi Saw di neraka. Seandainya beliau berpendapat seperti itu, niscaya beliau akan memperjelas komentarnya, semisal :

فيه دليل على ان ابويه ماتا على الكفر فهما في النار

“ Dalam hadits itu menunjukkan bahwa kedua orangtua nabi Saw wafat dalam keadaan kafir dan masuk neraka “.

Namun beliau tidak mengatakannya. Maka komentar beliau sebenarnya ditujukan kepada ayah orang yang bertanya bukan pada ayah nabi Saw sendiri. Sedangkan beliau diam dan tidak berkomentar tentang ayah nabi Saw karena beliau paham bahwa menyakiti hati nabi Saw hukumnya haram dan tak ada perkara yang lebih menyakitkan hati Nabi Saw selain mengatakan kedua orantuanya di neraka.

Baiklah, untuk mengetahui maksud sebenarnya dari komentar imam Nawawi tersebut, maka alangkah baiknya kita dengarkan penjelasan dari seorang ulama pengikutnya yang lebih memahami ucapan beliau yaitu imam As-Suyuthi berikut :

الذي عندي أنه لا ينبغي أن يفهم من قول النووي في شرح مسلم في حديث (( أن رجلا قال يا رسول الله : أين أبي ... الخ )) أنه أراد بذلك الحكم على أبي النبي صلى الله عليه وآله وسلم ، بل ينبغي أن يفهم أنه أراد الحكم على أبي السائل ، وكلامه ساكت عن الحكم على الأب الشريف

“ Menurut pemahamanku hendaknya tidak memahami ucapan imam Nawawi di dalam syarh hadits Muslim tentang Hadits “ Sesungguhnya seseorang berkata kepada Rasul Saw di mana ayahku…dst “, bahwasanya yang beliau maksud adalah ayah nabi Saw. Akan tetapi hendaknya dipahami bahwasanya beliau menghendaki hokum pada ayah orang yang bertanya. Dan beliau diam, tidak mengomentari atas hokum ayah nabi Saw “.
(At-Ta’dzhim wal minnah : 171)

Syubhat kedua :

Mereka juga mengatas namakan imam Abu Hanifah untuk memvonis kedua orangtua nabi Saw. Menurut mereka imam Abu Hanifah berkata :

ووالدا رسول الله مات على الكفر

“ Dan kedua orangtua Rasul Saw wafat dalam keadaan kafir “.

Jawaban :

Benarkah imam Abu Hanifah berkata demikian ? setelah dilakukan pengecekan, ternyata lagi-lagi mereka berbuat curang untuk memperkuat asumsi mereka dengan mendistorsi kalam imam Abu Hanifah tersebut.

Kalam imam Abu Hanifah yang sebenarnya bukanlah seperti yang mereka gembor-gemborkan. Tapi justru sebaliknya pendapat beliau bertentangan dengan apa yang mereka sangka.
Ada dua teks dari kalam imam Abu Hanifah dalam manuskrip kuno yang berada di perpustakaan syaikh Islam di Madinah Al-Munawwarah sebelum beredarnya mansukrip yang baru.

Yang pertama berbunyi :

ووالدا رسول الله ما ماتا على الكفر

“ Dan kedua orangtua Rasul Saw tidak wafat dalam keadaan kafir “.

Yang kedua berbunyi :

وابوا النبي صلى الله عليه وسلم ماتا على الفطرة

“ Dan kedua orangtua Nabi Saw wafat di masa fatrah “

Hal ini sebagaimana kesaksian para ulama (Al-Imam Al-Hafidz Az-Zabidy, Al-Imam Al-Kautsari, Al-Imam Baijury, Syaikhul Islam Musthofa Shabry, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi dll) dengan mata kepala mereka sendiri melihat manuskrip aslinya yang jauh sudah ada sebelum terbitnya manuskrip yang palsu. Bahkan para ulama yang ‘arif mengatakan bahwa manuskrip tersebut sudah ada sejak masa Dinasti Abbasiyah.

Al-Imam Al-Kautsary berkata :

ففي بعض تلك النسخ : وأبوا النبي صلى الله عليه وسلم ماتا على الفطرة – و ( الفطرة ) سهلة التحريف إلى ( الكفر ) في الخط الكوفي ، وفي أكثرها : ( ما ماتا على الكفر ) ، كأن الإمام الأعظم يريد به الرد على من يروي حديث ( أبي وأبوك في النار ) ويرى كونهما من أهل النار . لأن إنزال المرء في النار لا يكون إلا بدليل يقيني وهذا الموضوع ليس بموضوع عملي حتى يكتفى فيه بالدليل الظني

“ Di dalam salah satu manuskrip tersebut berbunyi : Dan kedua orangtua Nabi Saw wafat di masa fatrah “, Lafadz Al-Fatrah (dalam tulisan arab) sangat mudah dirubah menjadi Al-Kufri dalam khot khufi. Dan kebanyakan manuskrip berbunyi “ Kedua orangtua Rasul Saw tidaklah wafat dalam keadaan kafir “. Imam besar tersebut justru bermaksud membantah orang yang meriwayatkan hadits “ Ayahku dan ayahmu di neraka “ dan orang itu berpendapat bahwa orangtua Nabi Saw di neraka. Karena memvonis sesorang di neraka haruslah dengan dalil yang yaqin dan persoalan ini bukanlah persoalan amaliah sehingga cukup dengan dalil sangkaan saja “. (Al-Aalim wa Al-Muta’allim : 17)

Al-Imam Bajuri berkata :

وأما ما نقل عن أبي حنيفة في الفقه الأكبر من أن والدي المصطفى ماتا على الكفر فمدسوس عليه ، وحاشاه أن يقول في والدي المصطفى ذلك، وغلط ملا علي القاري يغفر الله له في كلمة شنيعة قالها، ومن العجائب ما نسب له مع ذلك في إيمان فرعون.

“ Adapun pendapat yang dinukilkan dari Abu Hanifah di dalam kitab Al-Fiqh Al-Akbar bahwa kedua orangtua Nabi Saw wafat dalam keadaan kafir, maka teks itu telah mengalami pendistorsian (madsus), sungguh beliau jauh dari berpendapat seperti itu tentang kedua orangtua Nabi Saw. Dan telah keliru Mulla Al-Qaari semoga Allah mengampuninya di dalam kalimat buruk yang ia ucapkan. Dan dalam masalah ini, ironis sekali ada ucapan yang dinisbatkan kepada beliau tentang keimanan Fir’aun “. (Tuhfah Al-Murid Syarh Jauhar At-Tauhid)


Al-Imam Al-Hafidz Al-Murtadha Az-Zabidy berkata :

- وكنت رأيتها بخطه عند شيخنا أحمد بن مصطفى العمري الحلبي مفتي العسكر العالم المعمر – ما معناه : إن الناسخ لما رأى تكرر ( ما ) في ( ما ماتا ) ظن أن إحداهما زائدة فحذفها فذاعت نسخته الخاطئة ، ومن الدليل على ذلك سياق الخبر لأن أبا طالب والأبوين لو كانوا جميعاً على حالة واحدة لجمع الثلاثة في الحكم بجملة واحدة لا بجملتين مع عدم التخالف بينهم في الحكم

“ Dan aku telah melihat tulisannya pada syaikh kami Ahmad bin Musthafa Al-Amri Al-Halbi yang maknanya sebagai berikut : “ Sesungguhnya penulis naskah ketika melihat terulangnya lafadz (ما) pada kalimat (ما ماتا), ia menyangka salah satunya adalah tambahan / kelebihan, lalu ia menghapus salah satunya, maka tersebarlah naskah kekeliruannya tersebut. Termasuk bukti yang menguatkannya adalah susunan kalimat itu sendiri (yang janggal), karena Abu Thalib dan kedua orangtua Nabi Saw seandainya mereka semua itu sama keadaanya, maka niscaya imam Abu Hanifah akan mengumpulkan ketiganya dalam satu hokum bukan dengan dua hokum yang tidak ada perbedaannya sama-sekali “.

Keterangan :

Dalam naskah aslinya tertulis :

ووالدا رسول الله –صلّى الله عليه وسلّم ماتاعلى الفطرة وأبو طالب مات على الكفر
“ Dan kedua orangtua Rasul Saw wafat dalam masa fatrah sedangkan Abu Thalib wafat dalam keadaan kafir “.

Susunan kalimat ini terlihat sempurna dan tidak janggal sama sekali. Bandingkan dengan tulisan yang banyak beredar setelahnya yang sebagaimana diasumsikan mereka berikut ini :

ووالدا رسول الله –صلّى الله عليه وسلّم ماتاعلى الكفر وأبو طالب مات على الكفر

“ Dan kedua orangtua Rasul Saw mati dalam keadaan kafir sedangkan Abu Thalib mati dalam keadaan kafir “.

Perhatikan dan bacalah dengan seksama teks kedua ini dan bandingkan dengan teks pertama !

Maka sungguh secara akal sehat dan kaidah ilmu alat sangatlah janggal teks yang kedua ini, boleh dibilang susunan kalamnya amburadul dan tidak fasih. Mungkinkah seorang imam Besar yang diakui seluruh dunia melakukan kesalahan fatal dalam mengarang kitab terlebih menulis satu kalimat saja ??

Syubhat ketiga :

Mereka juga berasumsi bahwa imam Mulla Ali Al-Qaari berpendapat sesungguhnya kedua orangtua Nabi Saw di neraka dengan menukil ucapan beliau :

وأما الإجماع فقد اتفق السلف والخلف من الصحابة والتابعين والأئمة الأربعة وسائر المجتهدين على ذلك من غير إظهار خلاف لما هنالك والخلاف من اللاحق لا يقدح في الإجماع السابق سواء يكون من جنس المخالف أو صنف الموافق

”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (di era setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’) [Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 7)

Jawaban :

Memang pada awalnya beliau berpendapat seperti itu namun tiga tahun sebelum kewafatannya, beliau menarik kembali pendapatnya tersebut ketika menulis kitab Syarh Syifa’ Qadhi ‘Iyadh. Imam Ali Al-Qaari menegaskan bahwa pendapat mengenai keislaman kedua orang tua Nabi Muhammad Saw merupakan pendapat yang lebih kuat. Berikut teksnya :

وأبو طالب لم يصح إسلامه وأما إسلام أبويه ففيه أقوال، والأصح إسلامهما على ما اتفق عليه الأجلّة من الأمة، كما بيّنه السيوطي في رسائله الثلاث المؤلفة.أهـ

“ Dan Abu Thalib tidak sah keislamannya adapaun keislaman kedua orangtua Nabi Saw maka ada tiga pendapat dan yang palin shahih adalah bahwa kedua orangtua Nabi Saw muslim menurut kesepakatan para ulama besar sebagaimana dijelaskan As-Suyuthi dalam tiga risalah karyanya “. (Syarh Asy-Syifa, Ali Al-Qaari : 1/648)

Juga disebutkan hal yang sama di kitab beliau “ Minah Ar-Raudh Al-Azhar Fii Syarh Al-Fiqhu Al-Akbar “.

Dengan demikian, sangat jelas bahwa sikap imam Ali Al-Qaari yang mempopulerkan pendapat bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad Saw. di neraka menjadi tidak kuat, karena beliau kembali menarik pendapatnya dan berbalik dari mengkritik Al-Suyuthi dengan kembali menyetujui pendapatnya, juga terbukti terjadi kesalahan dalam penukilan naskah.

Syubhat keempat :

Mereka mengatakan : “ Kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memang termasuk ahli fatrah, namun telah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam. Maka, mereka tidaklah dimaafkan akan kekafiran mereka sehingga layak sebagai ahli neraka”.

Jawaban :


Pertama ; Terlalu terburu-buru memvonis kedua orangtua Nabi Saw kafir dan layak masuk neraka. Adakah nash qoth’i dari al-Quran atau al-Hadits yang menjelaskan langsung bahwa mereka berdua melakukan kesyirikan selama hidupnya ?? dalil-dalil yang mereka gunakan untuk memvonis kedua orangtua Nabi Saw bukanlah dalil qoth’i karena masih mengandung sangkaan dan ihtimal-ihtimal sehingga masih dikatakan dalil dzhanni.

Untuk menetapkan hokum seseorang itu kafir terlebih masuk neraka, maka haruslah dengan DALIL yang QOTH’I yang tidak terdapat KHILAF (Perbedaan pendapat di antara ulama) atau IHTIMAL (indikasi makna lain). Dalil yang kuat dan pasti serta tidak mungkin lagi mengindikasikan makna lainnya.

Tak ada satupun dalil qoth’i yang menjelaskan kedua orangtua Nabi Saw berbuat kesyirikan dan layak masuk neraka. Justru sebaliknya yang ada malah dalil-dalil yang lebih kuat dan mencapai derajat mutawatir yang menunjukkan kedua orangtua Nabi Saw bukan orang musyrik dan ahli neraka.

Di antara dalil paling kuat dan sharih adalah ayat al-Quran berikut :

..وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”(Q.S Al Isra`: 15)

Mayoritas ulama Ahlis sunnah menjelaskan dengan ayat ini bahwa Allah Swt tidak akan mengadzab sesorang pun sebelum diutusnya seorang Rasul. Mereka membantah keyakinan kaum Mu’tazilah yang selalu beprgang dengan akal yang berkeyakinan bahwa kaum di masa fatrah akan mendapat siksa dari Allah Swt.

Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim meriwayatkan tafsir ayat tersebut dari Qatadah bahwa beliau berkata :

إن الله ليس بمعذب أحدا حتى يسبق إليه من الله خبر أو تأتيه من الله بينة

“ Sesungguhnya Allah Swt tidak akan menyiksa seseorangpun hingga telah dating baginya berita atau petunjuk dari Allah Swt “.

Cucu dari Ibnu Al-Jauzi menghikayatkan kalam dari kakeknya :

قوم قد قال الله تعالى (وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا) والدعوة لم تبلغ أباه وأمه فما ذنبهما

“ Sekelompok ulama telah berkata “ Allah Swt berfirman ; ““dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”Ayah dan ibunda Nabi Saw belum sampai dakwah pada mereka, lalu apa dosa keduanya (sehingga layak masuk neraka) ??

Juga ayat :

وَمَا أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلَّا لَهَا مُنذِرُونَ

“ Kami tidak akan memusnahkan suatu daerah kecuali telah ada orang-orang yang telah memperingatkannya “ (Asy-Syu’ara : 208)

Imam Nawawi pun berpendapat bahwa ahli fatrah yang tidak sampainya dakwah tidak akan mendapat siksa, sebgaimana penjelasan beliau dalam Syarh Shahih Muslim berikut :

“ Sesungguhnya hadits anak-anak kafir kelak masuk surga adalah pendapat yang shahih dan terpilih dan dipegang oleh kalangan ulama yang muhaqqiq, karena firman Allah Swt “ “dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”(Q.S Al Isra`: 15). Jika orang yang baligh tidak akan disiksa sebab tidak sampainya dakwah, maka yang belum baligh lebih utama“.

Dan banyak lagi ayat-ayat yang senada. Menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengadzab orang-orang yang berada di masa fatrah.

Kedua : Mereka berpendapat bahwa telah sampai dakwah nabi Ibrahim pada kedua orangtua Rasul Saw sehingga mereka tidaklah dimaafkan akan kekafiran mereka sehingga layak sebagai ahli neraka.

Maka kita jawab : Pendapat ini pun juga terlalu terburu-buru. Bukankah Allah Swt sendiri telah berfirman :

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

“ Agar kamu memperingatkan suatu kaum yang datuk-datuk mereka belum mendapat peringatan dan mereka dalam keadaan lalai “. (Yasin : 6)

Allah juga berfirman :

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُون

“ Agar kamu memperingatkan suatu kaum yang tidak ada seorang pemberi peringatan pun pada mereka sebelum kamu, supaya mereka mendapat petunjuk “ (As-Sajdah : 3)

Dan ayat :

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“ Agar kamu memperingatkan suatu kaum yang tidak ada seorang pemberi peringatan pun pada mereka sebelum kamu, supaya mereka sadar “ (Al-Qashash: 46)

Keterangan :

Ayat-ayat di atas sangat jelas menerangkan bahwa belum ada seorang utusan dari Allah yang memperingatkan umat Nabi Saw sebelum nabi diutus menjadi Rasul. Tak terkecuali kedua orangtua Nabi Saw. Maka dengan ayat-ayat ini jelas bahwa kedua orangtua Nabi Saw adalah AHLI FATRAH yang BELUM SAMPAI DAKWAH dari nabi sebelum nabi Muhammad Saw.

Jika mereka masih ngotot dan mengatakan ; “ Kedua orang tua Nabi Saw termasuk golongan ahli fatrah yang tidak sampai kepadanya dakwah namun ia merubah ajaran dan berbuat syirik. Golongan ini tidaklah disebut sebagai ahlul-islam/ahlul iman “.

Kita jawab : Dari mana anda tahu bahwa kedua orangtua Nabi Saw telah merubah ajaran dan berbuat syirik ?? adakah satu nash qoth’i saja yang menjelaskan hal itu secara jelas dan nyata ?? sehingga anda berani memukul palu dan menetapkan hokum bahwa kedua orangtua Nabi Saw layak masuk neraka ??

Justru sebaliknya, banyak ayat al-Quran dan Hadits yang menjelaskan bahwa mereka di atas agama datuknya Nabi Ibrahim As.

- Ketika imam Sufyan bin Uyainah (salah seorang imam Mujtahid dan termasuk guru imam Syafi’i) ditanya “ Apakah ada seorang pun dari keturunan nabi Ismail yang menyembah berhala ? Maka beliau menjawab:

لا ألم تسمع قوله (واجنبني وبني أن نعبد الأصنام)

“ Tidak ada. Apakah kamu tidak mendengar firman Allah Swt “ Dan jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala “.

- Allah Swt berfirman

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“ Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud “. (Q.S. As-Syu’ara’ : 218-219)

Sebagian ahli tafsir termasuk sahabat Ibnu Abbas (master ahli tafsir) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan تَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِين (perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud ) adalah perpindahan cahaya Nabi  dari sulbi seorang ahli sujud (muslim) ke ahli sujud lainnya, sampai dilahirkan sebagai seorang nabi.

Imam Alusi dalam tafsir Ruhul Ma`ani ketika berbicara mengenai ayat tersebut berkata :
واستدل بالآية على إيمان أبويه صلى الله تعالى عليه وسلم كما ذهب اليه كثير من أجلة أهل السنة وأنا أخشى الكفر على من يقول فيهما رضي الله تعالى عنهما

“ Aku menjadikan ayat ini sebagai dalil atas keimanan kedua orang tua Nabi  sebagaimana yang dinyatakan oleh banyak daripada tokoh-tokoh ahlus sunnah. D`n aku khawatir kufurnya orang yang mengatakan kekafiran keduanya, semoga Allah meridhai kedua orang tua Nabi…”
(Ruh Al-Ma’ani : 19/138)

- Nabi Saw berabda :

وأخرج مسلم والترمذي وصححه عن واثلة بن الأسقع قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أن الله اصطفى من ولد إبراهيم إسماعيل واصطفى من ولد إسماعيل بني كنانة واصطفى من بني كنانة قريشا واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم

“ Sesungguhnya Allah Swt memilih Ismail dari keturunan Ibrahim. Dan memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail. Dan memilih Quraisy dari Bani Kinanah. Dan memilih Bani Hasyim dari Bani Quraisy dan memilih aku dari Bani Hasyim “ (HR. Muslim)
Mungkinkah Allah Swt memilihkan untuk Nabi Saw, sulbi-sulbi dari orang-orang yang kotor, najis atau kafir ?? kata-kata memilih dalam hadits tersebut jelas menunjukkan pilihan keitimewaan.

- Imam Ath-Thobari menyebutkan hadits berikut yang telah ditakhrij oleh Abu Ali bin Syadzan dan juga terdapat dalam Musnad Al-Bazzar dari Ibu Abbas Ra, beliau berkata :

دخل ناس من قريش على صفية بنت عبد المطلب فجعلوا يتفاخرون ويذكرون الجاهلية فقالت صفية منا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا تنبت النخلة أو الشجرة في الأرض الكبا فذكرت ذلك صفية لرسول الله صلى الله عليه وسلم فغضب وأمر بلالا فنادى في الناس فقام على المنبر فقال أيها الناس من أنا قالوا أنت رسول الله قال أنسبوني قالوا محمد بن عبد الله بن عبد المطلب قال فما بال أقوام ينزلون أصلي فو الله إني لأفضلهم أصلا وخيرهم موضعا.

“ Beberapa orang dari Quraisy datang kepada Shofiyyah binti Abdil Muththalib, lalu mereka saling membangga-banggakan diri dan menyebutkan perihal jahiliyyah. Maka Shofiyyah berkata “ Dari kalangan kami lahir Rasulullah Saw “, lalu mereka menjawab “ Kurma atau pohon tumbuh di tempat kotor “. Kemudian Shofiyyah mengadukan hal itu kepada Rasulullah Saw, maka Rasulullah Saw marah dan memerintahkan Bilal berseru pada orang-orang untuk berkumpul, lalu Rasulullah Saw berdiri di atas mimbar dan bersabda “ Wahai manusia, siapakah aku ? mereka menjawab “ Engkau adalah utusan Allah.

Kemudian Rasulullah bersabda lagi “ Sebutkanlah nasabku ! Mereka menjawab “ Muhammad bin Abdullah bin Abdil Muththalib “, maka Rasulullah Saw bersabda “ Ada apa satu kaum merendahkan nenek moyangku, maka demi Allah sesungguhnya nenek moyangku seutama-utamanya nenenk moyang dan sebaik-baik tempat (kelahiran) “.

Lihat bagaimana Nabi Saw marah saat ada orang yang merendahkan derajat datuknya. Mungkinkah Rasul Saw marah jika datuknya bukan orang mukmin tapi orang kafir ??
Hadits ini menunjukkan, bahwa Rasul Saw sakit hati jika ada orang yang merendahkan derajat datuk-datuknya. Maka tentunya akan lebih sakit hati lagi jika ada orang gembar-gembor di khalayak umum bahwa kedua orangtua Nabi Saw layak masuk neraka. Naudzu billah min dzaalik..

Bersambung ke bag III..

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 12-05-2012

Senin, 07 Mei 2012

Wahhabi-salafi mendahului Allah dengan memvonis kedua orangtua Nabi Saw di neraka (Bag I)


Di zaman yang penuh kemungkaran ini, di tengah-tengah manusia yang penuh lumuran dosa dan maksyiat, masih saja ada sekelompok orang yang berani berkata dengan kedangkalan ilmunya bahwa kedua orang tua Rasul Saw masuk neraka. Seolah dia bersih dari dosa, seolah dia telah dijamin masuk surga, seolah dia telah duduk tenang dalam surga. Bahkan dengan semangat yang menggebu mereka membuat lembaran-lembarannya dan menyebarkannya ke khalayak umum melalui masjid-masjid atau perkumpulan-perkumpulan. Dengan busung dada merasa telah membela kebenaran dengan bersih kukuh menyatakan kedua orangtua Rasul Saw di neraka. Seolah dengan berbuat demikian mereka membahagiakan hati sang Nabi Saw, seolah hanya dengan berbuat itulah mereka akan masuk surga.

Sekelompok minoritas yang tidak mau memahami ajaran agama ini melalui para ulama madzhab, mereka hanya mau berusaha memahami ajaran agama dengan mengandalkan cara berpikir mereka sendiri, mengaku berlandaskan al-Quran dan Hadits, seolah mereka lebih hebat pemahamannya daripada ulama madzhab. Sungguh jauh, sungguh jauh dari kelayakan berfatwa terlebih menandingi ulama madzhab dalam ijtihad dan istinbathnya. Mengaku pengikut salaf, padahal sungguh jauh manhaj mereka dengan manhaj salaf.

Wahai saudaraku, jika ada orang mengatakan padamu bahwa kedua orangtuamu masuk neraka, bagaimana perasaan hatimu ?? sudah tentu sakit, pedih dan marah. Demikian juga orang lain, akan marah dan sakit hatinya jika dikatakan orangtuanya masuk neraka.
Lalu, orang tua siapakah yang kau katakan masuk neraka? bahkan kau putuskan / vonis masuk neraka seolah kau telah duduk tenang di dalam surga dan menoleh kanan kiri sehingga mengetahui siapa-siapa yang masuk surga dan neraka ??
Ya, kedua orang tua Rasulullah Saw yang kau vonis masuk neraka,kedua orangtua kekasih Allah Swt, makhluk termulia, seolah kaulah pemilik neraka, seolah kaulah sang pemukul palu hakim atas masuknya seseorang ke dalam neraka. Padahal Rasul Saw sendiri pun tak mengatakannya secara shorih / jelas. Tapi kau sudah berani mendahului beliau Saw bahkan mendahului Allah Swt. Sungguh hal ini benar-benar menyakiti hati Rasul Saw…

Berikut ini aku akan jelaskan padamu secara ilmiyyah dengan sejelas-jelasnya tentang permasalahan ini, dan hadits yang kau gunakan hujjah untuk memvonis kedua orang tua Nabi Saw masuk neraka. Serta ucapan mayoritas ulama Ahlus sunnah akan selamatnya kedua orang tua Nabi Saw dari neraka.

Pertama : Kau mengatakan kedua orang tua Rasul Saw di neraka dengan berhujjah hadits Muslim berikut :

عن أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قال يا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أبي قال في النَّارِ فلما قفي دَعَاهُ فقال إِنَّ أبي وَأَبَاكَ في النَّارِ

Dari Anas bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “Ya, Rasulullah, dimanakah ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ Dia di neraka” . Ketika orang tersebut hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.(HR Muslim)

Jawaban : Memahami hadits atau kitab tanpa merujuk pada pendapat ulama dan mencukupkan dengan pendapat sendiri, maka akan menjerumuskanmu pada kehancuran dan pertentangan mayoritas ulama.

Hadits tersebut walaupun disebutkan dalam shohih Muslim, bukan berarti boleh dibuat hujjah terlebih dalam hal I’tiqad / aqidah. Kita harus meneliti terlebih dahulu hadits-hadits lain yang terkait dengannya demikian pula ayat Qurannya.
Banyak sekali hadits-hadits riwayat imam Muslim, namun ditolak dan tidak dijadikan hujjah oleh imam-imam madzhab, karena mereka melihat ada ‘illat di sana yang menyebabkan tidak shahih di samping banyak pula hadits-hadits beliau yang digunakan imam-imam madzhab sebgai hujjah.

Para ulama Ahlus sunnah mengatakan bahwa hadits Muslim tersebut merupakan hadits Aahad yang matruk ad-Dhahir. Hadits Aahad jika bertentangan dengan nash Al-Quran, atau hadits mutawatir, atau kaidah-kaidah syare’at yang telah disepakati atau ijma’ yang kuat, maka dhahir hadits tersebut ditinggalkan dan tidak boleh dibuat hujjah dalam hal aqidah.

Imam Nawawi berkata :

ومتى خالف خبر الاحاد نص القران او اجماعا وجب ترك ظاهره

“ Kapan saja hadits Ahad bertentangan dengan nash ayat Quran atau ijma’, maka wajib ditinggalkan dhahirnya “ (Syarh Al-Muhadzdzab, juz :4 hal : 342)

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani
berkata :

قال الكرماني : ليعلم انما هو اي - خبر الاحاد – في العمليات لا في الاعتقاد

“ Imam Al-Karamani berkata “ Ketahuilah sesungguhnya hadits Aahad hanya boleh dibuat hujjah dalam hal amaliah bukan dalam hal aqidah “.

(Fath Al-Bari juz : 13 hal : 231)

Imam Malik sangat terkenal menolak hadits Aahad jika bertentangan dengan amal penduduk Madinah demikian juga imam Ibnu Mahdi sebagaimana disebutkan oleh Al-Qadhi Iyadh dalam kitab Tartibul Madarik.

Ibnu Taimiyyah berkata :

ان هذا من خبر الاحاد فكيف يثبت به اصل الدين اللذي لا يصح لايمان الا به
“ sesungguhnya ini termasuk hadits aahad, bagaimana pondasi agama yang merupakan standar keabasahan iman, bisa menjadi tsubut / tetap dengannya“. (Minhaj As-Sunnah juz 2 hal : 133)

Pertentangan-pertentangan hadits tersebut :


- Bertentangan dengan Al-Quran.

Hadits Aahad riwayat imam Muslim tersebut bertentangan dengan ayat :

..وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”(Q.S Al Isra`: 15)
Dan ayat :

وما ارسلنا اليهم قبلك من نذير

“ Kami tidak mengutus seorang pembawa peringatan sebelummu pada mereka “

Keterangan :

Orang tua Nabi wafat sebelum Beliau diutusnya sebagai rasul, berarti mereka termasuk ahli fatrah yang selamat dari adzab.
Hal sperti ini banyak sekali contoh kasusnya, di antaranya kasus status kematian anak-anak kaum kafir yang belum baligh
Dalam banyak hadits disebutkan kepastian anak-anak orang kafir yang meninggal dunia statusnya di akherat akan masuk neraka. Namun ada juga beberapa hadits yang menyebutkan bahwa mereka masuk surga.

Dan bahkan jumhur ulama menshohihkannya, di antaranya imam Nawawi, beliau berkata “ Sesungguhnya hadits anak-anak kafir kelak masuk surge adalah pendapat yang shahih dan terpilih dan dipegang oleh kalangan ulama yang muhaqqiq, karena firman Allah Swt “ “dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”(Q.S Al Isra`: 15). Jika orang yang baligh tidak akan disiksa sebab tidak sampainya dakwah, maka anak yang belum baligh lebih utama“ (At-Ta’dzhim wa al-Minnah, imam Suyuthi hal : 160)

Demikianlah wahai saudaraku, setiap hadits yang dhahirnya bertentangan dengan al-Quran, ijma’ atau hadits yang lebih kuat darinya, maka mengharuskan takwil atau ditinggalkan dhahirnya. Dan kaidah ini merupakan kaidah yang telah disepakati oleh seluruh ulama.

- Bertentangan dengan hadits.


Hadits Muslim tersebut bertentangan dengan hadits berikut :

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Ra beliau berkata “ Rasulullah Saw bersabda :

الهالك في الفترة يقول : ربي لم يأتني كتاب ولا رسول. ثم قرأ هذه الاية " ربنا لولا ارسلت الينا رسولا فنتبع اياتك ونكون من المؤمنين "

“ Yang celaka dari ahli fatrah berkata “ Wahai Tuhanku, sesungguhnya belum sampai padaku kitab dan seorang utusanmu “ kemudian beliau Saw membaca ayat “ Wahai Tuhan kami, tidak kah Engkau mengutus pada kami seorang Rasul sehingga kami mengikutinya dan menjadi orang yang beriman ?”. (Isnadnya jayyid)

Hadits ini dikuatkan dengan ayat-ayat al-Quran yang telah berlalu keterangannya.

Juga hadits berikut :

لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات

“Aku selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”
Keterangan :

Dalam hadits ini Rasulullah  menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang Beliau adalah orang-orang yang suci, ini menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang-orang musyrik karena jelas orang-orag musyrik telah dinyatakan najis dalam firman Allah Swt :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”(At-Taubah : 28)

Maka wajib bagi kita untuk mngimani bahwa tak ada seorang pun dari nenek moyang Rasul Saw yang musyrik.
Bahkan ayat :

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“ Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud “. (Q.S. As-Syu’ara’ : 218-219)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan تَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِين (perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud ) adalah perpindahan cahaya Nabi  dari sulbi seorang ahli sujud (muslim) ke ahli sujud lainnya, sampai dilahirkan sebagai seorang nabi.

Imam Alusi
dalam tafsir Ruhul Ma`ani ketika berbicara mengenai ayat tersebut berkata :

واستدل بالآية على إيمان أبويه صلى الله تعالى عليه وسلم كما ذهب اليه كثير من أجلة أهل السنة وأنا أخشى الكفر على من يقول فيهما رضي الله تعالى عنهما

“ Aku menjadikan ayat ini sebagai dalil atas keimanan kedua orang tua Nabi  sebagaimana yang dinyatakan oleh banyak daripada tokoh-tokoh ahlus sunnah. Dan aku khawatir kufurnya orang yang mengatakan kekafiran keduanya, semoga Allah meridhai kedua orang tua Nabi…”

(Ruh Al-Ma’ani : 19/138)

Renungkan pula hadits berikut :

Imam Ath-Thobari menyebutkan hadits berikut yang telah ditakhrij oleh Abu Ali bin Syadzan dan juga terdapat dalam Musnad Al-Bazzar dari Ibu Abbas Ra, beliau berkata :

دخل ناس من قريش على صفية بنت عبد المطلب فجعلوا يتفاخرون ويذكرون الجاهلية فقالت صفية منا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا تنبت النخلة أو الشجرة في الأرض الكبا فذكرت ذلك صفية لرسول الله صلى الله عليه وسلم فغضب وأمر بلالا فنادى في الناس فقام على المنبر فقال أيها الناس من أنا قالوا أنت رسول الله قال أنسبوني قالوا محمد بن عبد الله بن عبد المطلب قال فما بال أقوام ينزلون أصلي فو الله إني لأفضلهم أصلا وخيرهم موضعا.

“ Beberapa orang dari Quraisy datang kepada Shofiyyah binti Abdil Muththalib, lalu mereka saling membangga-banggakan diri dan menyebutkan perihal jahiliyyah. Maka Shofiyyah berkata “ Dari kalangan kami lahir Rasulullah Saw “, lalu mereka menjawab “ Kurma atau pohon tumbuh di tempat kotor “. Kemudian Shofiyyah mengadukan hal itu kepada Rasulullah Saw, maka Rasulullah Saw marah dan memerintahkan Bilal berseru pada orang-orang untuk berkumpul, lalu Rasulullah Saw berdiri di atas mimbar dan bersabda “ Wahai manusia, siapakah aku ? mereka menjawab “ Engkau adalah utusan Allah. Kemudian Rasulullah bersabda lagi “ Sebutkanlah nasabku ! Mereka menjawab “ Muhammad bin Abdullah bin Abdil Muththalib “, maka Rasulullah Saw bersabda “ Ada apa satu kaum merendahkan nenek moyangku, maka demi Allah sesungguhnya nenek moyangku seutama-utamanya nenenk moyang dan sebaik-baik tempat (kelahiran) “.

Keterangan :

Perhatikanlah wahai saudaraku hadits tsb, sungguh beliau marah saat ada orang merendahkan ayah dan datuk-datuk beliau. Hingga beliau mengumpulkan orang-orang dan menegaskan mereka sampai bersumpah atas nama Allah bahwa datuk-datuk beliau adalah sebaik-baik datuk dan sebaik-baik tempat dilahirkan.
Lalu bagaimana jika beliau mendengar dari umatnya yang mengatakan bahkan memvonis bahwa kedua orangtua Rasulullah Saw masuk neraka ??

Dan masih banyak hadits-hadits semisal yang tidak saya sebutkan di sini, cukup hadits-hadits di atas menunjukkan kemuliaan dan keselamatan kedua orang tua Rasul Saw dari neraka.

- Hadits riwayat imam Muslim tersebut masuk kategoeri ihtimal / memungkinkan makna lain.

Jika ada hadits yang memungkinkan banyak makna lainnya, maka tidak bisa dijadikan hujjah terlebih dalam masalah aqidah.
Hadits Muslim tersebut mengandung ihtimal yakni bahwa lafadz Ab (ayah) di situ bermakna ‘Amm (paman) dengan qarinah-qarinah yang ada. Karena sudah maklum dan terkenal dalam bahasa Arab penamaan paman dengan ayah. Yaitu ayah yang mengasuhnya.

Maka ayah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah ayah asuh Rasulullah Saw yang tidak lain adalah pamannya yaitu Abu Thalib. Sebab Abu Thalib juga hidup saat Rasul Saw diangkat menjadi Rasul Saw dan beliau menolak permintaan Rasul Saw untuk bersyahadat.

Bahkan hal ini sudah masyhur di zaman Nabi Saw bahwa paman beliau Abu Thalib dipanggil Ab (ayah) Nabi Saw oleh orang-orang. Disebutkan dalam beberapa sirah Nabawiyyah :

كانوا يقولون له قل لابنك يرجع عن شتم آلهتنا وقال لهم أبو طالب مرة لما قالوا له أعطنا ابنك نقتله وخذ هذا الولد مكانه أعطيكم ابني تقتلونه وآخذ ابنكم أكفله لكم

“ Orang-orang kafir berkata kepada Abu Thalib “ Katakan pada anakmu agar tidak lagi mencaci tuhan-tuhan kami “, dan suatu hari Abu Thalib berkata pada mereka pada apa yang mereka katakan padanya“Berikan anakmu pada kami agar kami membunuhnya dan ambillah anak ini sebagai gantinya maka aku akan berikan anakku untuk kalian bunuh dan aku mengambil anak kalian untuk aku pelihara “.
Sudah maklum di kalangan mereka atas penamaan Abu Thalib disebut ayah Nabi Saw, karena ia telah mengasuh dan memelihara Nabi Saw.

Bahkan sebagian mufassirin berkata dalam ayat :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim Berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." (Q.S Al An`am : 74)

Bahwa yang dmaksud abihi (ayahnya) Nabi Ibrahim yang bernama Aazar adalah pamannya bukan ayahnya.

Mari kita buktikan kebenarannya :

- Imam Mujahid berkata : ليس آزر أبا إبراهيم

“ Azar bukanlah ayah Nabi Ibrahim As “, atsar ini telah ditakhrij oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Abi Hathim dengan sebagian jalan yang shahih.

- Ibnu Al-Mundzir telah mentakhrij dengan sanad yang shahih dari Ibnu Juraij tentang firman Allah Swt :

(وإذ قال إبراهيم لأبيه آزر)

Maka beliau berkomentar :

ليس آزر بابيه إنما هو إبراهيم بن تيرح أو تارح بن شاروخ بن ناحور بن فالخ

“ Azar bukanlah ayah Nabi Ibrahim, sesungguhnya dia adalah Ibrahim bin Tirah atau Tarih bin Syarukh bin Nakhur bin Falikh “.

- Ibnu Abi Hatim mentakhrij dengan sanad yang shahih dari As-Sadi bahwa beliau ditanya “ Ayah Nabi Ibrahim itu Azar, maka beliau menjawab “ bukan tapi Tarih “.

- Dari Muhammad bin Ka’ab Al-Quradzhi bahwasanya beliau berkata “ Terkadang paman dari jalur ayah atau jalur ibu disebut ayah “.

- Imam Fakhru Ar-Razi berkata :

إن آزر لم يكن والد إبراهيم بل كان عمه واحتجوا عليه بوجوه: منها أن آباء الأنبياء ما كانوا كفارا ويدل عليه وجوه: منها قوله تعالى ( الذي يراك حين تقوم وتقلبك في الساجدين قيل معناه أنه كان ينقل نوره من ساجد إلى ساجد وبهذا التقدير فالآية دالة على أن جميع آباء محمد صلى الله عليه وسلم كانوا مسلمين وحينئذ يجب القطع بأن والد إبراهيم ما كان من الكافرين إنما ذاك عمه

“ Sesungguhnya Aazar bukanlah ayah nabi Ibrahim As akan tetapi pamannya. Para ulama berhujjah atas hal ini dengan beberapa arahan, di antaranya; Bahwa datuk-datuk para Nabi bukanlah orang kafir, dengan dalil di antaranta ayat ;( الذي يراك حين تقوم وتقلبك في الساجدين ), dikatakan maknanya adalah bahwasanya cahaya Nabi  berpindah-pindah dari sulbi seorang ahli sujud (muslim) ke ahli sujud lainnya. Dengan makna ini, maka ayat tersebut menunjukkan bahwasanya semua datuk nabi Muhammad Saw adalah orang-orang muslim. Maka ketika itu wajib memastikan bahwa ayah nabi Ibrahim bukanlah dari orang kafir melainkan itu adalah pamannya “.

- Nabi Ibrahim As dilarang oleh Allah beristighfar (memintakan ampun) untuk ayahnya. Namun kenapa dalam ayat yang lain justru nabi Ibrahim memintakan ampun untuk kedua orangtuanya setelah wafatnya Aazar ? padahal Allah sudah melarangnya ?
Ibnu Abi Hatim mentakhrij hadits dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas Ra beliau berkata :

قال ما زال إبراهيم يستغفر لأبيه حتى مات فلما مات تبين له أنه عدو لله فلم يستغفر له

“ Nabi Ibrahim senantiasa beristighfar, memohon ampun untuk ayahnya hingga wafat, maka ketika ayahnya wafat, nyatalah baginya bahwa ayahnya adalah musuh Allah, sejak itu nabi Ibrahim tidak beristighfar untuknya lagi “.

Ibnu Al-Mundzir dalam kitab tafsirnya membawakan sebuah hadits dengan sanad yang shahih bahwa “ Ketika orang-orang kafir mengumpulkan kayu bakar dan melemparkan nabi Ibrahim ke dalamnya dengan api yang membara, maka berucaplah nabi Ibrahim “ Cukuplah Allah sebagai penolongku. Dan Allah berfirman “ Wahai api jadilah sejuk dan keselamatan bagi Ibrahim “. Maka berkatalah paman nabi Ibrahim “ Karenaku Ibrahim tidak terbakar “. Maka ketika itu Allah mengirim secercik api yang jatuh ke telapak kakinya dan membakarnya hingga tewas “.

Keterangan :

Nabi Ibrahim dilarang Allah mengistighfari ayahnya. Kemudian beliau diuji Allah dengan peristiwa pembakarannya. Dan saat itu pula pamannya ikut terbakar.

Setelah itu nabi Ibrahim berhijrah ke beberapa daerah hingga beliau meninggalkan istri dan anaknya di Makkah. Namun saat itu beliau berdoa sebagaimana diabadikan dalam al-Quran :

ربنا أني أسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع

“ Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku menempatkan keturunanku ini di lembah yang tidak ada tanaman “. Sampai ayat :

ربنا اغفر لي ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب

“ Wahai Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan bagi orang-orang mukmin di hari berdirinya hisap “.

Di atas cukup jelas, bahwa beliau selalu mengistighfari ayahnya hingga beliau tahu ayahnya tersebut adalah musuh Allah dengan terbakarnya di hari ujian Nabi Ibrahim tersebut dengan pembakaran. Dan beliau pun berhenti mengistighfarinya lagi.

Namun setelah itu kenapa beliau masih tetap mengistighfarinya lagi sebagaimana ayat di atas ?
Jawabannya tidak ada lain bahwa yang dimaksud ayah dalam hadits di atas adalah paman nabi Ibrahim As dan telah dikuatkan dengan hadits shahih yang telah dibawakan imam Ibnu Al-Mundziri dalam tafsirnya di atas.

Dan terbukti beliau masih mengistighfari ayah kandungnya Tarih setelah kejadian pembakaran tersebut.
Apakah kau akan mengatakan al-Qurannya yang salah ?
Maka dengan qarinah-qarinah ini semakin jelas bahwa yang dimaksud ayaku dalam hadits Muslim tersebut adalah ayah asuh Nabi Muhammad Saw yaitu paman beliau Saw Abu Thalib bukan ayah kandunganya Abdullah.


Hadits Syadz

- Hadits riwayat imam Muslim tersebut statusnya syadz, sebab perawi hadits tersebut yang bernama Hammad diragukan hafalannya oleh para ulama ahli hadits. Dalam hadits-hadits riwayatnya banyak kemungkaran, bahkan diketahui bahwa rabibnya telah membuat kerancuan dalam kitab-kitabnya dan Hammad tidak menghafal hadits-haditsnya sehingga membuat kesamaran dalam haditsnya. Oleh karenanya imam Bukhari tidak mentakhrij hadits darinya. Dan masih banyak hadits riwayat lainnya yang lebih kuat, seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqqosh :

“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ”

“ Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah “ dimana ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

Riwayat di atas datang tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.

Dan hadits syadz jika dari orang yang ghairu tsiqah (tidak terpercaya), maka hadits itu matruk dan tidak diterima. Sedangkan jika dariorang yang terpercaya, maka hukumnya tawaqquf (no coment/diam) dan tidak boleh dibuat hujjah terlebih jika bertentangan dengan al-Quran dan hadits lainnya.

Kedua : Kau memvonis orangtua Nabi Saw di neraka dengan berhujjah hadits berikut :

عن أبي هُرَيْرَةَ قال زَارَ النبي صلى الله عليه وسلم قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى من حَوْلَهُ فقال اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي في أَنْ أَسْتَغْفِرَ لها فلم يُؤْذَنْ لي وَاسْتَأْذَنْتُهُ في أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لي فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Dari Abi Hurairah, berkata : Nabi  berziarah ke kubur ibunda Beliau, kemudian Beliau menangis, dan membuat mereka yang ada di sekelilingnya menangis, maka Nabi bersabda “ Aku meminta izin pada tuhanku untuk memohonkan ampun bagi Ibuku akan tetapi tidak dikabulkan, dan aku meminta idzin untuk menziarahinya kemudian aku diidzinkan, maka berziarahlah kalian karena dapat mengingatkan kalian akan kematian” (HR Muslim)


Jawaban :


Hadits tersebut bukan menunjukkan ibunda Nabi Saw ahli neraka sama sekali. Karena hadits tersebut juga bertentangan dengan ayat-ayat fatrah di atas.

Dan tangisan beliau bukan menunjukkan ibundanya ahli neraka atau sebab Allah tidak mengidzinkannya untuk mengistighfarinya. Tapi beliau menangis sebab ibunda beliau termasuk ahli fatrah yang tidak dibebankan kewajiban iman. Sedangkan orang yang tidak dibebankan kewajiban iman tidaklah berdosa sehingga tidak berhak diistighfari. Sama halnya kita tidak mengistighfari benda-benda mati, binatang atau malaikat, sebab semuanya bukanlah mukallaf. Dan istighfar bukan pada tempat yang disyare’atkan adalah ‘abatsun (maen-maen), sedangkan maen-maen dalam hal ibadah dilarang.

Bukti bahwa ibunda nabi Saw bukanlah orang musyrik dan ahli neraka adalah Allah mengidzinkan Nabi Saw untuk menziarahinya. Sedangkan kita tahu bahwa Allah melarang kita berdiri di sisi kuburan orang-orang kafir. Allah Swt berfirman :

ولاتصل على احد منهم مات ابدا ولا تقم على قبره انهم كفروا بالله ورسوله وماتوا وهم فاسقون

“ Dan janganlah kamu mensholati seorang dari mereka yang wafat selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri di sisi kuburnya. Sesungguhnya mereka mengkufuri Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam kedaan fasiq “.

Jika kau bertanya : Lalu bagaimana dengan hadits-hadits berikut ini :
ليت شعري ما فعل أبواي فنزلت (ولا تسال عن أصحاب الجحيم)
“ Aduhai, apa yang dilakukan kedua orangtuaku ? lalu turunlah ayat “ Dan janganlah kamu menanyakan perihal dari penduduk neraka “.
Jawaban : Hadits itu dha’if bahkan tidak disebutkan sama sekali dalam kitab-kitab yang mu’tamad.
Hadits tersebut hanya disebutkan dalam sebagian ktab tafsir dengan sanad yang terputus yang tidak bisa dibuat hujjah. Jika seandainya hadits-hadits wahiyah semisal itu boleh dibuat hujjah, maka aku akan tampilkan hadits semisal itu juga yang menentangnya :

هبط جبريل علي فقال إن الله يقرئك السلام ويقول إني حرمت النار على صلب أنزلك وبطن حملك وحجر كفلك

“ Sesungguhnya Jibril turun kepadaku dan berkata “ Sesungguhnya Allah mengirim salam untukmu dan berfirman “ Aku mengharamkan neraka atas orang yang menurunkanmu dari sulbinya, orang yang mengandungmu dan pangkuan orang yang merawatmu “.
Hadits itu berkenaan dengan kaum kafir bani Israil bukan dengan kedua orang tua Rassul Saw.

Jika kau bertanya : Lalu bagaimana dengan hadits :

أنه استغفر لأمه فضرب جبريل في صدره وقال لا تستغفر لمن مات مشركا، وحديث أنه نزل فيها (ما كان للنبي والذين آمنواأن يستغفروا للمشركين)

“ Bahwasanya Rasul Saw beristighfar untuk ibundanya, lalu jibril memukul dadanya dan berkata “ Janganlah kamu beristighfar untuk orang yang mati musyrik dan turun ayat : “ Tidaklah Nabi dan orang-orang yang beriman untuk mengistighfari orang-orang musyrik “.

Jawaban : Hadits tersebut juga dhai’if. Tidak bisa dibuat hujjah. Bahkan hadits yang shahihnya adalah ayat itu turun berkenaan Abu Thalib dan berkenaan hadits :

لاستغفرن لك مالم أنه عنك

“ Aku akan beristighfar untukmu (wahai Abu Thalib) Selama aku tidak dilarang “.
Jika kau bertanya : Dan bagaimana dengan hadits :

أنه قال لابني مليكة أمكما في النار فشق عليهما فدعاهما فقال إن أمي مع أمكما

“ Bahwasanya Rasul Saw berkata kepada kedua anak Malikah “ Ibu kalian berdua ada di dalam neraka. Lalu kedua anak itu merasa berat hatinya, maka Rasul Saw mendoakan keduanya kemudian bersabda “ Sesungguhnya ibuku bersam ibu kalian “.
Jawaban : Hadits tersebut juga dha’if karena diriwayatkan Utsman bin Umair dan tidak bisa dibuat hujjah. Imam Adz-Dzhabi berkata dalam kitab Mukhtashar Al-Mustadraknya :

قلت لا والله فعثمان بن عمير ضعفه الدار قطني

“ Aku katakan ; “ Demi Allah, imam Daru Quthni mendhaifkan Utsman bin Umair “
Imam Adz-Dzahabi sampai bersumpah mengatakan hadits tersebut dha’if.

Jika sudah jelas hadits-hadits tersebut dha’if, maka runtuhlah hujjah-hujjah mereka menggunakan hadits-hadits tersebut.


Dalil-dalil Isyarah


Pertama : Allah Swt berfirman :

وإذ قال إبراهيم لأبيه وقومه إنني براء مما تعبدون إلا الذي فطرني فإنه سيهدين وجعلها كلمة باقية في عقبه
“ Dan ketika Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya “ Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali pada Dzat yang menciptakanku sesungguhnya Dia akan member petunjuk padaku “, dan Allah menjadikan kalimat itu terus ada pada aqibnya “.
Tafsirnya :

Abd bin Humaid mentakhrij hadits dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas tentang tafsir : وجعلها كلمة باقية في عقبه

قال لا إله إلا الله باقية في عقب إبراهيم

Ibnu Abbas berkata “ Kalimat Laa Ilaaha Illallah terus berlanjut pada keturunan nabi Ibrahim “.

Abd bin Humaid, Ibnu Jarir dan Ibnu Al-Mundzir juga mentakhrij hadits dari Mujahid tentang tafsir “ Kalimatan Baqiyatan “, bahwa beliau mengatakan “ Yang dimaksud adalah kalimat Laa ilaaha illallah “.

Abd bin Humaid juga berkata :

حدثنا يونس عن شيبان عن قتادة في قوله وجعلها كلمة باقية في عقبه قال شهادة أن لا اله إلا الله والتوحيد لا يزال في ذريته من يقولها من بعده.
“ Telah mneceritakan pada kami Yunus dari Syaiban dari Qotadah tentang firman Allah ; waja’alaha kalimatan baqiyan fi a’qibihi, bahwa beliau mengatakan “ Yaitu kesaksian Laa ilaaha illallah, dan tauhid akan selalu ada orang yang mengucapkannya setelah wafatnya nabi Ibrahim pada semua keturunannya “.

Abdur Razzaq juga meriwayatkan hadits yang sama tentang penafsiran ayat tersebut dari Mu’ammar dari Qotadah. Demikian pula Ibnu Juraij menafsirkan hal yang sama.

Dari penjelasan di atas, mengisyaratkan bahwasanya semua keturunan Nabi Ibrahim As orang-orang yang mentauhidkan Allah Swt dan bukan orang musyrik termasuk kedua orangtua Rasul Saw. Karena nabi Muhammad berasal dari keturunan Nabi Ismail As.

Kedua :

Ketika imam Sufyan bin Uyainah (salah seorang imam Mujtahid dan termasuk guru imam Syafi’i) ditanya “ Apakah ada seorang pun dari keturunan nabi Ismail yang menyembah berhala ? Maka beliau menjawab:

لا ألم تسمع قوله (واجنبني وبني أن نعبد الأصنام)

“ Tidak ada. Apakah kamu tidak mendengar firman Allah Swt “ Dan jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala “.
Ketiga :Allah Swt berfirman mengkisahkan doa nabi Ibrahim As:

رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي

“ Ya Allah, jadikanlah aku dan dari keturunanku orang yang mendirikan sholat “.
Ibnu Juraij menafsirkan :

فلن يزال من ذرية إبراهيم ناس على الفطرة يعبدون الله

“ Maka akan selalu ada dari keturunan nabi Ibrahim As, manusia pada masa fatrah yang menyembah Allah Swt “.

Keempat :Pada saat perang Hunain, Nabi Saw pernah berseru dengan bangga kepada kaum kafir :

أنا النبي لا كذب * أنا ابن عبد المطلب

“ Aku seorang nabi yang tidak pernah berdusta #
Akulah keturunan Ibnu Abdil Muththallib “.

Lihat, bagaimana beliau berbangga dengan nasab pada kakeknya Abdil Muththalib. Seandainya Abdul Muththalib kafir, maka Rasululullah Saw tidak akan berbangga seperti itu, apalagi intisab (mengakui nasab dengan bangga) pada orang kafir itu dilarang dan diancam neraka oleh Allah Swt.

Kelima : Imam At-Thabrani mentakhrij hadits dari Ummi Salamah bahwasanya Nabi Saw bersabda :

وقد وجدت عمي أبا طالب في طمطم من النار فأخرجه الله لمكانه مني وإحسانه إليّ فجعله في ضحضاح من النار

“ Sunngguh aku mendapatkan pamanku Abu Thalib di bagian dasar api neraka, lalu Allah mengeluarkannya sebab kedudukan dan kebaikannya di sisiku, maka Allah memindahkannya di bagian dangkal api neraka “.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa kedua orangtua Nabi Saw tidak di neraka, sebab jika kedua orangtua beliau di neraka, maka niscaya keduanya paling ringan siksaannya daripada Abu Thalib, sebab kedua orantua Rasul Saw lah yang paling dekat kedudukannya di sisi Rasul Saw dan paling besar udzurnya di sisi Allah Swt.

Keenam : Imam Al-Baghawi, Asy-Syarbini dan para ulama hanafiyyah juga malikiyyah dan yang lainnya dari para ulama Ahlus sunnah berpendapat bahwa kelebihan dari perut Nabi Saw hukumnya suci.

Diriwayatkan oleh imam Daru Quthni dan beliau menshahihkannya, bahwasanya Ummu Aiman pernah meminum air seni Rasulullah Saw kemudian beliau bersabda :

لَنْ يَلِجَ النَّارَ بَطْنُكِ

“ Perutmu tidak akan disentuh api neraka “.

Imam Tirmidzi berkata :”Darah Nabi Saw hukumnya suci karena Abu Taibah pernah meminum darah nabi Saw, demikian juga Ibnu Zubair saat itu masih kecil ketika Nabi Saw memberikan darah bekas cantuk untuk dibuangnya, tapi Ibnu Zubair malah meminumnya. Maka nabi Saw berabda :

من خالط دمه دمي لم تمسسه النار

“ Barangsiapa yang darahnya bercampur dengan darahku, maka ia tidak akan disentuh api neraka “.
Keterangan :

Nabi Saw tidak memerintahkan mereka untuk mensucikan mulut mereka dengan air, yang berarti hukumnya suci.
Dari hadits-hadits itu menunjukkan bahwasanya kelebihan dari perut nabi seperti air seni atau darah beliau Saw bisa menyelamatkan orang dari neraka. Lantas bagiaman dengan kdeua orangtua Rasul Saw yang darah daging beliau Saw berasal darinya ??
Oleh sebab itulah imam Al-Allamah Al-Khuffaji berkata dalam sebuah nadzamnya :

لوالدي طه مقام على # في جنة الخلد ودار الثواب
وقطرة من فضلات له # في الجوف تنجي من اليم العقاب
فكيف ارحام قد غدت # حاملة تصلى بنار العذاب

Kedua orangtua Rasul Saw memiliki kedudukan yang tinggi #
Di surga khuld yang abadi dan penuh limpahan anugerah.
Setetes dari kelebihan perut Nabi #
Yang masuk ke dalam perut seseorang dapat menyelamatkannya dari pedihnya siksa.
Maka bagaimana akan masuk neraka # rahim yang telah mengandung jasadnya ??

Catatan :

Tampaklah dari semua penjelasan di atas bahwa kedua orangtua Nabi Muhammad Saw termasuk ahli fatrah dan tidak masuk neraka.
Dan tampaklah semua dalil yang kau buat hujjah untuk memvonis kedua orangtua Nabi Saw di neraka sangatlah lemah dan bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran dan Hadits-hadits yang lebih kuat.

Tak sepantasnya kau bersih keras mengatakan kedua orang tua Rasul Saw di neraka apalagi memvonisnya. Para ulama ada yang tawaqquf dalam masalah ini, mereka tak berani mengatakan kedua orangtua Rasul Saw di neraka. Inilah sikap yang ahsan wa awra’ (baik dan lebih hati-hati). Bukankah kita dilarang mebicarakan kejelekan orang yang sudah wafat? Bukankah kita diperintahkan untuk mencegah lisan kita dari membicarakan perihal yang terjadi di antara sahabat-sahabat nabi Saw ?
Demikian pula kedua orangtua Nabi Saw lebih berhak lisan kita untuk tidak membicaraannya. Ini lebih baik dan lebih selamat untukmu.

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota santri, 05-05-2012