Selamat datang di blog saya yang sederhana ini yang menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian ASWAJA di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja

Senin, 29 April 2013

Konflik intern dalam akidah wahabi. Bukti kebathilan akidah wahabi (1)

Selama ini kaum wahabi-salafi menutup-nutupi kerancuan dan kebathilan akidah mereka dari para pengikutnya, karena takut kehilangan masa dan pengikut dan takut pengikutnya beralih ke akidah yang benar dan lurus yaitu Ahlus sunnah wal-jama’ah setelah mengetahui kebathilan ajaran wahabi yang mereka sembunyikan itu.

Saya secara kontinyu akan mengungkap kebathilan ajaran wahabi secara akurat dan bukti valid berdasarkan kitab-kitab ulama wahabi sendiri maupun kitab ulama panutan mereka. Dan menunjukkan pada public kerancuan serta kontradiksi akidah wahabi di kalangan mereka sendiri yang selama ini disembunyikan oleh para tokoh wahabi-salafi. Selanjutnya hidayah hanyalah milik Allah.

Ibnu al-Utsaimin sendiri mengatakan :

لا يمكن ان يقع تعارض بين كلام الله وكلام رسوله الذي صح عنه ابدا لان الكل حق والحق لا يتعارض والكل من عند الله وما عند الله تعالى لا يتناقض : ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا

“ Tidak mungkin terjadi kontradiksi antara al-Quran dan hadits yang sahih selamanya, karena semuanya adalah benar dan kebenaran tidak akan kontradiksi, semuanya dari Allah dan apa yang datang dari Allah tidak akan kontradiksi : “ Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya (QS. An-Nisa : 82) “.(Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah, Ibnu Utsaimin)

●●●
Ibnu Taimiyyah al-Harrani : “ Allah diangkat oleh para malaikat pengemban Arsy, jangan kamu mengingkarinya wahai orang yang suka membual lagi sombong “

Ibnu Utsaimin : “ Allah sama sekali tidak diangkat oleh para malaikat pengemban Arsy, wahai pendusta “

Dua pendapat di atas yang saling kontradiksi itu adalah kesimpulan dari pemikiran akidah masing-masing terkait Istiwa Allah di Arsy yang tidak sepantasnya terjadi, Namun Allah ingin membuktikan kebathilan ajaran mereka.
Simak, perhatikan dan renungkan, semoga kalian wahai wahabi mendapat hidayat dari Allah Swt..

Ibnu Taimiyyah mengatakan :



“ Maka dijawab untuk orang yang suka membual dan sombong ini : " Sesungguhnya Allah maha Agung dari segala sesuatu dan lebih besar dari makhluk-Nya, Dia tidak dibawa oleh Arsy secara keagungan dan kekuatan, dan tidak pula dibawa oleh para malaikat pengangkat Arsy dengan kekuatan mereka, dan tidak pula diangkut oleh Arsy, akan tetapi mereka membawa Allah dengan qudrah Allah “. (Bayan Talbis al-Jahmiyyah :3/695)

Dari kalam Ibnu Taimiyyah ini bisa dipahami bahwa : Para malaikat pengangkat Arsy tidaklah membawa Allah yang ada di Arsy dengan kekuatan mereka sendiri, akan tetapi Allah memberikan kemampuan kepada para malaikat itu sehingga mampu mengangkat Allah yang sedang duduk di Arsy. Lebih jelasnya kita simak kelanjutan cerita Ibnu Taimiyyah berikut :




“ Sungguh telah sampai kepada kami, bahwasanya ketika para malaikat menggotong Arsy dan di atasnya ada Allah di dalam kemuliaan dan kewibawaan-Nya, mereka menjadi lemah dan duduk berlutut sehingga mereka diperintahkan (ditalqin) membaca Laa haula wa laa quwwata illaa billah, seketika mereka mampu menggotongnya dengan qudrah dan iradah Allah. Seandainya bukan karena itu, niscaya Arsy, para malaikat penopang Arsy, langit, bumi dan apa yang ada dalam keduanya tidak akan mampu menggotong Allah “. (Bayan Talbis al-Jahmiyyah : 3/696)

Dari kalam Ibnu Taimiyyah ini bisa dipahami bahwa : Tidak ada satu pun makhluk yang mampu menggotong Allah yang duduk di atas Arsy, kecuali jika Allah berikan kemampuan maka mereka akan mampu. Sebagaimana para malaikat pengangkat Arsy menjadi lemah dan lemas karena beratnya Allah, akan tetapi ketika mereka mngucapkan kalimat Laa haula wa laa quwwata illa billah, mereka mampu menggotong Allah yang duduk di atas Arsy.

Kelanjutannya Ibnu Taimiyyah mengatakan :



“ Seandainya Allah berkehendak, maka Allah akan bersemayam di punggung nyamuk maka nyamuk pun akan mampu menggotong Allah dengan qudrah dan kelembutan rububiyyah-Nya. Maka bagaimana dengan Arsy yang agung dan lebih besar dari langit dan bumi ? (Bayan Talbis al-Jahmiyyah : 568)

Sekarang kita lihat ucapan Ibnu Utsaimin :




“ Makna Allah bersemayam di atas Arsy, adalah sesungguhnya Allah berada di atas Arsy akan tetapi dengan ketinggian yang khusus, bukan maknanya bahwa Arsy menggotong-Nya selamanya, Arsy tidaklah menggotong Allah demikian juga langit “. (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah : 1/380)

Kemudian Ibnu Utsaimin melanjutkan di halaman yang lain :



“ Jika Allah kursi-Nya telah meliputi langit dan bumi, maka janganlah seseorang mengangka selamanya dengan sangkaan yang dusta bahwa langit menggotong-Nya dan menaungi-Nya “. (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah : 2/86)


Saya tanyakan kepada wahabi : Siapakah di antara keduanya yang mengikuti akidah salaf ??

By: Shofiyyah An-Nuuriyyah



Imam Abu Hanifah manusia paling berbahaya bagi umat Islam. (Muqbil bin Hadi, syaikh Wahabi)

Seorang imam panutan kaum muslimin, salah seorang imam besar dari 4 madzhab, seorang ulama salaf yang sangat agung, tidak luput menjadi sorotan, hujatan dan cacian oleh wahabi-salafi si manhaj salaf palsu atas nama jarh wa ta'dil.

Imam Abu Hanifah adalah seorang jahmi, penyembah berhala, paling bahanya manusia bagi umat Islam (Di tulis oleh syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i)

Dalam salah satu karya Muqbil bin Hadi yang berjudul Nasyru ash-Shahifah fi dzikri ash-Shahih min aqwal aimmatil jarh wat ta'dil fi Abi Hanifah (artinya : Membeberkan lembaran tentang menyebutkan ucapan-ucapan sahih dari para imam jarh wa ta'dil terkait Abu Hanifah)

Sampul kitab :



Di kitab itu Muqbil bin Hadi menampilkan riwayat para imam yang mencaci imam Abu Hanifah, di antaranya :



Makna yang saya garis bawahi :

" Imam Abu Hanifah berkata : " Seandainya seseorang menyembah sandal ini untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka aku berpendapat tidak apa-apa ",

" Apakah Abu Hanifah seorang jahmi ? Abu Yusuf menjawab : iya, dia seorang jahmi ".

Dalam pandangan syaikh Muqbil, imam Abu Hanifah telah membolehkan menyembah sandal untuk bertaqarrub kepada Allah, naudzu billahi min dzaalikal kidzb...

Dan dalam pandangannya, imam Abu Hanifah seorang jahmi.

Dalam halaman lainnya, syaikh Muqbil menukil :



" Tidak ada seorang anak yang dilahirkan di Kufah yang lebih berbahaya bagi umat selain Abu Hanifah ".

Di halaman lain, Muqbil menukil :



" Abu Hanifah diminta bertaubat berulang-ulang karena ucapan zindiqnya".

===============

Hebat, Muqbil lebih memilih riwayat-riwayat palsu yang menjelaskan cacian para imam kepada imam Abu Hanifah ketimbang riwayat sahih dan jelas yang memuji kepribadian imam Abu Hanifah.

al-Hafidz Abu Nu'aim berkata :

حدثنا محمد بن إبراهيم بن علي ، قال: سمعت حمزة بن علي البصري يقول: سمعت الربيع يقول: سمعت الشافعي يقول:«الناس عيال على أبي حنيفة في الفقه». وقال حرملة بن يحيى: سمعت محمد بن إدريسالشافعي يقول: «من أراد أن يتبحر في الفقه، فهو عيال على أبي حنيفة». قال: و سمعته-يعني الشافعي- يقول: «كان أبو حنيفة ممن وفق له الفقه

" Telah menceritakan padaku, Muhamamd bin Ibrahim bin Ali (Abu Bakar al-Aththar, tsiqah), berkata : Aku mendengar Hamzah bin Ali al-Bashri berkata : " Aku telah mendengar Rabi' berkata : Aku telah mendengar imam Syafi'i berkata : " Manusia butuh terhadap fiqih imam Abu Hanifah ". Harmalah bin Yahya berkata : " Aku mendengar imam Syafi'i berkata : Barangsiapa yang ingin mendalami ilmu fiqih, maka ia butuh kepada imam Abu Hanifah ". Ia berkata : " Aku mendengar imam Syafi'i berkata : " Imam Abu Hanifah adalah orang yang termasuk diistimewakan dalam fiqih ".

Ad-Dzahabi berkata :

كلامأبي حنيفة في الفقه أدق من الشعر، لا يعيبه إلا جاهل

" Ucapan imam Abu Hanifah tentang fiqih lebih lembut dari gandum, tidak mencelanya kecuali orang bodoh ". (Siyar a'laam an-Nubala : 6/404)

Al-Hafidz Ibnu Katsir :

الإمامأبو حنيفة... فقيه العراق، وأحد أئمة الإسلام، والسادة الأعلام، وأحد أركانالعلماء، وأحد الأئمة الأربعة أصحاب المذاهب المتبوعة، وهو أقدمهم وفاة

" Imam ABu Hanifah, seorang ahli fiqih Iraq, salah satu imam Islam, pemimpin yang alim, salah satu rukun ulama, salahs atu imam madzhab yang dikuti, dan paling dahulu wafatnya " (Al-Bidayah : 10/110)

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan :

كانأبو حنيفة أفقه أهل الأرض في زمانه

" Imam ABu Hanifah, seorang yang paling mengerti ilmu fiqih di muka bumi ini pada zamannya ". (al-Faqih wal mutfaqqih : 2/73)

Muhammad bin Muzahim berkata :

ابن المبارك أيضاً: «لولاأن الله أعانني بأبي حنيفة وسفيان، كنت كسائر الناس قال

" Ibnu Mubarak juga mengatakan :" Seandainya Allah tidak membantuku dengan perantara Abu Hanifah dan Sufyan, maka aku sama seperti manusia lainnya ".

By : Shofiyyah An-Nuuriyyah





Ibnul Qayyim berdusta atas nama imam al-Baihaqi

Kerap kali ditemukan bukti-bukti ulama wahabi melakukan penipuan dan kecurangan di dalam beristidal,berargumentasi dan berhujjah dalam kitab-kitabnya. Ada yang memelintir atau memanipulasi ucapan para ulama Ahlus sunnah untuk dipaksakan sesuai dengan keinginan nafsunya, ada yang mereduksi dan memotong ucapan para ulama, ada pula yang mendistorsinya bahkan berdusta atas nama Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam atau para sahabat. Allah al-Musta’aan..

Saya tidak tahu apakah berdusta dan menipu itu diwajibkan dalam ajaran mereka atau memang mereka sengaja melakukan itu tanpa rasa takut kepada Allah sama sekali dalam dada mereka.
Berikut ini bukti kedustaan seorang ulama besar yang menjadi panutan dan rujukan kaum wahhabi-salafi, murid dari Ibnu Taimiyyah yaitu Ibnul Qayyim yang telah dengan jelas melakukan kedustaan atas nama al-Hafidz al-Baihaqi :

Ibnul Qayyim mengatakan :



“ Pendapat imam muslimin yang dijuluki Penerjemah lisan al-Quran yaitu Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma: telah disebutkan oleh imam Baihaqi tentang firman Allah Ta’aala :
الرّحْمٰنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
“ Ar-Rahman beristiwa di Arsy “ (QS. Thaha : 5)
Ibnu Abbasmenafsirkannya : “ Istaqarra / bersemayam “.[1]

Benarkah pengakuan Ibnul Qayyim tersebut ? Sekarang kita tengok langusng kitab al-Asmaa wa ash-Shifat imam al-Baihaqi, bagaimanakah komentar imam al-Baihaqi sendiri tentang riwayat sayyidina Abdullah bin Abbas tersebut ? kita simak scan redaksinya berikut :



“….Riwayat tersebut (yang mengatakan Abdullah bin Abbas menafsirkan istiwa dengan bersemayam) adalah mungkar ...“.[2]

Imam al-Baihaqi memang menukil riwayat itu, tapi setelahnya beliau mengomentarinya bahwa riwayat itu mungkar dan tak layak dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. Namun kenapa oleh Ibnul Qayyim komentar beliau tersebut tidak diikut sertakan dalam nukilannya dikitabnya Ijtima’ al-Juyusy ?? seolah-olah imam Al-Baihaqi menerima riwayat tersebut, padahal beliau menolaknya. Dan nukilan Ibnul Qayyim ini banyak dinukil pula oleh ulama wahabi setelahnya.

Sikap curang seperti ini pun terwariskan oleh para ulama wahabi setelahnya, di antaranya syaikh at-Tuwaijari di dalam menukil kalam imam Ibnu Hajar tentang hadits Khalqi Adam, dalam kitabnya, at-Tuwaijari tidak jujur menampilkan ucapan al-Hafidz Ibnu Hajar secara lengkap sebagaimana dilakukan Ibnul Qayyim di atas, bahkan Albani pun mencela perbuatan at-Tuwaijari tersebut dan mengatakan ia telah memanipulasi ucapan Ibnu Hajar, dan Albani mengatakan bahwa bukan hanya di situ saja at-Tuwaijari melakukan penipuan dan kecurangannya bahkan di kitab-kitab lainnya pun tidak lepas dari penipuan, perhatikan ucapan Albani tersebut :



“ Dalam kesempatan ini aku katakan : Sungguh telah berbuat buruk syaikh at-Tuwaijari terhadap akidah dan sunnah yang sahih secara bersamaan dengan karya tulisnya yang ia namai “ Aqidah ahli iman fii khlaqi Adam ‘alaa shuratir Rahman “, karena akidah itu tidak boleh kecuali harus dengan hadits yang sahih..” kemudian Albani mengatakan setelahnya : “ Bagaimana at-Tuwaijari mensahihkan hadits itu, sedangan ia tahu bahwa Ibnu Luhai’ah adalah seorang rawi yang dhaif, dsamping itu at-Tuwaijari telah mendistorsi tautsiqnya (pada halaman 27) walaupun dengan merubah ucapan para ulama hafidz hadits dan memotong ucapa mereka. Dia (at-Tuwaijari) berkata : “ Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata di dalam kitab at-Taqrib : “ Dia adalah shaduq “, sedangkan di tidak menampilkan ucapan Ibnu Hajar secara lengkapnya berikut : “ Ia mengalami kesalahan setelah kitabnya terbakar, sedangkan riwayat Ibnul Mubarak dan Ibnu Wahb lebih adil lainnya “, Hadits ini bukanlah dari riwayat salah satunya, apa yang pantas disebut bagi orang yang menukil ucapan secara sepotong-potong dan menyembunyikan sebagian yang lainnya ? perbuatan at-Tuwaijari semacam ini sangat banyak tidak cukup menjelaskannya di ta’liq ini “.[3]


Demikianlah para ulama wahabi melakukan kecurangan dan penipuannya mulai dari ulama terdahulunya yang menjadi panutan di kalangan wahabi hingga sampai ulama kontemporernya, demi menyebarkan doktrin menyimpangnya. Naudzu billahi min dzaalik...

Semoga kita selalu istiqamah menjalankan manhaj para ulama salaf dan memberantas bid'ah-bid'ah dholalah para pelaku bid'ah seperti wahabi, syi'ah dan lainnya..


Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 30-04-2013


[1] Ijtima’ al-Juyusyal-Islamiyyah, Ibnul Qayyim : 2/249, edisi tahqiq Dr. ‘AwadAbdullah, cetakan pertama, tt; 1988 M.
[2] Al-Asmaa wa ash-Shifat, imam al-Baihaqi : 383, maktabah al-Azhar li at-Turats
[3] Sahih al-Adab al-Mufrad , Albani : 375


Minggu, 07 April 2013

Ucapan imam Bukhari dan imam Ahmad yang dipelintir Wahabi-Salafi (Kajian Aqidah II)



Kemunculan kaum Mujassimah-musyabbihah (wahabi-salafi) merupakan fitnah untuk menguji keimanan kaum muslimin di dunia ini hingga tiba masa fitnah terbesar di akhir zaman yaitu fitnah dajjal. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun / generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)

Kaum muslimin cukup mengetahui akidah berkaitan kalam Allah bahwasanya kalam Allah adalah bersifat qadim, tidak membutuhkan alat, suara dan huruf, dan al-Quran adalah kalam Allah bukan makhluk. Sampai di sini tidak perlu panjang dan luas lagi untuk menelusuri esensi dan hakikatnya lebih dalam lagi. Karena tak ada satu pun para sahabat dan ulama salaf yang membahas lebih dalam lagi tentang masalah ini dan tentang Dzat Allah, maka membahas lebih dalam tentang hal ini adalah bid’ah, bahkan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya : “ Renungilah makhluk Allah dan jangan renungi Dzat Allah “.

Namun muncullah fitnah kaum yang sangat berani membicarakan hakikat Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya lebih dalam lagi, sehingga mereka tersesat jauh dan bahkan menyesatkan para pengikutnya ke jurang tajsim dan tasybih, Naudzu billahi min dzaalik..

Makna ucapan imam Bukhari yang disalah pahami wahabi :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

Gerak, suara, usaha dan tulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Kaum wahabi-salafi memahami ucapan imam Bukhari dengan nafsu dan pemikirannya sendiri sehingga menimbulkan pemahaman bahwa kalam Allah itu bersuara dan berhuruf.

Jawaban :

Saya jadi teringat sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة
 “ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda lagi lemah akalnya, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari : 3342)

Nabi mensifati mereka pada umumnya masih berusia muda  tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah bahkan kalam ulama. Subyektivitas dengan daya dukung pemahaman yang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dan nash hadits dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.

Demikianlah kalam imam Bukhari yang sangat mudah dipahami, mereka pelintir sesuai keinginan nafsu dan pemikiran mereka sendiri tanpa mau menggunakan akal sehat dan merujuk pada penjelasan para ulama besar, sehingga menimbulkan pemahaman yang bertolak belakang dengan apa yang dimaksud oleh imam Bukhari sendiri.

Simak dan baca pelan-pelan…! Semoga hidayah menyertai kalian…

Imam Bukhari mengatakan :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

Gerak, suara, usaha dan tulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Poin pertama dari kalam imam Bukhari :

حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة

“ Gerak, suara, usaha dan tulisan adalah makhluk “

Imam Bukhari dengan jelas menyatakan gerakan, suara, usaha dan tulisan adalah makhluk, karena semuanya bersifat baru dan ada permulaanya.

Pengertiannya adalah bahwa segala perbuatan, suara dan huruf yang berasal dari manusia adalah makhluk. Dan lebih jelas beliau mengatakan sebagaimana sering dinukil oleh ulama wahabi (tanpa mau memahaminya) berikut :

ما زلت أسمع أصحابنايقولون أفعال العباد مخلوقة

“ Aku senantiasa mendengar para ashab kami mengatakan bahwa perbuatan hamba adalah makhluk “.

Poin kedua dari kalam imam Bukhari :

فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

“ Adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “.

Lafadz al-Quran (فأما القرآن) di atas dalam ilmu nahwu kedudukannya menjadi mubtada’, tentu mubtada’ selalu membutuhkan khobarnya. Mana khobarnya ? khobarnya adalah lafadz fahuwa kalamullah (فهو كلام الله), sedangkan kalimat : al-Matluu al-Mubin, al-Mutsbat dan seterusnya adalah menjadi na’at yakni shifat.

Artinya adalah : al-Quran adalah kalamullah, dan al-Quran yang yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada adalah kalam Allah bukan makhluk.

Ada dua pengertian dalam kalam imam Bukhari tersebut yaitu :

1. al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada, jika dinisbatkan kepada kalam Allah adalah bukanlah makhluk.

2. al-Quran yang ditulis dan dibaca dengan suara dan huruf oleh manusia, maka imam Bukhari menjwab : “perbuatan hamba adalah makhluk (أفعال العباد مخلوقة) “.

Manhaj imam Bukhari inilah yang diikuti oleh para ulama asyaa’irah bahwa : definsi al-Quran terbagi menjadi dua Yakni Jika yang dimaksudkan adalah kalam Allah, maka dia adalah sifat kalam yang qadim dan azali yang suci dari alat, suara dan huruf, sedangkan jika yang dimaksudkan adalah kalimat yang terlafadzkan oleh lisan manusia dan terbukukan dalam kertas-kertas, maka dia adalah kalimat-kalimat berhuruf dan bersuara yang baru dan mengibaratkan kepada kalam Allah yang qadim dan azali tersebut.

Penjelasan ini sesuai dengan penjelasan para ulama besar Ahlus sunnah :

Imam Abu Hanifah (150 H) Mengatakan :

وصفاته في الأزل غير محدَثة ولا مخلوقة فمن قال إنها مخلوقة أو محدَثة أو وقف أو شكّ فهو كافر بالله تعالى والقرءان أي كلام الله تعالى في المصاحف مكتوب وفي القلوب محفوظ وعلى الألسن مقروء وعلى النبي عليه الصلاة والسلام منزل ولفظنا بالقرءان مخلوق وكتابتنا له مخلوقة وقراءتنا مخلوقة والقرءان غير مخلوق

“ Sifat-sifat Allah di Azali tidaklah baru dan bukan makhluk (tercipta), barangsiapa yang mengatakan itu makhluk atau baru, atau dia diam (tidak berkomentar), atau dia ragu maka dia dihukumi kafir kepada Allah. Al-Quran yakni Kalamullah tertulis di mushaf-mushaf, terjaga dalam hati, terbaca dalam lisan dan diturunkan kepada Nabi Saw. Dan lafadz kami dengan al-Quran adalah makhluk, penulisan kami kepada Al-Quran adalah makhluk, bacaan kami dengannya adalah makhluk sedangkan al-Quran bukanlah makhluk “.

Kemudian imam Abu Hanifah melanjutkan :

ونحن نتكلم بالآلات والحروف والله تعالى يتكلم بلا ءالة ولا حروف والحروف مخلوقة وكلام الله تعالى غير 
مخلوق
“ Kami berbicara dengan alat dan huruf sedangkan Allah Ta’ala berbicara tanpa alat dan huruf, sedangkan huruf itu makhluk dan kalamullah bukanlah makhluk “. (Disebutkan dalam kitab al-Fiqh al-Akbar,al-Washiyyah, al-Alim w al-Muta’allim dan lainnya)

Al-Hafidz Azd-Dzahabi mengomentari kalam imam Bukhari berkaitan lafadz Quran berikut :

المسألة هي أن اللفظ مخلوق، سئل عنها البخاري، فوقف واحتج بأن أفعالنا مخلوقة واستدل لذلك ففهم منه الذهلي أنه يوجه مسألة اللفظ، فتكلم فيه. وأخذه بلازم قوله هو وغيره

“ Masalah (imam Bukhari) tersebut adalah sesungguhnya lafadz itu adalah makhluk. Imam Bukhari pernah ditanya tentang ini, lalu beliau tridak berkomentar malah beliau berhujjah : “ Sesungguhnya semua perbuatan kita adalah makhluk “, beliau menjadikan itu sebagai dalil dan ini dipahami oleh imam Adzdzahli bahwasanya imam Bukhari bermaksud masalah lafadz lalu beliau berbicara dengan itu, dan beliau juga selainnya senantiasa meneguhkan ucapannya itu “.(Siyar A’lam an-nubala : 12/457)

Ucapan : lafadz al-Quran adalah makhluk, memiliki dua makna yaitu makna haq (benar) dan makna bathil (salah). Mengatakannya secara muthlaq / general baik menafikan atau menetapkan adalah bid’ah, meskipun dia bermaksud makna yang haq ataupun makna yang bathil. Karena sesungguhnya imam Ahmad bin Hanbal tidaklah mencela dan memngatakan jahmiyyah kepada orang yang mengatakannya secara muthlaq kecuali jika ia bermaksud al-Quran.

Imam Ahmad bin Hanbal.

Al-Hafidz Azd-Dzahabi menukil kalam imam Ahmad bin Hanbal sebagai berikut :

من قال: لفظي بالقرآن مخلوق، يريد به القرآن، فهو جهمي

“ Barasngsiapa yang mengatakan lafadz dengan al-Quran adalah makhluk, yang dimaksud adalah al-Quran, maka dia adalah seorang jahmi “. (Siyar A’lam an-nubala : 11/511)

Mungkin kaum wahabi-salafi akan bingung jika membaca penjelasan Ibnu Taimiyyah berikut tentang Nash dari imam Ahmad bin Hanbal :

فلهذا كان المنصوص عن الإمام أحمد وأئمة السنة والحديث أنه لا يقال : ألفاظنا بالقرآن مخلوقة ولا غير مخلوقة

“ Oleh sebab itu Nash yang resmi dari imam Ahmad dan para imam Ahlus sunnah dan hadits bahwa tidak boleh dikatakan :Lafadz kita dengan Al-Quran itu makhluk dan juga bukan makhluk “. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 12/ 375)

Di sisi lain Ibnu Taimiyyah mengatakan :

والمقصود هنا أن الامام أحمد ومن قبله من أئمة السنة ومن اتبعه كلهم بريئون من الاقوال المبتدعة المخالفة 
للشرع والعقل ولم يقل أحد منهم أن القرآن قديم
“ Yang dimaksud di sini bahwasanya imam Ahmad dan ulama sebelumnya dari Ahlus sunnah dan para pengikutnya, berlepas diri dari pendapat-pendapat Ahlul bid’ah yang menyelisihi syare’at dan aqal, dan tidak seorang pun dari mereka mengatakan al-Quran itu qadim “. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah : 7/661)

Perhatikan : Ibnu Taimiyyah mengatakan al-Quran itu tidak bersifat qadim. Inilah di antara bid’ah yang dilakukan Ibnu Taimiyyah, beranikah wahabi-salafi mengkafirkan Ibnu Taimiyyah ??

Al-Imam al-Isfaraini (w 418 H) mengatakan :

 وأن تعلم أن كلام الله تعالى ليسى بحرف ولا صوت لأن الحرف والصوت يتضمنان جواز التقدم والتأخر، وذلك مستحيل على القديم سبحانه

“ Dan hendaknya kamu mengetahui bahwa sesungguhnya kalam Allah itu tidaklah dengan huruf dan suara karena huruf dan suara mengandung bolehnya pendahuluan dan pengakhiran, yang demikian itu mustahil bagi Allah yang Maha Qadim “. (at-Tabshir fiddin : 102)

Dengan ini semakin jelas kerancuan akidah wahabi-salafi yang mengatasnamakan imam Ahmad bin Hanbal, mereka hanya merusak citra baik madzhab Hanbali, mereka lah kaum hanabilah yang ekstrem dan ghulat dan kaum pembawa bid’ah dalam aqidah sebagaimana dinyatakan oleh imam Mula Ali al-Qari al-Hanafi (w 1014 H) :

ومبتدعة الحنابلة قالوا: كلامه حروف وأصوات تقوم بذاته وهو قديم، وبالغ بعضهم جهلاً حتى قال: الجلد والقرطاس قديمان فضلاً عن الصحف، وهذا قول باطل بالضرورة ومكابرة للحس للإحساس بتقدم الباء على السين في بسم الله ونحوه"

“ Para ahli bid’ah dari kalangan Hanabilah berkata : “ Kalam Allah berupa huruf dan suara yang berdiri dalam Dzat-Nya dan itu qadim. Bahkan ada yang sampai berlebihan kebodohan mereka dengan berkata : “ Jilid dan Kertas itu bersifat qadim apalagi mushaf “, ini adalah ucapan BATHIL  secara pasti dan sifat mukabarah…” (Syarh al-Fiqh al-Akbar : 29-35)

Imam Bukhari : Suara adalah makhluk (Kajian Aqidah 1)


Imam Bukhari tidak diragukan lagi oleh seluruh umat muslim sedunia akan kredibilitas keilmuannya terutama dalam bidang hadits. Mungkinkah imam Bukhari membangun akidahnya berdasarkan hadits yang dirinya sendiri tidak mensahihkan hadits tersebut ?? Dalam masalah hokum saja beliau sangat berhati-hati terlebih dalam masalah akidah. Tidak mungkin beliau membangun akidah dengan hadits yang beliau sebutkan dengan shighat tamridh.

Imam Bukhari menyebutkan riwayat yang menyebutkan lafadz shout (suara) dengan shighat tamridh yaitu “ Yudzkaru (disebutkan)“, artinya dalam masalah akidah beliau tidak menampilkan riwayat tersebut dengan shighat jazm melainkan dengan shighat tamridh. Namun ketika beliau menyebutkan riwayat tersebut yang tidak menyebutkan lafadz shout, beliau menampilkannya dengan shighat Jazm, artinya beliau mengisyaratkan bahwa dalam masalah fadhoil seperti kasus di atas yaitu berpergian untuk mencari ilmu, haditsnya beliau tampilkan dengan shighat yang menunjukkan kesahihan hadits tsb, dan dalam masalah akidah beliau sebutkan dengan shighat yang menunjukkan kelemahan hadits tsb.

Oleh sebab itulah al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentarinya :

ونظر البخاري أدق من أن يعترض عليه بمثل هذا فإنه حيث ذكر الارتحال فقط جزم به لأنّ الإسناد حسن وقد اعتضد، وحيث ذكر طرفًا من المتن لم يجزم به لأن لفظ الصوت مما يتوقف في إطلاق نسبته إلى الرب ويحتاج إلى تأويل، فلا يكفي فيه مجيء الحديث من طريق مختلف- فيها ولو اعتضدت "

“ Kritikan al-Bukhari lebih lembut dengan menolak riwayat semacam ini, karena ketika beliau menyebutkan hadits yang ada lafadz irtihal saja (tanpa ada lafadz shout/suara) beliau menyebutnya dengan shighat jazm, karena sanadnya hasan dan kuat. Dan ketika beliau menyebutkan sisi dari matannya, maka beliau tidak menyebutnya dengan shighat jazm, karena lafadz shout (suara) termasuk perkara yang tawaqquf di dalam menisbatkannya kepada Allah Ta’ala dan membutuhkan pada takwil. Maka tidak cukup datangnya hadits tersebut dari jalan yang mukhtalaf (diperselisihkan) walaupun menjadi kuat “.(Fath al-Bari : 1/174-175)

Lalu apa tujuan imam Bukhari menampilkan riwayat hadits yang ada lafadz shout (suara) dengan shighat tamridh ?? simak…

1. Hadits Jabir bin Abdillah yangg dita’liq (tidak dsibutkan sanad perowinya secara sempurna) oleh beliau dan hadits yang menyebutkan lafadz suara, perowi yang bernama Abdullah bin Aqil dinilai telah menyendiri (infirad) dalam periwayatannya dan dinilai dhaif oleh para ulama ahli jarh wa ta’dil sedangkan perowi yang meriwayatkan darinya adalah al-Qasim yang juga oleh para ulama dpermasalahkan, tidak ada satu pun ulama yang mentautsiqnya selain Ibnu Hibban sedangkan Ibnu Hibban taustiqnya dinilai mutasahil (remeh) oleh para ulama ahli hadits. Hadits semacam ini tentu tidak bisa dijadikan hujjah dalam masalah hokum apalagi dalam masalah akidah. Imam Bukhari tentu tidak lengah dalam masalah ini.

2. Perowi yang bernama al-Qasim juga menyendiri (infirad) dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil. Al-Qasim bin Abdil Wahid ini pun tidak ditakrij dan tidak dijadikan hujjah oleh imam Bukhari dan imam Muslim dalam sahihnya. Dan jama’ah Huffadz meriwayatkan darinya dengan lafadz-lafazd yang berlainan dan sebagiannya tidak layak dijadikan hujjah. Al-Ashbihani meriwayatkan dari jalan Yazid bin Harun dari Himam dari al-Qasim dengan lafadz (ينادى بصوت) demikian juga ath-Thabrani dan Ibnu Abi ‘Ashim  meriwayatkan dari jalan Syaiban dari Himam dari al-Qasim. Dan ini diihtimalkan (diindikasikan) lafadz dalnya dima’lumkan (dikasrah/berseru) dan dimajhulkan (difathah/diseru), sedangkan ada kaidah bahwa “ Hadits yang jalannya mengandung ihtimal (indikasi makna lain) maka tidak bisa dijadikan sebagai hujjah “.  

Bahkan ath-Thabrani meriwayatkan dalam Mu’jam al-Kabirnya dari jalan : Abi Dawud ath-Thayalisi dan Abdullah bin Raja dan Hajjaj bin Minhal, semuanya dari Himam dengan lafadz : (وَيُنَادِي مُنَادٍ) “ dan berserulah seorang penyeru “, ini sangat jelas dan menguatkan salah satu dari dua ihtimal di atas, dan semakin jelas bahwa ihtimal / indikasi yang dikuatkan adalah bahwa yang menyeru bukanlah Allah melainkan seorang malaikat dari malaikat-malaikat Allah.

3. Apakah imam  Bukhari mengatakan suara Allah tersebut adalah shifat-Nya? Tidak sama sekali dan beliau pun tidak mengatakan hal itu. Lalu bagaimana dengan keomntar beliau ini :
وفي هذا دليل أن صوت الله لا يشبه أصوات الخلق لأن صوت الله جل ذكره يسمع من بعد كما يسمع من قرب

“ Dalam hadits ini, menjadi dalil bahwa suara Allah tidak menyerupai suara makhluk-Nya karena suara Allah – maha Agung penyebutan-Nya – dapat diengar oleh orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat “.

Jawaban :

Perhatikan ta’lil (alasan) imam Bukhari mengungkap suara itu adalah suara Allah, yakni suara Allah dapat didengar oleh seluruh makhluk-Nya, hal ini tidak cukup bukti bahwa beliau mengatakan suara Allah adalah sifat Allah. Akan tetapi hal ini cukup bahwa Allah memerintahkan malaikat untuk berseru, perhatikan riwayat-riwayat sahih berikut ini :

-          يبعث الله عز وجل يوم القيامة مناديا بصوت يسمعه أولهم وآخرهم

“ Allah di hari kiamat mengutus seorang penyeru dengan suara yang didengar oleh orang-orang pertama dan terakhir “. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawih, ad-Daruquthni, juga Ibnu Qayyim dari hadits Abi Musa)  

-           فإذا كان يوم القيامة جمع الناس في صعيد واحد نادى مناد يسمع الأولين والآخرين

“ Jika hari kiamat, manusia dikumpulkan di dalam satu lapangan, maka berserulah seorang penyeru yang didengar oleh orang-orang pertama dan terakhir “. (Diriwayatkan oleh as-Sahmi dengan dua jalan dari Umar dan Ibnu Umar)

-          ثم ينادي مناد نداء يسمع الخلائق فيقول يا معشر الجن والإنس

“ Kemudian berserulah seorang penyeru dengan seruan yang didengar oleh seluruh makhluk dan berkata : Wahai seluruh bangsa jin dan manusia “. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, Abu syaikh dan selainnya dari jalan Muhammad bin Ka’ab dari Abi Hurairah secara marfu’)

-           ثم يأمر مناديا فينادي بصوت يسمعه الثقلين الجن والإنس
“ Kemudian Allah memerintahkan seorang penyeru, maka berserulah dengan suara yang didengar oleh bangsa jin dan manusia “ (Diriwayatkan oleh al-Khatib dan selainnya dari Ibnu Umar secara marfu’)

-           إذا جمع الله الأولين والآخرين يوم القيامة جاء مناد فنادى الخلائق سيعلم الجمع اليوم من أولى بالكرم
“ Jika Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan terakhir di hari kiamat, maka datanglah seorang penyeru dan menyeru kepada seluruh makhluk : “ Hari ini akan diketahui siapa orang yang lebih utama dermawannya “. (Dari hadits Asma bin Yazid secara marfu’ juga dari Ibnu Abbas)

-           يؤخذ بيد العبد والأمة يوم القيامة فينادي مناد على رؤوس الأولين والآخرين هذا فلان بن فلان
“ Akan dipegang tangan seorang hamba di hari kiamat, lalu berserulah seorang penyeru di atas seluruh makhluk pertama dan terakhir : “ Ini Fulan bin Fulan “. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Dunya dari Ibnu Mas’ud)

Hadits-hadits sahih ini menunjukkan secara jelas suara seruan diserukan dari malaikat yang didengar oleh seluruh makhluk. Apakah imam Bukhari lupa dan lengah dari hadits-hadits sahih ini ?? jawabannya tidak mungkin. Maka menjadi jelas ucapan beliau di atas dengan mengatakan “ Suara Allah “ adalah bermaksud bahwa suara yang diserukan malaikat itu adalah suara Allah yang Allah perintahkan malaikat untuk diserukan.

4. Jika suara Allah dalam hadits itu diartikan suara kalam Allah yang maha qadim, maka mengharuskan suara Allah ini didengar oleh seluruh makhluk yang pertama dan terakhir, padahal kita telah ketahui bahwa di antara makhluk Allah ada makhluk-makhluk yang Allah laknat yaitu Iblis dan para pengikutnya, Fir’aun dan para pengikutnya, Harun dan semisalnya. Apakah mereka ini yang dimahjub (terhalang) dari Allah pantas mendengarkan kalam yang maha Agung yang merupakan anugerah terbesar bagi nabi Musa dapat mendengarkannya ?? sungguh kalam Allah tidak berhak didengar kecuali oleh orang-orang mukmin sebagaimana Dzat Allah tidak berhak dilihat kecuali oleh orang-orang mukmin. Sebagaimana orang-orang kafir tidak dapat melihat Allah demikian pula mereka tidak mendengar kalam Allah.

Maka jelas sekali bahwa yang dimaksud suara Allah adalah seruan malaikat yang Allah perintahkan untuk menyerukannya sebagaimana hadits-hadits di atas.

Setelah beliau meriwayatkan hadits tersebut, kemudian beliau mengatakan :

قال أبو عبد الله بن محمد إسماعيل سمعت عبد الله بن سعيد يقول سمعت يحيى بن سعيد يقول ما زلت أسمع من أصحابنا يقولون إن أفعال العباد مخلوقة قال أبو عبد الله البخاري : حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

“ Berkata Abu Abdillaj bin Muhammad bin Ismail, aku mendengar Abdullah bin Sa’id berkata, ia berkata : Aku mendengar Yahya bin Sa’id berkata : “ Aku selalu mendengar ashab kami berkata bahwasanya perbuatan hamba adalah makhluk “, Abu Abdillah Al-Bukhari berkata : “ Gerak, suara, usaha dan tulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Renungkan kalam beliau persis dengan kalam imam Abu Hanifah yaitu imam Bukahri meyakini bahwa al-Quran adalah kalam Allah bukanlah makhluk, sedangkan huruf, suara, gerak dan tulisan adalah makhluk Allah. 


# Salah satu naskah kitab Khalqi Af'aal al-Ibaad sebelum dita'liq / diberikan catatatan kaki atau disyarh oleh para ulama mujassimah / wahabi :




Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 7-4-2013