Selamat datang di blog saya yang sederhana ini yang menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian ASWAJA di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja

Minggu, 07 April 2013

Imam Bukhari : Suara adalah makhluk (Kajian Aqidah 1)


Imam Bukhari tidak diragukan lagi oleh seluruh umat muslim sedunia akan kredibilitas keilmuannya terutama dalam bidang hadits. Mungkinkah imam Bukhari membangun akidahnya berdasarkan hadits yang dirinya sendiri tidak mensahihkan hadits tersebut ?? Dalam masalah hokum saja beliau sangat berhati-hati terlebih dalam masalah akidah. Tidak mungkin beliau membangun akidah dengan hadits yang beliau sebutkan dengan shighat tamridh.

Imam Bukhari menyebutkan riwayat yang menyebutkan lafadz shout (suara) dengan shighat tamridh yaitu “ Yudzkaru (disebutkan)“, artinya dalam masalah akidah beliau tidak menampilkan riwayat tersebut dengan shighat jazm melainkan dengan shighat tamridh. Namun ketika beliau menyebutkan riwayat tersebut yang tidak menyebutkan lafadz shout, beliau menampilkannya dengan shighat Jazm, artinya beliau mengisyaratkan bahwa dalam masalah fadhoil seperti kasus di atas yaitu berpergian untuk mencari ilmu, haditsnya beliau tampilkan dengan shighat yang menunjukkan kesahihan hadits tsb, dan dalam masalah akidah beliau sebutkan dengan shighat yang menunjukkan kelemahan hadits tsb.

Oleh sebab itulah al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentarinya :

ونظر البخاري أدق من أن يعترض عليه بمثل هذا فإنه حيث ذكر الارتحال فقط جزم به لأنّ الإسناد حسن وقد اعتضد، وحيث ذكر طرفًا من المتن لم يجزم به لأن لفظ الصوت مما يتوقف في إطلاق نسبته إلى الرب ويحتاج إلى تأويل، فلا يكفي فيه مجيء الحديث من طريق مختلف- فيها ولو اعتضدت "

“ Kritikan al-Bukhari lebih lembut dengan menolak riwayat semacam ini, karena ketika beliau menyebutkan hadits yang ada lafadz irtihal saja (tanpa ada lafadz shout/suara) beliau menyebutnya dengan shighat jazm, karena sanadnya hasan dan kuat. Dan ketika beliau menyebutkan sisi dari matannya, maka beliau tidak menyebutnya dengan shighat jazm, karena lafadz shout (suara) termasuk perkara yang tawaqquf di dalam menisbatkannya kepada Allah Ta’ala dan membutuhkan pada takwil. Maka tidak cukup datangnya hadits tersebut dari jalan yang mukhtalaf (diperselisihkan) walaupun menjadi kuat “.(Fath al-Bari : 1/174-175)

Lalu apa tujuan imam Bukhari menampilkan riwayat hadits yang ada lafadz shout (suara) dengan shighat tamridh ?? simak…

1. Hadits Jabir bin Abdillah yangg dita’liq (tidak dsibutkan sanad perowinya secara sempurna) oleh beliau dan hadits yang menyebutkan lafadz suara, perowi yang bernama Abdullah bin Aqil dinilai telah menyendiri (infirad) dalam periwayatannya dan dinilai dhaif oleh para ulama ahli jarh wa ta’dil sedangkan perowi yang meriwayatkan darinya adalah al-Qasim yang juga oleh para ulama dpermasalahkan, tidak ada satu pun ulama yang mentautsiqnya selain Ibnu Hibban sedangkan Ibnu Hibban taustiqnya dinilai mutasahil (remeh) oleh para ulama ahli hadits. Hadits semacam ini tentu tidak bisa dijadikan hujjah dalam masalah hokum apalagi dalam masalah akidah. Imam Bukhari tentu tidak lengah dalam masalah ini.

2. Perowi yang bernama al-Qasim juga menyendiri (infirad) dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil. Al-Qasim bin Abdil Wahid ini pun tidak ditakrij dan tidak dijadikan hujjah oleh imam Bukhari dan imam Muslim dalam sahihnya. Dan jama’ah Huffadz meriwayatkan darinya dengan lafadz-lafazd yang berlainan dan sebagiannya tidak layak dijadikan hujjah. Al-Ashbihani meriwayatkan dari jalan Yazid bin Harun dari Himam dari al-Qasim dengan lafadz (ينادى بصوت) demikian juga ath-Thabrani dan Ibnu Abi ‘Ashim  meriwayatkan dari jalan Syaiban dari Himam dari al-Qasim. Dan ini diihtimalkan (diindikasikan) lafadz dalnya dima’lumkan (dikasrah/berseru) dan dimajhulkan (difathah/diseru), sedangkan ada kaidah bahwa “ Hadits yang jalannya mengandung ihtimal (indikasi makna lain) maka tidak bisa dijadikan sebagai hujjah “.  

Bahkan ath-Thabrani meriwayatkan dalam Mu’jam al-Kabirnya dari jalan : Abi Dawud ath-Thayalisi dan Abdullah bin Raja dan Hajjaj bin Minhal, semuanya dari Himam dengan lafadz : (وَيُنَادِي مُنَادٍ) “ dan berserulah seorang penyeru “, ini sangat jelas dan menguatkan salah satu dari dua ihtimal di atas, dan semakin jelas bahwa ihtimal / indikasi yang dikuatkan adalah bahwa yang menyeru bukanlah Allah melainkan seorang malaikat dari malaikat-malaikat Allah.

3. Apakah imam  Bukhari mengatakan suara Allah tersebut adalah shifat-Nya? Tidak sama sekali dan beliau pun tidak mengatakan hal itu. Lalu bagaimana dengan keomntar beliau ini :
وفي هذا دليل أن صوت الله لا يشبه أصوات الخلق لأن صوت الله جل ذكره يسمع من بعد كما يسمع من قرب

“ Dalam hadits ini, menjadi dalil bahwa suara Allah tidak menyerupai suara makhluk-Nya karena suara Allah – maha Agung penyebutan-Nya – dapat diengar oleh orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat “.

Jawaban :

Perhatikan ta’lil (alasan) imam Bukhari mengungkap suara itu adalah suara Allah, yakni suara Allah dapat didengar oleh seluruh makhluk-Nya, hal ini tidak cukup bukti bahwa beliau mengatakan suara Allah adalah sifat Allah. Akan tetapi hal ini cukup bahwa Allah memerintahkan malaikat untuk berseru, perhatikan riwayat-riwayat sahih berikut ini :

-          يبعث الله عز وجل يوم القيامة مناديا بصوت يسمعه أولهم وآخرهم

“ Allah di hari kiamat mengutus seorang penyeru dengan suara yang didengar oleh orang-orang pertama dan terakhir “. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawih, ad-Daruquthni, juga Ibnu Qayyim dari hadits Abi Musa)  

-           فإذا كان يوم القيامة جمع الناس في صعيد واحد نادى مناد يسمع الأولين والآخرين

“ Jika hari kiamat, manusia dikumpulkan di dalam satu lapangan, maka berserulah seorang penyeru yang didengar oleh orang-orang pertama dan terakhir “. (Diriwayatkan oleh as-Sahmi dengan dua jalan dari Umar dan Ibnu Umar)

-          ثم ينادي مناد نداء يسمع الخلائق فيقول يا معشر الجن والإنس

“ Kemudian berserulah seorang penyeru dengan seruan yang didengar oleh seluruh makhluk dan berkata : Wahai seluruh bangsa jin dan manusia “. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, Abu syaikh dan selainnya dari jalan Muhammad bin Ka’ab dari Abi Hurairah secara marfu’)

-           ثم يأمر مناديا فينادي بصوت يسمعه الثقلين الجن والإنس
“ Kemudian Allah memerintahkan seorang penyeru, maka berserulah dengan suara yang didengar oleh bangsa jin dan manusia “ (Diriwayatkan oleh al-Khatib dan selainnya dari Ibnu Umar secara marfu’)

-           إذا جمع الله الأولين والآخرين يوم القيامة جاء مناد فنادى الخلائق سيعلم الجمع اليوم من أولى بالكرم
“ Jika Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan terakhir di hari kiamat, maka datanglah seorang penyeru dan menyeru kepada seluruh makhluk : “ Hari ini akan diketahui siapa orang yang lebih utama dermawannya “. (Dari hadits Asma bin Yazid secara marfu’ juga dari Ibnu Abbas)

-           يؤخذ بيد العبد والأمة يوم القيامة فينادي مناد على رؤوس الأولين والآخرين هذا فلان بن فلان
“ Akan dipegang tangan seorang hamba di hari kiamat, lalu berserulah seorang penyeru di atas seluruh makhluk pertama dan terakhir : “ Ini Fulan bin Fulan “. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Dunya dari Ibnu Mas’ud)

Hadits-hadits sahih ini menunjukkan secara jelas suara seruan diserukan dari malaikat yang didengar oleh seluruh makhluk. Apakah imam Bukhari lupa dan lengah dari hadits-hadits sahih ini ?? jawabannya tidak mungkin. Maka menjadi jelas ucapan beliau di atas dengan mengatakan “ Suara Allah “ adalah bermaksud bahwa suara yang diserukan malaikat itu adalah suara Allah yang Allah perintahkan malaikat untuk diserukan.

4. Jika suara Allah dalam hadits itu diartikan suara kalam Allah yang maha qadim, maka mengharuskan suara Allah ini didengar oleh seluruh makhluk yang pertama dan terakhir, padahal kita telah ketahui bahwa di antara makhluk Allah ada makhluk-makhluk yang Allah laknat yaitu Iblis dan para pengikutnya, Fir’aun dan para pengikutnya, Harun dan semisalnya. Apakah mereka ini yang dimahjub (terhalang) dari Allah pantas mendengarkan kalam yang maha Agung yang merupakan anugerah terbesar bagi nabi Musa dapat mendengarkannya ?? sungguh kalam Allah tidak berhak didengar kecuali oleh orang-orang mukmin sebagaimana Dzat Allah tidak berhak dilihat kecuali oleh orang-orang mukmin. Sebagaimana orang-orang kafir tidak dapat melihat Allah demikian pula mereka tidak mendengar kalam Allah.

Maka jelas sekali bahwa yang dimaksud suara Allah adalah seruan malaikat yang Allah perintahkan untuk menyerukannya sebagaimana hadits-hadits di atas.

Setelah beliau meriwayatkan hadits tersebut, kemudian beliau mengatakan :

قال أبو عبد الله بن محمد إسماعيل سمعت عبد الله بن سعيد يقول سمعت يحيى بن سعيد يقول ما زلت أسمع من أصحابنا يقولون إن أفعال العباد مخلوقة قال أبو عبد الله البخاري : حركاتهم وأصواتهم واكتسابهم وكتابتهم مخلوقة فأما القرآن المتلو المبين المثبت في المصاحف المسطور المكتوب الموعى في القلوب فهو كلام الله ليس بخلق

“ Berkata Abu Abdillaj bin Muhammad bin Ismail, aku mendengar Abdullah bin Sa’id berkata, ia berkata : Aku mendengar Yahya bin Sa’id berkata : “ Aku selalu mendengar ashab kami berkata bahwasanya perbuatan hamba adalah makhluk “, Abu Abdillah Al-Bukhari berkata : “ Gerak, suara, usaha dan tulisan adalah makhluk, adapun al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada maka dia adalah kalam Allah bukanlah makhluk “. (Khalqi af’aalil ibaad : 47)

Renungkan kalam beliau persis dengan kalam imam Abu Hanifah yaitu imam Bukahri meyakini bahwa al-Quran adalah kalam Allah bukanlah makhluk, sedangkan huruf, suara, gerak dan tulisan adalah makhluk Allah. 


# Salah satu naskah kitab Khalqi Af'aal al-Ibaad sebelum dita'liq / diberikan catatatan kaki atau disyarh oleh para ulama mujassimah / wahabi :




Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 7-4-2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar