Selamat datang di blog saya yang sederhana ini yang menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian ASWAJA di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja

Selasa, 24 September 2013

Jawaban Balik Atas Tanggapan Masalah Fitnah duduknya Allah di Atas Arsy bag IV

Kemudian Salman Ali mengatakan :

5)Kenyataan ustaz al-katibiy tentang pembahagian al-Tabari berkaitan tiga madzhab yang mewakili Jumhur, ahli sunnah ahli al-haq dan juga mujassimah
Ustaz al-katibiy menyebutkan bahawa faedah dari pembahagian al-Tabari seperti berikut. 1. Pendapat bahwa Allah tidak bersentuhan dengan sesuatu adalah pendapat jumhur kelompok umat Islam. 2. Pendapat bahwa Allah tidak bersentuhan dengan sesuatu dan tidak mubaayin, baik sewaktu belum mencipta atau sesudahnya, maka ini adalah pendapat Ahlus sunnah, ahlul haq. 3. Pendapat bahwa Allah di atas Arsy-Nya dengan Dzat-Nya yakni Allah duduk di atas Arsy-Nya dan bersentuhan dengan-Nya. Dan ini adalah pendapat mujassimah.

Berkaitan kelompok kedua yang dianggap sebagai kelompok ahli sunnah dikalangan asy’ariyyah serta orang yang mengikut jalan mereka. Kata ustaz al-katibiy:

Madzhab yang kedua ini sangat jelas adalah madzhab Ahlus sunnah dari Asy’ariyyah dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Atas dasar ini, Asy’ariyyah tidak menolak duduknya Nabi di atas Arsy, sebab bagi kelompok ini, sama saja mau Nabi Muhammad duduk di atas Arsy atau di bumi, Allah tetap seperti sedia kala yang tidak menyentuh sesuatu dan tidak butuh (bain) terhadap sesuatu. Diakui oleh ath-Thabari bahwa kelompok ini tidak menolak duduknya Nabi di atas Arsy. Adapun yang kelompok ini tolak adalah duduknya Allah di atas Arsy.

Disini Ustaz al-katibiy telah melakukan dua kesalahan besar. Yang pertama adalah disebabkan kegagalan memahami sejarah dengan baik sedangkan yang kedua adalah mencampur adukkan diantara penjelasan al-Tabari bersama tafsiran beliau sendiri yang terkeluar dari konteks perbicaraan al-Tabari.

1)Apabila ustaz al-katibiy menyebutkan bahawa pandangan kedua adalah mewakili madzhab ahli sunnah dari al-Asy’ariyyah itu adalah pandangan beliau sendiri bukannya pandangan al-Tabari. Untuk membuktikan ini , tidak perlu pemahaman terhadap dalil , cukup sekadar meneliti sejarah . al-Tabari meninggal dunia pada tahun 310h sedangkan dia mengambil masa lapan tahun menulis kitab tafsirnaya yang sempurna ditulis pada tahun 290h. Maka kesemua perkataan yang terdapat dalam kitab tafsirnya ini ditulis dalam tempoh amsa antara 283h sehingga 290h.

Maka saya jawab :

Sangat disayangkan sekali, saudara Salman Ali tidak cakap dan tidak pandai memahami komentar saya di atas. Ada dua kemungkinan, memang dia tidak mengerti maksud komentar saya atau memang dia kesulitan memahami bahasa Indonesia yang sedikit berbeda dengan bahsa melayu.

Apa yang saya komentari tentang kelompok kedua, memang bukan pandangan ath-Thabari sndiri, akan tetapi murni pandangan saya. Kerana pemahaman kelompok kedua pada kenyataannya adalah pemahaman yang selama ini dipegang oleh kelompok Asy’ariyyah (seperti saya). Tidak perlu salman ali berpanjang lebar dengan menjelaskan sejarah imam al-Asy’ary untuk memahami komntar saya yang ternyata salman ali salah paham di dalam memahami komntar saya tersebut. Coba perhatikan lagi komentar saya :

(Madzhab yang kedua ini sangat jelas adalah madzhab Ahlus sunnah dari Asy’ariyyah dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Atas dasar ini, Asy’ariyyah tidak menolak duduknya Nabi di atas Arsy, sebab bagi kelompok ini, sama saja mau Nabi Muhammad duduk di atas Arsy atau di bumi, Allah tetap seperti sedia kala yang tidak menyentuh sesuatu dan tidak butuh (bain) terhadap sesuatu. Diakui oleh ath-Thabari bahwa kelompok ini tidak menolak duduknya Nabi di atas Arsy. Adapun yang kelompok ini tolak adalah duduknya Allah di atas Arsy.)

Adakah saya mengatakan kesimpulan ini dari ath-Thabari ?? tidak. Namun ini hanyalah kesimpulan saya berdasarkan fakta dan kenyataan dari paham asy’ariyyah.

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syairazi (w 476 H) mengatakan :
وَاِنَّ اِسْتِوَاءَهُ لَيْسَ بِاسْتِقْرَارٍ وَلاَ مُلاَصَقَةٍ لِأَنَّ اْلاِسْتِقْرَارَ وَاْلمُلاَصَقَةَ صِفَةُ اْلأَجْسَامِ اْلمَخْلُوْقَةِ، وَالرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ قَدِيْمٌ أَزَلِيٌّ، فَدَلَّ عَلىَ أَنَّهُ كَانَ وَلاَ مَكاَنَ ثُمَّ خَلَقَ اْلمَكاَنَ وَهُوَ عَلىَ مَا عَلَيْهِ كَانَ
“ Dan sesungguhnya istiwa Allah tidaklah dengan istiqrar (bersemayam / menetap) dan mulasaqah (menempel), karena istiqrar dan mulasaqah adalah sifat jisim makhluk sedangkan Allah Ta’aala Maha Dahulu lagi Maha Azali. Maka hal ini menunjukkan bahwa Allah itu ada tanpa tempat kemudian menciptakan tempat dan Allah masih tetap seperti semula, ada tanpa tempat “.
Syaikh al-‘Arif billah Sayyid Ahmad ar-Rifa’i asy-Syafi’i (w 578 H) berkata :
وَأَنَّهُ مُسْتَوٍ عَلىَ اْلعَرْشِ عَلىَ اْلوَجْهِ الَّذِي قَالَهُ وَبِالْمَعْنىَ الَّذِي أَرَادَهُ، اِسْتِوَاءً مُنَزَّهًا عَنِ اْلمُمَاسَةِ وَاْلاِسْتِقْرَارِ وَالتَّمَكُّنِ وَالتَّحّوُّلِ وَاْلاِنْتِقَالِ، لاَ يَحْمِلُهُ اْلعَرْشُ، بَلِ اْلعَرْشُ وَحَمَلَتُهُ مَحْمُوْلُوْنَ بِلُطْفِ قُدْرَتِهِ، وَمَقْهُوْرُوْنَ فيِ قَبْضَتِهِ، وَهُوَ فَوْقَ اْلعَرْشِ، وَفَوْقَ كُلِّ شَىْءٍ إِلىَ تُخُوْمِ الثَّرَى، فَوْقِيَّةٌ لاَ تَزِيْدُهُ قُرْبًا إِلىَ اْلعَرْشِ وَالسَّمَاءِ بَلْ هُوَ رَفِيْعُ الدَّرَجَاتِ عَنِ اْلعَرْشِ كَمَا أَنَّهُ رَفِيْعُ الدَّرَجَاتِ عَنِ الثَّرَى
“ Dan sesungguhnya Allah beristiwa di atas Arsy dengan cara yang Allah firmankan dan dengan makna yang Allah kehendaki, beristiwa dengan istiwa yang suci dari persentuhan, persemayaman, pertempatan, perubahan dan perpindahan. Tidak dibawa oleh Arsy akan tetapi Arsy dan para malaikat pembawanya dibawa oleh kelembutan qudrah-Nya, tergenggam dalam gengaman-Nya. Dia di atas Arsy dan di atas segala sesuatu hingga ujung angkasa dengan sifat atas yang tidak menambahinya dekat kepada Arsy dan langit, akan tetapi Dia Maha tinggi derajat-Nya dari Arsy sebagaimana Dia Maha tinggi derajat-Nya dari angkasa “.
Al-Qadhi al-Imam Abu Bakar Muhammad al-Baqilani al-Maliki (w 403 H) berkata :
وَلاَ نَقُوْلُ إِنَّ اْلعَرْشَ لَهُ- أَيْ اللهُ- قَرَارٌ وَلاَ مَكَانٌ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالىَ كَانَ وَلاَ مَكَانَ، فَلَمَّا خَلَقَ اْلمَكاَنَ لَمْ يَتَغَيَّرْ عَمَّا كَانَ
“ Dan kami tidak mengatakan bahwasanya Arsy sebagai tempat Allah, karena Allah Ta’aala ada (pada azali) tanpa tempat, ketika menciptakan tempat Allah tidaklah berubah sebagaimana mulanya “.
Perhatikan ucapan-ucapan para ulama besar asy’ariyah ini ! bukankah ucapan ulama-ulama ini sama persis dengan kelompok kedua yang dikatakan oleh ath-Thabari ??

Dan saya katakan pendapat pertama yang mengatakan Allah sebelum mencipta sesuatu adalah bain dari makhluknya, sebab disepakati dengan kelompok kedua yang juga mengatakan Allah bain dari makhluk-Nya sbelum mencipta segala sesuatu. Inilah yang saya katakan jumhur, sebab kelompok kedua dan pertama sepakat sebelum mencipta sesuatu DIA Bain dari makhluk-Nya walaupun setelah itu berbeda pendapat dan penjelasan setelah Allah mencipta segala sesuatu.

Pada kelompok ketiga tidak demikian, mereka meyakini bahwa Allah sebelum mencipta sesuatu , DIA tidak bain maupun mumaasin. Dan setelah menciota sesuatu barulah Allah bain akan tetapi mumaasin (bersentuhan) dengan makhluk-Nya. Semoga salman ali memahami hal ini.


Salman Ali mengatakan :

Al-Baihaqi juga menyebutkan perkataan al-Khattabi yang meninggal pada 388h dalam al-asma’ wassifat tentang pendiriannya :

وَلَيْسَ مَعْنَى قَوْلِ اْلمُسْلِمِيْنَ إِنَّ اللهَ عَلىَ اْلعَرْشِ هُوَ أَنَّهُ تَعَالىَ مُمَاسٍ لَهُ أَوْ مُتَمَكِّنٌ فِيْهِ أَوْ مُتَحَيِّزٌ فيِ جِهَةٍ مِنْ جِهَاتِهِ، لَكِنَّهُ بَائِنٌ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِهِ، وَإِنَّمَا هُوَ خَبَرٌ جَاءَ بِهِ التَّوْقِيْفُ فَقُلْنَا بِهِ وَنَفَيْنَا عَنْهُ التَّكْيِيْفَ إِذْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Apabila Muslim menyebutkan Allah ebristiwa’ diatas Arashnya: ini tidaklah beerti Allah menyentuhnya ataupun menetap diatasnya ataupun mengambil tempat disalah satu penjurunya. Tetapi Allah terpisah dari keseluruhan makhluknya. Adapun ini merupakan khabar tauqifi yang datang lalu kami berkata dengannya. Dan kami nafikan bagi-Nya perumpamaan kerana tiada yang sama dengan-Nya dan Dialah maha mendengar lagi melihat.5

Mungkin ada benarnya ini juga merupakan pandangan madzhab al-asy’ari berdasarkan beberapa perkataan tokoh madzhab al-Asyari, tetapi mustahil al-Tabari merujuk kepada madzhab ini sebagai kelompok kedua kerana ketika tafsir al-tabari ditulis madzhab al-asyari belum lagi wujud.

Saya jawab :

Nampak sudah keraguan dan kebimbangan serta kebingungan Salman Ali ini tentang madzhab Asy’ari. Dan sangat jelas, ia berkomentar seperti disebabkan tidak tahunya akan sejarah munculnya pemahaman asy’ariyyah.

Jika tidak mengetahui asal dan akar dari pemahaman madzhab Asy’ari, sebaiknya jangan sekali-kali merendahkan madzhab ini yang telah dipegang jauh sebelum imam Abul Hasan al-Asy’ari tegak menysiarkannya. Sebab pemahaman akidah Abul Hasan al-Asy’ary tidak lain dan tidak bukan adalah pemahaman jumhur muslimin sejak masa Rasulullah hingga para sahabat dan tabi’in.

Ini juga menunjukkan, bahwa salman ali telah menutup mata dan telinga dari sejarah asy’ary yang sebenarnya, dan hanya bermodalkan taqlid yang membutakan pemikirannya.

Secara singkat dan global; Sejarah munculnya istilah AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH atau disingkat menjadi ASWAJA, bermula dari periode ‘Ali bin Abi Thalib KW. Sebab dalam sejarah, tercatat para imam Aswaja di bidang akidah telah ada sejak zaman sahabat Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum munculnya paham Mu’tazilah. Imam Aswaja pada saat itu diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib KW, karena jasanya menentang penyimpangan khawarij tentang al-Wa’du wa al-Wa’id dan penyimpangan qodariyah tentang kehendak Allah Ta’ala dan kemampuan makhluk.
Setelah tahun 260 H menyebarlah bid’ah Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya. Maka dua Imam yang agung Abu al Hasan al Asy’ari (W 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya- menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al Qur’an dan al hadits) dan ‘aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhah-syubhah (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya, sehingga Ahlussunnah Wal Jama’ah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka (Ahlussunnah) akhirnya dikenal dengan nama al Asy’ariyyun (para pengikut al Asy’ari) dan al Maturidiyyun (para pengikut al Maturidi). Jalan yang ditempuh oleh al Asy’ari dan al Maturidi dalam pokok-pokok aqidah adalah sama dan satu.

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, istilah Aswaja secara resmi menjadi bagian dari disiplin ilmu keislaman. Dalam hal akidah pengertiannya adalah Asy’ariyah atau Maturidiyah. Imam Ibnu Hajar Al-Haytami berkata “Jika Ahlussunnah wal jamaah disebutkan, maka yang dimaksud adalah pengikut rumusan yang digagas oleh Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi “ .

Dalam fiqh adalah madzhab empat, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Dalam tasawwuf adalah Imam Al-Ghozali, Abu Yazid al-Busthomi, Imam al-Junaydi dan ulama’-ulama’ lain yang sepaham. Semuanya menjadi diskursus islam paham Ahlussunnah wal jamaah.

Maka saya sedikit tersenyum membaca komentar lucu Salman Ali ini yang mengatakan (Mungkin ada benarnya ini juga merupakan pandangan madzhab al-asy’ari berdasarkan beberapa perkataan tokoh madzhab al-Asyari, tetapi mustahil al-Tabari merujuk kepada madzhab ini sebagai kelompok kedua kerana ketika tafsir al-tabari ditulis madzhab al-asyari belum lagi wujud.)

Ini sangat menunjukkan ketidak pahamannya atas sejarah pemahaman asy’ariyyah. Apakah jika ad-Darimi mengtakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy, lalu ada orang mengatakan bahwa ini pemahaman taimiyyah atau wahabi. Orang itu lantas kita salahkan?? Sebab Ibnu taimiyyuun dan wahabi saat ad-Darimi berkata demikian, mereka belum muncul ?? ini sangat lucu. Sebab maksud ucapan orang itu adalah bahwa pemahaman yang dikatakan oleh ad-Darimi juga kenyataannya pemahaman yang dipegang oleh para taimiyyun dan wahhabiyyah.

Salman Ali mengatakan :

2)Ulasan Ustaz al-katibiy terhadap tiga kelompok yang disebut oleh al-Tabari ini.
Kata ustaz al-katibiy tentang kelompok pertama dan kedua:

Dua kelompok di atas menafikan mumasah (persentuhan) Allah kepada makhluk-Nya, ini jelas bertentangan dengan pendapat Mujahid yang mengatakan Allah duduk bersama Nabi Muhammad di atas Arsynya.

Setelah kita buktikan konsistensi al-Tabari dalam membahaskan ucapan Mujahid iaitu: kelak Allah akan mendudukkannya di atas arys bersama-Nya serta kelalaian ustaz al-katibiy dalam memahami ikhtisar(ringkasan) dalam gaya bahasa Arab sehingga menyebabkan beliau menganggap al-Tabari berbicara tentang dua konteks yang berbeza iaitu diawal bicara dalam konteks perkataan penuh Mujahid kelak Allah akan mendudukkannya di atas arys bersama-Nya sedangkan ditengah perbahasan, al-Tabari beralih kepada konteks kedua iaitu kelak Allah akan mendudukkannya di atas arys.

Maka berpunca dari kesilapan itu , ustaz al-katibiy telah berganjak kepada satu lagi kesalahan dalam melukiskan kesimpulan dari dua madzhab penganut Islam yang disebut oleh al-Tabari.
Ustaz al-katibiy tidak faham pendirian para salaf seperti yang dinaqalkan dari kitab al-Sunnah oleh al-khallal. Apabila dikatakan Allah mendudukkan Muhammad disisi-Nya tidaklah beerti dengan sentuhan. Kebersamaan ini adalah tanpa takyif, tidak diketahui hakikatnya oleh manusia. Begitu juga apabila para salaf berkata Allah beristiwa’ diatas Arash juga bukan dengan sentuhan. Melainkan ustaz al-katibiy mengikat maksud kebersamaan berdasarkan akal yang terbatas , sebab itulah dia menafikan perkataan mujahid mendudukkan Muhammad bersama-Nya diatas Arash lalu mengatasnamakan ini kepada al-Tabari.

Saya jawab :

Masih saja mereka sulit memahami penjelasan ath-Thabari tentang ketidak mustahilan Nabi duduk di atas Arsy.

Saya tegaskan lagi, bahwasanya imam ath-Thabari ketika ingin membuktikan bahwa ucapan Mujahid tidak bisa ditolak dari segi pandangan masing-masing kelompok dari umat Islam, maka beliau pun menampilkan semua pemahaman ketiga kelompok islam itu yang kesimpulannya Nabi tetap tidak mustahil duduk di atas Arsy bagaimanapun pemahaman ketiga kelompok itu dalam menyikapi duduknya Allah di atas Arsy.
Kelompok pertama, beliau tampilkan pemahaman sekelompok umat Islam yang meyakini bahwa Allah sebelum mencipta tidak ada sesautu yang Allah bain dan mumasin dengannya. Walaupun setelah mencipta ada perincian yang pada intinya mereka menetapkan bainunah dan batasan bagi Allah namun mensucikan lawazim jsimiyyah. Ini sebagaimana pemahaman Abul Ya’la dan az-Zaghuni.

Ini saja sudah bertentangan dengan pemahaman Ibnu Taimiyyah yang meyakini Allah mumasin kepada sesuatu. Bainunah Allah dari Arsy tidak seperti bainunah Allah dari bumi. Ia meyakini bahwa Allah bain dari Arsy dan mumasin (bersentuhan) dengan arsy. Dan Allah bain dari bumi dan tidak mumasin dengan bumi. Sebgaimana akan saya buktikan di akhir pembahasan ini.

Kelompok kedua, beliau tampilkan pemahaman kelompok umat Islam yang meyakini bahwa Allah sebelum mencipta tidak ada sesuatu yang Dia mubayin darinya dan mumsain dengannya, maka demikian pula setelah mencipta sesuatu keadaan Allah sebagaimana mulanya. Dan ini adalah kenyataan dari pemahaman mayoritas kaum muslimin dari kalangan ahlus sunnah asy’ariyyah.

Ini juga jelas bertentangan dengan pemahaman Ibnu Taimiyyah.

Kelompok ketiga, beliau menampilkan pemahaman kelompok umat Islam yang meyakini bahwa sebelum mencipta sesuatu tidak mubayin dan tidak mumasin, lalu Allah mencipta Arsy, maka Allah mubyain dan mumasin dengannya. Dan ini adalah kenyataan dari pemahaman mujassimah. Juga ternyata sesuai dengan pemahaman Ibnu Taimiyyah. Sebagaimana akan saya jelaskan.

Jika atsar Mujahid dianggap sahih, maka tidak mengarah kecuali pada kelompok ketiga ini, atau maknanya di takwilkan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Athiyyah dan Ibnu Hajar al-Atsqalani (jika ini, maka sesuai dengan salah satu metode asy’ariyyah).

Sedangkan menurut kaum wahabi, ayat-ayat shifat tidak boleh ditakwil, sehingga mau tidak mau ucapan Mujahid disesuaikan dengan pemahaman wahabi / mujassimah yang pada akhirnya sesuai dengan pemahaman kelompok yang ketiga tadi. Karena sudah maklum bahwa mereka memahami ayat-ayat shifat secara pemahaman dhahirnya.


Salman Ali mengatakan :

Menerusi dua peringgan ini , ustaz al-katibiy cuba menyandarkan kepada ibn taimiyah dua perkara
1)Ucapan ibn taimiyah mengandungi tajsim
2)ibn taimiyah memahami maksud perkataa aMujahid seperti kelompok ketiga (mujassim)

1)Ucapan ibn taimiyah mengandungi tajsim
Berdasarkan tuduhan pertama , ibn taimiyah tidak langsung menyebutkan bahawa mendudukkan Muhammad bersama-Nya ini beerti bersentuhan atau menisbahkan jisim bagi Allah. Bahkan tidak banyak tafsiran yang disebut oleh ibn Taimiyah terhadap perkataan ini. Ibn taimiyah hanya mengulang apa yang telah disebut oleh al-Tabari sehingga ibn Taimiah juga menulis secara ringkas Allah mendudukkan Muhammad diatas Arash sepertimana ditulis oleh al-Tabari dalam kesimpulannya tanpa mengulangi perkataan bersama-Nya.
Kata ibn Taimiyah:

, tidak mengatakan bahwa riwayat Allah mendudukkan nabi di atas arsy itu hadits munkar, sesungguhnya yang mengingkarinya hanyalah sebagian dari kelompk jahmiyyah, beliaupun tidak menyebutkan munkar dalam tafsir ayat itu

Terserlah sikap tidak adil ustaz al-katibiy, ucapan al-Tabari yang panjang lebar ditakwilkan kesemuanya walaupun dengan takwilan yang bercanggah dengan text asal al-tabari sedangkan ucapan ibn taimiyah difahami dengan sezahir yang mungkin sedangkan ia tidak disebut oleh ibn taimiyah.


Terdapat ratusan ucapan ibn Taimiyah menafikan pendirian mujassimah dan saya sebutkan salah 1 darinya apabila ibn taimiyah menyebutkan perbezaan antara salaf dan mujassimah bagi membantah sangkaan nakal ustaz al-katibiy ini.

Telah bersepakat para salaf dan imam-imamnya: Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah , tidak pada zat-Nya tidak pula pada sifat-Nya serta perbuatan-Nya. Dan telah berkata diantara imam salaf : sesiapa yang menyamakan Allah dengan makhluknya maka ia telah kafir dan sesiapa yang menafikan apa yang disifatkan Allah terhadap-Nya maka ia telah kafir. Tidak ada bagi apa yang disifatkan Allah dan Rasul-Nya perumpamaan. Dimanakah kedudukan musyabbihah dan mujassimah dari mereka(para imam salaf). Sedangkan mereka (Mujassimah), maka kemuncak kekufuran mereka adalah ,menjadikan Allah seperti makhluk-Nya.6

2)ibn taimiyah memahami maksud perkataa aMujahid seperti kelompok ketiga

Adapun tuduhan kedua yang menyatakan ibn taimiyah memahami maksud perkataa aMujahid seperti kelompok ketiga (mujassim), ini juga merupakan tuduhan liar yang tidak berasas. Kelompok mujassimah beranggapan bahawa Allah bersentuhan dengan makhluk-Nya setelah penciptaan makhluk sedangkan pandangan pertama iaitu para salaf adalah Allah terpisah dari makhluk-Nya setelah penciptaan . Mari kita lihat apa pendirian ibn taimiah adakah mirip dengan pendirian ketiga seperti dakwaan ustaz al-katibiy ataupun mirip pandangan pertama seperti pendirian para salaf.
Berikut merupakan beberapa perkataan ibn taimiah berkaitan masalah ini.:

Dan telah bersepakat salaf ummah dan imam-imam mereka bahawa tuhan yang mencipta terpisah dari makhluk-Nya dan tidak terdapatnya pada-Nya suatupun dari makhluk-Nya serta tidak pula pada makhluk-Nya suatupun dari dzat-Nya. Salaf dan para Imam mengkafirkan jahmiah apabila mereka menyatakan bahawa Allah berada dimana-mana.

Dan perkataan al-Khattabi dalam syiar al-Din setelah menyebutkan 14 pandangan: Dan pandangan yang paling kuat adalah apa yang zahir dari Ayat dan hadith dan juga (pandangan)golongan yang memiliki kelebihan dan terpilih: Sesungguhnya Allah ebrada diatas Arash-Nya sepertimana disebut dalam kitab-Nya dan menerusi lisan nabi-Nya tanpa perumpamaan, Allah terpisah dari keseluruhan makhluk-Nya. Inilah madzhab Salaf al-Soleh sepertimana dinaqalkan dari mareka oleh orang-orang yang dipercayai.

Dan Maha suci Allah diatas langi-langit-Nya diatas Arash-Nya , terpisah dari makhluknya, tidak terdapat pada makhluk-Nya sesuatupun dari Dzatnya dan tidak terdapat pada Dzat-Nya suatupun dari makhluk-Nya. Maha Suci Allah tidak bergantung harap kepada Arash-Nya juga keseluruhan makhluknya tidak juga memerlukan sesuatupun dikalangan makhluk-Nya bahkan Dialah yang menanggung Arash dan juga para penanggung Arash dengan kekuasaan-Nya.


Saya jawab :

Dalam artikel sebelumnya, saya sudah katakan bahwa memahami ucapan sesorang ulama hendaknya terlebih dahulu memahami uslub dan manhajnya, agar tidak kebingungan memahaminya.

Memang Ibnu Taimiyyah pada atsar Mujahid tidak mengomentarinya dengan komentar yang sedatil mungkin atau penjelasan yang terperinci. Akan tetapi pemahaman terhadap duduk-Nya Allah di atas Arsy, maka bisa kita ketahui dari ucapan-ucapan Ibnu Taimiyyah di kitab-kitab lainnya. Dari situ akan memahami maksud Ibnu Taimiyyah mendukung atsar Mujahid.

Ibnu Taimiyyah sangat anti terhadap takwil pada ayat-ayat shifat. Sehingga dia menyikapnya dengan memegang pemahaman secara zahirnya.

Sekarang kita akan buktikan dan akan lihat faktanya untuk mengetahui siapakah sebenarnya yang tersilap dan salah dalam melukiskan kesimpulan ??

Kelompok ketiga terlihat jelas bahwa itu pemahaman yang selama ini dipegang oleh kaum mujassimah seprti sebagian wahabi dan Ibnu Taimiyyah. Kita buktikan :


Ibnu Taimiyyah mengatakan :

وأكثر أهل الحديث يصفونه باللمس

“ Kebanyakan ulama hadits mensifati Allah dengan lams (sentuhan) “.

Ibnu Taimiyyah juga mengatakan :

وطوائف كثيرة من أهل الكلام والفقه يقولون بل هو مماس للعرش ومنهم من يقول هو مباين له ولأصحاب أحمد ونحوهم من أهل الحديث والفقه والتصوف في هذه المسألة ثلاثة أقوال منهم من يثبت المماسة كما جائت بها الآثار

“ Dan kelompok banyak dari ahli kalam, fiqih mengatakan bahwa Allah bersentuhan dengan Arsy, di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Allah mubaayin darinya. Dan para ulama Hanbali dan semisalnya dari ulama hadits, fiqih dan tasawwuf dalam masalah ini memiliki tiga pendapat, di antara mereka ada yang menetapkan persentuhan sebagaimana telah datang atsar-atsarnya “.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi pun mengakui pemahaman Ibnu Taimiyyah yang meyakini adanya mumasah Allah kepada sebagian makhluk-Nya seperti Arsy dan nabi Adam, bahkan mengatasnamakan al-Quran dan Hadits. Perhatikan ucapan ar-Rajihi berikut ini :

قال شيخ الإسلام -رحمه الله-: جاءت الأحاديث بثبوت المماسة، كما دل على ذلك القرآن الكريم وقاله أئمة السلف، وهو نظير الرؤية، وهو متعلق بمسألة العرش، وخلق آدم بيده، وغير ذلك من مسألة الصفات وإن كان قد نفاه طوائف من أهل الكلام والحديث من أصحاب الإمام أحمد وغيرهم، فشيخ الإسلام أثبت مماسة الله لبعض خلقه، كالعرش وآدم وقال: إن ذلك دل عليه القرآن الكريم وجاء الحديث بثبوته وقاله أئمة السلف، وإن كان قد نفاه طوائف من أهل الكلام والحديث.

“ Berkata syaik Islam (Ibnu Taimiyyah) : “ Telah datang hadits dengan ketetapan mumasah (bersentuhan Allah pada makhluk), sebagaimana al-quran telah menunjukkan akan hal itu dan dikatakan oleh para imam salaf. Ini seperti permasalahan rukyatullah. Dan ini berhubungan dengan masalah Arsy dan penciptaan nabi Adam dengan tangan-Nya dan selain itu dari masalah shifat. Walaupun sebagian kelompok dari ahli kalam dan hadits dari ashab imam Ahmad dan selainnya telah menafikan hal ini. Akan tetapi syaikh Islam (Ibnu Taimiyyah) telah menetapkan BERSENTUHAN ALLAH kepada sebagian makhluk-Nya. Seperti Arsy dan Ada, dan ia berkata bahwa hal itu al-Quran telah menunjukkannya dan hadits telah datang dengan menetapkannya juga telah dikatakan oleh para imam salaf. “

Syaikh ar-Rajihi ini adalah seorang ulama besar salafi yang oleh pengikutnya ilmuanya dianggap sebanding dengan Ibnu Baz. Silakan rujuk ucapannya ke laman webnya di : http://shrajhi.com/Books/ID/448
Untuk ucapan Ibnu Taimiyyah sendiri yang lebih jelas dan merupakan kesimpulan pemahamannya dari masalah ini adalah :

وليس هذا موضع الكلام في هذه الأقوال ولكن نذكر جوابا عاما فنقول كونه فوق العرش ثبت بالشرع المتواتر واجماع سلف الأمة مع دلالة العقل ضرورة ونظرا انه خارج العالم فلا يخلو مع ذلك اما أن يلزم ان يكون مماسا او مباينا اولا يلزم فان لزم احدهما كان ذلك لازما للحق ولازم الحق حق وليس في مماسته للعرش ونحوه محذور كما في مماسته لكل مخلوق من النجاسات والشياطين وغير ذلك فان تنزيهه عن ذلك انما اثبتناه لوجوب بعد هذه الاشياء وكونها ملعونة مطرودة لم نثبته لاستحالة المماسة عليه

“ Ini bukanlah tempat pembahasannya di dalam ucapan-ucapan ini, akan tetapi kami sebutkan jawaban secara globalnya, maka kami katakan : “ Adanya Allah di atas Arsy adalah telah tetap dengan syare’at yang mutawatir dan kesepakatan salaf ummat disertai dalil aqal secara pasti dan sisi pandangan bahwa Allah keluar dari alam, maka bersama itu Allah tidaklah lepas adakalanya melazimkannya bersentuhan dan bain atau tidak melazimkan hal itu. Jika Allah mengharuskan terjadinya salah satu kelaziman itu, maka hal itu merupakan kelaziman yang haq, dan kelaziman haq adalah haq. Dan di dalam bersentuhannya Allah dengan Arsy atau semisalnya tidaklah mahdzur (bahaya) sebagaimana bersentuhannya Allah kepada setiap makhluk dari benda-benda najis dan syaitan dan selainnya. Karena mensucikan Allah dari itu semua, sesungguhnya kita tetapkan kewajiban jauhnya benda-benda itu dan karena syaitan itu terlaknat terusir, maka kita tidak menetapkannya karena mustahilnya bersentuhan dengannya “.

Penjelasan :

Dalam jawaban Ibnu Taimiyyah ini dipahami bahwa ia memang benar-benar meyakini Allah bersentuhan dengan Arsy. Dan dalam jawabannya ini banyak sekali kerancuan dan syubhat.

1. Allah bersentuhan dengan Arsy dan juga bersentuhan dengan makhluk lainnya seperti nabi Adam ketika Allah menciptanya.

2. Memungkinkan Allah menyentuh benda najis dan syaitan jika Allah menghendakinya. Akan tetapi Allah tidak menhendakinya maka Allah tidak melakukannya. Perkara ini jauh dari Allah bukan karena apa-apa melainkan karena sesuatu itu terusir dan terlaknat.

3. Ibnu Taimiyyah juga mengklaim bahwa pendapat ini dikatakan oleh jumhur ulama hadits dan kalam.

4. Ibnu Taimiyyah juga mengklaim bahwa ucapan ini sudah ijma’ dan secara pasti harus dipahami dan dipegang (dharuratan). Padahal ulama sendiri sejak dahulu saling berbeda pendapat. Bahkan ath-Thabari sebagaimana di atas dalam kitab tafsirnya menjelaskan ketiga kelompok yang saling berlainan pendapat. Bagaimana Ibnu taimiyyah mengklaim hal ini sudah ijma’ bahkan dharuri??

5. Seandainya hal ini sudah ijma’ dan merupakan keyakinan dharuri (yang harus dipegang), maka mengharuskn penentangnya menjadi kafir, tapi kenyataannya Ibnu Taimiyyah tidak menghukumi kafir pada ulama yang menentangnya.

Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan Ibnu Taimiyyah yang menjelaskan sikapnya yang sesungguhnya dalam masalah ini. Maka jelas sudah maksud Ibnu Taimiyyah di dalam memahami duduknya Allah di atas Arsy yang luput dari pantauan sebagian pengagumnya seperti Salman Ali atau wahabi lainnya.



Jawaban Balik Atas Tanggapan Masalah Fitnah duduknya Allah di Atas Arsy bag III

Saudara Salman Ali mengatakan :

Ustaz al-katibiy telah melakukan satu lagi kesalahan yang besar apabila mendatangkan hujjah ini. Kaedah kritis mensyaratkan bahawa kesimpulan umum hanya boleh dilukis berdasarkan kajian induktif bukannya kenyataan seorang manusia. Begitu juga perkataan manusia difahami sebagaimana kenyataan itu diucapkan melainkan ada qarinah yang menunjukkan sebaliknya. Namun begitu kesalahan ini sering dilakukan oleh orang yang mempunyai kemahiran kritis yang tebatas. Mereka menganggap perkataan In Abdil Bar ini sebagai kesimpulan umum dari perndirian salaf, sama juga halnya dengan orang yang menganggap tafsiran al-Baihaqi sebagai kata putus dalam mentafsirkan kenyataan Abdullah bin Mubarak tentang nisbahkan had bagi Allah serta pandangan keras imam al-Syafi’e tentang sufi, begitu juga halnya dengan orang yang menganggap tafsiran Imam al-Tahawi sebagai maksud sebenar Abu Hanifah dalam masalah tauhid. Ini semua adalah contoh2 kelowongan dalam metod kritis.

Saya jawab :

Nampak siapa di sini yang tidak mengkaji secara induktif tentang persoalan ini. Setelah saya jelaskan sebelumnya, maka jelaslah bahwa atsar Mujahid banyak ditolak oleh ulama besar dengan berbagai macam hujjah yang kuat bukan hanya imam Abdul Barr saja, di sana ada al-Wahidi, al-fakhr ar-Raazi, Ibnul Mua’llim al-Qursayi, asy-Syaukani, adz-Dzahabi, as-Sayuthi, Albani dan lainnya. Apakah anda akan mengatakan para ulama besar ini berpaham jahmiyyah ?? imam Abdul Barr bukan lah orang bodoh yang tidak memahami persoalan ini. Kecuali jika pihak wahabi mengaku dirinya lebih paham dari imam Abdul Barr.

Untuk persoalan Abdullah bin Mubarak, imam Syafi’i dan imam Thahawi, maka tidak ada sangkut pautnya dengan kenyataan ucapan imam Abdul Barr dalam masalah ini. Dan saya tidak akan membahas persoalan al-Baihaqi yang mengoemntari hal itu secara ilmiyyah dan obejktif. Saya pun lebih memilih kajian al-Baihaqi dalam masalah-masalah itu ketimbang pernyataan saudara Salman Ali atau wahabi lainnya yang keilmuan al-Baihaqi tidak diragukan oleh para ulama sesudahnya ketimbang ulama salafi yang datang belakangan.

Salman Ali mengatakan :

Pihak ARG hanya fokus kepada at-Tabari tidak menjawab berkenaan ulama selain dari mereka seperti yang disebutkan dalam video.

Bukan Mujahid saja yang mensahihkannya bahkan telah disahihkan ramai ulama lainnya sehingga ada yang menyatakan tidak menolaknya melainkan jahmiyyah. Imam Marwadzi merupakan orang yang amat fanatik terhadap pendapat Mujahid ini dan mengarang kitab khusus untuk membela pendapat mujahid seperti yang disebutkan Ibnu Kathir Berikut ialah senarai sebahagian dari mereka yang mensahihkan riwayat ini, keseluruhan perbahasan tentang bab ini boleh didapati dari kitab al-Sunnah oleh Abu Bakar ibn Khallal Utsman bin Abi Syaibah :

حَكم مَن رَد هَذا اَلحديث أَن يَنفى ،َ لَا يَرد هَذا اَلحديث إَلا اَلزنادقة

-Hukuman keatas orang yang menolak hadith ini(Laits dari Mujahid) adalah dia dibuang negeri, tiada yang menolak hadith ini melainkan golongan zindiq –al-Sunnah oleh Abu bakar ibn Khallal)

Harun bin Maaruf :

»َ هَذا اَلحديث تَرده اَلزنادقة «
Inilah Hadith yang dibantah oleh golongn Zindiq

Ishak bin ibrahim rahawaih
»َ مَن رَد هَذا اَلحديث فَهو جَهمي «َ :َ قال إَسحاق بَن إَبراهيم بَن رَاهويه لَأبي عَلي اَلقوهستاني
Sesiapa yang menolak hadith ini ,maka dia merupakan Jahmi

Abu Bakar bin Hamad أبو
بَكر بَن حَماد :َ مَن ذَكرت عَنده هَذه اَلأحاديث فَسكت عَنها فَهو مَتهم ،َ فَكيف مَن رَدها وَطعن فَيها ،َ أَو تَكلم فَيها
Sesiapa yang disebutkan disisnya hadith-hadith ini lalu dia diamkan maka dia dituduh, bagaimana pula keadaan orang yang membantahnya dan mengkritiknya ataupun ebrkata-kata(yang buruk) tentangnya.

Ibn Mus’ab:
سمعت اَبن مَصعب ،َ قَرأ هَذه اَلْية :َ )َ عَسى أَن يَبعثك رَبك مَقاما مَحمودا قَال :َ نَعم ،َ يَقعده مَعه عَلى اَلعرش يَوم اَلقيامة ؛ََ
ليري اَلخلائق مَنزلته لَديهَ
Benar didudukkan disisi-Nya diatas Arash pada hari kiamat untuk menjadikan para makhluk melihat keududkannya disis Allah

Ibrahim al-Asbahani

وقال إَبراهيم اَلأصبهاني :َ هَذا اَلحديث صَحيح ثَبت ،َ حَدث بَه اَلعلماء مَنذ سَتين وَمائة سَنة ،َ لَا يَرده إَلا أَهل اَلبدع ،َ وَطعنَ
على مَن رَدهَ

Ini adalah hadith sahih dan tsabit. Para ulama telah menyampaikannya sejak lebih dari 60 tahun. Tidaklah ada yang menolaknya melainkan ahli bid’ah lalu dia mengkritik sesiapa yang menolak hadith ini.

Abu Qilabah

قال أَبو قَلابة :َ لَا يَرد هَذا إَلا أَهل اَلبدع وَالجهمية
Tidak ada yang menolak hadith ini melainkan Ahli bid’ah dan jahmiyah.

Al-JAziri

قيل لَلجريري :َ إَذا كَان عَلى كَرسي اَلرب فَهو مَعه ،َ قَال :َ نَعم ،َ وَزادني إَبراهيم اَلأصبهاني فَي هَذا اَلحديث ،َ عَن عَباسَ
بإسناده ،َ قَال :َ قَال اَلجريري :َ وَيحكم ،َ مَا فَي اَلدنيا حَديث أَقر لَعيني مَن هَذا اَلحديث

Ditanyakan kepadanya: jika Nabi berada diatas kursi Tuhan maka adakah dia berrsama tuhan. Lalu dia menjawab : ya Tiada diatas dunia ini perkataan yang leih menyejukan mataku dari hadith ini.

Abdullah bin Salam

هذا أَقر حَديث فَي اَلدنيا لَعيني
Inilah hadith yang paling menyejukkan mataku didunia Aswad bin Salim

Saya jawab :

Riwayat yang disebutkan oleh Salman Ali di atas tanpa menunjukkan sumber refrensi yang jelas, adalah berkaitan dengan kelompok jahmiyyah yang menolak ISTIWA Allah di atas Arsy juga sebagian kelompok yang menolak fadhilah kedudukan Nabi duduk di atas Arsy-Nya. Sedangkan tidak ada satu pun kelompok Asy’ariyyah yang menolak ISTIWA Allah di atas Arsy, hanya saja mereka menyerahkan makna ISTAWA kepada Allah sesuai kemuliaan dan keagungan sifat Allah tanpa takyif dan tasybih menurut salah satu metode Asy’ariyyah. Sebagaimana telah berlalu, bahwasanya Asya’riyyah tidaklah menolak mungkinnya duduknya Nabi di atas Arsy, sebab hal itu tidak mustahil terjadi dan juga tidak adanya nash sahih yang memustahilkan hal tersebut. Dan Asy’ariyyah menetapka sifat ISTIWA dengan dua metode yaitu TAFWDIH MAKNA WAL KAIFIYYAH dan TAKWIL TAFSHILI.

Maka yang ditahdzir oleh ulama yang menerima hadits Mujahid adalah kaum Jahmiyyah yang menolak ISTIWA Allah di atas Arsy, berbeda dengan Ays’ariyyah. Dan juga kaum zanadiqah yang menolak keutamaan Nabi mungkinnya duduk di atas Arsy.

Oleh sebab itu disebutkan dalam kitab al-Uluw al-Hafidz Azd-Ddzahabi :
أن الفقيه أبا بكر أحمد بن سليمان النجاد المحدث قال فيما نقله عنه القاضي أبو يعلى الفراء لو أن حالفا حلف بالطلاق ثلاثا أن الله يقعد محمدا على العرش واستفتاني لقلت له صدقت وبررت
“ Sesungguhnya al-Faqih Abu Bakar Ahmad bin Ssulaiman an-Najjad al-Muhaddits berkata : “ Seandainya seorang penyumpah bersumpah bahwa dia akan mentalak istrinya tiga kali dengan sumpah bahwa Allah mendudukan Muhammad di atas Arsy-Nya, dan meminta fatwa padaku, maka aku akan jawab : engkau benar “.

Maka adz-Ddzahabi menanggapinya :
فأبصر حفظك الله من الهوى كيف آل الغلو بهذا المحدث إلى وجوب الأخذ بأثر منكر واليوم فيردون الأحاديث الصريحة في العلو بل يحاول بعض الطغام أن يرد قوله تعالى الرحمن على العرش استوى
“ Maka sadarlah engkau –semoga Allah menjagamu dari hawa nafsu- bagaimana muhaddits ini begitu ghuluw (berlebihan) kepada wajibnya memegang atsar mungkar ini, hari ini mereka menolak hdits-hadits jelas tentang keluhuran Allah, bahkan sebgian pendurka merubah firman Allah Ta’aa : “ Sesungguhnya Allah ar-Rahman beristiwa di atas Arsy “.

Dalam kitab as-Sunnah karya al-Khallal sendiri menyebutkan :

وسمعت أبا داود يقول من أنكر هذا فهو عندنا متهم، وقال: ما زال الناس يحدثون بهذا يريدون مغايظة الجهمية وذلك أن الجهمية ينكرون أن على العرش شيء

“ Aku mendengar Abu Daud berkata : “ Barangsiapa yang mengingkari ini, maka dia bagi kami adalah patut dicurigai. Dan dia berkata : “ Para ulama senantiasa membawakan hadits ini, bertujuan untuk membuat murka kelompok jahmiyyah, kerana jahmiyyah, mengingkari bahwa di atas Arsy ada sesuatu “.

Al-Khallal juga mengatakan :

قرأت كتاب السنة بطرسوس مرات في المسجد الجامع وغيره سنين فلما كان في سنة اثنتين وتسعين قرأته في مسجد الجامع وقرأت فيه ذكر المقام المحمود فبلغني أن قوما ممن طرد إلى طرسوس من أصحاب الترمذي المبتدع أنكروه وردوا فضيلة رسول الله وأظهروا رده

“ Aku membaca kitab as-Sunnah di Thursus bebrapa kali di masjid Jami’ dan selainnya bertahun-tahun. Ketika tahun 92, aku membacanya di masjid Jami’ dan aku menyebutkan maqam mahmud. Lalu sampailah kabar padaku bahwa ada satu kaum yang diusir daro Thursus dari murid-murid at-Tirmidzi ahli bid’ah yang mengingkari keutamaan Rasulullah dan menampakkan penolakannya..”

Inilah yang dipahami dan dimaksud oleh para ulama atas pembelaan atsar Mujahid bukan sebagaimana dipahami kaum wahabi. Na’asnya mereka tidak jeli dan mungkin tidak paham ucapan para ulama tersebut.

Saudara Salman Ali mengatakan :

Secara langsung saya akan mengkritik dakwaan ustaz al-katibiy bahwa:

Ucapan ini dipopulerkan kembali oleh Ibnu Taimiyyah yang mengklaim (mengaku) telah diucapkan oleh para ulama yang diridhoi dan para wali yang diterima.

Ini adalah kritikan yang berpunca dari kegagalan membaca sumber-sumber ataupun sekadar melihat kepada penulisan ibn taimiyah dengan penuh kebencian. Ibn Taimiyah menulis banyak kitab sedangkan hadith ini hanya disebut sebanyak dua kali iaitu dalam majmu al-fatawa dan dar’u al-taarud. Bagaimana mungkin ini menjadi asas dakwaan ucapan ini dipopularkan oleh ibn taimiyah ,ini merupakan tuduhan tidak berasas. Sebagaimana ibn Taimiyah menyebutkan ucapan ini, begitu juga dengan ulama-ulama lain menyebutnya samada berrsetuju ataupun membantah.

Anataranya dikalangan mufassir dalam kitab mereka

1)al-Suyuti
2)Ibn Atiya’ al-Mharibi :
Dikalangan muhaddith 1)Ibn Hajar al-Asqalani

1)Ibn Hajar al-Asqalani
2)Badruddin al-Aini

Saya Jawab :

Saya berani mengatakan ucapan ini dipopulerkan kembali oleh Ibnu Taimiyyah adalah dari sudut pemahaman Ibnu Taimiyyah terhadap perkara ini yang menimbulkan akidah tajsimnya dia. Oleh sebab itulah ramai ulama Asy’ariyyah menyinggung persoalan ini pada Ibnu Taimiyyah, kerana mereka semua paham maksud Ibnu Taimiyyah mengangkat kembali persoalan ini, sebagaimana sebentar lagi saya akan buktikan fakta ucapan Ibnu Taimiyyah yang mengarahkan pada tajsim.

Adapun ulama sunnah yang menampilkan persoalan ini seprti disebutkan Salman Ali antaranya al-Suyuthi dan Ibnu Hajar, maka ketahuilah bahwa mereka sama sekali tidak memegang atsar Mujahid melainkan memegang pendapat jumhur ulama yang menafsirkan maqam mahmud dengan syafa’at udzhma. Mereka menukil atsar tersebut sama sekali bukan bertujuan menetapkan Allah duduk di atas Arsy, akan tetapi hanya ingin menetapkan keutamaan Nabi. Dan mereka menukil dengan memahami secara takwil yang sesuai keagungan Allah Ta’ala. Cuba perhatikan komentar Ibnu Hajar yang dinukil oleh Salman Ali :

قال الطبري وقال ليث عن مجاهد في قوله تعالى مقاما محمودا يجلسه معه على عرشه ثم أسنده وقال الأول أولى على أن الثاني ليس بمدفوع لا من جهة النقل ولا من جهة النظر وقال ابن عطية هو كذلك إذا حمل على ما يليق به وبالغ الواحدي في رد هذا القول وأما النقاش فنقل عن أبي داود صاحب السنن أنه قال من أنكر هذا فهو متهم وقد جاء عن ابن مسعود عند الثعلبي وعن ابن عباس عند أبي الشيخ وعن عبد الله بن سلام قال إن محمدا يوم القيامة على كرسي الرب بين يدي الرب أخرجه الطبري (قلت) فيحتمل أن تكون الإضافة إضافة تشريف وعلى ذلك يحمل ما جاء عن مجاهد وغيره
Diakhir nukilan beliau berkomentar :

(قلت) فيحتمل أن تكون الإضافة إضافة تشريف وعلى ذلك يحمل ما جاء عن مجاهد وغيره

“ Aku katakan (Ibnu Hajar) : “ Maka diihtimalkan (dimungkinkan maknanya) bahwa sandaran itu berupa sandaran kemuliaan. Atas dasar ini pula (diihtimalkan pula) apa yang datang riwayatnya dari Mujahid dan selainnya “.

Pemahaman ulama sunnah seperti Ibnu Hajar adalah mentakwil hadits-hadits semacam itu, bukan sebagaimana pemahaman kaum wahabi dan Ibnu Taimiyyah yang memahaminya secara dhahir. Dalam nukilan Ibnu Hajar pun disebutkan bahwa Ibnu ‘Athiyyah mentakwil hal ini, cuba perhatikan :

وقال ابن عطية هو كذلك إذا حمل على ما يليق به

“ Ibnu ‘Athiyyah berkata : “ Itu juga demikian, jika diihmalkan (dimungkinkan maknanya) terhadap makna yang layak bagi-Nya “.

Demikian pula as-Sayuthi yang bermazhabkan Asy’ari, bahkan beliau juga menampilkan kisah kronologi ath-Thabari yang menolak atsar Mujahid secara keras dan terang-terangan :

وفي بعض المجامع أن قاصا جلس ببغداد فروى في تفسير قوله تعالى { عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا } أنه يجلسه معه على عرشه فبلغ ذلك الإمام محمد بن جرير الطبري فاحتد من ذلك وبالغ في إنكاره وكتب على باب داره سبحان من ليس له أنيس ولا له في عرشه جليس فثارت عليه عوام بغداد ورجموا بيته بالحجارة حتى انسد بابه بالحجارة وعلت عليه
“ Di sebagian perkumpulan, sesungguhnya ada seorang pencerita duduk bermajlis di Baghdad, lalu ia membawakan riwayat tafsir ayat “ Semoga Tuhanmu membangkitkanmu dengan kedudukan yang terpuji “, sesungguhnya Allah akan mendudukkan Nabi bersamaNya di atas Arsy-Nya. Maka kabar ini sampai didengar oleh imam ath-Thabari sangat marah dari hal itu dan sangat mengingkarinya, maka beliau menulis di pintu rumahnya : “ Maha Suci Dzat yang tidak memiliki teman dekat (anis) dan tidak memiliki teman duduk di atas Arsy-Nya “. Maka kaum awam Baghdad terprofokasi dan melempari beliau dengan batu hingga pintu rumahnya penuh dengan batu yang menutupinya “.

A-lmam Abu al-Hasan al-Asy’ari -semoga Allah meridlainya- (260-330 H) berkata :
وَقَالَ اَهْلُ السُّنَّةِ وَاَصْحَابُ اْلحَدِبْثِ : لَيْسَ بِجِسْمٍ وَلاَيُشْبِهُ اْلاَشْيَاءَ
“ Ahlus sunnah dan ahli hadits mengatakan : “ Allah tidak memiliki jisim (anggota /organ tubuh) dan tidak menyerupai sesuatu “.
Sangat berbeda dengan Ibnu Taimiyyah yang mengatakan tidak boleh menetapkan jisim pada Allah juga tidak boleh mentiadakannya. Walaupun faktanya Ibnu Taimiyyah tetap menetapkan jisim bagi Allah sebagaimana akan kita jelaskan.


Salman Ali mengatakan :

Adapun nukilan mereka dari Ibnu Abdi Barr maka ia adalah salah satu kesimpulan yang cuba dinukilkan oleh beliau berdasarkan pemerhatian beliau, bukannya pandangan muktamad. Namun begitu antara perkara yang disembunyikan oleh ustaz al-katibiy, ibn taimiyah juga membawakan pandangan yang hampir sama dengan ibn Abdil Barr dengan tidak menganggap atsar Mujahid ini sebagai hujjah..

وذكر مَن رَواها فَفيها عَدة أَحاديث مَوضوعة كَحديث اَلرؤية عَيانا لَيلة اَلمعراج وَنحوه وَفيها اَشياء عَن بَعض اَلسلف رَواهاَ
بعض اَلناس مَرفوعة كَحديث قَعود اَلرسول صَلى اَلله عَليه وَسلم عَلى اَلعرش رَواه بَعض اَلناس مَن طَرق كَثيرة مَرفوعةَ
وهي كَلها مَوضوعة وَإنما اَلثابت أَنه عَن مَجاهد وَغيره مَن اَلسلف وَكان اَلسلف وَالأئمة يَروونه وَلا يَنكرونه وَيتلقونهَ
بالقبول وقد يَقال إَن مَثل هَذا لَا يَقال إَلا تَوقيفا لَكن لَا بَد مَن اَلفرق بَين مَا ثَبت مَن أَلفاظ اَلرسول وَما ثَبت مَن كَلام غَيره سَواء كَانَ من اَلمقبول أَو اَلمردود

Sungguh Qadhi Abu Ya’la telah mengarang sebuah kitab yang bernama Ibthal al Ta’wil sebagai bantahan terhadap Ibnu Fawraq, sekalipun dalam kitab tersebut ia memberikan sanad hadits-hadits yang dan menyebutkan rawinya, namun didalam kitab tersebut banyak sekali hadits-hadits maudhu. Misalnya hadits melihat Allah dengan mata telanjang di malam Mi’raj dan semisalnya. ada beberapa perkara dari sebagian Salaf yang diriwayatkan oleh sebagian orang secara marfu seperti hadits duduknya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam diatas Arsy, hadits tersebut diriwayatkan oleh sebagian orang dari banyak jalan yang marfu namun semuanya maudhu. Hadits yang tsabit hanya dari Mujahid dan selain beliau dari kalangan Salaf dan mereka serta para imam meriwayatkannya, tidak mengingkarinya dan sepakat menerimanya. Sesungguhnya contoh seperti ini tidak dikatakan melainkan tauqif, namun perlu dibezakan antara apa yang tsabit dengan lafadz-lafadz dari Rasulullah dengan yang valid dari perkataan orang lain dalam masalah penerimaan dan penolakan (Dar’u at-Ta’arudh, 3/19)
Ibnu Taimiyah sendiri dalam kitabnya menerima tafsiran maqam mahmud sebagai syafaat
Saya jawab :
Salman Ali mungkin hanya melihat ucapan-ucapan yang menerima atsar Mujahid tanpa mau mengkaji lebih dalam lagi terhadap ulama yang menolaknya.
Bukan hanya imam Ibnu Abdil Barr saja yang menolaknya akan tetapi Tidak sedikit ulama yang menolak atsar Mujahid dikarenakan status sanad dan matannya dhaif. Di antaranya Al-Wahidi menolak keras atsar Mujahid, ia mengatakan :

وهذا قول رذل موحش فظيع ، ونص الكتاب ينادي بفساد هذا التفسير

“ Ini adalah ucapan yang hina, menyalahi ketentuan bahasa dan buruk. Nash al-Quran menyeru dengan rusaknya penafsiran seperti ii “.

Al-Hafidz adz-Dzahabi juga menolak atsar tersebut dan mengatakan hadits itu mungkar, walaupun ia mengakui banyak ulama yang menerimanya.

Al-Fakhr ar-Razi dalam kitab Tafsirnya juga menolak atsar tersebut bahkan menjelaskan sudut-sudut kesalahannya yang begitu banyak. Asy-Syaukani dalam kitabnya Fath al-Qadir juga menolak atsar Mujahid, Ibnul Mu’allim al-Qurasyi juga menolak atsar Mujahid, Albani pun menolak keras atsar ini dan mendhaifkannya, ia berkata :

وتفسير بعضهم لقوله تعالى : عسى أنْ يَبْعَثَكَ رَبُكَ مَقَاماً مَحْموداً بإقعاده على العرش مع مخالفته لما في الصحيحين وغيرهما أنّ المقام المحمود الشفاعة العظمى ، فهو تفسير مقطوع غير مرفوع عن النبي ، ولو صح ذلك مرسلاً لم يكن فيه حجة ، فكيف وهو مقطوع موقوف على بعض التابعين ؟! ، وإنّ عجبي لا يكاد ينتهي من تحمس بعض المحدثين السالفين لهذا الحديث الواهي والأثر المنكر

“ Dan tafsir sebagian mereka atas ayat : “ Semoga Tuhanmu mengutusmu kepada kedudukan yang terpuji “, dengan penafsiran : “ Duduknya di atas Arsy padahal bertentangan dengan yang ada dalam dua kitab sahih dan selainnya bahwa maqam mahmud adalah syafa’at al-Udzma. Maka penafsiran itu (duduknya di atas Arsy) adalah penafsiran yang terputus, tidak marfu’ dari Nabi. Seandainya sahih secara mursal, maka tidak bisa dijadikan hujjah. Bagaimana tidak, sedangkan atsar itu terputus dan terhenti atas sebagian tabi’in saja. Aku sungguh heran tak habis-habis kepada sebagian ahli hadits terdaulu yang menerima hadits lemah ini dan atsar mungkar ini “.

Dan faktanya Ibnu Taimiyyah tidak sebagaimana sangkaan Salman Ali yang mengira Ibnu Taimiyyah jjuag sependapat dengan imam Ibnu Abdil Barr, padahal kenyataannya justru Ibnu Taimiyyah mensahihkan atsar Mujahid, cuba perhatikan lagi ucapanya :
وَإنما اَلثابت أَنه عَن مَجاهد وَغيره مَن اَلسلف وَكان اَلسلف وَالأئمة يَروونه وَلا يَنكرونه وَيتلقونهَ بالقبول
“ Hadits yang tsabit hanya dari Mujahid dan selain beliau dari kalangan Salaf dan mereka serta para imam meriwayatkannya, tidak mengingkarinya dan sepakat menerimanya.”

Ibnu Taimiyyah masih mengukuhkan (menguatkan) atsar Mujahid, sedangkan imam Ibnu Abdil Barr justru menyatakan atsar itu mungkar. Sangat berbeda jauh.

Atsar Mujahid dianggap mungkar sebab dalam sanad itu ada rawi yang bernama Laits. Oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya : 3/459 bahwa Laits adalah dhaif. Dalam kitab Nasbu ar-Rooyah : 2/234 disebutkan bahwa Laits dhaif menurut ahli hadits.

Jawaban Balik Atas Tanggapan Masalah Fitnah duduknya Allah di atas Arsy bag II



Ini Lanjutan Jawaban saya yang kedua :

Salman Ali mengatakan :

Jika at-Tabari sedang berbincang tentang kedudukan nabi di arasy, kenapa beliau membincangkan tentang keadaan Allah di arash?? Kenapa tidak saja dia bahaskan bagaimana nabi didudukkan Allah di Arash-NYa??? Perbahasan ini jelas menunjukkan bahawa berdasarkan mana-mana tafsiran sekalipun maka Allah mendudukan Muhammad diatas Arashnya bersama-Nya adalah tidak mustahil samada bagi yang menganggap Allah tidak bersentuhan dengan makhluk-Nya , Allah tidak bersentuhan serta tidak pula terpisah dari makhluk-Nya ataupun Allah bersentuhan dengan mahkluknya. Kesemua perbahasan ini dapat dielakkan jika ustaz al-katibiy besifat amanah dalam menaqalkan maklumat serta membaca keseluruhan ucapan al-Tabari. Diperenggan seterusnya, al-Tabari membantah secara langsung orang yang menganggap Allah mendudukkan Muhammad diatas Arash tetapi tidak bersama-Nya. Malangnya bahagian yang sangat penting dalam perbahasan ini didiamkan oleh ustaz al-katibiy. Dan persoalan yang lebih penting, bagaimana Ustaz al-katibiy boleh mengatasnamakan imam al-Tabari satu tafsiran yang dibantah oleh Imam al-Tabari sendiri. Ini sesuatu yang ajaib , apatahlagi ustaz al-katibiy menyebutkan juga Ibnu Taimiyyah dengan mengatasnamakan imam ath-Thabari mengatakan bahwa nabi Muhammad akan Allah dudukkan bersama-Nya di atas Arsy. Ustaz al-katibiy dan sesiapa sahaja boleh membaca perenggan berikutnya dalam tafsir al-Tabari lalu sila beritahu siapa sebenarnya yang mengatasnamakan imam al-tabari , samada ibn taimiyah ataupun beliau sendiri..

Ibnu Taimiyyah dengan mengatasnamakan imam ath-Thabari mengatakan bahwa nabi Muhammad akan Allah dudukkan bersama-Nya di atas Arsy

فإن قال قائل : فإنا لا ننكر إقعاد الله محمدا على عرشه ، وإنما ننكر إقعاده .

حدثني عباس بن عبد العظيم ، قال : ثنا يحيى بن كثير ، عن الجريري ، عن سيف السدوسي ، عن عبد الله بن سلام ، قال : إن محمدا صلى الله عليه وسلم يوم القيامة على كرسي الرب بين يدي الرب تبارك وتعالى ، وإنما ينكر إقعاده إياه معه ، قيل : أفجائز عندك أن يقعده عليه لا معه . فإن أجاز ذلك صار إلى الإقرار بأنه إما معه ، أو إلى أنه يقعده ، والله للعرش مباين ، أو لا مماس ولا مباين ، وبأي ذلك قال كان منه دخولا في بعض ما كان ينكره وإن قال : ذلك [ ص: 533 ] غير جائز ؛ كان منه خروجا من قول جميع الفرق التي حكينا قولهم ، وذلك فراق لقول جميع من ينتحل الإسلام ، إذ كان لا قول في ذلك إلا الأقوال الثلاثة التي حكيناها ، وغير محال في قول منها ما قال مجاهد في ذلك .

Jika ada orang yang menyatakan: Kami tidak mengingkari Allah mendudukkan Muhammad diatas arash-Nya tetapi yang kami mungkiri adalah duduknya Allah. Daripada Abbas bin Abdul Azim, dari Yahya bin Katsir , dari al-Jaziri dari saif al-Sadusi dari Abdullah bin Salam berkata: Sesungguhnya Muhammad S.A.W pada hari kiamat diatas kursi Tuhan dihadapannya Tuhan maha suci lagi maha tinggi. Sedangkan yang diingkari adalah mendudukkan Muhammad disi-Nya.

Maka dikatakan:(Sila bagi perhatian kepada jawapan al-tabari sejak lebih 1000 tahun dahulu terhadap cubaan ustaz al-katibiy mengatasnamakan al-Tabari) Apakah diharuskan disisi kamu Allah mendudukkannya diatas (Arash) bukannya disis-Nya. Jika itu diharuskan maka terjadikah pengakuan samada Allah mendudukkannya disisi-Nya ataupun kepada Allah mendudukkannya(semata). Allah terpisah dari Arash ataupun tidak bersentuhan , tidak pula terpisah. Andaikata kamu mengikut mana-mana tafsiran maka terjadi kemasukan kepada sesuatu yang asalnya dinafikan. Jika dia katakan (Allah mendudukkan Muhammad diatas Arash bukan bersama-Nya) tidak harus berlaku , maka itu adalah terkeluar dari pandangan kesemua kumpulan. Dan itu adalah percanggahan dengan perkataan kesemua kumpulan yang menganut Islam. Apabila tiada pandangan selain dari ketiga-tiga pandangan yang telah kami sebutkan dan ucapan Mujahid ini tidaklah mustahil berdasarkan mana-mana tafsiran.

Saya jawab :

Salman Ali begitu semangat dan merasa yakin, ucapan akhir ath-Thabari adalah bantahan saya sejak dahulu kala dari imam ath-Thabari. Sebelum memahami ucapan ath-Thabari yang akhir ini, maka ada baiknya anda memahami penjelasan beliau sebelumnya tentang pandangan-pandangan yang mengakui terjadinya duduknya Nabi di atas Arsy.

Ath-Thabari berkata :

فأما من جهة النظر ، فإن جميع من ينتحل الإسلام إنما اختلفوا في معنى ذلك على أوجه ثلاثة : فقالت فرقة منهم : الله عز وجل بائن من خلقه كان قبل خلقه الأشياء ، ثم خلق الأشياء فلم يماسها ، وهو كما لم يزل ، غير أن الأشياء التي خلقها ، إذ لم يكن هو لها مماسا ، وجب أن يكون لها مباينا ، إذ لا فعال للأشياء إلا وهو مماس للأجسام أو مباين لها . قالوا : فإذا كان ذلك كذلك ، وكان الله عز وجل فاعل الأشياء ، ولم يجز في قولهم : إنه يوصف بأنه مماس للأشياء ، وجب بزعمهم أنه لها مباين ، فعلى مذهب هؤلاء سواء أقعد محمدا صلى الله عليه وسلم على عرشه ، أو على الأرض إذ كان من قولهم إن بينونته من عرشه ، وبينونته من أرضه بمعنى واحد في أنه بائن منهما كليهما ، غير مماس لواحد منهما

“ Adapaun dari sisi pandangan / pendapat, maka semua yang mengaku Islam sesungguhnya hanya berbeda pendapat di dalam maknanya itu atas tiga pendapat : kelompok pertama mengatakan Allah baain dari mahkluk-Nya dan ada sebelum mencipta segala sesuatu, kemudian menciptakan segala sesuatu dan tidak menyentuhnya. Allah ada sebagaimana waktu azali, kecuali jika segala sesuatu yang Dia ciptakan tidak disentuhnya, maka keharusan adanya Allah bain darinya, karena tidak ada pencipta sesuatu kecuali dia menyentuh jisim atau terpisah darinya. Mereka berkata : “ Jika seperti itu, dan Allah Dzat yang mencipta segala sesuatu dan Allah tidak boleh disifati dengan menyentuh pada sesuatu, maka sebuah keharusan Allah terpisah darinya. Maka atas dasar madzhab mereka ini, baik Allah mendudukkan Nabi Muhammad di atas Arsy-Nya atau di bumi, karena dari ucapan mereka bahwa terpisahnya Allah dari Arsy-Nya dan terpisah-Nya dari bumi bermakna satu bahwa Dia terpisah dari keduanya , tidak menyentu salah satunya “. [1]

Kelompok pertama ini, tidak memustahilkan duduknya nabi di atas Arsy. Ath-Thabari menampilkan pendapat pertama yang memiliki keyakinan bahwa Allah juga memiliki had dan bainunah, akan tetapi kelompok ini terlepas dari lawazim jismiyyah (sifat-sifat lazim jasad). Keyakinan ini, sama persis dengan keyakinan Abul Ya’la dan az-Zaghuni. Bahkan Abul Ya’la mentakwil duduknya Allah di atas Arsy.

يقعد نبيه على عرشه بمعنى يدنيه من ذاته ويقربه منها

“ Mendudukan Nabi di atas Arsynya bermakna mendekatkan Nabi dari Dzat-Nya “.

Atas Dasar pemahaman kelompok pertama ini yang menetapkan adanya had dan bainunah bagi Allah akan tetapi mensucikan llah dari lawazim jismiyyah, maka duduknya Nabi di atas Arsy tidaklah mustahil.

Ath-Thbari melanjutkan :

وقالت فرقة أخرى : كان الله تعالى ذكره قبل خلقه الأشياء ، لا شيء يماسه ، ولا شيء يباينه ، ثم خلق الأشياء فأقامها بقدرته ، وهو كما لم يزل قبل خلقه الأشياء لا شيء يماسه ولا شيء يباينه ، فعلى قول هؤلاء أيضا سواء أقعد محمدا صلى الله عليه وسلم على عرشه ، أو على أرضه ، إذ كان سواء على قولهم عرشه وأرضه في أنه لا مماس ولا مباين لهذا ، كما أنه لا مماس ولا مباين لهذه .

“ Kelompok kedua berpendapat : “ Allah telah menyebutkan bahwa Allah sebelum mencipta sesuatu, tidak ada sesuatu yang menyentuh-Nya dan juga tidak ada sesuatu yang berpisah dari-Nya. Kemudian Allah mencipta segala sesuatu dan menegakkannya dengan qudrah-Nya. Dan Allah ada sebagaimana waktu azali. Maka atas adasar madzhab mereka ini juga, baik Allah mendudukkan Nabi Muhammad di atas Arsy-Nya atau di bumi. Karena bagi mereka Arsy dan bumi tidak menyentuh Allah dan juga tidak berpisah dari-Nya, sebagaimana Dia tidak menyentuh dan tidak berpisah dari ini semua “.[2]

Atas dasar pemahaman kelompok kedua ini yang juga pemahaman yang selama ini dipegang oleh Ahlus sunnah dari kalangan Asy’ariyyah bahwa Allah tidak bain dan tidak mumaasin (bersentuhan), tetap tidak memustahilkan terjadinya duduknya Nabi di atas Arsy. Dan Dzat Allah tetap sebagaimana sedia kala.

Ath-Thabari melanjutkan :

وقالت فرقة أخرى : كان الله عز ذكره قبل خلقه الأشياء لا شيء ولا شيء يماسه ، ولا شيء يباينه ، ثم أحدث الأشياء وخلقها ، فخلق لنفسه عرشا استوى عليه جالسا ، وصار له مماسا ، كما أنه قد كان قبل خلقه الأشياء لا شيء يرزقه رزقا ، ولا شيء يحرمه ذلك ، ثم خلق الأشياء فرزق هذا وحرم هذا ، وأعطى هذا ، ومنع هذا ، قالوا : فكذلك كان قبل خلقه الأشياء يماسه ولا يباينه ، وخلق الأشياء فماس العرش بجلوسه عليه دون سائر خلقه ، فهو مماس ما شاء من خلقه ، ومباين ما شاء منه ، فعلى مذهب هؤلاء أيضا سواء أقعد محمدا على عرشه ، أو أقعده على منبر من نور ، إذ كان من قولهم : إن جلوس الرب على عرشه ، ليس بجلوس يشغل جميع العرش ، ولا في إقعاد محمد صلى الله عليه وسلم موجبا له صفة الربوبية ، ولا مخرجه من صفة العبودية لربه ، كما أن مباينة محمد صلى الله عليه وسلم ما كان مباينا له من الأشياء غير موجبة له صفة الربوبية ، ولا مخرجته من صفة العبودية لربه من أجل أنه موصوف بأنه له مباين ، كما أن الله عز وجل موصوف على قول قائل هذه المقالة بأنه مباين لها ، هو مباين له . قالوا : فإذا كان معنى مباين ومباين لا يوجب لمحمد صلى الله عليه وسلم الخروج من صفة العبودة والدخول في معنى الربوبية ، فكذلك لا يوجب له ذلك قعوده على عرش الرحمن ، فقد تبين إذا بما قلنا أنه غير محال في قول أحد ممن ينتحل الإسلام ما قاله مجاهد من أن الله تبارك وتعالى يقعد محمدا على عرشه

“ kelompok ketiga : “ Mengatakan bahwa Allah ketika belum mencipta sesuatu, tidak ada sesuatu yang menyentuh atau bain dari-Nya, kemudian Allah mencipta sesuatu dan mencipta Arsy untuk diri-Nya yang Allah beritsiwa duduk di atas-Nya dan menjadikan Allah menyentuhnya. Sebagaimana ketika Allah belum mencipta, maka tidak ada sesuatu yang ia beri rezeki atau mengharamkannya, kemudian mencipta sesuatu, maka Allah memberikan rezeki kepada ini dan mengharamkan kepada ini. Mereka berkata : “ Allah sebelum mencipta sesuatu tidak ada yang menyentuhnya atau pun bain darinya, lalu mencipta sesuatu maka Allah Bersentuhan dengan Arsy dengan duduk-Nya tanpa makhluk lainnya. Dia Allah bersentuhan dengan sesuatu yang Allah kehendaki dan bain dari sesuatu yang Allah kehendaki “. Maka atas dasar madzhab mereka, baik Allah mendudukkan Nabi Muhammad di atas Arsy atu pun di atas mimbar dari cahaya, karena pendapat mereka adalah sesungguhnya duduknya Allah di atas Arsy bukan duduk yang menempati semua Arsy-Nya, dan bukan berarti dengan mendudukkannya Nabi Muhammad menjadikan Nabi Muhammad memiliki sifat rububiyyah, dan tidak mengeluarkannya dari sifat ubudiyyah, sebagaimana pisahnya Nabi Muhammad mengharuskkan memiliki sifat rububiyyah dan mengeluarkannya dari sifat ubudiyyah karena dia disifati dengan bainunah (terpisah/butuh makhluk). Sebagaimana atas dasar pendapat mereka ini bahwa Allah disifati dengan bainunah darinya maka Allah juga bainunah darinya. Jika makna bainunah seperti itu dan bainunah tidak menjadikan bagi Muhammad keluar dari sifat ubudiyyah dan masuk pada sifat rububiyyah, demikian juga tidak menjadikannya duduk di atas Arsy Allah”. Maka menjadi jelas dari apa yang kami katakan bahwasanya tidak mustahil ucapan orang yang mengaku Islam dari apa yang diucapkan Mujahid berupa ucapan bahwa Allah mendudukkan nabi Muhammad di atas Arsy-Nya. “ [3]

Berdasarkan pemahaman kelompok ketiga ini yang memiliki keyakinan bahwa Allah bersentuhan dengan Arsy, juga tidak memustahilkan perkara duduknya Nabi di atas Arsy. Maka ath-Thabari menyimpulkan bahwa dari ketiga kelompok Islam yang memiliki pemahaman berbeda-beda, tetap tidak memustahilkan perkara duduknya Nabi di atas Arsy, ini dari sudut pandangan masing-masing (nadzhar).

Pembahasan dilanjutkan oleh imam ath-Thabari yang menolak duduknya Allah bersma Nabi di atas Arsy. Beliau mengatakan :

فإن قال قائل : فإنا لا ننكر إقعاد الله محمدا على عرشه ، وإنما ننكر إقعاده .

حدثني عباس بن عبد العظيم ، قال : ثنا يحيى بن كثير ، عن الجريري ، عن سيف السدوسي ، عن عبد الله بن سلام ، قال : إن محمدا صلى الله عليه وسلم يوم القيامة على كرسي الرب بين يدي الرب تبارك وتعالى ، وإنما ينكر إقعاده إياه معه ، قيل : أفجائز عندك أن يقعده عليه لا معه . فإن أجاز ذلك صار إلى الإقرار بأنه إما معه ، أو إلى أنه يقعده ، والله للعرش مباين ، أو لا مماس ولا مباين ، وبأي ذلك قال كان منه دخولا في بعض ما كان ينكره وإن قال : ذلك غير جائز ؛ كان منه خروجا من قول جميع الفرق التي حكينا قولهم ، وذلك فراق لقول جميع من ينتحل الإسلام ، إذ كان لا قول في ذلك إلا الأقوال الثلاثة التي حكيناها ، وغير محال في قول منها ما قال مجاهد في ذلك .

“ Jika ada orang yang menyatakan: Kami tidak mengingkari Allah mendudukkan Muhammad diatas arash-Nya tetapi yang kami mungkiri adalah duduknya Allah.

Telah menceritkan padaku Abbas bin Abdul Azim, dari Yahya bin Katsir , dari al-Jariri dari saif al-Sadusi dari Abdullah bin Salam berkata: Sesungguhnya Muhammad S.A.W pada hari kiamat diatas kursi Tuhan dihadapannya Tuhan maha suci lagi maha tinggi. Sedangkan yang diingkari adalah mendudukkan Muhammad disi-Nya. Maka dikatakan : Apakah dibolehkan disisi kamu Allah mendudukkannya diatas (Arash) bukannya disis-Nya. Jika itu dibolehkan maka terjadikah pengakuan samada Allah mendudukkannya disisi-Nya ataupun kepada Allah mendudukkannya (semata). Allah terpisah dari Arash ataupun tidak bersentuhan , tidak pula terpisah. Andaikata kamu mengikut mana-mana tafsiran maka terjadi kemasukan kepada sesuatu yang asalnya dinafikan. Jika dia katakan (Allah mendudukkan Muhammad diatas Arash bukan bersama-Nya) tidak harus berlaku , maka itu adalah terkeluar dari pandangan kesemua kumpulan. Dan itu adalah percanggahan dengan perkataan kesemua kumpulan yang menganut Islam. Apabila tiada pandangan selain dari ketiga-tiga pandangan yang telah kami sebutkan dan ucapan Mujahid ini tidaklah mustahil berdasarkan mana-mana tafsiran.”

Ath-Tthabari memerinci pendapat orang yang mengatakan Allah tidak duduk bersama Nabi. Jika dikatakan Allah duduk bersama nabi, maka ath-Thabari memaknainya bahwa Allah mubayin dan tidak bersentuhan dengan Arsy. Pemahaman seperti ini sangat sesuai dengan pemahaman kelompok Asy’ariyyah yang meyakini bahwa Allah tidak bersentuhan dengan Arsy sebagaimana Al-Imam Abu Ishaq asy-Syairazi (w 476 H) mengatakan :

وَاِنَّ اِسْتِوَاءَهُ لَيْسَ بِاسْتِقْرَارٍ وَلاَ مُلاَصَقَةٍ لِأَنَّ اْلاِسْتِقْرَارَ وَاْلمُلاَصَقَةَ صِفَةُ اْلأَجْسَامِ اْلمَخْلُوْقَةِ، وَالرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ قَدِيْمٌ أَزَلِيٌّ، فَدَلَّ عَلىَ أَنَّهُ كَانَ وَلاَ مَكاَنَ ثُمَّ خَلَقَ اْلمَكاَنَ وَهُوَ عَلىَ مَا عَلَيْهِ كَانَ

“ Dan sesungguhnya istiwa Allah tidaklah dengan istiqrar (bersemayam / menetap) dan mulasaqah (menempel), karena istiqrar dan mulasaqah adalah sifat jisim makhluk sedangkan Allah Ta’aala Maha Dahulu lagi Maha Azali. Maka hal ini menunjukkan bahwa Allah itu ada tanpa tempat kemudian menciptakan tempat dan Allah masih tetap seperti semula, ada tanpa tempat “.[4]

Syaikh al-‘Arif billah Sayyid Ahmad ar-Rifa’i asy-Syafi’i (w 578 H) berkata :

وَأَنَّهُ مُسْتَوٍ عَلىَ اْلعَرْشِ عَلىَ اْلوَجْهِ الَّذِي قَالَهُ وَبِالْمَعْنىَ الَّذِي أَرَادَهُ، اِسْتِوَاءً مُنَزَّهًا عَنِ اْلمُمَاسَةِ وَاْلاِسْتِقْرَارِ وَالتَّمَكُّنِ وَالتَّحّوُّلِ وَاْلاِنْتِقَالِ، لاَ يَحْمِلُهُ اْلعَرْشُ، بَلِ اْلعَرْشُ وَحَمَلَتُهُ مَحْمُوْلُوْنَ بِلُطْفِ قُدْرَتِهِ، وَمَقْهُوْرُوْنَ فيِ قَبْضَتِهِ، وَهُوَ فَوْقَ اْلعَرْشِ، وَفَوْقَ كُلِّ شَىْءٍ إِلىَ تُخُوْمِ الثَّرَى، فَوْقِيَّةٌ لاَ تَزِيْدُهُ قُرْبًا إِلىَ اْلعَرْشِ وَالسَّمَاءِ بَلْ هُوَ رَفِيْعُ الدَّرَجَاتِ عَنِ اْلعَرْشِ كَمَا أَنَّهُ رَفِيْعُ الدَّرَجَاتِ عَنِ الثَّرَى

“ Dan sesungguhnya Allah beristiwa di atas Arsy dengan cara yang Allah firmankan dan dengan makna yang Allah kehendaki, beristiwa dengan istiwa yang suci dari persentuhan, persemayaman, pertempatan, perubahan dan perpindahan. Tidak dibawa oleh Arsy akan tetapi Arsy dan para malaikat pembawanya dibawa oleh kelembutan qudrah-Nya, tergenggam dalam gengaman-Nya. Dia di atas Arsy dan di atas segala sesuatu hingga ujung angkasa dengan sifat atas yang tidak menambahinya dekat kepada Arsy dan langit, akan tetapi Dia Maha tinggi derajat-Nya dari Arsy sebagaimana Dia Maha tinggi derajat-Nya dari angkasa “.[5]

Hal ini sangat berbeda jauh dengan keyakinan Ibnu Taimiyyah dan kaum wahabi-salafi yang meyakini Allah bersemayam dan duduk di atas Arsy-Nya. Sebgaimana Ibnu utsaimin katakan :

“ Ahlus sunnah wal-Jama’ah mengimani bahwa Allah beristiwa di atas Arsy dengan istiwa yang layak dengan keagungan Allah dan tidak menyerupai istiwa makhluk-Nya. Jika kamu bertanya : Apa makna istiwa bagi Ahlus sunnah ? Maka maknanya adalah ketinggian dan bersemayam “.[6]

Abdul Aziz ar-Rajihi dengan kata pengantar syaikh Shaleh ibnu al-Fauzan berkata :

“ Istiwa tidak ada lain hanyalah bermakna duduk. Ini adalah pendapat yang sahih; tidak ada debu sedikitpun “[7]

Kemudian ath-Thabari menjawab orang yang menolak duduknya Nabi bersama Allah, ia mengatakan bahwa penolakan itu keluar dari ketiga kelompok Islam yang telah beliau sebutkan sebelumnya. Sedangkan asy’ariyyah sama sekali tidak mengingkari duduknya Nabi di atas Arsy, akan tetapi mengingkari duduknya Allah bersama nabi di atas Arsy dengan duduk yang bersentuhan dengan Arsy kerana hal ini merupakan sifat lazim makhluk-Nya yang disucikan dari sifat Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Salman Ali mungkin akan kaget dan heran jika mendengar kisah awal mula imam ath-Thabari mendapat cobaan dari ulama hanabilah hingga beliau dilempari batu, kerana menolak duduknya Nabi bersma Allah di atas Arsy, padahal kisah ini sangatlah masyhur dan diceritakan oleh beberapa ulama dalam kitab-kitabnya.

وفي بعض المجامع أن قاصا جلس ببغداد فروى في تفسير قوله تعالى { عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا } أنه يجلسه معه على عرشه فبلغ ذلك الإمام محمد بن جرير الطبري فاحتد من ذلك وبالغ في إنكاره وكتب على باب داره سبحان من ليس له أنيس ولا له في عرشه جليس فثارت عليه عوام بغداد ورجموا بيته بالحجارة حتى انسد بابه بالحجارة وعلت عليه

“ Di sebagian perkumpulan, sesungguhnya ada seorang pencerita duduk bermajlis di Baghdad, lalu ia membawakan riwayat tafsir ayat “ Semoga Tuhanmu membangkitkanmu dengan kedudukan yang terpuji “, sesungguhnya Allah akan mendudukkan Nabi bersamaNya di atas Arsy-Nya. Maka kabar ini sampai didengar oleh imam ath-Thabari sangat marah dari hal itu dan sangat mengingkarinya, maka beliau menulis di pintu rumahnya : “ Maha Suci Dzat yang tidak memiliki teman dekat (anis) dan tidak memiliki teman duduk di atas Arsy-Nya “. Maka kaum awam Baghdad terprofokasi dan melempari beliau dengan batu hingga pintu rumahnya penuh dengan batu yang menutupinya “.[8]

Imam Suyuthi pun membawakan kisah yang sama ini dalam kitabnya :

“ Di sebagian perkumpulan, sesungguhnya ada seorang pencerita duduk bermajlis di Baghdad, lalu ia membawakan riwayat tafsir ayat “ Semoga Tuhanmu membangkitkanmu dengan kedudukan yang terpuji “, sesungguhnya Allah akan mendudukkan Nabi bersamaNya di atas Arsy-Nya. Maka kabar ini sampai didengar oleh imam ath-Thabari sangat marah dari hal itu dan sangat mengingkarinya, maka beliau menulis di pintu rumahnya : “ Maha Suci Dzat yang tidak memiliki teman dekat (anis) dan tidak memiliki teman duduk di atas Arsy-Nya “. Maka kaum awam Baghdad terprofokasi dan melempari beliau dengan batu hingga pintu rumahnya penuh dengan batu yang menutupinya “.[9]

Yaqut al-Hamawi juga menyebutkan kisah ini dalam kitabnya :

أن الإمام الطبري قال: وأما حديث الجلوس على العرش فمحال، ثم أنشد: سبحان من ليس له أنيس, ولا له في عرشه جليس

“ Sesungguhnya imam ath-Thabari berkata : “ Adapun hadits julus (duduk) di atas Arsy, maka itu adalah mustahil, kemudian beliau menyennadungkan syair : “ Maha Suci Dzat yang tidak memiliki teman dekat dan tidak memiliki teman duduk di atas Arsy-Nya “.[10]

Al-Hafidz Ibnu Katsir pun menceritakan kronologi yang mirip sebagai berikut :

وقعت فتنة ببغداد بين أصحاب أبي بكر المروذي الحنبلي، وبين طائفة من العامة اختلفوا في تفسير قوله تعالى [عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا] فقالت الحنابلة: يجلسه معه على العرش. وقال الآخرون: المراد بذلك الشفاعة العظمى. فاقتتلوا بسبب ذلك وقتل بينهم قتلى، فإنا لله وإنا إليه راجعون. وقد ثبت في صحيح البخاري أن المراد بذلك: مقام الشفاعة العظمى، وهي الشفاعة في فصل القضاء بين العباد، وهو المقام الذي يرغب إليه فيه الخلق كلهم، حتى إبراهيم، ويغبطه به الأولون والآخرون

“ Telah terjadi suatu fitnah di Baghdad antara ashab (pengikut) Abu Bakar al-Marwadzi al-Hanbali dan kelompok umum, yang berbeda pendapat tentang tafsir ayat : “ Semoga Tuhanmu mengutusmu kepada kedudukan yang terpuji “, ulama Hanabilah menafsirkannya bahwa Allah kelak akan mendudukkannya bersama-Nya di atas Arsy. Kelompok yang lain mengatakan : Yyang dimaksud dengan itu adalah syafa’at udzma. Maka mereka saling menyerang dengan sebab itu, dan terjadilah peperangan yang menewaskan beberapa orang, inaa lillahi wa inaa ilaihi raaji’uun. Sungguh telah tetap di dalam sahih al-Bukhari bahwa yang dimaksud demikian adalah syafa’at udzma, yaitu syafa’at di dalam penentuan qadha di antara hamba-Nya. Itu lah maqam yang diinginkan oleh semua makhluk hingga nabi Ibrahim dan juga diinginkan oleh smeua makhluk terdahulu dan sekarang “.[11]

Bagaimana tanggapan wahabi atas fakta ini ??

____________________________________________________

[1] Tafsir ath-Thabari juz 15 halaman 100 atau jilid ke tujuh halaman 5240 cetakan Dar as-Salam.

[2] Idem

[3] Tafsir ath-Thabari juz 15 halaman 102 atau jilid ke tujuh halaman 5242 cetakan Dar as-Salam.

[4] Lihat Aqidah asy-Syairazi dalam muqaddimah Syarh Luma’nya : 1/101

[5] Al-Burhan al-Muayyad : 43

[6] Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah, Ibnu Utsaimin : 375

[7] Qudum Kataibul Jihad, Abdul Aziz ar-Rajihi : 101

[8] Al-Asrar al-Marfuu’ah fil Akbaar al-Maudhu’ah : 1/61

[9] Tahdzir al-Khawwash min Ahaadits al-Qashshash : 1/161

[10] Mu’jam al-Udabaa : 6/2450

[11] Tarikh Ibnu Katsir : 15/45

Jawaban Balik Atas Tanggapan Masalah Allah Duduk di Atas Arsy Bag I

Tadi saya sempatkan membaca artikel tanggapan balik dari saudara Salman Ali yang merespon atas artikel saya yang pertama tentang masalah fitnah duduknya Allah di atas Arsy. Mohon maaf jika saya terlambat membalas jawaban baliknya, dikeranakan saya sibuk kerja di luar, dan ini pun saya sempatkan waktu sejenak untuk menulis bantahan.
Kesimpulan isi artikel bantahan dari saudara Salman Ali adalah bahwa saya :

1. salah fatal dalam menterjemahkan redaksi dari  tafsir ath-Thabari
2. Konteks yang salah dan kegagalan memahami teks at-tabari
3. Kegagalan memahami ikhtisar
4. Kurang melihat kepada kalam ulama lain
5. Salah faham atas manhaj ibnu taimiyah
6. Tidak menterjemahkan bahagian yang penting

Baiklah saya akan menjawabnya secara tuntas dr semua hujjah saudara salman ali pada saya :

Komentar saudara salman ali yang mengatakan saya salah fatal dal menterjemahkan teks ath-thabari, maka saya jawab : Bukan salah fatal, akan tetapi sengaja saya ringkas untuk mempercepat tulisan, sehingga tulisannya tidak lengkap, namun maknanya tidak merubah subtansinya sama sekali. 

Saudara Salman Ali mengatakan :
Sekali lagi Ustaz al-katibiy melakukan kesalahan yang serupa dalam menterjemah perkataan al-Tabari ini. Beliau menyebutkan :

“ Dan pendapat ini (maqam Mahmud bermakna syafa’at) adalah pendapat yang sahih, dalam menafsirkan ayat “ Semoga Allah membangkitkanmu dan memberikanmu maqam yang terpuji “ dari riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in, maka apa yang dikatakan oleh Mujahid bahwa Allah mendudukkan Muhamamd Shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, asalah ucapan yang tidak boleh ditolak kesahihannya, tidak dari segi khobar maupun pendapat “.

Sedangkan terjemahan yang sepatutnya adalah:

“ Dan pendapat ini (maqam Mahmud bermakna syafa’at) sekalipun ia adalah pendapat yang sahih, dalam menafsirkan ayat “ Semoga Allah membangkitkanmu dan memberikanmu maqam yang terpuji “ dari riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in,Maka sesungguhnya maka apa yang dikatakan oleh Mujahid bahwa Allah mendudukkan Muhamamd Shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, adalah ucapan yang tidak boleh ditolak kesahihannya, tidak dari segi khobar maupun pendapat “.

Saya jawab :

Tak ada yang salah dari makna terjemahan saya, hanya saja saya tidak menterjemahkannya secara lengkap dan sempurna sebagaimana terjemahan salman Ali.

Sekarang terlebih dahulu saya tampilkan makna dari ucapan ath-Thabari di atas, seupaya kita bisa memandang maksud terjemahannya, makna dari redaksi di atas adalah :

“ Sekalipun takwil maqam mahmud dengan syafa’at adalah pendapat yang sahih, akan tetapi apa yang dikatakan oleh Mujahid yaitu bahwa Allah mendudukkan Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, adalah pendapat yang tidak boleh ditolak kesahihannya, tidak dari segi khobar maupun pendapat “.

Sekarang bandingkan dengan terjemahan saya di atas dan terjemahan salman ali...adakah terjemahan saya menyimpangkan dari makna yang sesungguhnya?? Tidak sama sekali, walaupun saya tidak menterjemahkannya secara lengkap (hanya global saja), namun sama sekali tidak menghilangkan subtansinya. Saya rasa, anak ibtida pun paham maksudnya.

Saudara Salman Ali mengatakan :

Maka perkataan al-Tabari tersebut sebenarnya beerti: Meskipun tafsiran yang benar adalah maqam mahmud beerti syafaat, namun ia tidaklah menolak tafsiran yang yang menyatakan maksudnya adalah Allah mendudukkan Muhammad diatas Arash-Nya kerana ini merupakan tafsiran tidak dibantah oleh khabar mahupun pendapat.

قول غَير مَدفوع صَحته، لَا مَن جَهة خَبر وَلا نَظر

Perkataan yang tidak tertolak kesahihannya samada disudut khabar (sanad dan matan) mahupun pandangan manusia.

Ayat ini tidaklah digunakan melainkan untuk menyebutkan tentang sesuatu yang sahih sanad dan matannya. Bukankah ini jelas menggambarkan pendirian al-Tabari yang tidak mendaifkan khabar dari Mujahid ini bahkan mensahihkannya melainkan bagi orang yang menghadapi masalah delusi sedangkan dia melihat pena lalu disangkanya pistol.

Saya jawab :

Pertama : Ucapan mujahid yang mengatakan Allah mendudukkan nabi Muhammad di atas Arsy-Nya, memang tidak ada satupun ulama yang menolaknya. Sebab berkaitan dengan fadhl Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam dan juga tidak adanya nash yang memustahilkan terjadinya duduknya Nabi di atas Arsy. As’ariyyapun memahami hal ini, bahkan yang lebih dari ini sekalipun. Akan tetapi tidak berani menetapkannya, sebab tidak ada satu pun hadits sahih yang menyatakan hal itu (duduknya Nabi di atas Arsy).

Kedua : Ath-Thabari memang tidak mendhaifkan ucapan Mujahid, akan tetapi ia tidak mengambil ucapan itu melainkan lebih memilih ucapan jumhur ulama yang mentakwil dengan syafa’at.

Rupanya saudara Salman Ali tidak memahami metode tafsir imam ath-Thabari. Imam ath-Thabari di dalam menafsirkan suatu nash al-Quran, jika ada perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli takwil, maka beliau menyebutkannya secara global kemudian menyebutkan redaksi-redaksi ulama yang berbeda tersebut secara terperinci, atau terkadang sebaliknya. Kemudian jika sudah selesai menyebutkan ucapan-ucapan mereka, maka baru imam ath-Thabari mentarjih ucapan yang dianggapnya benar. Paling sering beliau mengucapkan :

والقول الذي هو عندي أولى بالصواب
“ Dan ucapan / pendapat yang menurutku lebih utama kebenarannya..”

Demikian juga dallam masalah tafsir maqam mahmud, setelah beliau menyebutkan beberapa pendapat, beliau memilih pendapat yang paling sahih atau paling utama untuk disahihkan atau dibenarkan. Yaitu pendapat yang mentakwil dengan syafa’at. Inilah yang beliau pegang.

Saudara Salman Ali mengatakan :

2. at-Tabari merujuk kepada riwayat Mujahid yang sama Seperti sebelumnya, at-Tabari mengunggulkan pandangan mengatakan maqam mahmud sebagai syafaat. Namun, dia juga mengakui riwayat yang menyatakan Allah mendudukkan nabi di arasy-Nya tidak ditolak kesahihannya.
 وهذا وَإن كَان هَو اَلصحيح مَن اَلقول فَي تَأويل قَوله عَسَى أَ آ ن يبعَثَكَ رَب كَ مَقاما مَآ حمُودا لَما ذَكرنا مَن اَلرواية عَن رَسولَ الله صَلى اَلله عَليه وَسلم وَأصحابه وَالتابعين، فَإن مَا قَاله مَجاهد مَن أَن اَلله يَقعد مَحمدا صَلى اَلله عَليه وَسلم عَلى عَرشه،َ قول غَير مَدفوع صَحته، لَا مَن جَهة خَبر وَلا نَظر

“ Dan pendapat ini (maqam Mahmud bermakna syafa’at) sekalipun ia adalah pendapat yang sahih, dalam menafsirkan ayat “ Semoga Allah membangkitkanmu dan memberikanmu maqam yang terpuji “ dari riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in,Maka sesungguhnya maka apa yang dikatakan oleh Mujahid bahwa Allah mendudukkan Muhamamd Shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, adalah ucapan yang tidak boleh ditolak kesahihannya, tidak dari segi khobar maupun pendapat “.

Komentar saya Ustaz al-katibiy memutarbelitkan pernyataan yang jelas di atas dengan mengatakan riwayat Mujahid disini bukanlah ‘Allah mendudukkan nabi di arasy bersamaNya’ tapi sekadar ‘Allah mendudukkan nabi di arasy’ Hanya kerana perkataan ‘ bersamaNYa’ tidak ada dalam teks maka mereka menganggap ia redaksi yang berbeza Beliau berkata, ‘Yang dibicarakan di sini adalah bukan duduknya Allah berasama Nabi di atas Arsy, melainkan duduknya Nabi di atas Arsy’ Persoalan kami, jika benar seperti yang dihujahkan, manakah riwayat Mujahid seperti seperti yang mereka katakan yakni dengan tanpa redaksi ‘bersamaNYA’?? Kita telah mengetahui dalam isu ini hanya dua saja riwayat yang dihujahkan yakni satunya berkaitan dengan duduknya Allah bersama nabi di arashNya dan riwayat berkaitan dengan syafaat Ini disebutkan sendiri oleh mereka pada awalnya

Saya jawab :

Memahami suatu ucapan ulama memang terkadang mengalami kesulitan jika tidak benar-benar memahami manhaj dan uslubnya terlebih dahulu, juga dibekali ilmu alat yang matang. Jika tidak maka seprti merekalah jadinya yang salah di dalam memahami ucapan ath-Thabari.

Sekarang kembali saya akan menuntun mereka setapak demi setapak untuk memahami ucapan yang mereka kesulitan memahaminya dan bahkan sudah berani menyimpulkan tanpa mau mengkaji lebih dalam lagi..

Secara kronologi, imam ath-Thabari menafsirkan maqam Mahmud dalam surat al-Isra tersebut dengan terlebih dahulu menampilkan pendapat-pendapat ulama yang mentakwilnya. Pertama beliau menampilkan pendapat jumhur ulama yang menafsirkannya dengan syafa’at dan menyebutkan dalil-dalil sahihnya. Kedua beliau menyebutkan pendapat ulama yang mengatakan bahwa maqam mahmud adalah Allah mendudukkan nabi Muhammad di atas Arsy bersama-Nya. Dan kemudian menyebutka dalil dari ucapan Mujahid.

Kemudian beliau menympulkan dengan mengomentarinya bahwa dari kedua pendapat yang paling diutamakan kebenarannya adalah pendapat jumhur ulama yaitu penafsiran syafa’at.

Pada komentar selanjutnyalah terjadi kesalah pahaman dari pihak salafi yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyyah.

وهذا وإن كان هو الصحيح من القول فـي تأويـل قوله عَسَى أنْ يَبْعَثَكَ رَبّكَ مَقاما مَـحْمُودا لـما ذكرنا من الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه والتابعين، فإن ما قاله مـجاهد من أن الله يُقعد مـحمدا صلى الله عليه وسلم علـى عرشه، قول غير مدفوع صحته، لا من جهة خبر ولا نظر

“ Dan pendapat ini (maqam Mahmud bermakna syafa’at) walaupun pendapat yang sahih, dalam menafsirkan ayat “ Semoga Allah membangkitkanmu dan memberikanmu maqam yang terpuji “ dari riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in, maka sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Mujahid bahwa Allah mendudukkan Muhamamd Shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, asalah ucapan yang tidak boleh ditolak kesahihannya, tidak dari segi khobar maupun pendapat “.

Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya memahami ucapan ini : “ Bahwa apa yang diucapkan Mujahid yaitu Allah mendudukkan Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy bersama-Nya, tidak bisa ditolak kesahihannya baik dari sudut khobar maupun pandangan “.

Sedangkan Asy’ariyyah memahami ucapan tersebut : “ Bahwa apa yang diucapkan Mujahid yaitu Allah mendudukkan Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, tidak bisa ditolak baik dari sudut khobar maupun pandangan “.

Pihak Ibnu Taimiyyah memahami bahwa ucapan ini berkaitan dengan duduknya Allah bersama nabi di atas Arsy. Sedangkan Asy’ariyyah memahami bahwa ucapan ini hanya berkaitan perkara duduknya nabi di atas Arsy.

Pembahasan :

Dari uslub dan manhaj ath-Thabari, diawal sekali sedang membicarakan tentang MAQAM MAHMUD (kedudukan terpuji) yang akan diperoleh oleh Nabi kelak di akherat. Maka pembahasan tentu terfokus pada persoalan Nabi. Walaupun di tengah-tengah pembahasan imam ath-Thabari sempat membawakan ucapan Mujahid secara utuh bahwa Allah mendudukkan Nabi di atas Arsy bersama-Nya. Diakhir pun beliau tetap memfokuskan pada persoalan duduknya Nabi di atas Arsy tanpa membahas duduknya Allah.

Dari segi nahwu, pada ucapan ath-Thabari terdapat huruf MIN yang posisinya berfaedah untuk BAYAN (penjelasan). Yakni lebih menjelaskan dan memfokuskan ucapan Mujahid yang mengatakan duduknya Nabi di atas Arsy bukan duduknya Allah bersama Nabi di atas Arsy. Oleh sebab itu ath-Thabari tidak menyebutkan duduknya Allah bersama Nabi.

Kalimat MIN berfaedah sebagai BAYAN yang terkadang menjelaskan jenis atau macamnya dari kalimat sebelumnya. Misal :

مهما تأتنا به من آية

“ Bagaimanapun kamu mendatangi kami dari ayat (keterangan/petunjuk) “.

Ayat ini membicarakan kedatangan Nabi Musa kepada Fir’aun. Dalam bentuk atau jenis apa kedatangan Nabi Musa? Dijelaskan dengan huruf MIN dan kalimat setelahnya yaitu aayah. Yakni kedatangan nabi Musa dengan membawa petunjuk..maka petunjuk (aayah) adalah menjelaskan dari kedatangannya yang masih secara global dalam kalimat. Shingga huruf MIN berfungsi memfokuskan dari persaoalan kedatangan nabi Musa yakni membawa berupa petunjuk.

Nah, demikian juga dalam redaksi ath-Thabari huruf MIN di situ berfaeah sebagai BAYAN yang berfungsi menjelaskan atau memfokuskan ucapan ath-Thabari yakni fokus kepada duduknya Nabi di atas Arsy. Jika seandainya dipahami dengan bersama duduknya Allah, maka rusaklah fungsi dari kalimat MIN tersebut. Inilah pemahaman yang sesuai uslub ath-Thabari dan juga sesuai uslub nahwiyyahnya.

Jika saudara bertanya : “ Lalu apa yang tidak boleh ditolak kesahihannya dari sudut khobar maupun pandangan ?? “.

Kita jawab : Sesuai uslub di atas, maka yang tidak boleh ditolak kesahihannya baik dari suduh khobar maupun pandangan, jelas perkara duduknya Nabi di atas Arsy, bukan duduknya Allah bersama Nabi di atas Arsy. Inilah yang difokuskan pembicaraannya oleh imam ath-Thabari yang sulit dipahami oleh kaum salafi pengikut Ibnu Taimiyyah.

Pembuktiannya :

Jika seandainya tidak boleh ditolak, lantas kenapa banyak ulama yang menolaknya?? Apa lantas ulama-ulama yang menolaknya itu berarti berpaham jahmiyyah??

Al-Wahidi menolak keras atsar Mujahid, ia mengatakan :

وهذا قول رذل موحش فظيع ، ونص الكتاب ينادي بفساد هذا التفسير

“ Ini adalah ucapan yang hina, menyalahi ketentuan bahasa dan buruk. Nash al-Quran menyeru dengan rusaknya penafsiran seperti ii “.[1]

Jahmiy kah al-Wahidiy??
Al-Hafidz adz-Dzahabi juga menolak atsar tersebut dan mengatakan hadits itu mungkar, walaupun ia mengakui banyak ulama yang menerimanya. Jahmiy kah adz-Dzahabi ?

Al-Fakhr ar-Razi dalam kitab Tafsirnya juga menolak atsar tersebut bahkan menjelaskan sudut-sudut kesalahannya yang begitu banyak. Jahmiy kah al-Fakh ar-Razi??

Asy-Syaukani dalam kitabnya Fath al-Qadir juga menolak atsar Mujahid, jahmiy kah beliau ??

Al-Imam Abdul Bar juga menolak atsar ini dan mengatakan bahwa para ulama menolaknya sebagaimana artikel saya yang pertama. Ucapan imam Abdul Barr juga dinukil oleh al-Hafidz Ibnu Hajar. Apakah kedua imam ini berpaham jahmiy menurut anda ??

Albani pun menolak keras atsar ini dan mendhaifkannya, ia berkata :

وتفسير بعضهم لقوله تعالى : عسى أنْ يَبْعَثَكَ رَبُكَ مَقَاماً مَحْموداً بإقعاده على العرش مع مخالفته لما في الصحيحين وغيرهما أنّ المقام المحمود الشفاعة العظمى ، فهو تفسير مقطوع غير مرفوع عن النبي ، ولو صح ذلك مرسلاً لم يكن فيه حجة ، فكيف وهو مقطوع موقوف على بعض التابعين ؟! ، وإنّ عجبي لا يكاد ينتهي من تحمس بعض المحدثين السالفين لهذا الحديث الواهي والأثر المنكر
“ Dan tafsir sebagian mereka atas ayat : “ Semoga Tuhanmu mengutusmu kepada kedudukan yang terpuji “, dengan penafsiran : “ Duduknya di atas Arsy padahal bertentangan dengan yang ada dalam dua kitab sahih dan selainnya bahwa maqam mahmud adalah syafa’at al-Udzma. Maka penafsiran itu (duduknya di atas Arsy) adalah penafsiran yang terputus, tidak marfu’ dari Nabi. Seandainya sahih secara mursal, maka tidak bisa dijadikan hujjah. Bagaimana tidak, sedangkan atsar itu terputus dan terhenti atas sebagian tabi’in saja. Aku sungguh heran tak habis-habis kepada sebagian ahli hadits terdaulu yang menerima hadits lemah ini dan atsar mungkar ini “.[2]

Apakah Albani menurutmu berpaham jahmiy kerana menolak keras atsar Mujahid??

Kemudian saudara Salman Ali mengatakan :

Al-katibiy sendiri menyebutkan Tabari mengatakan ‘lebih utama’ pandangan mengatakan maqam mahmud sebagai syafaat. Pernyataan ‘lebih utama’ ini menjadi bukti at-Tabari juga menganggap riwayat Mujahid sebagai shahih cuma saja dia mentarjih pandangan yang menyatakan syafaat Lihat perkataannya, ‘وأولى القولين في ذلك بالصواب

Dan yang paling utama (dekat) diantara kedua-dua pandangan tersebut dengan kebenaran Perkataan ini telah diterjemahkan oleh ustaz al-katibiy sebagai , ‘Pendapat yang paling benarseolah-olah menunjukkan kepada pembaca pandangan Allah mendudukkan nabi di arasy-NYa sebagai tidak benar Penterjemahan ini adalah satu kesilapan fatal oleh ustaz al-katibiy. Mungkin juga kesalahan ini disebabkan Ustaz al-katibiyy tidak biasa berinterasi dengan kitab al-tabari justeru menyebabkan kegagalan beliau memahami gaya bahasa imam al-Tabari. Imam al-Tabari terkenal sebagai seorang alim yang banyak melakukan tarjih meskipun diantara dua qiraat yang mutawatir. Dan istilah yang sering digunakan oleh al-Tabari adalah Dan yang paling utama (dekat) diantara kedua-dua pandangan/tafsiran/qiraat.


Saya jawab :

Tak ada yang salah dari makna terjemahan saya, hanya saja saya tidak menterjemahkannya secara lengkap dan sempurna sebagaimana terjemahan salman Ali. Ia hanya membesar-besarkan perkara yang tidak fatal sama sekali agar terlihat oleh pembaca seolah saya sangat fatal menterjemahkannya.

Sebagaimana saya katakan diawal bahwa makna yang benar dari redaksi ath-Thabari tersebut adalah :

“ Sekalipun takwil maqam mahmud dengan syafa’at adalah pendapat yang sahih, akan tetapi apa yang dikatakan oleh Mujahid yaitu bahwa Allah mendudukkan Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, adalah pendapat yang tidak boleh ditolak kesahihannya, tidak dari segi khobar maupun pendapat “.

Adakah yang salah dengan terjemahan yang saya terjemahkan secara global saja??

Kembali pada persoalan ucapan ath-Thabari : “ akan tetapi apa yang dikatakan oleh Mujahid yaitu bahwa Allah mendudukkan Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, adalah pendapat yang tidak boleh ditolak kesahihannya, tidak dari segi khobar maupun pendapat “.

Di sini Salman Ali tidak jeli memahami konteks ucapan ath-Thabari, walaupun sudah saya jelaskan dalam artikel saya yang pertama.

Dalam ucapan beliau ini, sedang memfokuskan pembicaraan mengenai (berhubungan) dengan duduknya Nabi di atas Arsy saja. Dan inilah yang disahihkan ath-Thabari. Bukan duduknya Allah bersama Nabi. Perkara duduknya Nabi di atas Arsy, inilah yang tidak boleh ditolak dari sudut khobar ataupun pandangan.

Ath-Thabari menerima perkara duduknya Nabi di atas Arsy, kerana menurut beliau tidak mustahil itu terjadi dan kerana tidak adanya nash sahih yang memustahilkan hal itu. Cuba perhatikan lagi ucapan beliau :

فإن ما قاله مـجاهد من أن الله يُقعد مـحمدا صلى الله عليه وسلم علـى عرشه، قول غير مدفوع صحته، لا من جهة خبر ولا نظر
maka apa yang dikatakan oleh Mujahid bahwa Allah mendudukkan Muhamamd Shallahu ‘alaihi wa sallam di atas Arsy, asalah ucapan yang tidak boleh ditolak kesahihannya, tidak dari segi khobar maupun pendapat “.[3]

Alasan beliau tidak mustahil, kerana menimbang Nabi seorang makhluk yang memiliki keutamaan besar. Seandainya ath-Thabari memfokuskan perkara duduknya Allah di atas Arsy, lalu kenapa alasan ath-Thabari terfokus pada kemustahilan?? Bukankah apa yang Allah lakukan tidak ada yang mustahil bagi-Nya?? Berpikirlah dengan jeli dan cerdas wahai saudara...

Saudara Salman Ali mengatakan :

Ustaz al-katibiy memutarbelitkan pernyataan yang jelas di atas dengan mengatakan riwayat Mujahid disini bukanlah ‘Allah mendudukkan nabi di arasy bersamaNya’ tapi sekadar ‘Allah mendudukkan nabi di arasy’ Hanya kerana perkataan ‘ bersamaNYa’ tidak ada dalam teks maka mereka menganggap ia redaksi yang berbeza Beliau berkata, ‘Yang dibicarakan di sini adalah bukan duduknya Allah berasama Nabi di atas Arsy, melainkan duduknya Nabi di atas Arsy’ Persoalan kami, jika benar seperti yang dihujahkan, manakah riwayat Mujahid seperti seperti yang mereka katakan yakni dengan tanpa redaksi ‘bersamaNYA’?? Kita telah mengetahui dalam isu ini hanya dua saja riwayat yang dihujahkan yakni satunya berkaitan dengan duduknya Allah bersama nabi di arashNya dan riwayat berkaitan dengan syafaat

Saya jawab :

Salman Ali tidak bisa mencerna dengan baik pembahasan yang dibahas oleh ath-Thabari.

Pertama : Di awal imam ath-Thabari sedang membicarakan kedudukan Nabi yang tinggi, yaitu maqam mahmud. Dan beliau juga membawakan hadits dari Mujahid bahwa maqam mahmud adalah syafa’at besar Nabi.

Kedua : ath-Thabari membawakan atsar Mujahid yang menafsirkan maqam mahmud dengan duduknya Nabi di atas Arsy bersamaNya.

Ketiga : ath-Thabari menerima ucapan Mujahid yang menyatakan duduknya Nabi di atas Arsy tanpa menyinggung duduknya Allah bersama Nabi.

Keempat : Dari sudut khobar maupun pandangan, perkara duduknya Nabi di atas Arsy, tidaklah mustahil dan juga tidak adanya nash yang memustahilkan hal itu. Jika seandainya ath-Thabri ikut memfokuskan pembahsn Allah duduk bersama-Nya, kenapa ath-Thabari mengambil alasan (ta’lil) tentang kemustahilan ?? bukankah apa yang diperbuat Allah tidak ada yang mustahil ??

Cuba perhatikan lagi ucapan ath-Thabari yang menampilkan ta’lil dari masalah ini :

وذلك لأنه لا خبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أحد من أصحابه ، ولا عن التابعين بإحالة ذلك
“ Yang demikian itu (tidak boleh ditolak) karena tidak ada hadits dari Rasulullah, dari seorang pun sahabat maupun tabi’in yang memustahilkan hal tersebut

Jika seandainya ath-Thabari juga membahas duduknya Allah di atas Arsy, mungkinkah ath-Thabari beralasan demikian?? Sedangkan tidak ada yang mustahil bagi Allah ?? jelas sudah, bahwa yang difokuskan di sini adalah duduknya Nabi di atas Arsy, sebab perkara itu tidak mustahil, dan tidak ada satupun dari sahabat maupun tabi’in yang memustahilkan perkara tersebut. Renungkan hal lembut ini wahai saudara...


[1] Tafsir al-Kabir : 21/33, cetakan Dar al-Fikr –Beirut, th : 1405 H.
[2] Mukhtashar al-Uluw : 16, cetakan al-Maktab al-Islami-Beirut th : 1415 H.
[3] Tafsir ath-Thabari juz 15 halaman 100 atau jilid ke tujuh halaman 5240 cetakan Dar as-Salam.