Selamat datang di blog saya yang sederhana ini yang menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian ASWAJA di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja

Selasa, 24 September 2013

Jawaban Balik Atas Tanggapan Masalah Fitnah duduknya Allah di Atas Arsy bag IV

Kemudian Salman Ali mengatakan :

5)Kenyataan ustaz al-katibiy tentang pembahagian al-Tabari berkaitan tiga madzhab yang mewakili Jumhur, ahli sunnah ahli al-haq dan juga mujassimah
Ustaz al-katibiy menyebutkan bahawa faedah dari pembahagian al-Tabari seperti berikut. 1. Pendapat bahwa Allah tidak bersentuhan dengan sesuatu adalah pendapat jumhur kelompok umat Islam. 2. Pendapat bahwa Allah tidak bersentuhan dengan sesuatu dan tidak mubaayin, baik sewaktu belum mencipta atau sesudahnya, maka ini adalah pendapat Ahlus sunnah, ahlul haq. 3. Pendapat bahwa Allah di atas Arsy-Nya dengan Dzat-Nya yakni Allah duduk di atas Arsy-Nya dan bersentuhan dengan-Nya. Dan ini adalah pendapat mujassimah.

Berkaitan kelompok kedua yang dianggap sebagai kelompok ahli sunnah dikalangan asy’ariyyah serta orang yang mengikut jalan mereka. Kata ustaz al-katibiy:

Madzhab yang kedua ini sangat jelas adalah madzhab Ahlus sunnah dari Asy’ariyyah dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Atas dasar ini, Asy’ariyyah tidak menolak duduknya Nabi di atas Arsy, sebab bagi kelompok ini, sama saja mau Nabi Muhammad duduk di atas Arsy atau di bumi, Allah tetap seperti sedia kala yang tidak menyentuh sesuatu dan tidak butuh (bain) terhadap sesuatu. Diakui oleh ath-Thabari bahwa kelompok ini tidak menolak duduknya Nabi di atas Arsy. Adapun yang kelompok ini tolak adalah duduknya Allah di atas Arsy.

Disini Ustaz al-katibiy telah melakukan dua kesalahan besar. Yang pertama adalah disebabkan kegagalan memahami sejarah dengan baik sedangkan yang kedua adalah mencampur adukkan diantara penjelasan al-Tabari bersama tafsiran beliau sendiri yang terkeluar dari konteks perbicaraan al-Tabari.

1)Apabila ustaz al-katibiy menyebutkan bahawa pandangan kedua adalah mewakili madzhab ahli sunnah dari al-Asy’ariyyah itu adalah pandangan beliau sendiri bukannya pandangan al-Tabari. Untuk membuktikan ini , tidak perlu pemahaman terhadap dalil , cukup sekadar meneliti sejarah . al-Tabari meninggal dunia pada tahun 310h sedangkan dia mengambil masa lapan tahun menulis kitab tafsirnaya yang sempurna ditulis pada tahun 290h. Maka kesemua perkataan yang terdapat dalam kitab tafsirnya ini ditulis dalam tempoh amsa antara 283h sehingga 290h.

Maka saya jawab :

Sangat disayangkan sekali, saudara Salman Ali tidak cakap dan tidak pandai memahami komentar saya di atas. Ada dua kemungkinan, memang dia tidak mengerti maksud komentar saya atau memang dia kesulitan memahami bahasa Indonesia yang sedikit berbeda dengan bahsa melayu.

Apa yang saya komentari tentang kelompok kedua, memang bukan pandangan ath-Thabari sndiri, akan tetapi murni pandangan saya. Kerana pemahaman kelompok kedua pada kenyataannya adalah pemahaman yang selama ini dipegang oleh kelompok Asy’ariyyah (seperti saya). Tidak perlu salman ali berpanjang lebar dengan menjelaskan sejarah imam al-Asy’ary untuk memahami komntar saya yang ternyata salman ali salah paham di dalam memahami komntar saya tersebut. Coba perhatikan lagi komentar saya :

(Madzhab yang kedua ini sangat jelas adalah madzhab Ahlus sunnah dari Asy’ariyyah dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Atas dasar ini, Asy’ariyyah tidak menolak duduknya Nabi di atas Arsy, sebab bagi kelompok ini, sama saja mau Nabi Muhammad duduk di atas Arsy atau di bumi, Allah tetap seperti sedia kala yang tidak menyentuh sesuatu dan tidak butuh (bain) terhadap sesuatu. Diakui oleh ath-Thabari bahwa kelompok ini tidak menolak duduknya Nabi di atas Arsy. Adapun yang kelompok ini tolak adalah duduknya Allah di atas Arsy.)

Adakah saya mengatakan kesimpulan ini dari ath-Thabari ?? tidak. Namun ini hanyalah kesimpulan saya berdasarkan fakta dan kenyataan dari paham asy’ariyyah.

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syairazi (w 476 H) mengatakan :
وَاِنَّ اِسْتِوَاءَهُ لَيْسَ بِاسْتِقْرَارٍ وَلاَ مُلاَصَقَةٍ لِأَنَّ اْلاِسْتِقْرَارَ وَاْلمُلاَصَقَةَ صِفَةُ اْلأَجْسَامِ اْلمَخْلُوْقَةِ، وَالرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ قَدِيْمٌ أَزَلِيٌّ، فَدَلَّ عَلىَ أَنَّهُ كَانَ وَلاَ مَكاَنَ ثُمَّ خَلَقَ اْلمَكاَنَ وَهُوَ عَلىَ مَا عَلَيْهِ كَانَ
“ Dan sesungguhnya istiwa Allah tidaklah dengan istiqrar (bersemayam / menetap) dan mulasaqah (menempel), karena istiqrar dan mulasaqah adalah sifat jisim makhluk sedangkan Allah Ta’aala Maha Dahulu lagi Maha Azali. Maka hal ini menunjukkan bahwa Allah itu ada tanpa tempat kemudian menciptakan tempat dan Allah masih tetap seperti semula, ada tanpa tempat “.
Syaikh al-‘Arif billah Sayyid Ahmad ar-Rifa’i asy-Syafi’i (w 578 H) berkata :
وَأَنَّهُ مُسْتَوٍ عَلىَ اْلعَرْشِ عَلىَ اْلوَجْهِ الَّذِي قَالَهُ وَبِالْمَعْنىَ الَّذِي أَرَادَهُ، اِسْتِوَاءً مُنَزَّهًا عَنِ اْلمُمَاسَةِ وَاْلاِسْتِقْرَارِ وَالتَّمَكُّنِ وَالتَّحّوُّلِ وَاْلاِنْتِقَالِ، لاَ يَحْمِلُهُ اْلعَرْشُ، بَلِ اْلعَرْشُ وَحَمَلَتُهُ مَحْمُوْلُوْنَ بِلُطْفِ قُدْرَتِهِ، وَمَقْهُوْرُوْنَ فيِ قَبْضَتِهِ، وَهُوَ فَوْقَ اْلعَرْشِ، وَفَوْقَ كُلِّ شَىْءٍ إِلىَ تُخُوْمِ الثَّرَى، فَوْقِيَّةٌ لاَ تَزِيْدُهُ قُرْبًا إِلىَ اْلعَرْشِ وَالسَّمَاءِ بَلْ هُوَ رَفِيْعُ الدَّرَجَاتِ عَنِ اْلعَرْشِ كَمَا أَنَّهُ رَفِيْعُ الدَّرَجَاتِ عَنِ الثَّرَى
“ Dan sesungguhnya Allah beristiwa di atas Arsy dengan cara yang Allah firmankan dan dengan makna yang Allah kehendaki, beristiwa dengan istiwa yang suci dari persentuhan, persemayaman, pertempatan, perubahan dan perpindahan. Tidak dibawa oleh Arsy akan tetapi Arsy dan para malaikat pembawanya dibawa oleh kelembutan qudrah-Nya, tergenggam dalam gengaman-Nya. Dia di atas Arsy dan di atas segala sesuatu hingga ujung angkasa dengan sifat atas yang tidak menambahinya dekat kepada Arsy dan langit, akan tetapi Dia Maha tinggi derajat-Nya dari Arsy sebagaimana Dia Maha tinggi derajat-Nya dari angkasa “.
Al-Qadhi al-Imam Abu Bakar Muhammad al-Baqilani al-Maliki (w 403 H) berkata :
وَلاَ نَقُوْلُ إِنَّ اْلعَرْشَ لَهُ- أَيْ اللهُ- قَرَارٌ وَلاَ مَكَانٌ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالىَ كَانَ وَلاَ مَكَانَ، فَلَمَّا خَلَقَ اْلمَكاَنَ لَمْ يَتَغَيَّرْ عَمَّا كَانَ
“ Dan kami tidak mengatakan bahwasanya Arsy sebagai tempat Allah, karena Allah Ta’aala ada (pada azali) tanpa tempat, ketika menciptakan tempat Allah tidaklah berubah sebagaimana mulanya “.
Perhatikan ucapan-ucapan para ulama besar asy’ariyah ini ! bukankah ucapan ulama-ulama ini sama persis dengan kelompok kedua yang dikatakan oleh ath-Thabari ??

Dan saya katakan pendapat pertama yang mengatakan Allah sebelum mencipta sesuatu adalah bain dari makhluknya, sebab disepakati dengan kelompok kedua yang juga mengatakan Allah bain dari makhluk-Nya sbelum mencipta segala sesuatu. Inilah yang saya katakan jumhur, sebab kelompok kedua dan pertama sepakat sebelum mencipta sesuatu DIA Bain dari makhluk-Nya walaupun setelah itu berbeda pendapat dan penjelasan setelah Allah mencipta segala sesuatu.

Pada kelompok ketiga tidak demikian, mereka meyakini bahwa Allah sebelum mencipta sesuatu , DIA tidak bain maupun mumaasin. Dan setelah menciota sesuatu barulah Allah bain akan tetapi mumaasin (bersentuhan) dengan makhluk-Nya. Semoga salman ali memahami hal ini.


Salman Ali mengatakan :

Al-Baihaqi juga menyebutkan perkataan al-Khattabi yang meninggal pada 388h dalam al-asma’ wassifat tentang pendiriannya :

وَلَيْسَ مَعْنَى قَوْلِ اْلمُسْلِمِيْنَ إِنَّ اللهَ عَلىَ اْلعَرْشِ هُوَ أَنَّهُ تَعَالىَ مُمَاسٍ لَهُ أَوْ مُتَمَكِّنٌ فِيْهِ أَوْ مُتَحَيِّزٌ فيِ جِهَةٍ مِنْ جِهَاتِهِ، لَكِنَّهُ بَائِنٌ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِهِ، وَإِنَّمَا هُوَ خَبَرٌ جَاءَ بِهِ التَّوْقِيْفُ فَقُلْنَا بِهِ وَنَفَيْنَا عَنْهُ التَّكْيِيْفَ إِذْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Apabila Muslim menyebutkan Allah ebristiwa’ diatas Arashnya: ini tidaklah beerti Allah menyentuhnya ataupun menetap diatasnya ataupun mengambil tempat disalah satu penjurunya. Tetapi Allah terpisah dari keseluruhan makhluknya. Adapun ini merupakan khabar tauqifi yang datang lalu kami berkata dengannya. Dan kami nafikan bagi-Nya perumpamaan kerana tiada yang sama dengan-Nya dan Dialah maha mendengar lagi melihat.5

Mungkin ada benarnya ini juga merupakan pandangan madzhab al-asy’ari berdasarkan beberapa perkataan tokoh madzhab al-Asyari, tetapi mustahil al-Tabari merujuk kepada madzhab ini sebagai kelompok kedua kerana ketika tafsir al-tabari ditulis madzhab al-asyari belum lagi wujud.

Saya jawab :

Nampak sudah keraguan dan kebimbangan serta kebingungan Salman Ali ini tentang madzhab Asy’ari. Dan sangat jelas, ia berkomentar seperti disebabkan tidak tahunya akan sejarah munculnya pemahaman asy’ariyyah.

Jika tidak mengetahui asal dan akar dari pemahaman madzhab Asy’ari, sebaiknya jangan sekali-kali merendahkan madzhab ini yang telah dipegang jauh sebelum imam Abul Hasan al-Asy’ari tegak menysiarkannya. Sebab pemahaman akidah Abul Hasan al-Asy’ary tidak lain dan tidak bukan adalah pemahaman jumhur muslimin sejak masa Rasulullah hingga para sahabat dan tabi’in.

Ini juga menunjukkan, bahwa salman ali telah menutup mata dan telinga dari sejarah asy’ary yang sebenarnya, dan hanya bermodalkan taqlid yang membutakan pemikirannya.

Secara singkat dan global; Sejarah munculnya istilah AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH atau disingkat menjadi ASWAJA, bermula dari periode ‘Ali bin Abi Thalib KW. Sebab dalam sejarah, tercatat para imam Aswaja di bidang akidah telah ada sejak zaman sahabat Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum munculnya paham Mu’tazilah. Imam Aswaja pada saat itu diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib KW, karena jasanya menentang penyimpangan khawarij tentang al-Wa’du wa al-Wa’id dan penyimpangan qodariyah tentang kehendak Allah Ta’ala dan kemampuan makhluk.
Setelah tahun 260 H menyebarlah bid’ah Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya. Maka dua Imam yang agung Abu al Hasan al Asy’ari (W 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya- menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al Qur’an dan al hadits) dan ‘aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhah-syubhah (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya, sehingga Ahlussunnah Wal Jama’ah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka (Ahlussunnah) akhirnya dikenal dengan nama al Asy’ariyyun (para pengikut al Asy’ari) dan al Maturidiyyun (para pengikut al Maturidi). Jalan yang ditempuh oleh al Asy’ari dan al Maturidi dalam pokok-pokok aqidah adalah sama dan satu.

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, istilah Aswaja secara resmi menjadi bagian dari disiplin ilmu keislaman. Dalam hal akidah pengertiannya adalah Asy’ariyah atau Maturidiyah. Imam Ibnu Hajar Al-Haytami berkata “Jika Ahlussunnah wal jamaah disebutkan, maka yang dimaksud adalah pengikut rumusan yang digagas oleh Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi “ .

Dalam fiqh adalah madzhab empat, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Dalam tasawwuf adalah Imam Al-Ghozali, Abu Yazid al-Busthomi, Imam al-Junaydi dan ulama’-ulama’ lain yang sepaham. Semuanya menjadi diskursus islam paham Ahlussunnah wal jamaah.

Maka saya sedikit tersenyum membaca komentar lucu Salman Ali ini yang mengatakan (Mungkin ada benarnya ini juga merupakan pandangan madzhab al-asy’ari berdasarkan beberapa perkataan tokoh madzhab al-Asyari, tetapi mustahil al-Tabari merujuk kepada madzhab ini sebagai kelompok kedua kerana ketika tafsir al-tabari ditulis madzhab al-asyari belum lagi wujud.)

Ini sangat menunjukkan ketidak pahamannya atas sejarah pemahaman asy’ariyyah. Apakah jika ad-Darimi mengtakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy, lalu ada orang mengatakan bahwa ini pemahaman taimiyyah atau wahabi. Orang itu lantas kita salahkan?? Sebab Ibnu taimiyyuun dan wahabi saat ad-Darimi berkata demikian, mereka belum muncul ?? ini sangat lucu. Sebab maksud ucapan orang itu adalah bahwa pemahaman yang dikatakan oleh ad-Darimi juga kenyataannya pemahaman yang dipegang oleh para taimiyyun dan wahhabiyyah.

Salman Ali mengatakan :

2)Ulasan Ustaz al-katibiy terhadap tiga kelompok yang disebut oleh al-Tabari ini.
Kata ustaz al-katibiy tentang kelompok pertama dan kedua:

Dua kelompok di atas menafikan mumasah (persentuhan) Allah kepada makhluk-Nya, ini jelas bertentangan dengan pendapat Mujahid yang mengatakan Allah duduk bersama Nabi Muhammad di atas Arsynya.

Setelah kita buktikan konsistensi al-Tabari dalam membahaskan ucapan Mujahid iaitu: kelak Allah akan mendudukkannya di atas arys bersama-Nya serta kelalaian ustaz al-katibiy dalam memahami ikhtisar(ringkasan) dalam gaya bahasa Arab sehingga menyebabkan beliau menganggap al-Tabari berbicara tentang dua konteks yang berbeza iaitu diawal bicara dalam konteks perkataan penuh Mujahid kelak Allah akan mendudukkannya di atas arys bersama-Nya sedangkan ditengah perbahasan, al-Tabari beralih kepada konteks kedua iaitu kelak Allah akan mendudukkannya di atas arys.

Maka berpunca dari kesilapan itu , ustaz al-katibiy telah berganjak kepada satu lagi kesalahan dalam melukiskan kesimpulan dari dua madzhab penganut Islam yang disebut oleh al-Tabari.
Ustaz al-katibiy tidak faham pendirian para salaf seperti yang dinaqalkan dari kitab al-Sunnah oleh al-khallal. Apabila dikatakan Allah mendudukkan Muhammad disisi-Nya tidaklah beerti dengan sentuhan. Kebersamaan ini adalah tanpa takyif, tidak diketahui hakikatnya oleh manusia. Begitu juga apabila para salaf berkata Allah beristiwa’ diatas Arash juga bukan dengan sentuhan. Melainkan ustaz al-katibiy mengikat maksud kebersamaan berdasarkan akal yang terbatas , sebab itulah dia menafikan perkataan mujahid mendudukkan Muhammad bersama-Nya diatas Arash lalu mengatasnamakan ini kepada al-Tabari.

Saya jawab :

Masih saja mereka sulit memahami penjelasan ath-Thabari tentang ketidak mustahilan Nabi duduk di atas Arsy.

Saya tegaskan lagi, bahwasanya imam ath-Thabari ketika ingin membuktikan bahwa ucapan Mujahid tidak bisa ditolak dari segi pandangan masing-masing kelompok dari umat Islam, maka beliau pun menampilkan semua pemahaman ketiga kelompok islam itu yang kesimpulannya Nabi tetap tidak mustahil duduk di atas Arsy bagaimanapun pemahaman ketiga kelompok itu dalam menyikapi duduknya Allah di atas Arsy.
Kelompok pertama, beliau tampilkan pemahaman sekelompok umat Islam yang meyakini bahwa Allah sebelum mencipta tidak ada sesautu yang Allah bain dan mumasin dengannya. Walaupun setelah mencipta ada perincian yang pada intinya mereka menetapkan bainunah dan batasan bagi Allah namun mensucikan lawazim jsimiyyah. Ini sebagaimana pemahaman Abul Ya’la dan az-Zaghuni.

Ini saja sudah bertentangan dengan pemahaman Ibnu Taimiyyah yang meyakini Allah mumasin kepada sesuatu. Bainunah Allah dari Arsy tidak seperti bainunah Allah dari bumi. Ia meyakini bahwa Allah bain dari Arsy dan mumasin (bersentuhan) dengan arsy. Dan Allah bain dari bumi dan tidak mumasin dengan bumi. Sebgaimana akan saya buktikan di akhir pembahasan ini.

Kelompok kedua, beliau tampilkan pemahaman kelompok umat Islam yang meyakini bahwa Allah sebelum mencipta tidak ada sesuatu yang Dia mubayin darinya dan mumsain dengannya, maka demikian pula setelah mencipta sesuatu keadaan Allah sebagaimana mulanya. Dan ini adalah kenyataan dari pemahaman mayoritas kaum muslimin dari kalangan ahlus sunnah asy’ariyyah.

Ini juga jelas bertentangan dengan pemahaman Ibnu Taimiyyah.

Kelompok ketiga, beliau menampilkan pemahaman kelompok umat Islam yang meyakini bahwa sebelum mencipta sesuatu tidak mubayin dan tidak mumasin, lalu Allah mencipta Arsy, maka Allah mubyain dan mumasin dengannya. Dan ini adalah kenyataan dari pemahaman mujassimah. Juga ternyata sesuai dengan pemahaman Ibnu Taimiyyah. Sebagaimana akan saya jelaskan.

Jika atsar Mujahid dianggap sahih, maka tidak mengarah kecuali pada kelompok ketiga ini, atau maknanya di takwilkan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Athiyyah dan Ibnu Hajar al-Atsqalani (jika ini, maka sesuai dengan salah satu metode asy’ariyyah).

Sedangkan menurut kaum wahabi, ayat-ayat shifat tidak boleh ditakwil, sehingga mau tidak mau ucapan Mujahid disesuaikan dengan pemahaman wahabi / mujassimah yang pada akhirnya sesuai dengan pemahaman kelompok yang ketiga tadi. Karena sudah maklum bahwa mereka memahami ayat-ayat shifat secara pemahaman dhahirnya.


Salman Ali mengatakan :

Menerusi dua peringgan ini , ustaz al-katibiy cuba menyandarkan kepada ibn taimiyah dua perkara
1)Ucapan ibn taimiyah mengandungi tajsim
2)ibn taimiyah memahami maksud perkataa aMujahid seperti kelompok ketiga (mujassim)

1)Ucapan ibn taimiyah mengandungi tajsim
Berdasarkan tuduhan pertama , ibn taimiyah tidak langsung menyebutkan bahawa mendudukkan Muhammad bersama-Nya ini beerti bersentuhan atau menisbahkan jisim bagi Allah. Bahkan tidak banyak tafsiran yang disebut oleh ibn Taimiyah terhadap perkataan ini. Ibn taimiyah hanya mengulang apa yang telah disebut oleh al-Tabari sehingga ibn Taimiah juga menulis secara ringkas Allah mendudukkan Muhammad diatas Arash sepertimana ditulis oleh al-Tabari dalam kesimpulannya tanpa mengulangi perkataan bersama-Nya.
Kata ibn Taimiyah:

, tidak mengatakan bahwa riwayat Allah mendudukkan nabi di atas arsy itu hadits munkar, sesungguhnya yang mengingkarinya hanyalah sebagian dari kelompk jahmiyyah, beliaupun tidak menyebutkan munkar dalam tafsir ayat itu

Terserlah sikap tidak adil ustaz al-katibiy, ucapan al-Tabari yang panjang lebar ditakwilkan kesemuanya walaupun dengan takwilan yang bercanggah dengan text asal al-tabari sedangkan ucapan ibn taimiyah difahami dengan sezahir yang mungkin sedangkan ia tidak disebut oleh ibn taimiyah.


Terdapat ratusan ucapan ibn Taimiyah menafikan pendirian mujassimah dan saya sebutkan salah 1 darinya apabila ibn taimiyah menyebutkan perbezaan antara salaf dan mujassimah bagi membantah sangkaan nakal ustaz al-katibiy ini.

Telah bersepakat para salaf dan imam-imamnya: Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah , tidak pada zat-Nya tidak pula pada sifat-Nya serta perbuatan-Nya. Dan telah berkata diantara imam salaf : sesiapa yang menyamakan Allah dengan makhluknya maka ia telah kafir dan sesiapa yang menafikan apa yang disifatkan Allah terhadap-Nya maka ia telah kafir. Tidak ada bagi apa yang disifatkan Allah dan Rasul-Nya perumpamaan. Dimanakah kedudukan musyabbihah dan mujassimah dari mereka(para imam salaf). Sedangkan mereka (Mujassimah), maka kemuncak kekufuran mereka adalah ,menjadikan Allah seperti makhluk-Nya.6

2)ibn taimiyah memahami maksud perkataa aMujahid seperti kelompok ketiga

Adapun tuduhan kedua yang menyatakan ibn taimiyah memahami maksud perkataa aMujahid seperti kelompok ketiga (mujassim), ini juga merupakan tuduhan liar yang tidak berasas. Kelompok mujassimah beranggapan bahawa Allah bersentuhan dengan makhluk-Nya setelah penciptaan makhluk sedangkan pandangan pertama iaitu para salaf adalah Allah terpisah dari makhluk-Nya setelah penciptaan . Mari kita lihat apa pendirian ibn taimiah adakah mirip dengan pendirian ketiga seperti dakwaan ustaz al-katibiy ataupun mirip pandangan pertama seperti pendirian para salaf.
Berikut merupakan beberapa perkataan ibn taimiah berkaitan masalah ini.:

Dan telah bersepakat salaf ummah dan imam-imam mereka bahawa tuhan yang mencipta terpisah dari makhluk-Nya dan tidak terdapatnya pada-Nya suatupun dari makhluk-Nya serta tidak pula pada makhluk-Nya suatupun dari dzat-Nya. Salaf dan para Imam mengkafirkan jahmiah apabila mereka menyatakan bahawa Allah berada dimana-mana.

Dan perkataan al-Khattabi dalam syiar al-Din setelah menyebutkan 14 pandangan: Dan pandangan yang paling kuat adalah apa yang zahir dari Ayat dan hadith dan juga (pandangan)golongan yang memiliki kelebihan dan terpilih: Sesungguhnya Allah ebrada diatas Arash-Nya sepertimana disebut dalam kitab-Nya dan menerusi lisan nabi-Nya tanpa perumpamaan, Allah terpisah dari keseluruhan makhluk-Nya. Inilah madzhab Salaf al-Soleh sepertimana dinaqalkan dari mareka oleh orang-orang yang dipercayai.

Dan Maha suci Allah diatas langi-langit-Nya diatas Arash-Nya , terpisah dari makhluknya, tidak terdapat pada makhluk-Nya sesuatupun dari Dzatnya dan tidak terdapat pada Dzat-Nya suatupun dari makhluk-Nya. Maha Suci Allah tidak bergantung harap kepada Arash-Nya juga keseluruhan makhluknya tidak juga memerlukan sesuatupun dikalangan makhluk-Nya bahkan Dialah yang menanggung Arash dan juga para penanggung Arash dengan kekuasaan-Nya.


Saya jawab :

Dalam artikel sebelumnya, saya sudah katakan bahwa memahami ucapan sesorang ulama hendaknya terlebih dahulu memahami uslub dan manhajnya, agar tidak kebingungan memahaminya.

Memang Ibnu Taimiyyah pada atsar Mujahid tidak mengomentarinya dengan komentar yang sedatil mungkin atau penjelasan yang terperinci. Akan tetapi pemahaman terhadap duduk-Nya Allah di atas Arsy, maka bisa kita ketahui dari ucapan-ucapan Ibnu Taimiyyah di kitab-kitab lainnya. Dari situ akan memahami maksud Ibnu Taimiyyah mendukung atsar Mujahid.

Ibnu Taimiyyah sangat anti terhadap takwil pada ayat-ayat shifat. Sehingga dia menyikapnya dengan memegang pemahaman secara zahirnya.

Sekarang kita akan buktikan dan akan lihat faktanya untuk mengetahui siapakah sebenarnya yang tersilap dan salah dalam melukiskan kesimpulan ??

Kelompok ketiga terlihat jelas bahwa itu pemahaman yang selama ini dipegang oleh kaum mujassimah seprti sebagian wahabi dan Ibnu Taimiyyah. Kita buktikan :


Ibnu Taimiyyah mengatakan :

وأكثر أهل الحديث يصفونه باللمس

“ Kebanyakan ulama hadits mensifati Allah dengan lams (sentuhan) “.

Ibnu Taimiyyah juga mengatakan :

وطوائف كثيرة من أهل الكلام والفقه يقولون بل هو مماس للعرش ومنهم من يقول هو مباين له ولأصحاب أحمد ونحوهم من أهل الحديث والفقه والتصوف في هذه المسألة ثلاثة أقوال منهم من يثبت المماسة كما جائت بها الآثار

“ Dan kelompok banyak dari ahli kalam, fiqih mengatakan bahwa Allah bersentuhan dengan Arsy, di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Allah mubaayin darinya. Dan para ulama Hanbali dan semisalnya dari ulama hadits, fiqih dan tasawwuf dalam masalah ini memiliki tiga pendapat, di antara mereka ada yang menetapkan persentuhan sebagaimana telah datang atsar-atsarnya “.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi pun mengakui pemahaman Ibnu Taimiyyah yang meyakini adanya mumasah Allah kepada sebagian makhluk-Nya seperti Arsy dan nabi Adam, bahkan mengatasnamakan al-Quran dan Hadits. Perhatikan ucapan ar-Rajihi berikut ini :

قال شيخ الإسلام -رحمه الله-: جاءت الأحاديث بثبوت المماسة، كما دل على ذلك القرآن الكريم وقاله أئمة السلف، وهو نظير الرؤية، وهو متعلق بمسألة العرش، وخلق آدم بيده، وغير ذلك من مسألة الصفات وإن كان قد نفاه طوائف من أهل الكلام والحديث من أصحاب الإمام أحمد وغيرهم، فشيخ الإسلام أثبت مماسة الله لبعض خلقه، كالعرش وآدم وقال: إن ذلك دل عليه القرآن الكريم وجاء الحديث بثبوته وقاله أئمة السلف، وإن كان قد نفاه طوائف من أهل الكلام والحديث.

“ Berkata syaik Islam (Ibnu Taimiyyah) : “ Telah datang hadits dengan ketetapan mumasah (bersentuhan Allah pada makhluk), sebagaimana al-quran telah menunjukkan akan hal itu dan dikatakan oleh para imam salaf. Ini seperti permasalahan rukyatullah. Dan ini berhubungan dengan masalah Arsy dan penciptaan nabi Adam dengan tangan-Nya dan selain itu dari masalah shifat. Walaupun sebagian kelompok dari ahli kalam dan hadits dari ashab imam Ahmad dan selainnya telah menafikan hal ini. Akan tetapi syaikh Islam (Ibnu Taimiyyah) telah menetapkan BERSENTUHAN ALLAH kepada sebagian makhluk-Nya. Seperti Arsy dan Ada, dan ia berkata bahwa hal itu al-Quran telah menunjukkannya dan hadits telah datang dengan menetapkannya juga telah dikatakan oleh para imam salaf. “

Syaikh ar-Rajihi ini adalah seorang ulama besar salafi yang oleh pengikutnya ilmuanya dianggap sebanding dengan Ibnu Baz. Silakan rujuk ucapannya ke laman webnya di : http://shrajhi.com/Books/ID/448
Untuk ucapan Ibnu Taimiyyah sendiri yang lebih jelas dan merupakan kesimpulan pemahamannya dari masalah ini adalah :

وليس هذا موضع الكلام في هذه الأقوال ولكن نذكر جوابا عاما فنقول كونه فوق العرش ثبت بالشرع المتواتر واجماع سلف الأمة مع دلالة العقل ضرورة ونظرا انه خارج العالم فلا يخلو مع ذلك اما أن يلزم ان يكون مماسا او مباينا اولا يلزم فان لزم احدهما كان ذلك لازما للحق ولازم الحق حق وليس في مماسته للعرش ونحوه محذور كما في مماسته لكل مخلوق من النجاسات والشياطين وغير ذلك فان تنزيهه عن ذلك انما اثبتناه لوجوب بعد هذه الاشياء وكونها ملعونة مطرودة لم نثبته لاستحالة المماسة عليه

“ Ini bukanlah tempat pembahasannya di dalam ucapan-ucapan ini, akan tetapi kami sebutkan jawaban secara globalnya, maka kami katakan : “ Adanya Allah di atas Arsy adalah telah tetap dengan syare’at yang mutawatir dan kesepakatan salaf ummat disertai dalil aqal secara pasti dan sisi pandangan bahwa Allah keluar dari alam, maka bersama itu Allah tidaklah lepas adakalanya melazimkannya bersentuhan dan bain atau tidak melazimkan hal itu. Jika Allah mengharuskan terjadinya salah satu kelaziman itu, maka hal itu merupakan kelaziman yang haq, dan kelaziman haq adalah haq. Dan di dalam bersentuhannya Allah dengan Arsy atau semisalnya tidaklah mahdzur (bahaya) sebagaimana bersentuhannya Allah kepada setiap makhluk dari benda-benda najis dan syaitan dan selainnya. Karena mensucikan Allah dari itu semua, sesungguhnya kita tetapkan kewajiban jauhnya benda-benda itu dan karena syaitan itu terlaknat terusir, maka kita tidak menetapkannya karena mustahilnya bersentuhan dengannya “.

Penjelasan :

Dalam jawaban Ibnu Taimiyyah ini dipahami bahwa ia memang benar-benar meyakini Allah bersentuhan dengan Arsy. Dan dalam jawabannya ini banyak sekali kerancuan dan syubhat.

1. Allah bersentuhan dengan Arsy dan juga bersentuhan dengan makhluk lainnya seperti nabi Adam ketika Allah menciptanya.

2. Memungkinkan Allah menyentuh benda najis dan syaitan jika Allah menghendakinya. Akan tetapi Allah tidak menhendakinya maka Allah tidak melakukannya. Perkara ini jauh dari Allah bukan karena apa-apa melainkan karena sesuatu itu terusir dan terlaknat.

3. Ibnu Taimiyyah juga mengklaim bahwa pendapat ini dikatakan oleh jumhur ulama hadits dan kalam.

4. Ibnu Taimiyyah juga mengklaim bahwa ucapan ini sudah ijma’ dan secara pasti harus dipahami dan dipegang (dharuratan). Padahal ulama sendiri sejak dahulu saling berbeda pendapat. Bahkan ath-Thabari sebagaimana di atas dalam kitab tafsirnya menjelaskan ketiga kelompok yang saling berlainan pendapat. Bagaimana Ibnu taimiyyah mengklaim hal ini sudah ijma’ bahkan dharuri??

5. Seandainya hal ini sudah ijma’ dan merupakan keyakinan dharuri (yang harus dipegang), maka mengharuskn penentangnya menjadi kafir, tapi kenyataannya Ibnu Taimiyyah tidak menghukumi kafir pada ulama yang menentangnya.

Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan Ibnu Taimiyyah yang menjelaskan sikapnya yang sesungguhnya dalam masalah ini. Maka jelas sudah maksud Ibnu Taimiyyah di dalam memahami duduknya Allah di atas Arsy yang luput dari pantauan sebagian pengagumnya seperti Salman Ali atau wahabi lainnya.



2 komentar:

  1. Makasih banyak artikel2nya Yai Ibnu Abdillah Al-katiby, numpang share di blog saya, dan mohon di jadikan teman di blog Yai generasisalaf [dot] wordpress [dot] com

    BalasHapus
  2. saya ada terbaca jawapan balas dari ust salman ali di http://titian-sebenar.blogspot.com/2013/10/jawapan-balas-kepada-respon-balas-ustaz.html

    BalasHapus