Selamat datang di blog saya yang sederhana ini yang menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian ASWAJA di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja

Rabu, 29 Januari 2014

Catatan Dialog Ilmiyyah Aswaja vs Salafi di Batam bag IV


Atsar Ibnu Mas’ud dan Bid’ah Hasanah.

Firanda kemudian menyanggah sanggahan dari ustadz Idrus Romli, yang menurutnya Idrus Romli salah dalam berhujjah mengenai takhshish hadits kullu bid’atin. Firanda menyangka ustadz Idrus membawakan dalil atsar Ibnu Mas’ud “ Maa roaahul muslimuuna hasanah fahuwa ‘indallahi hasan “ untuk mentakhshish / membatasi hadits kullu bid’atin. Kemudian Firanda menjelaskan maksud dari makna atsar tersebut yang subtansinya mengenai dalil ijma’ ulama. Lalu membuat kesimpulan yang menyalahkan ustadz Idrus padahal tidak dikatakan sama sekali oleh ustadz Idrus.

Tanggapan saya :

Ustadz Firanda kurang cermat mendengarkan dan memperhatikan hujjah dari ustadz Idrus Romli. Ketika ustadz Idrus Romli membawakan atsar Ibnu Mas’ud tersebut, beliau posisinya bukan untuk membawakan dalil takhshish untuk hadits kullu bid’atin sebagaimana sangkaan ustadz Firanda. Akan tetapi ustadz Idrus membawakan atsar tersebut dalam rangka ingin menyanggang hujjah ustadz Zainal yang berasumsi bahwa sahabat Abdullah bin Mas’ud menolak bid’ah hasanah dengan membawakan atsar Ibnu Mas’ud “ Ittabi’uu wa laa tabtadi’uu fa qod kufiitum “. Maka lalu oleh ustadz Idrus dibawakan dalil yang menunjukkan bahwa Abdullah bin Mas’ud juga melegalkan bid’ah hasanah dengan hujjah atsar beliau yang mengatakan :

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“ Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka itu baik di sisi Allah “

Ustadz Idrus pun tidak mengartikan kaum muslimin di sini dengan orang Islam biasa, justru beliau mengartikannya dengan para ulama. Silakan dengarkan kembali rekaman video tersebut pada menit ke ….

Jelas atsar ini dibawakan oleh ustadz Idrus bukan untuk mentakhshish hadits kullu bid’atin melainkan ingin membuktikan bahwa Ibnu Mas’ud juga mengakui adanya perkara baru yang baik.

Berkaitan masalah atsar tersebut, memang berkaitan dengan dalil ijma’ para ulama sebagaimana dikatakan oleh al-Amidi dan kami (Aswaja) pun setuju tentang hal ini :

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن إشارة إلى إجماع المسلمين، والإجماع حجة ولا يكون إلا عن دليل وليس فيه دلالة على أن ما رآه آحاد المسلمين حسن يكون حسنا عند الله، وإلا كان ما رآه آحاد العوام من المسلمين حسن فهو حسن عند الله، وهو ممتنع

“ Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka itu baik di sisi Allah, adalah isyarat kepada ijma’ kaum muslimin, dan ijma’ adalah hujjah, ijma’ pun tentu berdasarkan dari dalil. Atsar ini sama sekali tidak menunjukkan dalil bahwa apa yang dipandang oleh perorangan dari kaum muslimin baik maka di sisi Allah baik, karena jika tidak demikian, maka apa yang dipandang oleh perorangan dari kaum awam muslimin itu baik maka di sisi Allah baik, dan ini suatu hal yang terlarang “[1]

Maka apa yang dibantah oleh ustadz Firanda tidak mengena kepada apa yang diucapkan oleh ustadz Idrus, dalam kata lain Firanda salah alamat.

Saya sedikit ingin menambahkan dan menguatkan argumentasi ustadz Idrus Romli yang menyatakan sayyidina Abdullah bin Mas’ud juga melegalkan bid’ah hasanah. Berikut salah satu bukti dan dalil bahwa Ibnu Mas’ud juga membenarkan adanya bid’ah hasanah, yaitu majlis qishahs yang beliau rutinkan setiap hari Kamis, hal ini disebutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri sebagai berikut :
والمقصود بيان ما نحن عليه من الدين وأنه عبادة الله وحده لا شريك له فيها بخلع جميع الشرك، ومتابعة الرسول فيها نخلع جميع البدع إلا بدعة لها أصل في الشرع كجمع المصحف في كتاب واحد وجمع عمر رضي الله عنه الصحابة على التراويح جماعة وجمع ابن مسعود أصحابه عل القصص كل خميس ونحو ذلك خميس ونحو ذلك فهذا حسن والله أعلم
“ Maksudnya adalah menejlaskan apa yang kami lakukan dari agama dan yang merupakan ibadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, di dalamnya melepas semua bentuk kesyirikan dan mengikuti Rasul di dalamnya, kami melepas semua bentuk bid’ah kecuali bid’ah yang memiliki asal dalam syare’at seperti mengumpulkan mushaf dalam satu kitab dan pengumpulan Umar radhiallahu ‘anhu kepada para sahabat atas sholat tarawih dengan berjama’ah, dan pengumpulan Ibnu Mas’ud kepada para sahabatnya atas majlis kisah-kisah setiap hari kamis dan semisalnya, semua ini adalah baik wa Allahu A’lam “[2]

Dapat dipahami dari perkataan Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut, bahwasanya ia mengakui adanya bid’ah baik yang berlandaskan asal dalam syare’at, bahkan ia memberikan contoh-contohnya di antaranya ; pengumpulan mushaf dalam satu kitab, pengumpulan Umar bin Khaththab terhadap para sahabat atas sholat tarawih secara berjama’ah dan Majlis rutin Ibnu Mas’ud setiap hari kamis. Dan ini juga merupakan dalil bahwa apa yang dilakukan Umar bin Khaththab terhadap sholat tarawih adalah bid’ah hasanah.

Di antaranya juga ijitihad Abdullah bin Mas’ud menambahi ucapan :
السلام علينا من ربنا
“ Kesejahteraan atas kami dari Tuhan kami “, setelah mengucapkan “ Warahmatullahi wa barakaatuh “ di dalam tasyahhud. Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thbarani di al-Kabirnya dan sanadnya dinilai sahih dalam majma’ az-Zawaid.

Masalah Takhshish kullu bid’atin :

Adapun masalah takhsish hadits kullu bid’atin, maka banyak sekali hadits yang mentakhsishnya dan juga perbuatan para sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Secara bahasa (lughatan) saja hadits ini sudah bisa ditakhsish, karena dalam bahasa tidak semua lafadz kullu bermakna keseluruhan secara muthlaq. Contoh hadits :

كل بني آدم يأكله التراب الاعجب الذنب

“ Setiap anak cucu Adam akan dimakan oleh tanah kecuali tulang ekornya “. Hadits ini secara tekstual menjelaskan bahwa semua manusia jasadnya akan dimakan oleh tanah jika sudah meninggal, padahal jasad para Nabi tidak termasuk di dalamnya. Maka lafadz kullu di situ tidak mesti bermakna keseluruhan akan tetapi sebagian besarnya saja. Contoh lagi Hadits riwayat Imam Ahmad :

عَنِ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ
Dari al-Asyari berkata: “ Rasulullah SAW bersabda: “ setiap mata berzina” (musnad Imam Ahmad)

Sekalipun hadits di atas menggunakan kata kullu, namun bukan bermakna keseluruhan/semua, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu mata yang melihat kepada ajnabiyah.

Secara syar’i, hadits kullu bid’atin juga bisa ditakhsish. Di antara hadits yang mentakhsish hadits kullu bid’atin adalah hadits “ Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan “, sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam al-Hafidz an-Nawawi :

فِيْهِ الْحَثُّ عَلَى الابْتِدَاءِ بِالْخَيْرَاتِ وَسَنِّ السُّنَنِ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيْرِ مِنَ الأَبَاطِيْلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ. وَفِيْ هذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صَلّى اللهُ عَليْه وَسَلّمَ "فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ" وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ.

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memulai kebaikan, dan merintis perkara-perkara baru yang baik, serta memperingatkan masyarakat dari perkara-perkara yang batil dan buruk. Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan terhadap hadits Nabi yang lain, yaitu terhadap hadits: “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah”. Dan bahwa sesungguhnya bid’ah yang sesat itu adalah perkara-perkara baru yang batil dan perkara-perkara baru yang dicela”.[3]

Juga hadits sahih berikut ini :
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
 “ Barangsiapa yang melakukan perkara baru dalam agama kami ini yang bukan termasuk darinya, maka ia tertolak “.(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dapat dipahami dari sabda Rasulullah: “Ma Laisa Minhu”, artinya “ Yang tidak bersumber dari Agama ”, bahwa perkara baru yang tertolak adalah yang bertentangan dan menyalahi syari’at. Adapun perkara baru yang tidak bertentangan dan tidak menyalahi syari’at maka ia tidak tertolak.

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini sebagai berikut :

إن هذا الحديث يدل بمنطوقهِ على أن كُل عمل ليس عليهِ أمر الشارع فهو مردود , ويدل بمفهومهِ على أن كل عمل عليهِ أمره ُ فهو غير مردود

Hadits ini secara tekstualnya (manthuq) menunjukkan bahwa setiap perbuatan yang bukan termasuk urusan syare’at, maka tertolak. Dan secara mafhumnya (konteks) bahwasanya setiap perbuatan yang termasuk urusan syare’at, maka tidaklah tertolak “.

Hadits kullu bid’atin juga di takhsish oleh atsar Ibnu Umar, “ Ni’matil bid’atu hadzihi “, sebagaimana penjelasan imam al-Mufassir al-Qurthubi :

ويعضد هذا قول عمر رضي الله عنه: نعمت البدعة هذه، لما كانت من أفعال الخير وداخلة في حيز المدح، وهي وإن كان النبي صلى الله عليه وسلم قد صلاها إلا أنه تركها ولم يحافظ عليها، ولا جمع الناس، عليها، فمحافظة عمر رضي الله عنه عليها، وجمع الناس لها، وندبهم إليها، بدعة لكنها بدعة محمودة ممدوحة. وإن كانت في خلاف ما أمر لله به ورسوله فهي في حيز الذم والانكار، قال معناه الخطابي وغيره

“ Hal ini dikuatkan oleh ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “, karena termasuk perbuatan baik dan masuk dalam lingkup pujian. Walaupun sholat terawih ini pernah melakukannya, akan tetapi beliau meninggalkannya dan tidak merutinkannya, tidak pula mengumpulkan manusia untuk itu, maka perhatian Umar atas sholat terawih ini, usaha mengmpulkan orang banyak dan menganjurkannya adalah perkara bid’ah akan tetapi bid’ah mahmudah (terpuji). Dan jika perkara itu menyelisihi apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, maka masuk dalam lingkup celaan dan keingkaran. Demikianlah dikatakan secara makna oleh al-Khaththabi dan selainnya. “[4]

Lebih jelas lagi beliau menegaskan :

قلت: وهو معنى قوله صلى الله عليه وسلم في خطبته: (وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة) يريد ما لم يوافق كتابا أو سنة، أو عمل الصحابة رضي الله عنهم، وقد بين هذا بقوله: (من سن في الاسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ ومن سن في الاسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شئ) وهذا إشارة إلى ما ابتدع من قبيح وحسن، وهو أصل هذا الباب، وبالله العصمة والتوفيق، لا رب غيره
“ Aku (al-Qurthubi) katakana : “ Itulah makna ucapan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya : ( Dan seburu-buruknya perkara adalah perkara barunya dan setiap bid’ah itu sesat ) yang Nabi maksud adalah perkara baru yang tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunnah atau perbuatan sahabat radhiallahu ‘anhum. Ini sungguh telah Nabi jelaskan dalam sabdanya : Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”, ini adalah isyarat kepada bid’ah yang buruk dan bid’ah yang baik, inilah esensi dalam bab ini. Dan dengan Allah lah kita mendapat ‘ishmah dan taufiq, tidak ada Rabb selain-Nya “. [5]

Penjelasan para ulama besar Ahlus sunnah ini (imam Nawawi, al-Qurthubi, Ibnu Rajab al-Hanbali) dan juga para ulama besar lainnya yang tidak saya tampilkan di sini, sudah cukup membantah asumsi Firanda dan kaum wahabi lainnya yang mengatakan tidak ada takhsish dalam hadits kullu bid’atin. Dan semua keterangan ini juga membantah argumentasi Firanda yang mengatakan ucapan bid’ah Umar bin Khaththab adalah bid’ah lughowiyyah, karena meskipun demikian tidak bisa membantah fakta dan subtansi makna bid’ah yang dimaksud para ulama besar Ahlus sunnah yang telah kami sebutkan di atas.

Kesimpulan dari point ini adalah :

1. Firanda salah alamat dalam menanggapi argumentasi ustadz Idrus Romli terkait atsar Abdullah bin Mas’ud radhaillahu ‘anhu. Dan membuat persepsi bantahan yang tidak dikatakan oleh ustadz Idrus sendiri. Ini suatu kesalahan fatal dalam dialog ilmiyyah.
2. Atsar tersebut dan juga perbuatan baru Abdullah bin Mas’ud lainnya, menunjukkan rekomendasi dari beliau terhadap bid’ah hasanah.
3. Hadits Kullu Bid’atin, bisa ditakhsish dengan hadits-hadits sahih lainnya, sehingga jangkauan makna umumnya terbatasi.
4. Bid’ah secara bahasa, tidak menghilangkan subtansi makna bid’ah mahmudah yang diterima oleh syare’at. 

Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 05-Januari-2014



[1] Al-Ahkaam, al-Amidi : 3/138
[2] Ar-Rasail asy-Syahsyiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab jilid 5 risalah yang keenam belas halaman : 103
[3] Syarh Sahih Muslim, an-Nawawi : 4/110
[4] Tafisr al-Qurthubi : 2/84
[5] Tafisr al-Qurthubi : 2/84-85

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar